sangat kaget

2006 Kata
Memijat kepalanya yang sangat pusing, Fengying mencoba untuk membuka kedua matanya dan sangat kaget karena tidak mengenali ruangan yang dia tiduri saat ini. Fengying bahkan heran, kenapa mulutnya terasa getir? "Akhirnya kamu bangun juga." Suara seorang wanita dengan pakaian yang cukup menggambarkan kalau mereka telah berbuat sesuatu. Ya, Amanda terlihat tidak takut sama sekali berduaan dengan seorang pria. Bahkan sebaliknya, kini Fengying lah yang sangat khawatir tentang keberadaan Amanda. Kenapa mereka bisa berduaan di kamar hotel? "Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa aku bisa berakhir di sini sama kamu, Manda." Amanda masih menyisir rambutnya, dia merasa menjadi pemenang karena sudah memegang kartu As milik Fengying sewaktu-waktu pria itu tidak bertanggungjawab atas tindakannya semalam. "Ternyata kamu pelupa. Tidak ingat tadi malam kamu sangat memujiku cantik dan mengajak aku bermain di situ," jari telunjuknya ke arah ranjang. Dia bahkan tidak terlihat merasa bersalah karena sudah mengajak pria yang sudah bersuami melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Fengying memekik tidak percaya, dia kebingungan dan langsung berjalan ke kiri dan ke kanan karena takut kemungkinan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Bagaimana bisa dia berada di sini dengan Amanda? Bahkan mereka sudah melakukan sesuatu yang Fengying sendiri tidak ingat. Bagaimana ini? Apakah Kavya akan memaafkannya jika mengetahui perbuatan yang sudah dilakukan terhadap Amanda. "Aku bisa meloloskanmu kali ini tapi dengan satu syarat." "Manda, Aku bahkan tidak ingat apa-apa dan kurasa kita juga tidak melakukan apa-apa bukan?" Amanda langsung mengambil ponselnya dan memutar video di mana mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat. Fengying hampir saja ambruk karena melihat adegan dirinya tengah membelai tubuh Amanda dengan nafsu dan b*******h. Mereka berciuman lama, sampai-sampai Fengying kepanasan dan membuka baju. Setelah itu tidak ada kelanjutannya, tapi Amanda memastikan kalau mereka telak melakukannya. Fengying shock, dia merasa sangat melukai Kavya sekarang. Ya Tuhan! Gara-gara cemburu dengan Leon malah berakhir buruk seperti ini. "Manda, aku merasa tidak melakukan apa-apa denganmu dan tolong jangan mempersulit keadaan." Bukannya merasa kalut karena sudah tidur dengan pria yang sudah beristri, Amanda sama sekali tidak terintimidasi dan bahkan tidak menunjukkan kekKavyatiran. "Aku nggak mungkin dengan mudah terbujuk rayuanmu, Fengying. Banyak pria yang sangat tampan di luar sana yang bisa saja aku dapatkan. Tapi apa, aku malah melakukannya denganmu. Kamu harus ingat, aku memegang kartumu." Sialan! Baru kali ini Fengying salah mengenali seseorang. Dia tidak menyangka akan berurusan dengan wanita gila seperti Amanda. Kerumitan ini bahkan buntu, Fengying masih memaklumi Leon yang kadang suka menemui istrinya diam-diam. Tapi, apakah Kavya akan membuka pintu maaf setelah tahu bahwa suaminya sudah seranjang dengan wanita lain? "Apa maumu? Uang? Sepertinya tidak, aku tahu kamu sudah memilikinya. Atau saham perusahaanku?" tebak Fengying. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah pura-pura tenang. "Gampang. Aku cuma mau kamu jadi kekasih gelapku. Mudah bukan? Aku kesepian, Fengying. Dan sialnya aku tertarik denganmu, bukankah kamu seharusnya merasa bersyukur sudah disukai oleh seseorang seperti aku? Istrimu itu tidak ada apa-apanya sama aku." "Justru dia lebih dari apa pun dibandungkan denganmu. Aku harus pulang." "Silakan. Ingat, kamu gak akan bisa lepas dari jeratanku, Fengying. Secara negara kamu memang suaminya Kavya, tapi secara keadaan kamu hanya bisa kumiliki." Merinding. Ternyata inilah sifat asli Amanda, wanita yang pura-pura pintar tapi ternyata tak punya attitude dan tata krama. *** Melihat istrinya menangis begitu Fengying datang, sungguh, dia merasa sangat bersalah dengan istrinya. Apakah nanti Kavya masih mencintainya setelah tahu apa yang dia lakukan semalam? "Mas, kenapa gak bilang sih kamu dari mana. Aku menghubungi pak Angga, katanya kamu gak ada jadwal lembur. Kamu ke mana? Hm?" "Aku ada dinas dengan salah satu kolegaku, Sayang. Maaf ya sudah membuat kamu kKavyatir. Sini, aku kangen banget sama kamu." Untung saja Fengying sudah membuang pakaiannya yang semalam dia pakai saat bertemu dengan Amanda. Wanita gila itu memang sangat licik, entah apa maunya. Fengying merasa Amanda punya kelainan pada otaknya. Melihat pasangan suami istri yang sudah mesra sepagi ini, Helsi langsung marah-marah gak jelas. Apa pun yang salah di rumah ini selalu dilampiaskan pada Kavya, Kavya dan Kavya. Padahal menantunya sama sekali tidak melakukan apa-apa. "Palingan suami kamu gak betah tidur sama kamu makanya dia memilih tidur di luar. Makanya jangan cuma kerja sama tanah dan kotoran, mana ada pria yang betah dengan baunya." "Ma, ini sama sekali bukan salah Kavya. Fengying memang murni bekerja, Ma. Jadi tolong sekali, jangan apa-apa salah Kavya. Dia di sini istriku, menantu mama, setidaknya hargailah Kavya sebagai sesama manusia." "Kamu pasti diguna-guna sama dia sampai-sampai mata kamu buta, nggak bisa bedain mana yang tulus sama kamu dan cuma memanfaatkan keadaan kamu saja, Fengying!" Helsi berbalik badan, merasa sudah jengah menasehati anaknya. Sedangkan Kavya langsung mengajak suaminya ke meja makan, beruntung dia baru saja selesai memasak tadi, berpikir suaminya akan segera pulang. Ternyata Tuhan mendengar doanya. "Mas, aku masak banyak loh. Ada sayur asem kesukaan kamu, ada pepes ikan dan jamur, ada dimsum isi udang, dan rica-rica. Kebetulan kemarin aku baru belanja sama Naina, dia bosan karena hampir setiap hari beli makanan. Kadang saat kamu masih di kantor, aku mampir ke rumahnya dan kita saling berbagi ilmu dunia dapur." Melihat berapa baiknya Kavya melayani Fengying membuat hatinya teriris. Bayangan kejadian semalam dengan Amanda tidak mudah dienyahkan. Dia sangat butuh dipeluk sekarang. Dia mulai memakan masakan Kavya. Meskipun nafsu makannya sama sekali tidak ada, setidaknya Fengying harus menghargai usaha Kavya yang sudah sibuk di dapur. Rasa masakan Kavya dari dulu sama sekali tidak berubah, enak dan memang menyehatkan. Fengying merasa keluarganya semakin jarang sakit, mungkin karena Kavya juga tahu bagaimana mengolah masakan dengan tambahan daun-daun yang bagus untuk tubuh. "Mas, kalau kamu ada waktu temani aku membeli bibit bunga bougenvil ya? Ada juga bonsai kiriman teman. Harga miring, Naina katanya diajarkan metode bonsai, kan lagi ramai tuh." "Iya, Sayang. Kamu mau ke mana lagi, mumpung aku libur." "Sungguh? Berarti Mas punya banyak waktu ya?" Melihat raut wajah Kavya, Fengying semakin tak tega. Rasanya ingin sekali mandi dan mensucikan diri dari perangkap Amanda. Wanita k*****t! Dirasa kenyang, Fengying meminta waktu untuk tidur sampai jam 08.30, meskipun Fengying tidak yakin apakah masih bisa tidur setelah tahu Amanda memegang kartu hidupnya. Dia cemas suatu saat Amanda akan nekat memberitahu Kavya. "Mas nanti pakai baju apa? Jangan formal ya, kan temanya gak kerja." "Terserah kamu, Sayang. Sini, aku kangen tidur sama kamu. Aku pengen dipuk-puk kepalanya. Boleh?" Agak heran karena sudah lama Fengying tidak bersikap manja, meskipun kadang-kadang sikap Fengying genit tapi tidak sampai dimintai untuk menepuk-nepuk pelan kepalanya. Akhirnya Kavya menurut, dia mengelus rambut suaminya. Bahkan Fengying sangat nyaman tidur di pangkuan Kavya. Tidak ada sepuluh menit, pria itu sudah terlelap. Dengan hati-hati Kavya mulai mengangkat kakinya. Kavya melihat baju santai di almarinya, dia harus berpenampilan sederhana dan nyaman. Meskipun di luar sana banyak sekali wanita yang ditemui Fengying, tapi Kavya yakin pria itu akan selalu kembali kepadanya. Sambil menyiapkan baju, Kavya melihat gurat wajah Fengying. Kelihatan sekali pria itu capek, ah, rasanya Kavya ingin memijiti badan Fengying. Tapi nanti kalau suaminya bangun, gimana? Dua jam berlalu, Kavya menyentuh ujung hidung Fengying. Pria itu terbangun, pandangannya langsung terarah pada bibir Kavya. Fengying melumatnya rakus, mereka sudah lama tidak berciuman memang. "Mas, geli. Udah." Kavya hampir menjerit karena suaminya mulai bergelayut manja di lehernya. "Sana mandi. Katanya mau ngajak aku jalan-jalan." Fengying menurut, dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan pelototan Kavya saat tubuhnya polos sempurna lantaran Fengying sudah menanggalkan semua pakaian. Ah, Kavya jadi merinding sendiri kan? *** Karena tidak tahu kabar nona Amanda, Keihl datang ke tempat Friska. Membuat wanita janda itu kesal dituduh yang tidak-tidak. "Kamu gila ya? Ngapain aku nyembunyiin ponakanku sendiri. Gak ada kepentingan juga kan? Lagian, aku heran sama Manda, kenapa dia masih saja pakai jasa kamu. Bukankah tuan Hiro memperbolehkan kamu memilih jalan hidupmu sendiri? Kenapa masih menetap dengan keluarga itu? Kamu menyukai Amanda bukan?" Keihl hampir menerobos masuk, tapi tidak jadi karena masih punya hati. Tidak ingin membuat anak yang bernama Reno takut, baiklah, untuk kali ini Keihl akan meloloskan Friska, tapi lain kali dia tidak akan tinggal diam saja. "Aku sangat mengenal Amanda daripada kamu yang hanya mau uangnya saja. Pura-pura peduli, Pura-pura jadi keluarga padahal kamu hanya menganggapnya mesin uang bukan?" Friska menutup pintu, takut putranya akan mendengar obrolan mereka berdua. Dia menarik kerah Keihl, hampir membuat pria itu tersudut ke tembok. Tapi tentu saja tenaga Keihl sangat kuat, Friska tidak ada apa-apa yang dengannya. Pria itu sudah menjadi pengawal bayaran atas perintah tuan Hiro. Dari dulu, Keihl sangat tahu kalau Amanda adalah wanita yang mudah dipengaruhi oleh bisikan-bisikan orang lain. "Jangan pernah main-main sama aku, Tante Friska. Kamu hanyalah benalu bagi Amanda, sedangkan aku adalah pelindungnya. Mungkin nanti Amanda akan membenciku karena sudah datang menemuimu, tapi aku yakin dia akan sadar siapa yang memanfaatkan siapa. Lihat saja, camkan kata-kataku." Begitu diancam, Friska langsung ngos-ngosan. Dia hidup dari rasa kasihan orang-orang yang mau mendengarkan omong kosongnya, contohnya adalah Amanda dan Helsi. Sedangkan Keihl masih terus mencari keberadaan Amanda. Dari semua hotel yang sering dijadikan tempat menginap, tidak satu pun ada nama Amanda terdaftar sebagai penghuni semalam. Jadi, sebenarnya ke mana perginya Amanda? Di tempat lain, Amanda masih menikmati buih-buih dan sabun aroma mint. Dia sangat menikmati momen-momen tenang seperti ini. Ya, Amanda adalah wanita yang kadang kesepian. Tatapannya diarahkan ke ponsel, layarnya berkedip dan ada nama Keihl di sana. Tentu saja Keihl kKavyatir, Amanda belum pernah tidak pulang sampai semalaman. Meskipun sering mabuk-mabukkan dan mengunjungi banyak bar, tapi Amanda selalu ingat jalan pulang. "Ada apa, Keihl. Aku sedang menikmati liburanku. Jangan ganggu deh, hah!" "Kamu di mana, Nona. Biarkan aku menjemputmu." "Aku sedang berendam. Pokoknya nanti saja, aku bakalan pulang kok. Emangnya kenapa, Kakek nyariin aku ya?" Keihl menjawab iya. Dia sangat cemas, terlebih Keihl tahu, Amanda sering melakukan sesuatu diluar batas dan bahkan bisa saja membahayakan orang lain. Dulu, dia pernah mengajak pria asing untuk pesan kamar. Tidak ada kucing yang menolak saat ditawari ikan. Tapi begitu bersama, Amanda malah memecahkan botol dan hampir membuat pria itu tak sadarkan diri. Hanya Keihl yang mampu menenangkan Amanda, makanya Tuan Hiro sangat mempercayakan Amanda kepadanya. "Aku ada di dekat restoran Maudee, cepat ke sini dan ajak aku makan. Aku bosan makanan hotel, enek. Carikan masakan Padang ya, sepertinya menggugah selera." "Sejak kapan selera lidahmu jadi murahan begini?" Karena cerewet, Amanda langsung mematikan telepon. Sedangkan Keihl langsung ke lokasi, dia heran, biasanya nafsu makan Amanda akan bertambah jika ada hal yang membahagiakan. Apa yang sudah terjadi padanya? Begitu sampai, Keihl menunggu di depan kamar. Dia tidak mengetuk sama sekali, karena tahu Amanda akan segera keluar. "Sudah menunggu lama? Nanti kirim orang buat ambil mobilku ya? Cepat, aku lapar. Pengen banyak makan. Tadi gak sengaja melihat siaran di TV sebuah acara yang menayangkan tentang masakan Padang. "Gampang. Aku sudah menemukannya. Tidak ada barang-barang yang perlu dibawa kan?" Amanda mengangguk. Untung saja dia kuat minum, beda dengan Fengying yang dicekoki minuman dengan sedikit alkohol saja sudah tumbang. Agak merepotkan saat membopong Fengying agar sampai ke mobilnya. "Aku kelihatan normal kan? Mataku enggak ada kantung matanya?" "Seperti biasa, kamu tetap cantik, Nona." Amanda sudah tahu hal itu, dengan pelan-pelan mengikuti langkah Keihl. Pria itu dari dulu adalah pria yang paling sabar menghadapinya. Semua amarahnya, dendamnya, rasa sedih dan banyak hal yang terjadi di antara mereka berdua. Kadang terbesit di otaknya, apakah Keihl sedikit saja pernah menyukainya? Tapi Amanda tetap merasa sungkan bertanya, apa kata dunia nanti saat CEO Maniexty Jewellry berpasangan dengan pesuruh keluarganya. "Keihl, kamu pernah minder gak jalan sama aku?" "Kok nanyanya dadakan. Kenapa, Non?" Mengangkat bahu, Amanda hanya penasaran sosok Amanda di mata Keihl. Mungkin bagi pria itu, Amanda hanya wanita yang selalu merepotkan dan tidak pernah membuat Keihl tidur nyenyak. Melihat mata Keihl, pasti pria itu semalam berjaga menunggu kepulangan Amanda. "Kamu semalam nggak tidur?" "Tidur. Kamu tumben sekali tidur di hotel, ada apakah gerangan? Sepertinya tuan Haikar tidak datang dengan wanita yang kamu benci." "Hanya bosan saja. Cepat setir mobilnya, perutku sudah keroncongan." Keihl memutar mobil dan keluar dari basement hotel. Pandangannya tidak terlepas dari Amanda yang melihat ke luar jendela dengan tersenyum. Ini sangat aneh, baru pertama kali Amanda merasa bahagia tanpa Keihl tahu penyebabnya. Apa jangan-jangan Amanda sedang berhubungan dengan pria? Tapi siapa? Semua masih tanda tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN