Di benci mertua

2120 Kata
Sudah berpindah rumah ke tempat mertua, Kavya sebisa mungkin beradaptasi dengan orang-orang baru. Meskipun mereka adalah orang tua Fengying, tapi tetap saja Kavya tidak pernah sedekat itu dengan mereka. Ada perasaan campur aduk yang membuat Kavya ketar-ketir, apalagi hubungan keduanya memang terbilang rumit. "Kamu gak perlu kKavyatir, Sayang. Mama gak akan sejahat itu, dia itu sebenarnya baik. Hanya rasa sakitnya saja yang tidak pernah mereda, so, apa pun yang terjadi aku harap kamu tidak terlalu membencinya. Aku berangkat kerja dulu, kamu kutinggal gak apa-apa kan?" Kavya memilih mengiyakan permintaan suaminya. Kalau dulu, dia bisa meminta pertolongan sang kakak, tidak sekarang. Hidupnya sudah menjadi tanggungjawab Fengying, pria itu pasti tidak akan diam saja saat ada orang lain yang menyakiti istrinya. Toh, sejahat apa pun Helsi, Kavya yakin wanita itu tidak akan berbuat hal buruk kepadanya. Kalau hanya kecaman dari kata-kata, itu sudah terlalu biasa untuk didengar bukan? Kepergian Fengying membuat Kavya akhirnya memberanikan diri memindai beberapa ruangan. Rumah orang tua Fengying begitu luas, bahkan ada beberapa pembantu yang memang dikhususkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Sudah bangun rupanya. Suamimu sudah berangkat kerja?" "Sudah, Ma. Maaf, saya kesiangan." "Tidak masalah. Toh, keberadaanmu di sini memang tidak terlalu dibutuhkan bukan? Kau bisa tidur dan santai-santai, sementara anakku harus bekerja hanya demi menghidupimu." Tahan, Kavya. Ini belum apa-apa, jangan sampai membalas kemarahan dengan hal yang sama. Dia tahu, mertuanya seperti apa dari dulu. "Saya bisa membantu pekerjaan rumah, Ma. Kalau diizinkan." Helsi berlalu begitu saja, memanggil pembantu untuk menyiapkan sarapan. Biasanya dia pernah semarah ini, tapi mungkin dengan adanya Kavya, rasa tak sukanya semakin menjadi-jadi. Belum lagi sekarang sudah ada banyak orang yang tahu siapa Kavya. Yang paling menyebalkan adalah banyaknya orang yang mengatakan bahwa Kavya adalah istri yang baik dan menantu idaman. Helsi hanya mencebik mendengarnya. "Ini, Ma. Saya ambilkan, mama mau minum apa? Biar saya buatkan." "Gak usah repot-repot, makan saja." "Ba-baik, Ma." Kavya akhirnya menyuapkan nasi dan beberapa lauk ke mulutnya. Meskipun sebenarnya dia tidak berselera karena melihat ekspresi mertuanya yang begitu ketus. Apakah ini akan bertahan lama? Apakah keputusan pindah hidup bersama mertua adalah sebuah kebenaran? Entahlah, rasanya Kavya hanya bisa bersabar demi rasa cintanya pada Fengying dan demi menjadi menantu yang direstui mertuanya sendiri. *** Fengying memang selalu kompeten dengan segala bisnis dan usahanya, banyak yang memujinya terlebih karena sikap rendah hatinya. Banyak yang berharap menjadi pendampingnya dulu sebelum pria itu menikah, sayang sekali semua orang kini tahu kalau Fengying sudah menikahi Kavya. "Kabar istrimu bagaimana?" "Baik. Kami sekarang tinggal bersama mama. Kenapa?" "Ah, iyakah? Kenapa gak mandiri saja? Bukankah terlalu beresiko, apalagi kan kamu tahu sendiri sikap bu Helsi kayak apa?" Fengying mengangkat bahu, tidak setuju. Banyak pula beberapa rekan kerja yang mengkasihani Kavya karena mertuanya terkenal dengan sikap ingin menang sendiri. Lagipula, Fengying sudah bisa dikatakan cukup mapan untuk berumah tangga sendiri tanpa harus mengintil orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi keputusan Helsi, dia hanya bisa menurut dan berharap istri pun mamanya akan akur suatu hari nanti. Karena dia ingin sekali keluarganya tak ada yang saling menyimpan dendam. Beda dengan sang papa, hanya mengikuti apa pun yang dilakukan Fengying tanpa adanya protes sedikit pun. "Doa yang baik-baik saja. Aku yakin sekali Kavya bisa mengambil hati mama. Ya udah, kita ke ruangan rapat saja. Para pegawai sudah menunggu." "Oke, Pak Fengying." Banyak pasang mata yang berbisik-bisik setelah kedatangan Fengying. Bagaimana pun juga, pria itu selalu punya daya tarik tersendiri bagi para kaum wanita. Pria yang tampan, tidak neka-neko, tidak pernah melecehkan wanita dan selalu bekerja keras. Andai saja masih ada kesempatan, pasti ada banyak jalan untuk menjadi istri Fengying. Pria sesempurna dia, terlalu sayang dilewatkan bukan? Berbeda dengan Fengying yang selalu diagung-agungkan di kantor, Kavya merasa bingung dan malu. Helsi, wanita itu baru saja mengadakan acara arisan bersama beberapa teman terdekatnya. Dan yang membuatnya ketar-ketir adalah, dia harus ikut bergabung agar saling mengenal satu sama lain. Apakah nanti akan baik-baik saja? Takutnya, Kavya akan dicemooh karena dia memang selalu berpenampilan sederhana. Tidak menjunjung tinggi soal penampilan. "Kamu cukup menjawab iya saja saat mereka bertanya. Dan ingat, jangan bilang kalau kamu sebenarnya saudaranya Fengying. Aku gak mau mereka tahu aku memiliki menantu yang merupakan kerabat sendiri." "Baik, Ma." "Jangan bikin malu." Helsi mengangkat sebelah alisnya, rencananya memang selalu mulus. Dia hanya ingin membuat Kavya perlahan-lahan pergi dari rumah ini tanpa harus mengusirnya secara terang-terangan. Apalagi, Helsi sangat tahu kalau Kavya tidak akan tahan dihina secara terus menerus. Bel pintu rumah berbunyi, Helsi yakin itu adalah teman-temannya. Begitu pintu terbuka, senyumnya langsung merekah. Apalagi ada beberapa temannya yang membawa menantu mereka, tentu saja dengan pakaian yang mewah dan penampilan yang memikat. "Ya ampun, Jeng! Udah lama sekali ya gak kumpul-kumpul. Tambah cantik sekali, Jeng. Pakai jamu awet muda ya?" Helsi menutup mulutnya, hampir tersipu malu dengan khas tertawanya yang melambung ke udara. Dia memang selalu menomorsatukan penampilan, perawatan, dengan tujuan agar selalu terlihat tidak tua dan keriput. "Kamu juga loh, Sis. Ini menantu kamu? Wah, stylish banget ya?" "Halo, Tante. Saya Miranda, istrinya mas Bakti. Senang bertemu anda." Bagi Helsi, Miranda begitu anggun dan berkharisma. Kalung yang berkilau sangat cocok di lehernya, pun Helsi berkenalan dengan menantu-menantu dari temannya yang lain. Dan ini saatnya dia memperkenalkan Kavya, dari dulu Helsi memang selalu mengaku kalau Fengying belum menikah. Tapi karena pesta resepsi, semua orang pasti sudah tahu kebenarannya. Kavya yang merasa namanya terpanggil, dia pun keluar dengan membawa nampan berisi minuman. Jalannya begitu lambat karena takut akan terjatuh, lalu menyalami satu persatu teman-temannya mertuanya. "Cantik juga menantu kamu. Lulusan apa dia? Di Universitas mana?" Rasanya, Kavya hanya bisa diam seribu bahasa. Dia bukan wanita berpendidikan tinggi, tapi Kavya adalah wanita yang supel dan mudah disukai. Hanya beberapa orang saja yang bisa melihat kelebihan Kavya. Aksi mengunggulkan setiap menantu pun benar-benar terjadi, di antara mereka, Helsi sangat iri karena Miranda begitu sempurna. Bukan hanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga saja. Tapi mampu punya peluang untuk berbisnis, tidak hanya bisanya menghabiskan uang suaminya saja. "Wah, hebat sekali. Salut aku loh, Sis. Wanita jaman sekarang memang harus mencintai dirinya sendiri, bisa menciptakan banyak ruang untuk berkarya. Gak cuma diam saja di rumah. Miranda, kamu sangat hebat, Tante bangga bisa kenal sama kamu." Yang dipuji-puji pun hanya membalasnya dengan senyuman. Sudah terlalu biasa, apalagi memang dari dulu Miranda tidak ingin menjadi babu di rumahnya sendiri. Melayani suami bukanlah satu-satunya kewajiban. Mungkin pandangan berbakti berbeda bagi Miranda dan Kavya. Kavya hanya bisa percaya dengan apa yang dijalaninya sekarang sebagai seorang istri. Dilebih-lebihkan soal ketrampilan, Helsi memang sengaja membuat Kavya merasa canggung dengan dirinya sendiri. Helsi ingin membuat istri Fengying itu kewalahan menghadapi betapa menyebalkan dirinya. Tapi, Kavya tetap percaya diri. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, beribu kali meminta maaf atas kematian ibu kandungnya yang membuat Helsi kehilangan saudaranya, tidak membuat Kavya putus asa. Dia pun juga merasakan kepedihan itu selama bertahun-tahun. Bertahan sedikit saja pasti akan membuatnya merasa lebih baikan. "Tadi namanya Miranda. Dia sangat cantik kan? Di usianya yang masih muda, wanita seperti dia berani keluar kandang dan tidak hanya mengandalkan jasa suaminya saja. Harus diacungi jempol, Pa. Mama kagum loh sama dia, wajar aja Bakti sangat mencintai istrinya karena mandiri dan berpikiran terbuka." Suami Helsi hanya diam saja, tidak berkutik apa-apa. Tidak ingin memperpanjang masalah yang sebenarnya tidak ada menjadi diadakan hanya karena peristiwa kematian ibu kandung Kavya. Itu sama sekali bukan kesalahan Kavya, dia sangat tahu wanita itu jauh lebih tersiksa dibanding apa yang dialami oleh istrinya. "Aku ke kamar dulu, Ma. Sambil nungguin mas Fengying." Helsi hanya mengangguk, tidak memandang menantunya sama sekali. Perasaan dongkolnya pun sebaik mungkin disembunyikan, ini masih belum apa-apa karena setelah ini akan ada pertikaian yang lebih menyakitkan lagi. Selamanya tidak merestui, Helsi akan selalu begitu. Merasa hanya dianggap orang asing, Kavya menahan isak tangisnya sendiri. Ingin rasanya berlari, mengadu pada baru nisan sang ibu, di mana dia bisa mengatur semua perasaan dan keluh kesahnya. Kavya pun merindukan kakaknya yang selalu memberi support luar biasa. Tapi, Kavya ingin membuktikan kalau dia adalah istri yang berguna, dengan perasaan luar biasa kepada Fengying. "Kamu sudah pulang, Mas?" "Iya. Aku mengetuk pintu dari tadi, tapi kamu tidak membukanya. Kupikir kamu sedang mengerjakan sesuatu, melamunkan apa? Sepertinya ada yang kamu pikirkan? Apakah terjadi sesuatu sama kamu, Sayang? Mama gak mengatakan hal buruk bukan?" Kavya terpaksa menampilkan senyum palsunya. Bagaimana pun juga, dia sangat tahu Fengying sangat menyayangi mamanya juga dirinya, lebih baik mengalah daripada tambah runyam. Toh, kebetulan Fengying selalu menjadi pria super baik untuk dirinya. "Enggak, Mas. Aku cuma kurang enak badan aja, boleh aku minta sesuatu?" Fengying melepaskan kemejanya, membuang di semarang tempat dan mengambil handuk untuk mandi. Tapi sebelum itu, tubuhnya mendekat pada Kavya dan memeluknya. Dan benar, kening istrinya lumayan menghangat. "Kamu demam, Sayang. Nanti aku minta bibi untuk membuatkan teh hangat ya? Terus kita periksa ke dokter, oke?" Tidak, Kavya menggeleng. Satu-satunya hal yang paling mujarab yang membuatnya cepat baikan adalah pelukan Fengying. Pria itu semacam punya suntikan ajaib yang bisa ampuh menyembuhkan Kavya dari segala sakit yang dihadapinya. "Peluk aku lebih lama, Mas. Aku sangat merindukanmu." "Ah, Sayang. Tanpa kamu minta pun, aku akan memelukmu. Begini kan yang kamu mau?" Menit berikutnya, mereka saling menyatukan bibir dan memanggil nama masing-masing. Fengying tidak tega melihat Kavya sakit dan badannya hangat begini. Apalagi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri di depan makan ibu kandung Kavya untuk selalu menjaga anaknya sampai kapan pun. Akhirnya, setelah b******u sesaat, Fengying harus mandi karena dia merasa badannya lengket dan bau. Mencium sekali lagi kening yang begitu nyaman untuk dicium. "Ingat, Sayang. Cuma kamu yang aku cintai di dunia ini. Tidak ada yang lain. Aku mandi dulu ya, tadinya aku mau ngajak kamu. Tapi ya sudahlah, kamu lagi demam." Kedipan mata genit Fengying membuat Kavya terpingkal-pingkal. Dalam keadaan kalut seperti ini pun, Kavya tetap bisa tersenyum dan itu semua pasti karena pesona Fengying yang tak terkalahkan. Dia tak menyangka. Efek dari hinaan mertuanya sangat mempengaruhi pikirannya, rasa sakit hatinya dan juga ketakutannya. Kadang, ada pikiran buruk yang melintas. Apakah mama mertuanya sudah menyiapkan hari di mana dia akan menyuruh Fengying memilih antara mamanya dan juga dirinya? Ah, membayangkannya saja Kavya sudah tidak sanggup. Daripada merepotkan suaminya, Kavya memilih untuk keluar kamar sendiri dan membuatkan teh untuk dirinya sendiri. Dia memang bukan tipe wanita yang menyusahkan suami apalagi dia sangat tahu kalau Fengying pasti masih lelah karena sepulang kerja. "Itu buat Fengying? Bukankah Fengying tidak terlalu suka teh manis?" Kavya hampir saja menjatuhkan sendok yang dia gunakan untuk mengaduk gula agar larut dalam air hangat, kaget dengan kedatangan mertuanya yang entah kapan sudah berada di dekatnya. "Enggak, Ma. Ini untuk aku senidri, badanku agak kurang sehat dan mas Fengying menyaranku untuk membuatkan teh hangat. Aku memang suka teh manis. Mama mau minta dibuatkan juga?" "Kamu gak menyiapkan makan malam buat suami kamu? Dia capek kerja loh, eh malah buat minuman untuk kamu sendiri. Bagaimana sih kamu jadi istri?" "Tapi kan aku tadi bilang lagi gak enak.." "Jangan jadikan itu alasan. Fengying itu bekerja buat siapa? Bukan buat mama lagi, tapi juga kamu. Tolong sadar diri." Percuma juga membela diri. Kadang, terbesit pertanyaan terbesar dalam pikirannya sendiri. Kenapa mama mertuanya sebegitu bencinya padahal Kavya sama sekali tidak pernah menimbulkan masalah. Apakah mencintai Fengying, anaknya adalah kesalahan fatal? Apakah mencintai seseorang adalah suatu hal yang dianggap salah? Melihat Helsi berlalu, akhirnya Kavya bisa mengusap air matanya yang sejak tadi dia tahan. Ada rasa sakit yang luar biasa setiap berhadapan dengan mertuanya. Tapi, bagaimana pun juga dia harus tetap bertahan. "Mas, dimakan dulu. Ini, aku buatkan teh juga. Gulanya juga sedikit." "Loh, sayang. Kok kamu keluar? Kan lagi gak enak badan, padahal tadinya aku mau membuatkan makanan kesukaan kamu." Kavya tersenyum bahagia karena tahu suaminya tidak akan tega melihatnya bersusah payah berjalan ke dapur demi mengambilkan makanan untuknya. "Gak masalah, Mas. Lagian kan aku ingin melayanimu sebaik mungkin, Mas. Sebagai seorang istri, sudah kewajiban bukan menyambut suaminya pulang?" Akhirnya Fengying mau makan dengan syarat wajib Kavya harus ikut makan bersamanya, jadilah makan sepiring berdua. Hal-hal manis seperti inilah yang membuat Kavya merasa dipedulikan dengan gara-gara kecil yang membahagiakan. "Terima kasih ya, Mas. Terima kasih kamu selalu baik sama aku." "Iya, udah dong. Jangan melow begitu, tuh, kamu makan belepotan begini. Kayak anak kecil tahu, sayang." Mereka tertawa bersama. Dari arah luar, Hesti hanya melengos, tidak sengaja melewati kamar pasangan suami istri itu. Rasa kesalnya makin menjadi-jadi. Sebenarnya kenapa sih anaknya bisa begitu menyukai Kavya yang hanya bisa merepotkan saja? "Ngapain, Ma? Nguping kamar anak sendiri?" Helsi menoleh, mendapati suaminya yang berwajah heran dengan kebiasaan istrinya. "Gak apa-apa, tadi cuma mau manggil Fengying tapi gak jadi. Papa juga ngapain sih tanya-tanya, emangnya salah orang tua mau melihat anaknya?" Hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Helsi yang begitu menyebalkan. Semoga saja istrinya segera berubah dan bisa melihat kebaikan Kavya dari sisi yang berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN