Kemarahan hakiki

2055 Kata
Setelah kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kini hampir setiap hari Fengying selalu mimpi buruk. Dia bahkan enggan untuk pergi ke kantor, Kavya mengira mungkin suaminya hanya kecapekan saja. Tapi tidak mungkin, selama tiga hari ini Fengying selalu resah dan tidak bisa tenang kecuali Kavya memeluknya mengatakan semuanya akan baik-baik saja. "Kamu ada apa sih sebenarnya, Mas? Gak kayak biasanya. Apakah ada yang kamu sembunyikan dari aku? Bukankah kita saling terbuka? Kamu bisa menceritakan semuanya sama aku." Masalahnya ini terlalu rumit. Fengying malam itu sangat kecewa dengan istrinya yang ternyata masih diam-diam bertemu dengan Leon. Padahal pertemuan itu sama sekali tidak disengaja, Leon hanya datang ke toko bunga milik istrinya untuk pamit ke Bali lantaran ada tugas selama setahun di sana. Setelah itu mereka akan sangat jarang ketemu. Kini masalahnya adalah sampai kapan Amanda akan menutupi semuanya? Apakah sampai Fengying menyerah? Apa dia bisa memiliki kesempatan untuk memulai semuanya dari awal dan memilih untuk menjauh dari Amanda juga mamanya. Dia jauh lebih tenang hanya dengan Kavya saja. Pelipis Fengying mulai berkeringat lagi, hanya karena mengingat nama Amanda, dia jadi gelisah sendiri. Sialan, Fengying tidak bisa begini terus bukan? "Aku buatkan kamu sup jagung ya? Kebetulan tadi bibi baru saja pulang dari pasar dan belanja banyak. Mau kubuatkan sesuatu lagi, Mas?" "Tidak, Sayang. Terserah kamu, terima kasih." Kavya mengangguk dan mengelus punggung suaminya. Mungkin Fengying memang kecapean karena 3 bulan ini sangat sibuk dengan kerja sama kolaborasi Maniexty dan juga tentang setumpuk pekerjaan. Melihat sang menantu sibuk membuatkan sesuatu di dapur, Helsi mengintip. Kebetulan dia juga sangat lapar dan pembantunya sedang keluar untuk belanja lagi alat-alat pel karena yang lama sudah rusak. "Lagi buat apa? Siapa yang sakit?" "Mas Fengying, Ma. Masuk angin setelah dinas kemarin. Mungkin telat makan, mama mau dibuatkan apa?" Helsi tidak tahu kalah putranya jatuh sakit. Dia langsung masuk ke kamar Fengying dan mengecek suhu badan putranya, untungnya tidak panas. "Sakit? Perlu dibawa ke rumah sakit?" Mendengar suara mamanya, Fengying membuka mata lagi. Dia duduk sebentar dan mengangguk, "Kavya masih di dapur?" "Iya. Makanya tumben amat dia bikin sup jagung, ternyata kamu sakit. Tapi kenapa istri kamu gak cerita apa-apa sama mama? Takut kalau kamu jauh lebih bergantung sama mamanya sendiri ketimbang istrinya?" Fengying hanya diam saja. Dia tidak punya kekuatan untuk membantah, tenaganya hanya sedikit dan melayani mamanya hanya akan memperpanjang perdebatan. Memang sih, sudah hampir 5 bulan lebih tinggal di rumah mamanya tetapi sampai sekarang istrinya belum bisa akrab sebelumnya dengan mertuanya sendiri. Ini terjadi karena Helsi memang sengaja menjaga jarak di antara kita. Baginya, penderitaan yang dialami Kavya dari dulu tidak pernah berkurang. Wanita itu selalu bisa tersenyum meskipun ada tangis yang masih dia tahan. Bagaimana bisa Kavya masih bisa menyimpan tangisnya semisal tahu apa yang sudah terjadi di antara Fengying dan Amanda. "Mas, sup jagungnya udah jadi. Mau kusuapin?" "Biar mama saja. Kamu lanjutin pekerjaan bibi di dapur, mama lapar. Dari pagi belum sarapan." "Baik, Ma." Kavya hanya bisa menurut, memang tadi masih ada sayuran yang baru saja dipotong-potong kecil tapi pembantu rumah mendadak pergi karena membeli sesuatu. Untung saja Kavya adalah wanita yang sangat pandai memasak dan mengolah masakan dengan rasa yang gurih dan bisa disantap. Harus diakui, Kavya punya kemampuan banyak hal selain otaknya yang biasa-biasa saja. Wanita itu pandai berkebun, membuat kue, menjahit dan memasak. Kavya memang menyukai hal-hal yang bisa menghilangkan rasa bosannya ketika dulu masih berdua saja dengan Fengying di rumah mereka. Setelah menunggu masakan selesai, Kavya kembali ke kamarnya. Anehnya pintunya tertutup, padahal tadinya terbuka. Baru saja menyentuh knop pintu, Kavya tidak jadi masuk karena mertuanya sedang membicarakan masalah rumah tangga mereka. "Lihat, kamu kecapekan karena Kavya selalu meminta yang aneh-aneh dari kamu. Mama tahu, kalian setiap hari selalu makan siang. Dan kamulah yang selalu mengalah, menjemputnya. Sedangkan dia? Hanya menunggu jemputan. Pekerjaannya kan tidak seberat kamu, tidak setiap hari orang-orang membeli bunga bukan?" "Ma, ini bukan salah Kavya. Fengying sakit karena murni kesalahan Fengying, Ma. Kemarin Fengying emang sempat kehujanan dan telat makan, makanya jatuh sakit. Lagian, apa salahnya seorang suami menjemput istrinya? Papa juga sering jemput mama ke tempat teman-teman mama setiap ada acara bukan?" "Kamu ini, selalu saja membantah. Kamu bahagia sama Kavya? Mama enggak, Fengying. Sampai kapan pun pernikahan kalian hanya formalitas saja!" Pyar!! Teh yang dia bawa beserta nampannya terjatuh. Kavya sangat berat menerima ini, fakta di mana mertuanya tidak memberikan restu. Mungkin memang terpaksa lantaran tidak mau terpisahkan dari Fengying. Fengying bangun dan membuka pintu, tapi Kavya sudah terlanjur lari. Dia tidak kuasa mendengar semua penghinaan dari mertuanya. Kalau disuruh pilih, apakah Fengying tetap memilihnya atau memilih menceraikannya? Dadanya sesak, matanya berembun. "Sayang! Berhenti. Kumohon." Sekuat tenaga Fengying mengejar Kavya. Tapi beruntung ada taksi lewat dan mobil yang ditumpangi Kavya melesat cepat dari pandangan Fengying. Lalu Fengying kembali ke rumahnya dan menyalakan mobil, tidak menghiraukan teriakan mamanya. *** Sudah lama menjalin hubungan dengan Naina, Radit berusaha sebaik mungkin. Dia tahu dulu Naina pernah gagal punya pasangan yang baik, bahkan hampir menikah. Sayangnya, tidak ada kelanjutan. "Kalau nanti orang tua kamu sudah setuju, apakah kamu akan menerima lamaranku?" Naina hanya tertawa, "aku tidak tahu. Tapi bukankah semuanya terlalu cepat, Radit. Kita saja baru dekat akhir-akhir ini, terlepas dulu kamu sering menyusul Kavya saat ada pertengkaran antara Fengying dan dia. Ah, katanya Fengying sakit, makanya tadi Kavya izin tidak ke florist." "Sungguh? Ternyata pria itu bisa tumbang saja. Kalau boleh jujur, dulu sekali Kavya ragu dengan pernikahannya. Tapi sekarang mereka saling mencintai, aku bisa hidup dengan lega. Kavya adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki." Memang sih, Naina tahu sedekat apa Kavya dan Radit. Meskipun Radit kadang iseng dan suka marah-marah, tapi di balik itu pria yang resmi menjadi kekasihnya selama seminggu ini adalah pria yang penyayang. Pintu rumah Radit terketuk, padahal jarang sekali dia menerima tamu kecuali pemilik rumah kontrakan. "Biar aku saja yang membukanya. Kamu siapkan makan, tadi aku udah bawakan. Tuh, rantangnya." Naina mendekat ke arah pintu dan kaget melihat Kavya datang sendiri. Melihat Naina berdiri menatapnya, Kavya langsung memeluk sahabatnya. Dia tidak tahan dengan tangis yang selama ini dipendam selama beberapa bulan. "Hey, kamu kenapa? Masuk, tadi kan sempat hujan. Kamu ganti baju dulu gih, nanti masuk angin loh." Tidak ada pertanyaan kenapa ada Naina di sini, dia sudah tahu sekarang kakaknya memang sedang pdkt dengan sahabatnya. Tentu Kavya hanya bisa mendukung untuk kebaikan mereka berdua. "Kavya?" Radit membawa dua piring ke ruang tamu, tapi begitu melihat adiknya datang dia masuk kembali dan membawakan satu piring lagi. Menata semua makanan yang dibawa Naina dan ditata di atas karpet beralaskan lantai. "Udah nangisnya. Kamu butuh tenaga, Sayang. Makan dulu nanti baru cerita, Kakak sudah tahu apa masalah kamu." Padahal adiknya Kavya sudah sesenggukan dan tidak tahan untuk tidak bercerita. Tapi karena melihat Naina dan Radit sudah mengambil nasi, akhirnya dia ikut makan juga. Dari semalam, Kavya memang selalu terjaga, tidak bisa tidur tenang karena Fengying selalu terbangun dan mengingau banyak hal. Pasti ada yang ditutupi dari suaminya dan belum diceritakan kepadanya. Ternyata benar, setelah makan tubuhnya terasa ringan. Dadanya sudah mulai beraturan dan deru napasnya sudah mulai enakan. "Apa aku bilang? Kamu tuh cuma laper, Wa. Dan kebetulan, di rumah itu banyak masalah dan malah dilampiaskan sama kamu. Heran, kenapa kamu sangat betah di sana?" Radit menandaskan suapan terakhirnya. Mereka berdua memang sering menghabiskan waktu bersama dengan memasak karena Naina memang ingin mengolah bakatnya. Dia berharap bisa membuka rumah makan setelah menikah nanti. Barulah setelah ruang tamu dibersihkan, Naina menuntut Kavya menceritakan semuanya. "Aku tahu, aku memang hanya seorang teman. Tapi, aku juga mengetahui penderitaan kamu selama ini di rumah itu. Mertua kamu yang kaku, dibanding-bandingkan dan tidak dihargai. Tapi Kalau kamu enggak mau cerita dulu nggak apa-apa mungkin ini masih privasi buat kamu." Kavya mengusap air matanya yang mengalir begitu saja di pipi kanan dan kiri. Dia melihat ke seluruh ruangan, tersenyum karena ada foto masa kecil Radit dan dirinya yang terpajang. "Kak, ingat nggak sama foto itu? Dulu banget saat aku dan ibu jarang menghabiskan waktu bersama, kakak yang selalu hibur aku. Dan sekarang setiap aku punya sedikit masalah langsung lari ke sini, aku gak tahu lagi mau pergi ke mana." "Kamu selalu punya aku, Kavya. Sampai kapan pun. Nanti biar kamu sama Naina tidur di dalam, kakak bisa tidur di sini." Kavya mengangguk. Lagian sudah lama juga tidak menghabiskan waktu dengan Radit, palingan hanya makan bersama dan saling bertelepon. Dia melupakan ponselnya yang tertinggal di kamar. Mungkin Fengying akan segera tahu kalau dirinya ke sini, karena Fengying sangat mengenal Kavya. *** Frustasi. Fengying sudah tidak ada daya untuk mencari Kavya. Mungkin bisa saja wanita itu pergi ke rumah Radit atau Naina, siapa lagi? Bukankah sekarang Leon sudah tidak ada di Jawa lagi? "Masalah dengan Kavya jangan terlalu kamu pikirkan. Mama yakin sebentar lagi istri kamu juga bakalan pulang. Mendingan kamu istirahat saja, makanannya sudah mempersiapkan di meja makan. Mama nggak mau tahu kamu pokoknya harus makan karena Mama ada acara dengan teman. Kalau ada apa-apa, bilang sama Mang Burhan. Dia ada di belakang rumah lagi benerin taman." Ini sudah sehari Kavya tidak berkabar. Dan memang ponsel Kavya masih ada di kamar mereka. Fengying iseng membukanya karena hafal dengan kode sandinya. Dia membuka chat dan galeri. Tidak ada yang mencurigakan sekali bahkan tidak ada pesan dari Leon. Pun dengan galeri yang hanya penuh dengan foto-foto mereka. Sesekali Kavya memang iseng saat suaminya tertidur, memotret meskipun dengan pose yang sama sekali tidak bagus. Rasanya, Fengying sudah melakukan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan Kavya nantinya. Di lain tempat, Helsi sedang berbincang dengan Friska, dia menjawil pipi Reno. Sampai sekarang bahkan Kavya belum hamil juga, tapi Helsi malah tidak masalah. Karena semakin banyak masalah, semakin mudah dia memisahkan pasangan suami istri tersebut. "Jadi mereka lagi marahan ya? Syukur deh, nanti biar aku kabari Amanda. Kamu tahu sesuatu tentang anak kamu?" "Fengying? Memangnya kenapa dengan Fengying?" Friska menggeleng. Masih ragu akan membicarakan masalah di mana Fengying dan Amanda tidur bersama di kamar hotel. Tapi bukankah kesepakatan di awal Helsi akan menyerahkan semuanya pada Friska dan Amanda. "Tidak jadi. Tapi sebenarnya ini kabar buruk dan juga baik." "Cerita saja. Aku siap mendengarnya." Akhirnya, mau tak mau Friska menceritakan semuanya dari awal dan tentu saja Helsi sangat terkenal dengan keberanian Amanda yang sudah menjebak anaknya. Tapi, sepertinya Kavya belum tahu karena tidak mungkin wanita itu masih mau merawat suaminya saat masih sakit padahal sudah tahu kalau Fengying yang baru saja tidur dengan wanita lain. Helsi tidak menyangka Amanda akan sampai senekat itu. Cara yang sangat teliti dan semuanya sudah terlanjur terjadi, padahal Helsi hanya menyuruh Amanda agar memiliki banyak foto bersama dengan Fengying dengan pose yang mesra. "Tapi Amanda tidak sampai melakukan hubungan..." Helsi ragu melanjutkan kalimatnya karena takut menyakiti harga diri Friska sebagai saudaranya Amanda. "Tidak tahu sih. Itu urusan mereka. Yang terpenting sekarang, Fengying pasti sedang banyak pikiran memikirkan bagaimana nanti kelanjutan rumah tangga mereka. Dan juga, Amanda akan menghantam Fengying jika pria itu menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan begitu anak kamu nggak bakalan lepas dari jeratan Manda, lalu Fengying akan menikahi keponakanku dan hubungannya dengan Kavya akan segera berakhir." Mereka berdua tertawa bersama diatas penderitaan orang lain. Kavya pasti akan sangat ramah dan mengalami patah hati yang hebat. Helsi sudah bertindak terlalu jauh sampai sampai tidak sadar kalau apa yang dia tanam pasti akan menimbulkan balasan nantinya. "Aku tidak masalah kalau semisal nanti Fengying menikah dengan Amanda dan memiliki anak dengan wanita itu. Tidak sabar memiliki cucu dari orang yang berkelas sepertinya." "Tentu saja. Banyak pria yang sampai sekarang masih mengirimi Amanda bunga, hadiah hadiah yang mewah dan mahal. Kadang kalau dia pusing bagaimana cara mengelola hadiah tersebut Amanda sering membaginya denganku." "Dia pasti sangat populer di antara banyak pria." Friska mengangguk, semenjak kematian ibunya, Amanda jauh lebih mementingkan dirinya sendiri terlebih dia ingin dicintai karena memang mencari perhatian dari banyak orang. Tidak sadar apakah cara dia mencari perhatian akan menyakiti salah satu pihak yang penting Amanda bahagia dengan caranya sendiri. "Tapi masalahnya ada orang yang selalu menghalangi jalanku untuk menjalankan semuanya dia selalu bersama Amanda hampir setiap hari. Aku sih yakin kalau pria itu sebenarnya menyukai Amanda tetapi tidak berani mengungkapkan karena dia hanya seorang sopir." Helsi harus bertindak cepat sebelum dikalahkan dengan orang-orang yang jauh lebih rendah darinya. "Lalu, Apa yang akan kita lakukan terhadap pria itu?" Friska menjetikkan jari dan berkata, "mudah. Kamu tahu kan, aku selalu berhasil untuk mempengaruhi seseorang." Dan sampai sekarang, Helsi tidak sadar sudah menjadi korban Friska selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN