Fengying menghampiri Kavya dan berbisik, "kamu jangan tersinggung dengan sikap mamaku. Dia hanya butuh waktu bagaimana mengenal dirimu. Aku sangat mengenalnya."
"Tapi aku takut sekali pada Mama Fengying, dia kelihatannya membenciku." Air mata mendesak di pelupuk mata. Penolakan terang-terangan itu berhasil meruntuhkan semangatnya pagi ini.
Sementara Fengying menyuruh Kavya duduk untuk sarapan bersama papanya. Mereka makan dalam diam, menghilangkan kecanggungan yang sejak tadi tercipta.
"Selamat datang di rumah Kavya. Aku tahu tidak mudah untuk beradaptasi di sini apalagi sikap istriku jelas tidak bersahabat. Aku hanya memintamu sedikit bersabar dan semua ini akan menjadi mudah." Chandra menyambut hangat menantu barunya. Dia tak mau ikut-ikutan membenci menantunya itu.
"Iya, Pa. Mama juga bersikap seperti itu karena salahku. Andai saja aku tidak menjadi penyebab meninggalnya mamaku mungkin dia juga ada di sini." Selera makan Kavya mulai menghilang, ia terlalu sakit hati mengingat penolakan Helsi.
"Jangan sedih, Nak! Mamamu sudah tenang di sana dan aku masih yakin suatu hari Helsi akan berubah. Kamu harus bersabar untuk ini." Senyum Chandra langsung merekah mengingat Helsi yang dulu. Sangat penyayang dan santun.
"Iya, Pa. Aku berharap semuanya akan membaik."
Tiba-tiba Fengying ikut nyeletuk menimpali perkataan ayahnya.
"Aku juga berpikir yang sama seperti Papa. Mama tidak pernah membencimu, dia hanya sedikit kesal. Dan kamu jangan berkecil hati sayang." Fengying pandai sekali menghibur hati galau istrinya.
"Ya, aku tidak akan pernah bisa membenci Mama Fengying. Bahkan ketika kita tidak bersama dia masih keluarga ku." Kavya menyudahi makannya kemudian di susul oleh Chandra yang langsung ke kamar.
"Kamu ingin ke toko bungamu, Kan?" Tanya Fengying.
"Ya, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana."
"Baiklah, jemput aku seperti biasa jangan terlambat lagi." Kavya terus saja memperingati Fengying yang tak melupakan janjinya. Ada baiknya, jika ia mengatakan hal itu pada Fengying sebelum ia kembali ingkar janji.
"Iya, Sayang. Ayo, kita pergi sekarang!" Fengying yang tidak sabar menarik tangan istrinya itu berjalan keluar.
Sesampainya di mobil, dia buru-buru membuka pintu mobil dan mempersilahkan Kavya masuk. Mendapat perlakuan yang romantis, Kavya langsung senang bukan main. Pasalnya, suaminya ini tidak pernah berubah selalu saja membuatnya senang.
Selama di dalam mobil Kavya tidak berhenti berceloteh menceritakan banyak hal pada Fengying. Pria itu hanya tersenyum memandangi istrinya yang sangat cantik tampak senang.
Dia merasa jadi pria paling beruntung di dunia karena Kavya telah memilihnya untuk menjadi teman hidup, menemaninya sampai tua. Nikmat mana lagi yang di dustakan? Tentu saja Fengying tak kufur nikmat mendapatkan Kavya.
"Sudah sampai, terima kasih telah mengantarku." Kavya mencium pipinya lalu keluar. Namun saat ia akan melangkah lagi, Fengying keluar dari mobil dan menghampiri Kavya lalu menggendong istrinya ala bridal style memasuki toko bunga.
"Fengying, turunkan aku! Hey!" teriak Kavya merasa malu di gendong seperti anak bayi.
Sesampainya di dalam toko bunga, Naina langsung menggoda mereka. Wanita itu tidak pernah terlambat saat membuka toko bunga.
"Hmm, hmm, pengantin baru kok so sweet begini. Aku jadi ingin cepat-cepat menikah," goda Naina menaikkan alisnya sebelah alisnya secara bergantian.
Ia sangat senang melihat sahabatnya itu bisa bahagia setelah yang ia lalui begitu sulit. Jika mengingat hal itu, Naina ikut sedih di saat Kavya merasa sendirian dan hanya Radit yang selalu ada untuknya.
"Ya, seharusnya kamu memang mencari pasangan hidup Naina. Aku sudah bosan melihat mu menjadi jomblo tak bermutu seperti ini." Fengying menurunkan Kavya dari gendongannya.
"Bos muda bicara tanpa memedulikan hatiku yang sakit ketika di singgung masalah pernikahan." Naina berpura-pura merajuk padahal tidak sama sekali.
"Kamu memang pantas di sadarkan untuk mencari calon suami segera," kata Kavya membela suaminya.
"Kamu bisa memilih pria yang mana kamu inginkan, karyawan di kantor atau temanku yang memiliki perusahaan." Kali ini Fengying serius dengan tawarannya. Dia sangat tahu Naina adalah sahabat baik Kavya, dan wanita itu berhak mendapatkan yang terbaik.
"Apa bos muda serius dengan tawaran mustahil ini?" mata Naina berbinar tidak percaya apa yang Fengying katakan.
"Tentu saja, kamu pikir aku bohong." Fengying tertawa melipat tangan ke d**a.
"Masalahnya kriteria calon suamiku sulit Bos muda. Aku yakin anda tidak bisa mendapatkan pria semacam itu." Suara Naina tampak ragu tidak yakin atas keputusannya kali ini menerima tawaran dari Fengying.
"Kriteria apapun kamu bisa dapatkan Naina. Jangan kKavyatir! Datanglah, ke pesta dansa nanti dua hari ke depan. Aku akan mengenalkan seluruh pria di kota ini," tawar Fengying memegang tangan istrinya.
"Tidak, Bos muda. Aku rasa aku bukan wanita seistimewa itu di ajak ke pesta dansa kalangan kelas atas. Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak pantas." Sumpah demi apapun Naina tak mau menjadi bagian dari pesta itu apalagi Fengying sendiri yang mengundangnya.
Dia adalah pria terpandang di kota ini dan Naina tidak mau menyusahkannya.
"Semua orang berhak datang kesana termasuk kamu. Aku sangat senang kamu bisa memenuhi undanganku." Fengying hanya tersenyum berharap wanita itu mau merubah keputusannya. Bukan tanpa alasan ia ingin membantu Naina, tapi wanita itu berhak bahagia.
"Kau harus datang Naina. Fengying telah mengundangmu. Aku pasti akan datang kesana dan kau juga harus datang, jika tidak aku akan memotong gajimu," ancam Kavya sedikit memaksa. Ia merasa ini adalah kesempatan besar untuk sahabatnya itu.
"Akan aku pikirkan." Naina menghela napas kasar.
Fengying yang merasa sudah waktunya untuk pergi, dia meminta ijin pada Kavya.
"Sayang, aku pergi dulu, yah. Kamu hati-hati saat bekerja. Jangan sampai terluka atau aku akan menutup tokomu." Matanya berubah mengancam. Wajar ia posesif pada istrinya, dia ingin selalu memberikan yang terbaik untuknya.
"Kamu tidak boleh menutup tokoku karena aku akan bekerja dengan hati-hati."
"Baiklah, Bye... Bye..." Fengying melambaikan tangan sambil mendorong pintu kaca toko bunga Kavya.
"Hati-hati di jalan," teriak Kavya menatap suaminya berjalan ke arah mobil.
Sementara itu, Naina menggigit kukunya merasa pusing dengan keinginan Fengying untuk menjodohkannya bersama seorang pria. Dia sangat pusing merasa tidak pantas mendapat kesempatan itu.
"Naina, jangan panik begitu! Aku ingin kamu menarik napas dan hembuskan pelan."
"Bagaimana tidak panik. Bos muda ingin menjodohkan ku dengan pria pilihannya di pesta. Aku merasa tidak pantas." Naina seperti orang bodoh saat di hadapan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa Naina. Aku ada di sana, Kan? Lagipula belum fix, kau bisa memilih pria yang mana." Kavya menepuk pelan lengan sahabatnya itu.
"Baiklah... Baiklah... Aku setuju."
"Kamu memang harus setuju. Jika tidak, aku akan benar-benar kecewa. Fengying memberi mu kesempatan." Kavya tak mau mengecewakan suaminya itu.
Ia tahu benar, Fengying selalu ingin yang terbaik untuk orang lain. Pria itu terlalu sempurna untuk menjadi suaminya. Dia adalah mimpi indah yang ia inginkan selama ini.
"Aku tidak akan mengecewakannya." Naina memeluk Kavya lalu kembali ke taman untuk mengurus bunganya.
Jadwalnya hari ini adalah menyiram beberapa tanaman bunga dan memberikan pupuk. Tugasnya memang banyak setiap hari tapi dia senang bekerja di tempat ini.
Belum tentu Naina bisa nyaman di tempat lain saat bekerja. Apalagi dia membantu temannya sendiri. Kavya sudah banyak jasa selama ini dan wanita itu tak mengecewakannya.
Naina ingin selalu berteman dengan Kavya baik suka maupun duka agar semua masalah bisa cepat selesai. Kavya juga sangat baik, tidak perhitungan pada dirinya. Melihat sahabatnya menikah da bahagia membuat Naina bisa bernapas lega.
Akhirnya Kavya bisa mendapatkan impiannya yang selama ini diinginkan. Naina ingin perusahaan mereka terjalin sampai akhir hayat, dan tak terpisahkan.