"Jual diri aja gimana Gif? Aku nggak mampu kalau disuruh ganti harga bunga mawar putih mu itu. Nggak papa deh Gif, jual diri. Wong sama kamu juga." kata Keisha mendadak.
Mata Giffard nyaris saja lepas dari tempatnya mendengar kata itu. Tangannya reflek menoyor kepala Keisha dengan gemas. "Punya otak dipake mikir. Gampang bener ngomongnya."
"Lah gimana kalau gak begitu. Aku udah nggak punya apapun loh Gif. Duit nggak punya, rumah juga numpang sama kamu, terus apalagi coba? Nyawa juga cuma titipan Gif, dan aku cuma punya harga diri doang ini yang tersisa."
"Masalahnya harga dirimu sudah kubeli kalau kamu lupa. Terus mau jual apa lagi!!" geram Giffard.
Dan nyata ya Keisha lupa akan hal itu. Dia sudah menerima duit banyak dari Giffard, dan sudah di berikan pada ayah dan ibunya, sekarang apalagi yang harus dijual pada Giffard?
Perempuan itu merubah posisinya, yang dari awal berdiri hingga duduk di sofa sambil menarik tangan Giffard. "Gif kamu butuh ginjal nggak? Aku ada dua, lumayan sih kalau dijual mahal loh Gif."
Giffard menarik nafasnya, disini Giffard mendadak ragu jika Keisha itu mahasiswa semester akhir. "Aku juga punya dua."
"Tambah lah Gif satu lagi biar tiga ginjal kamu. Siapa tau ginjal kamu rusak satu butuh transferan ginjal, aku siap Gif."
"Nggak akan cocok juga ginjal kamu di aku. Dan aku nggak butuh ginjal kamu."
Keisha tak mau mengalah. “Open BO Gif, open BO.”
“Nggak butuh!!” teriak Giffard yang mulai kesal. Masalahnya itu otak isinya apa sih!!
"Terus kamu butuhnya apa Gif?"
"Tulang rusuk. Aku butuh itu!!" Keisha pun diam menatap Giffard uang nyengir di depannya. "Itu yang aku butuhkan, jadi gimana? Jadi jual dirinya?" lanjutnya.
Keisha menggeleng, lagian dia juga belum siap menikah dengan Giffard. Selain usianya beda, Keisha juga bukan p*****l yang mau sama bocah.
Membalik badannya hendak pergi, Keisha malah merasakan sebuah sentuhan di kepalanya. Tangan Giffard dengan lancang memutar kepala Keisha yang hendak pergi dari hadapannya. Dan lebih parah nha lagi, bocah kecil itu dengan beraninya malah mengecup kening Keisha sebanyak dua kali.
"Siang nanti bawain makan ke sekolah. Aku tunggu." katanya dan melesat pergi.
Keisha masih berdiri di tempat yang sama dengan ekspresi membingungkan. Matanya mengerjap beberapa kali, tangan kirinya menyentuh keningnya dengan spontan. Dalam pikirannya itu tadi ciuman apa? Ciuman kasih sayang atau ciuman terimakasih?
Menggelengkan kepalanya, Keisha memutuskan untuk masuk ke dalam dapur. Jujur saja hal ini adalah hal yang paling dibenci Keisha, selain dia tidak pandai memasak dia juga takut Giffard keracunan masakannya. Bahkan Keisha masih ingat ketika dia masak dalam kos. dia harus menelpon Bertha untuk bisa membedakan mana lengkuas dan juga mana kencur. Dimana keisha menganggap semuanya sama hanya beda warna saja. Tidak berhenti disana, Keisha yang waktu itu masak bersama dengan Tika, rasanya ingin menangis ketika Tika bertanya takaran air untuk memasak nasi. Entah Keisha yang bodoh atau dirinya yang bermusuhan dengan dapur selama ini. Untung saja semalam, ketika Giffard meminta Keisha masak, dia tidak membakar hangus dapur apartemen Giffard, yang ada selain jual diri Keisha juga akan jual organ tubuhnya untuk bayar utang sama Giffard.
“Oke kompor … tolong ya kerjasamanya.”
****
Mencari informasi dari internet dan juga beberapa sumber. Akhirnya Keisha pun menemukan seragam biru kotak-kotak dengan dasi silang. Keisha tersenyum ketika mengikat kecil rambutnya, dan membuat bagian bawah rambutnya keriting. Memoles bedak tipis dan juga lipgloss yang dia punya, Keisha pun tersenyum. Kali ini dia akan datang ke sekolah Giffard dengan penampilan yang berbeda.
Merapikan sedikit rambutnya, Keisha pun segera pergi ke sekolah Giffard. Dia juga tak lupa memberitahu Giffard jika dirinya akan ke sekolah bocah itu. Untung saja dia meminta satu supir pribadinya untuk menjemput Keisha. Setidaknya perempuan itu hemat ongkos.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit karena terkena macet, Keisha pun sampai di depan gerbang sekolah Giffard. Keisha tersenyum, belum lagi gerbang ini langsung terbuka lebar. Satpam berdiri di dekat gerbang dan mempersilahkan Keisha masuk.
“Anak baru ya Neng, kok nggak pernah ketemu.” kata satpam itu.
Keisha hanya mengangguk kecil, dari ucapannya saja sudah menandakan jika wajah Keisha masih bisa dianggap bocah SMA. Berjalan masuk, ada banyak mata yang mulai memperhatikan KEisha, ada juga yang terang-terangan bertanya siapa nama Keisha. Sayangnya bocah berani beraninya bertanya jika ada banyak temannya. Kalau sendiri jangan harap mulutnya mau mengeluarkan suara.
Mengangguk kecil pada salah satu murid yang berani melambaikan tangan pada Keisha, perempuan itu sesekali menatap orang-orang yang dia lewati hanya untuk memastikan jika dia tidak melewatkan Giffard. Dan sayangnya Keisha sama sekali tidak melihat Giffard sama sekali.
Keisha cemberut dan mencoba menelpon Goffard. Tak ada satu panggilan dan juga pesan yang laki-laki itu respon. Hingga akhirnya …
“Siapa kamu?” tanya seorang perempuan entah asalnya dari mana, dengan berani mendatangi Keisha dengan wajah songongnya.
Alis Keisha terangkat. “Kenapa?”
Perempuan itu menarik nafasnya kesal. “Aku tanya kamu itu siapa dan ada perlu apa masuk ke sekolah kita? Anak baru?”
Keisha mengangguk, “Ya. Aku cari Giffard.”
Perempuan itu melangkah maju, menaruh kedua tangannya di pinggang dan menatap Keisha tidak suka. “Ngapain kamu cari Giffard? Ada hubungan apa kamu sama Giffard!!”
Karena tak mau mengalah Keisha pun menatap perempuan itu sengit, dia tidak takut jika dia harus diserang tiga orang sekaligus. Bahkan dengan bangganya Keisha malah memperkenalkan diri sebagai kekasih Giffard. Dia datang untuk mengantar makan siang Giffard. Disini keisha bisa melihat wajah perempuan itu yang menahan emosinya, bahkan Keisha jadi ingat dia pernah bertengkar dengan kakak kelas hanya karena hal yang sama.
“Bangga banget sih ngaku pacarnya Gif. Dia itu milikku!!”
Keisha tertawa. “Dalam mimpi. Minggir gak ada gunanya aku ladenin kamu, ayankku bisa kelaparan kalau aku terlalu sibuk ngurus kamu!!”
Keisha ingin pergi, salah satu antek perempuan itu menahan tangan Keisha. Hingga membuat Keisha langsung menepis tangan itu. “Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!!”
karena tidak tahan dengan ucapan Keisha, perempuan itu memilih mendorong tubuh Keisha dengan harapan jika Keisha akan jatuh dan dipermalukan di depan umum. Sayangnya, Giffard datang tepat waktu, hingga Keisha langsung jatuh dalam pelukan Giffard. Hingga membuat beberapa anak yang ada di sekitar mereka bersorak kencang.
“Giffard sayang … dia yang mulai duluan, dia melukaiku.” adu perempuan itu.
Keisha hanya diam saja menatap perempuan itu dengan alis yang terangkat sebelah. Sedangkan Giffard, dia hanya mampu menggaruk keningnya dan tertawa. tangan kirinya malah memilih merangkul bahu Keisha dengan mengusapnya. “Ini pacar gue!! Lo siapa?” katanya.
Shock, perempuan itu membuka mulutnya dengan lebar. “kamu nggak anggap aku selama ini!”
Dan nyatanya Giffard tak menganggap apapun, dia tidak merasa memiliki hubungan lebih dengan Mira. Hanya saja jika Giffard bosan, dia akan mendekati Mira sebagai pelampiasan saja. Selebihnya … Giffard tidak menganggap Mira lebih dari barang yang butuh dia ambil.
Mengecup bibir Keisha di tempat umum dan juga Mira, Giffard langsung menarik tangan Keisha dan membawanya pergi. Disini Keisha malah tertawa kecil, dia masih sempat menjulurkan lidahnya pada perempuan itu dan menandakan jika dirinya yang menang. lagian … siapa sih yang bisa menolak pesona Keisha, meskipun tidak cantik-cantik amat, atau tubuhnya lurus saja, nyatanya banyak yang suka. Dia tidak perlu suntik implan untuk membentuk dua gundukan depan dan belakang.
Membawanya ke kantin sekolah, Giffard meminta Keisha duduk lebih dulu. Dia akan memesan dua minuman dingin untuk dirinya dan juga Keisha. Sambil menunggu, Keisha mengeluarkan masakan yang dia bawa, bahkan Keisha juga melihat Aiden yang datang dan duduk di samping kanan Keisha.
“Hai … ,” sapa Keisha dan tersenyum.
Aiden tersenyum. “Halo … lama ya nggak ketemu.”
“Ya … ,” hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Keisha. Dia lebih sibuk menatap banyak makanan yang dia bawa, ada yang dia beli dan ada juga yang dia masak sendiri. karena ketakutan yang menghantuinya, akhirnya Keisha pun juga beli.
Giffard pun kembali dengan membawa dua botol minuman dingin. Dai langsung menatap Aiden yang duduk di samping Keisha dengan senyum khasnya. “Gue nggak suka berbagi!!” kata Giffard akhirnya, seolah dia tahu apa yang Aiden inginkan.
Laki-laki itu mendengus, lalu menatap Keisha dengan memelas. “Kei … jahat tuh.” adunya.
Keisha hanya terkikik, dia pun langsung meminta Giffard untuk makan. Bahkan Keisha juga menyisihkan sebagian makanan itu untuk Aiden nikmati. Tentu saja hal itu mampu membuat Giffard kesal, dia ingin mengambil makanan Aiden, namun Keisha lebih dulu menepis tangan Giffard.
“Masih banyak, jangan pelit jadi orang.” cetus Keisha.
Giffard terlihat kesal, kepalanya menunduk dan menikmati makannya. “Tuh … Gif dengerin, jangan pelit jadi orang.” kata Aiden tanpa merasa bersalah.
Dan nyatanya Giffard hanya diam saja, menikmati makan siangnya dengan nyaman. Sesekali menatap Keisha yang hanya diam saja tanpa melakukan apapun kecuali memperhatikan penjuru kantin ini.
Giffard menaruh sendoknya. “Itu kenapa pake baju seragam sekolah sini? Biar dikata anak sekolahan? Terus dapat seragamnya dari mana?”
Keisha menatap Giffard sejenak, dia pun meminjam seragam ini dari anak kos baru di kosnya yang lama. Itu pun Bertha yang meminjamkannya, hari ini dia tidak masuk sekolah karena sakit itu sebabnya Keisha bisa meminjam baju ini untuk pergi sekolah Giffard.
“Biar gampang masuk aja, takutnya di stop sama satpam.” ucap Keisha beralasan.
Giffard menggeleng, tanpa menggunakan baju itu Keisha bisa keluar masuk sekolahan ini sesuka hatinya. Tidak akan ada yang melarang Keisha untuk masuk ke sekolah ini, apalagi mereka tahu siapa Keisha bagi Giffard.
“Nanti aku pulang malam.” kata Giffard.
Seketika itu juga Keisha melemparkan tatapan tajamnya untuk Giffard. “Mau ngapain? sama perempuan kemarin? Atau sama perempuan yang tadi?” tuduhnya.
“Kerja calon istri!!”
“Cih!!” decak Keisha. “Terus?” lanjutnya bingung. Pasalnya Keisha juga malu ketika Giffard mengatakan hal itu, apalagi di depan Aiden yang langsung melongo mendengar hal itu.
“Jangan nyariin, nanti kalau ngantuk tidur aja jangan nungguin.”
Keisha tahu jika dia mengantuk dia akan pergi tidur, jika dia lapar dia akan pergi makan. Dan jika dia haus dia akan minum, lagian Giffard tidak perlu mengingatkan tentang hal kecil itu. Dia sudah dewasa, usia Keisha dan juga Giffard berbeda, dimana Keisha ini lebih tua dari Giffard. Jadi secara tidak langsung Keisha tidak membutuhkan pengingat itu.
“Yaudah kalau nggak butuh.” kata Giffard singkat.
Jika saja bukan sekolah, akan Keisha pastikan jika dia akan mencekik leher Giffard saat ini juga!!
****
Merentangkan kedua tangannya, Keisha baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya yang akan dikumpulkan hari sabtu besok. Padahal hari libur ada aja dosen menyebalkan yang meminta Keisha untuk datang ke kampus dengan alasan tugas. Sedangkan Keisha pernah datang ke kampus dengan alasan tugas, dosen itu tidak mengatakan apapun kecuali dia sangat sulit ditemui.
“Hah … mandi lah, berendam dulu kayaknya enak.” monolog Keisha.
Bangkit dari duduknya, Keisha pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum mencemplungkan diri ke dalam bathup, dia lebih dulu menuangkan sabun cair dan juga memasang aromaterapi. Setidaknya jika dia berendam, pikirannya bisa relax dan tidak memikirkan apapun. Uang yang ibunya minta juga sudah dikirim oleh Giffard. Sisanya masuk ke rekening Keisha meskipun tidak banyak. Belum lagi gaji dari bapak Kenzo yang lumayan lah untuk makan seblak dan bebek goreng. Belum lagi semua kebutuhan Keisha juga sudah dipenuhi oleh Giffard. Hanya saja kali ini mungkin Keisha harus berhemat. Giffard tak lagi menggunakan fasilitas kedua orang tuanya. Dia juga bilang jika dia pulang malam karena bekerja, entah pekerjaan apa yang dia kerjakan hingga pulang malam. jangan-jangan dia bekerja sebagai barista? Atau mungkin pengantar minuman alkohol di salah satu kelap malam?
Tidak mau memikirkan hal itu, Keisha pun menanggalkan pakaiannya di dekat bathup dan masuk ke dalam bathup. Memejamkan matanya dan menikmati sentuhan air hangat dan juga sabut mulai membalut tubuhnya. Belum lagi aroma jasmin yang membuat keisha seketika itu juga merasa tenang.
Membutuhkan waktu satu jam, akhirnya Keisha pun selesai mandi. Dia pun langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lilitan handuk saja, mengambil pengering rambut dan juga colokannya. Malam ini dia sedikit bebas karena tidak ada Giffard, menyalakan pengering rambut, Keisha malah menari-nari seiring dengan lagu yang baru saja diputar. Tak hanya itu, Keisha juga sesekali bernyanyi mengikuti lirik lagu yang dia dengar.
Tanpa Keisha sadari jika sebenarnya Giffard juga berada di ruangan yang sama. Dia baru saja pulang dengan membawa satu kantong coklat makanan siap saji yang dia beli. Giffard pikir jika Keisha belum makan dan menunggu dirinya pulang. Tapi yang ada Giffard malah dikejutkan oleh Keisha yang hanya menggunakan lilitan handuk dan juga pengering rambut yang sesekali menjadi pengering di rambutnya dan juga alih fungsi sebagai mic.
Giffard berdehem sambil menahan tawanya.
Keisha juga langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap kedatangan Giffard dengan mata lebarnya. “Hei … sejak kapan disitu!!” pekik Keisha.
“Kenapa tanya begitu? Biar nggak tau apa yang kamu lakukan?” kata Giffard, sambil berjalan ke arah Keisha. Laki-laki itu menatap tubuh Keisha dengan senyum kecil. “Tepos juga ya, nggak ada gundukannya bikin nggak nafsu.” ejeknya.
Keisha kesal, dia pun menatap dadanya dengan nanar, gundukannya cukup ketara. Mata Giffard saja yang seliwer. Perempuan itu langsung tersenyum kecil, menarik tangan Giffard untuk merubah posisi. Lalu, mendorong tubuh Giffard hingga punggung laki-laki itu menyentuh meja, Keisha pun mendekati pria itu. Menghapus jarak diantara mereka, menaruh kedua tangannya di d**a laki-laki itu, dan juga mendekatkan wajahnya pada wajah Giffard. Keisha saja bisa merasakan deru nafas Giffard yang hangat menerpa wajahnya. Bahkan Keisha juga bisa melihat Giffard yang tiba-tiba saja memiringkan wajahnya dengan mata terpejam.
“Nggak nafsu kok tutup mata.” bisik Keisha dan pergi.
To Be Continued