Teman?
“Aya, ayo cepaaat!!” teriak Farrel setelah berhasil melewati gerbang sekolah. Napasnya masih terengah, sementara Aya tertinggal cukup jauh di belakang. Di sisi lain, Pak Rodi sudah bersiap menutup pintu gerbang.
“Pak, tunggu sebentar, Pak! Tolong, teman saya masih di luar!” pinta Farrel memohon, berusaha menahan gerbang agar tidak ditutup.
Namun, Pak Rodi menepis tangan Farrel dengan tegas. “Itu salahnya. Peraturan tetap peraturan. Aturan ini sudah ada bahkan sebelum kamu masuk ke sini, Farrel!”
Dan… pagar itu akhirnya tertutup tepat sebelum Aya sempat masuk. Denting besi yang beradu terdengar seperti penutup harapan kecilnya pagi itu. Satu per satu siswa dan guru mulai bergiring masuk ke dalam kelas, meninggalkan suasana gerbang yang kembali lengang.
Namun tidak dengan Farrel.
Ia tetap berdiri di sana, menoleh ke arah Aya yang masih terpaku di kejauhan. Tanpa banyak pikir, Farrel berlari kecil, lalu dengan sigap memanjat dan melompati pagar sekolah.
Di ujung gerbang, Aya hanya bisa mematung. Tatapannya terpaku pada sosok Farrel—teman bodohnya—yang kini justru memilih “kabur” demi menunggunya.
Saat akhirnya mendarat di sisi luar pagar, Farrel menepuk-nepuk tangannya santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ia tersenyum kecil ke arah Aya.
“Sekarang kita impas… sama-sama terlambat.”
Aya bukannya senang. Wajahnya justru mengeras. Tanpa basa-basi, ia menepuk pundak Farrel cukup keras.
“Bodoh banget sih lo! Harusnya tadi lo masuk aja, duduk di kelas, belajar. Biar tuh ranking lo yang jeblok bisa naik!”
Farrel meringis, lalu menyeringai santai. “Apaan sih, Ay. Gue ini teman setia lo! Cuma ya… kalau urusan ranking, lo yang nggak setia. Harusnya lo turunin dikit, biar kita dimarahin orang tua bareng-bareng.”
“Gila! Males banget gue. Nggak mau!” Aya mendengus kesal.
Farrel mengangkat bahu, masih dengan senyum jahilnya. “Yaudah, jangan marah-marah gitu. Sekarang… kita bolos aja, yuk.”
Aya menyipitkan mata. “Bolos ke mana?”
“Ke mana aja yang penting seru,” jawab Farrel enteng.
Aya menghela napas, lalu menjawab singkat, “Ayok. Tapi ke perpus.”
Farrel langsung menatapnya seolah baru saja mendengar hal paling aneh pagi itu. “Gila banget lo, Ay. Bolos ke perpus?”
Aya menatapnya datar. “Sekarang kita udah kelas 12, Farrel. Harusnya kita mulai serius belajar buat persiapan kuliah. Bukannya lo mau ambil teknik?”
Farrel menggaruk tengkuknya. “Iya sih… gue tau, Ay. Tapi nggak harus belajar terus kayak lo juga, kali.”
Ia mendekat, mencoba membujuk lagi. “Sekali-kali kita main, yuk. Tanggung, Ay udah di luar juga.”
Aya terdiam sejenak, menatap Farrel yang masih berharap dengan senyum setengah memohon.
“Kelamaan mikir, Ay. Udah, ayo!” Farrel menarik tangan Aya tanpa memberi kesempatan untuk menolak. Keduanya pun bergegas naik ke dalam bus yang baru saja berhenti.
“Mau bolos kalian berdua?” tegur sopir sambil melirik dari kaca spion.
Farrel terkekeh ringan. “Hehe, nggak, Pak. Tadi kami udah niat mau sekolah, tapi pas sampai gerbang, pintunya keburu ditutup. Jadi ya… pulang deh,” jawabnya santai, seolah itu hal biasa. Ia lalu menuntun Aya ke bangku kosong.
Aya duduk di dekat jendela, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya. Farrel duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke arah Aya yang masih terlihat kesal, meski tak lagi berkata apa-apa.
Tiga halte terlewati, hingga akhirnya mereka turun di tempat tujuan Farrel—sebuah taman kota yang tampak asri dan tenang. Pepohonan rindang menaungi area taman, menciptakan suasana sejuk yang nyaman. Di tengahnya, sebuah danau kecil memantulkan cahaya pagi dengan tenang.
“Ayo, Ay. Kita udah sampai,” ujar Farrel, lagi-lagi menarik lengan Aya dengan antusias.
Mereka berjalan sebentar, lalu duduk di atas hamparan rumput hijau.
Aya menatap sekeliling, lalu kembali menoleh ke Farrel. “Ini tempat yang lo bilang asik itu, Rel?”
Farrel mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya, Ay. Gimana? Sejuk, kan? Gue biasanya ke sini kalau lagi mumet… atau lagi kangen rumah.”
Aya mengernyit tipis. “Kalau kangen rumah, ya pulang, Farrel. Bukan ke sini.”
Farrel terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke danau di depan mereka.
“Rumah yang gue datangi… nggak setenang ini, Ay.”
Aya memahami situasi Farrel. Temannya yang selalu terlihat ceria, yang tak pernah gagal membuatnya tertawa, ternyata menyimpan latar belakang yang pahit terutama jika sudah berkaitan dengan rumah.
Bagi banyak orang, rumah adalah tempat untuk pulang, bersandar, dan merasa aman. Namun, hal itu tidak pernah benar-benar dimiliki Farrel. Karena itulah, ia memilih tinggal jauh dari orang tuanya dan menetap di kota ini, hidup mandiri dengan menyewa kamar kecil.
Farrel dikenal sebagai anak yang rajin. Ia juga sangat menyayangi adik dan ibunya. Uang yang ia hasilkan dari bekerja paruh waktu sepulang sekolah tidak pernah ia habiskan untuk dirinya sendiri. Sebagian besar bahkan lebih dari setengahnya selalu ia kirimkan untuk adik dan ibunya yang tinggal di kampung.
Ayah?
Bagi Farrel, sosok itu terasa asing. Bukan hanya sebagai panggilan, tapi juga sebagai makna. Sosok yang seharusnya melindungi keluarga justru menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya.
Sejak kecil, Farrel sudah terbiasa dengan kekerasan. Ia tahu bagaimana rasanya dicambuk, dipukul, bahkan hampir kehilangan nyawa akibat amarah ayahnya. Bukan hanya dirinya ibu dan adiknya pun merasakan hal yang sama.
Yang paling menyakitkan, ibunya tetap bertahan.
Sejak kecil, Farrel melihat sendiri bagaimana ibunya dipukul, ditampar, bahkan diinjak tanpa belas kasihan. Berkali-kali ia mengajak ibunya pergi, meninggalkan rumah itu, mencari kehidupan yang lebih layak. Namun, setiap kali pula, ibunya memilih kembali.
Seolah luka itu adalah takdir yang harus diterima.
Farrel pernah bersumpah—suatu hari nanti, ia akan hidup bahagia bersama ibu dan adiknya. Mungkin bukan sekarang, mungkin jalannya masih panjang dan penuh luka. Namun, janji itu sudah tertancap kuat di pikirannya, di hatinya.
Janji yang tak pernah ia lupakan.
Setiap hari, kalimat yang sama selalu ia ucapkan pada adiknya, seolah menjadi penguat di tengah keadaan yang tak pernah mudah.
“Sabar, ya… kita pasti bahagia.”
Ia sendiri tidak tahu kapan hari itu akan benar-benar datang. Tapi ia percaya atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk tetap percaya.
Semoga…
dan semoga.
Dan di sinilah ia sekarang menikmati hembusan angin bersama Aya, satu-satunya orang yang selalu ia ajak berbagi cerita. Seseorang yang, tanpa ia sadari, telah ia anggap sebagai keluarga… di saat ia sendiri bahkan belum benar-benar memahami arti dari kata itu.
Aya selalu hadir. Selalu ada.
Dan bagi Farrel, kehadiran Aya adalah hadiah dari Tuhan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Lalu, akankah kisah manis ini tetap bertahan seperti sekarang?
Ataukah dua hati yang selama ini bersembunyi di balik kata “teman” perlahan akan berubah… menjadi cinta?