Mau apa

2009 Kata
Akhirnya Amanda mendapatkan apa yang diinginkan sekarang, sosok Fengying diyakini tidak akan pernah bisa lari karena dia yakin pria itu akan menyuruhnya tutup mulut. Setelah tahu bahwa Kavya kabur dari Fengying, bertengkar setelah dikata-katai Helsi, Amanda berniat menjenguk Fengying yang katanya sedang sakit. Membawa buah dan beberapa biskuit. Dia memang jarang sekali bersikap baik, tapi karena punya perasaan tersendiri dengan Fengying, Amanda memilih pergi sendirian. Mengira yang memencet bel berkali-kali adalah Kavya, Helsi malas dan menyuruh membantunya untuk membukakan pintu. "Siapa, Kinar?" "Hmm.." karena tidak kenal, Kinar hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Helsi berjalan dan terpengarah melihat Amanda datang ke rumahnya. Dia berusaha pura-pura tidak kenal. Senang calon menantu barunya datang, sebisa mungkin Helsi menyuruh Kinar untuk membuatkan makanan dan memanggilkan Fengying. Pasti pria itu tidak menyangka bertemu dengan Amanda. Helsi sudah tahu masalah video tersebut, awalnya tidak menyangka kalau Amanda sudah sampai senekat itu. Tapi tak masalah, yang penting Kavya bisa keluar dari rumah ini dan menghilang dari kehidupan Fengying untuk selama-lamanya. "Kamu sudah makan, Nona? Pasti belum kan? Kebetulan pembantuku sudah menyiapkan makanan spesial. Kemarin baru belanja banyak seafood, tidak punya riwayat alergi kan?" Amanda menggeleng. Sudah lama dia tidak disambut, dulu ingat sering memasak berdua dengan sang ibu. Hanya tinggal kenangan saja. Fengying yang sangat tidak suka atas kedatangan Amanda akhirnya terpaksa keluar demi menuruti permintaan namanya. "Nah, itu Fengying. Sini, Nak. Duduk, dan temani teman kamu makan. Kamu ini, punya teman secantik ini kok gak pernah bilang-bilang." Sikap acuh tak acuh dari Fengying semakin membuat Amanda menginginkan pria itu dengan segera. Karena sifat Amanda adalah harus mendapatkan apa yang sulit didapatkan. Karena Helsi masih harus menyiapkan makanan penutup akhirnya ke dapur sendirian dan memilih buah-buahan. Rasanya sangat bahagia, beda jika wanita yang bersama Fengying adalah Kavya. Pasti rasanya ingin marah-marah terus setiap hari. Mumpung tidak ada orang, Fengying menatap Amanda dengan tatapan ancaman. "Mau apa kamu ke sini?" "Menjenguk kekasih gelapku, tentu saja. Bukankah istri kamu gak ada di rumah, kebetulan dong! Sekalian aku bawakan buah. Kamu harus segera sehat, Fengying, sebelum menghadapi kenyataan." Seandainya diharuskan memukul wanita, pastilah Fengying akan membuat wanita dihadapannya babak belur. Dia sangat tidak rela kehidupannya nanti akan dikuasai oleh Amanda. Tapi, ternyata takdir berkata lain sekarang. Yang bisa dilakukan Fengying hanyalah pasrah dan hanya menunggu waktu di mana dia akan diceraikan oleh Kavya. Rasanya sangat perlu memikirkan dan membayangkan hal itu akan segera terjadi. Perjuangan cintanya, kesabarannya, lalu sekarang tiba-tiba saja dia harus merelakan itu semua karena kesalahan yang fatal. "Tolong, kamu bisa meminta apa saja. Bahkan kamu bisa meminta sebagian saham perusahaanku. Tapi tolong, jangan pernah beritahu Kavya tentang semuanya. Aku sampai kapanpun akan selalu mencintainya." Bukannya merasa iba, Amanda malah mendekatkan wajahnya dan berkata persis di telinga Fengying, membuat wanita itu semakin mengerikan. "Kamu tahu, sejak awal pertemuan kita aku sudah menginginkanmu. Dan kurasa, kalau aku gagal mendapatkan apa yang aku inginkan, orang lain pun juga merasakan hal yang sama. Fengying, kamu sangat tahu aku tidak suka dikalahkan apalagi mengalah." Amanda bersikap biasa lagi setelah papanya Fengying datang, Pura-pura bersikap sopan. Bahkan dia mengaku sangat puas bekerjasama dengan putranya. Karena masih ada jadwal di kantor dan juga dia harus datang ke berbagai acara reseller produk produknya, Amanda harus pamit sekarang juga. Meminta maaf karena tidak bisa makan bersama keluarga Fengying. Tapi, karena Helsi memaksa, mau tidak mau akhirnya dia menerima beberapa bekal yang sudah disiapkan oleh wanita itu. Setelah kepergian Amanda, Helsi histeris dan langsung menjunjung tinggi bagaimana sikap Amanda di hadapannya. Helsi membandingkan semuanya, mulai dari kecantikan, kepintaran, kesuksesan. Tidak ada apa-apanya sama Kavya. "Sampai kapan pun, Kavya adalah menantu di rumah ini, Ma. Aku malah mempertanyakan attitude nona Amanda yang tahu Fengying sudah menikah. Sangat tidak sopan bukan dia datang ke sini sendiri." Chandra tidak habis pikir kenapa istrinya sampai sekarang belum berubah. Dia bahkan lebih memilih Kavya ke mana-mana, baginya menantunya itu menantu terbaik dan sangat sopan. Beda dengan sikap Amanda, pasti pria bisa lebih menilai bukan? *** Pagi-pagi sekali, biasanya Kavya sudah sibuk menyiapkan sarapan, pakaian kerja dan juga barang-barang yang harus dibawa ke kantor. Tapi pagi ini, tidak seperti pagi biasanya. Tatapannya langsung sedih melihat ternyata Naina lah yang ada di sampingnya. "Hah, baru semalam aja aku udah rindu sama mas Fengying. Kalau beneran sayang, pasti dia bakalan menyusul aku ke sini bukan?" Mendengar sayup-sayup suara, Naina akhirnya terbangun. Dia memutar badan dan menyingkap selimut, mengucapkan selamat pagi meskipun yakin ini sudah kesiangan. Melihat sepagi ini sudah diwarnai dengan tangisan, Naina yakin kalau Kavya pasti tidak nyenyak tidur semalam. "Kavya, kalau masih bisa dibicarakan baik-baik kamu harus mendengarkan penjelasan Fengying. Dia tidak sepenuhnya salah. Dan juga tidak sepenuhnya benar. Kamu tahu, di dalam dunia pernikahan itu seorang Istri juga berhak berpendapat dan bersuara. Kalau kamu merasa tidak sanggup hidup satu rumah dengan mertua kamu bisa protes. Kurasa, Fengying adalah pria yang berpendidikan. Tentu dia bisa paham kenapa kamu bisa sampai semarah ini. Kalau aku jadi kamu, aku akan mengancamnya. Bukan bermaksud memisahkan Fengying dengan mama kandungnya, tapi kalau sudah menikah alangkah baiknya hidup mandiri. Jangan apa-apa diurusi mertua, gak banget." Yang dikatakan Naina sangat benar. Wanita itu memang lulusan psikologi, dia sangat tahu bagaimana cara menanggapi orang-orang yang sedang kalut karena permasalahan kehidupan pribadi. Mereka akhirnya merapikan kamar tidur Radit, menyangka kalau pria itu pasti masih molor sampai jam sekarang. Setelah beres, Naina yang berniat pulang ke rumahnya dan berganti pakaian sangat kaget, ternyata Radit tengah sibuk di dapur. "Kamu ngapain?" "Masak. Ini udah rutinitas sih, tanya aja sama Kavya." Sedangkan Kavya yang masih menguap hanya mengangguk. Dia bahkan belajar tentang dunia masak-masak dari kakaknya. Naina hanya memberikan dia jempol. Pria idaman banget, jadi gak sabar buat diajak berumah tangga. Lantaran mereka sudah berhubungan dekat tetapi mungkin belum terlalu mengenal karakter sampai ke akar-akarnya. "Perlu dibantuin gak? Baunya enak banget, kamu pakai bumbu apaan sih?" "Random aja sih. Udah, mendingan kalian nyuci piring tuh. Setelah itu makan, terus jalan-jalan. Kavya butuh penyegaran." Benar juga kata Radit, kenapa Naina tidak berpikir sampai ke sana. Bukankah jodoh setiap ada masalah mereka kalau pergi digunakan untuk menghilangkan masalah yang mereka pikirkan setidaknya hanya sebentar. Akhirnya masakan ala chef Radit sudah jadi, baunya sampai menembus ke lambung Naina. Dia memang jarang makan kecuali diajak Kavya mencari sarapan di sekitar Florist mereka. Ada berbagai masakan mulai dari nasi goreng dengan taburan bawang goreng di atasnya, tumis daun singkong lengkap dengan pepes pindang. Kalau lagi sedih, Radit biasanya melampiaskan itu semua dengan memasak dan makan. Tapi anehnya tubuhnya sama sekali tidak menggendut, syukur karena dia tidak perlu bekerja keras untuk ikut kelas gim ataupun diet ketat. "Kamu pasti sering banget masak-masak kalau gak ada kerjaan kan?" "Iya. Kak Radit dulu buka usaha juga loh, dititipin sama ibu-ibu yang mau nganterin ke sekolah. Pasti laris." Radit menggerutu, malu karena punya pekerjaan sampingan yang sekarang sudah ketahuan oleh Naina. Sebenarnya Naina tahu kalau Radit gampang buatan dengan beberapa pekerjaan apalagi setumpuk berkas yang ada di meja. Kalau dia mau dia bisa saja datang ke kantor Fengying dan meminta pekerjaan yang dia inginkan karena Radit bukanlah orang yang bodoh. "Nggak apa-apa lagi, kenapa harus malu. Justru, kalau aku jadi istri kamu aku bakalan bangga karena punya suami yang bisa merawat dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Tapi, Bukankah hubungan rumah tangga itu harus saling bergantung? Jatuh cinta itu perkara mudah tetapi saling mencintai yang perkara susah." Merasa tersentil dengan kata-kata Naina. Dari dulu, Fengying memang sudah mengatakan kalau dia memang jatuh cinta pada Kavya saat pandangan pertama. Dan sampai sekarang, Kavya masih belum tahu apakah pria itu benar-benar mencintainya ataupun hanya menggunakan dirinya sebagai status seorang istri saja. Karena dia bosan dan hatinya merasa tidak tenang, Kavya memilih mandi dan menunggu Naina kembali membawakan pakaian ganti. Masa iya dia harus menggunakan pakaiannya Radit? "Kamu pasti dihina lagi kan sama wanita songong itu? Lagian aneh, kenapa kamu malah mau diajak Fengying ke rumah itu. Kamu tahu sendiri seperti apa sifat mertua kamu, Kavya." "Aku bisa apa, Kak?" Tidak. Kavya tidak mau menjadi menantu yang melarang suaminya macam-macam. Dia pikir, kebaikannya, keihklasannya dan ketabahannya akan membuahkan hasil. Tapi nyatanya sampai sekarang hati Helsi masih sekeras batu. Kavya masuk lagi ke kamar, pamit mandi padahal dia berbohong. Sudah pasti Kavya akan menangis, dia tidak ingin membuat Radit kKavyatir. Karena dari dulu, Helsi sangat suka melihat Kavya lelah berhadapan dengannya. Setelah setengah menunggu Naina datang membawakan pakaian ganti, barulah Kavya cepat-cepat memakai pakaian. Dia selalu iri karena Naina sangat pintar dalam berfashion. Beda sekali dengan yang hanya memilih pakaian yang modelnya hanya itu-itu saja. Bagi Kavya, kecantikan selalu datang dari dalam. Seseorang akan terlihat benar-benar cantik ketika dia menunjukkan kesederhanaan dan ketulusannya. "Kita mau ke mana sih?" "Hmm, taman bermain." "Kau serius? Ngapain? Kayak anak SD. Refreshing tuh makan-makan, Jalan-jalan, ke pantai, shopping, Radit. Ih, payah." Radit menggeleng. "Kalau urusan makan, aku berani bersaing dengan masakan yang ingin kamu makan. Dan shopping? Percuma, kamu belanja karena ingin bukan butuh bukan? Wanita itu hanya bisa memikirkan hal-hal tersebut bukan? Sebenarnya ada banyak jawaban kalau kalian mau keluar kandang. Mau ikut gak?" Daripada di rumah cuma berdua dan memang sedang dalam mogok ke florist, akhirnya Kavya mau saja ikut ke taman bermain. Naina terpaksa setuju. Hanya diam dan saling mendengarkan musik, Radit membawakan makanan lagi. Kayaknya berat badan Kavya dan Naina bakalan bertambah kalau seminggu bersama Radit. "Aku heran, kamu beneran gak diet?" "Enggak. Aku pakai beras rendah lemak. Jadi, nggak bakalan kerasa kenyang banget. Sayuran pilihan, intinya aku pandai memilih soal gizi. Jadi santai, kamu gak bakalan gendut kalau hidup sama aku." Membutuhkan waktu lebih dari satu jam lebih, sebenarnya Radit mengajak mereka berdua ke taman raya Bogor. Berseberangan dengan kota Jakarta bukan? Sudah lama sekali Kavya tidak ke sini, malahan menurutnya ini adalah ide terbaik. Perasaannya akan menghangat melihat pohon-pohon hijau yang sulit ditemukan di sekitaran jalan Jakarta. "Aku sudah mulai browsing. Banyak sekali yang dirubah dan sekarang jadi lebih baik. Oh ya, di dalam kita nggak perlu jalan kaki. Bisa keliling pakai kendaraan yang disediakan. Kavya, kamu harus sabar. Ujian rumah tangga itu ada-ada saja. Kapan pun kamu menangis, kamu tahu kan, ada bahu kak Radit yang selalu bisa kamu jadikan sandaran." Naina hampir menangis. Dia kadang takut jika menikah dan mertuanya tidak menyukainya. Tapi, orang tua Radit sudah tidak ada, pria itu yatim piatu. Beruntung keluarga yang sama sekali tidak pernah membandingkan orang dari latar belakang. Tapi selalu melihat skill dan kemampuan dari orang-orang yang mereka temui. *** Dengan malas, Fengying berusaha setenang mungkin tidak marah saat tahu ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Ini sudah jadwal makan siang, tapi Fengying sama sekali tidak berselera. Dia rindu disuapin Kavya. Fengying tahu kalau wanita itu pasti ada bersama Naina atau Radit. Tapi, Fengying sebisa mungkin tidak ke sana dulu. Perkara omongan mamanya yang tidak enak didengar, Kavya naik pitam dan kabur ke rumah Radit. Fengying bisa apa? Dia berharap Kavya masih mau kembali padanya. "Sepertinya kamu tidak sedang sibuk. Sama dong, bagaimana kalau kita makan siang? Lagian, ngapain kamu memikirkan wanita yang ternyata jauh lebih bahagia dari apa yang kamu kira." Jengah. Ingin rasanya dia mengusir Amanda. Tapi karena di depan ruangannya banyak para pegawai dan CCTV, Fengying sebisa mungkin menahan kesabaran. "Amanda. Kumohon, berhentilah. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah meruntuhkan perasaanku kepada Kavya." "Oh ya? Kamu tahu, bahkan istri yang kamu cintai itu tengah foto-foto bahagia. See?" Amanda menunjukkan beberapa postingan Naina dengan caption move on. Apa maksudnya? Apakah dengan mudahnya Kavya menyerah atas pernikahan merek begitu saja? Atau ini hanya sekedar caption saja karena Naina memilih Radit sebagai pasangan barunya setelah lama menjomlo. Hanya foto, Fengying tidak mau berpikiran yang tidak-tidak. Semuanya murni salahnya, harusnya dengan sekuat tenaga dia bisa menahan istrinya untuk tetap tinggal di sisinya. Membela wanita yang sampai sekarang tidak pernah membantah semua perintahnya. Menjaga seorang istri yang meskipun sama sekali tidak disukai oleh mertuanya. "Pergi, Amanda. Aku tidak bisa memanggil security karena kita pernah bekerja sama dan semua orang tahu perusahaan ini banyak berkembang karena terkenal berkolaborasi dengan perusahaanmu." Amanda hanya tertawa, hanya menunggu sampai kapan mereka akan bertahan. Pernikahan yang selalu diagung-agungkan sebentar lagi akan roboh. Lihat saja, ini tinggal selangkah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN