SB-20

2069 Kata
Berdiri di dekat balkon, Keisha pun menikmati pemandangan dari atas. Langit yang begitu cerah, angin sepoi sepoi menerpa wajah Keisha, membuat perempuan itu tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Masih ada beberapa jam lagi sebelum berangkat kerja. Mumpung Giffard tidak ada di rumah, Keisha bisa leluasa melakukan apapun yang dia inginkan. Yang terpenting tensi darahnya tidak naik hanya karena bocah itu. Sambil membayangkan yang indah-indah. Mendadak Keisha ingin pergi ke puncak, atau mungkin mendaki gunung. Seumur hidup, Keisha ingin merasakan menginap di hutan seperti video yang sering dia lihat. Dia juga ingin merasakan malam hari di hutan, apakah ada setan atau tidak. Kalau saja dia ada teman, mungkin akan jauh lebih seru sih. Sudah cukup!! Keisha merasa harinya kali ini akan indah tanpa gangguan. Perempuan itu menurunkan tangannya, matanya terbuka dan menatap ke arah bawah. Hingga membuat Keisha pusing seketika. Ketika membalik badannya, Keisha malah dikejutkan oleh Giffard yang datang membawa bunga. Alis Keisha bertautan satu sama lain, apalagi bunga itu bunga mawar putih. "Sejak kapan disitu?" tanya Keisha heran. Giffard tak menjawab, dia mengunci rapat-rapat mulutnya dan menyodorkan bunga mawar putih pada Keisha. Tentu saja hal itu mampu membuat Keisha bingung. "Bunga buat apa? Aku nggak pengen bunga." kata Keisha. "Ini bunga memang buat kamu. Kalau kamu pengen terjun payung bawa bunga sekalian, takutnya aku lupa nggak nyekar dan kamu udah nyekar duluan." Seketika itu juga mata Keisha membulat, dia pun memukul Giffard dengan kencang. "Heh … bocah!! Aku masih doyan bakso ya, buat akan kita aku bunuh diri!!" "Siapa tau aja beban hidupmu yang berat, membuatmu memiliki pemikiran bodoh!!" "Sialan!!" umpat Keisha kencang. Giffard yang mendengar hal itu memilih tertawa dan pergi. Dia juga melemparkan bunga mawar putih di sofa, seolah menang benar bunga itu untuk Keisha. Tapi kesannya kayak Keisha ingin mati saja makanya di bawain bunga mawar putih. Seharusnya bunga itu berwarna merah atau tidak peach begitu kan lebih bagus. Ini kenapa malah jadi mawar putih, melambangkan keabadian dan suci!!. Turun dari kursi yang dia injak. Keisha pun menendang bunga mawar putih itu dengan kesal. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu!! Hingga tak lama, setelah Giffard masuk dan kembali keluar. Laki-laki itu malah dikejutkan bunga mawar putih yang dibeli hancur di lantai apartemen ini. Giffard mendekat dan berkata. "Heh … itu kenapa bunganya di rusak!" lekuk Giffard. "Kenapa? Nggak boleh aku rusak. Salah sendiri kenapa beli bunga warna putih. Aku masih pengen hidup Gif!!" teriak Keisha. Giffard berkacak pinggang. “Yang ngasih kamu bunga mawar putih siapa hah!!” “Kamu lah, itu tadi apaan.” “Bunga itu khusu aku beli karena malam ini mamaku ulang tahun. Dan dengan bangganya kamu malah merusak bunga mawar putih mama ku yang sudah ku pesan satu minggu yang lalu.” Penjelasan Giffard membuat mulut Keisha terbuka dengan lebar. Pandangannya langsung mengarah pada bunga mawar putih yang sudah tak berbentuk. Warna putih menjadi coklat dengan garis-garis hitam. Bahkan ada juga jatuh dari tangkainya. Belum lain cairan kuning juga membasahi lantai apartemen ini. “Gif—” “Ganti!! Nggak mau tau!!” Keisha memohon pada Giffard untuk tidak menemukannya, dia tahu kan Keisha itu tidak pernah punya banyak uang. Selain gaji cafe, gaji dari Kenzo dan juga Giffard. Tapi masalahnya duit sisa yang dulu sudah ditransfer untuk ibunya, dan sekarang Keisha juga tidak memiliki uang sedikitpun. Giffard tak mau tahu, Keisha sudah merusak bunga kesayangan ibunya. Dan malam ini juga Keisha harus membawa bunga mawar putih dengan jumlah empat puluh tangkai. Tidak peduli uang darimana, yang penting Giffard minta ganti. Keisha mendesah, dia tidak memiliki banyak uang. Bunga itu terlihat sangat mahal, bahkan ada minyak agar bunga tidak layu walaupun tak dimasukkan dalam air. Perempuan itu masih membujuk Giffard, namun, dia sudah tidak peduli dengan rengekan Keisha tentang bunga itu. “Gif satu tangkainya berapa?” tanya Keisha hati-hati. Giffard membalik badannya. “Tanya tukang bunga, jangan tanya aku. Kamu pikir aku jualan bunga apa!!” Keisha menunduk, saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. yang bisa Keisha lakukan adalah menelpon kedua temannya dengan harapan bisa meminjam uang. Akhir bulan setelah gajian Keisha akan mengembalikannya dengan cepat. “Berapa sih Kei?” kata Bertha di seberang sana. “Nggak tau berapa, pokoknya cukup untuk beli bunga mawar putih malam ini juga.” kata Keisha drama. “Kok mendadak banget, ada apa sih sebenarnya?” Disini Keisha menjelaskan jika dia baru saja merusak bunga mawar merah empat puluh tangkai untuk ibunya yang ulang tahun malam ini. Dan Keisha dengan bangganya mengira jika Giffard membelikan bunga itu atas lambang kematian, apalagi tadi dia sempat berdiri di balkon apartemen. Seolah Giffard berpikir jika aku akan bunuh diri, dengan cara melompat ke bawah. Itu sebabnya Keisha yang kesal diberi bunga mawar putih, karena Giffard juga bilang jika Giffard tak akan bisa nyekar ketika Keisha meninggal. Dia meminta Keisha melompat dari balkon sambil membawa bunga mawar putih. Diseberang sana Bertha memijat pelipisnya. Dia meminta Keisha untuk memfoto model bunga mawar putih yang dia rusak. Dia ingin tahu mawar apa yang Keisha ruak. Dan ternyata itu adalah salah satu mawar termahal. Bertha pernah melihatnya dan satu tangkai mawar putih itu seharga jutaan rupiah. Lalu Giffard meminta Keisha mengganti empat puluh tangkai bunga mawar putih yang dirusaknya? Menutup ponselnya, Keisha pun menatap Giffard dengan memelas. Jujur, dia tidak akan sanggup mengganti sebanyak itu, dia hanya anak orang miskin mana mampu beli bunga semahal itu. Jangankan bunga, beli deodorant kalau sudah habis juga diisi air. “Itu punya mulut kenapa nggak digunakan dengan baik!! Bisa kan bilang dulu baru ngerusak. Hari ini hari spesial mamiku, dan kamu mengacaukan semuanya.” kata Giffard malah. “Kamu tahu … bunga itu saya datangkan langsung dari swiss. Saya harus menunggu cukup lama untuk bunga itu, dan sekarang–” Keisha mendekat dan bergelayut mesra di tangan Giffard. Peduli setan jika laki-laki itu menganggap jika Keisha adalah perempuan murahan, Krisha sama sekali tidak peduli. Yang terpenting dia tidak mengganti bunga harga jutaan rupiah itu dalam hitungan jam. mau ngepet dimana juga dapat duit sebanyak itu. “Gif … maaf.” ini adalah jurus Keisha, memasang wajah memelas, mata berkaca-kaca dengan harapan Giffard mau memaafkan dirinya. “Maaf Gif, jangan marah.” lanjutnya. Giffard menepis tangan Keisha. “Malam ini aku nggak pulang, terserah kamu mau ngapain!!” katanya dan pergi. Melihat hal itu, Keisha pun mendadak sedih. Apalagi Giffard yang tak mengatakan apapun selain berpamitan pergi. Air mata Keisha turun dengan perlahan, dia tidak tahu apa yang membuat dirinya menangis. Tapi dia cukup sesak melihat kepergian Giffard. **** Keesokan harinya, Keisha bangun dengan kepala yang pusing. Perempuan itu menatap ranjang sampingnya yang masih kosong, bertanda jika laki-laki itu tidak pulang. Mengambil ponselnya, Keisha mencoba membuka room chat dirinya dan juga Giffard. Nyatanya tak ada satu pesan pun yang masuk dari Giffard, padahal Keisha juga sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada Giffard. Bukannya dimaafin, Giffard malah mendiamkan Keisha. “Dia kemana sih! Kok nggak ada kabar.” gumam Keisha kesal dan melempar ponselnya. Keisha uring-uringan memikirkan Giffard. Akhirnya Keisha pun mencoba menelpon Giffard, siapa tahu saja dia mau menerima panggilan Keisha dan membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Sayang seribu sayang. Keisha tak dapat mendengar suara Giffard. Tapi Keisha malah mendengar suara perempuan yang lirih, suaranya cukup ketara jika perempuan itu baru saja bangun tidur. Tak mau mengatakan apapun, Keisha menutup panggilan telepon itu. Dia pun langsung kembali melempar ponselnya ke sembarang arah dan memilih untuk mandi. Enak bener jadi orang kaya, satu wanitanya lagi marah malah bersama wanita lainnya. Dia pikir Keisha itu apa!! Barang yang bisa dimainkan sesuka hatinya apa!! Inilah kenapa Keisha tidak mau menikah dengan Giffard, masalah kecil saja Giffard langsung pergi bersama perempuan lainnya. Apalagi nanti kalau mereka menikah beneran, terus bertengkar macam ini, yang ada Keisha akan gantung diri atau melompat beneran dari balkon sambil membawa mawar merah. Membutuhkan waktu setengah jam untuk Keisha selesai mandi. Dia menelpon Bayu untuk mengisi absennya, jika hari ini dia tidak akan masuk. Dia juga tidak akan pergi ke kampus, dan meminta Tika atau Bertha untuk datang ke apartemen mengambil tugasnya. Cukup lama menunggu, akhirnya suara bel apartemen ini berbunyi. Keisha buru-buru mengambil tugasnya dan memberikan pada kedua temannya. Sayangnya, bukan Tika atau Bertha yang datang melainkan Giffard yang baru saja pulang dengan wajah lelahnya. Jelas dong lelah, baru bermalam dengan perempuan lainnya tentu saja lelah, sakit pinggang dan kawannya. menutup pintu apartemen ini dengan membanting, Keisha pun duduk di sofa depan televisi. Dia tidak masak, karena Keisha sendiri juga malas jika harus berkutat dengan dapur. Dia juga tidak mengajak Giffard berbicara, kata yang sudah dirangkai untuk meminta maaf lenyap dalam pikiran Keisha. Digantikan dengan rasa kesal dan rasa ingin mencekik leher Giffard. Begitu juga dengan Giffard yang hanya diam saja dan pergi mandi, dia sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Dia masih merasa kesal dengan Keisha, semalam akhirnya Giffard kembali membeli bunga mawar kembali. Tapi kali ini tidak warna putih, melainkan warna peach. Bunga mawar persik, hanya itu yang tersisa, itu pun dia juga Giffard datangnya terlambat. Lima belas menit telah berlalu, Giffard keluar dari kamarnya dengan penampilan yang … mirip dengan bad boy. Rambut acak-acakan, seragam tidak tertata rapi, jas yang menggantung di tangan satunya, begitu juga dengan dasi yang melilit di tangan Giffard juga. Keisha mencoba mengabaikan Giffard, dia seolah tidak melihat Giffard berada di rumah ini. Bahkan ketika Giffard menyodorkan dasi pada Keisha, perempuan itu hanya melengos dan membuang pandangannya dari Giffard. Sungguh, Keisha kesal dengan laki-laki itu saat ini. menyadari sikap Keisha, Giffard pun menatap perempuan itu heran. Harusnya yang marah dengannya itu Giffard, tapi kenapa disini Keisha yang marah. “Pasangkan dasiku!!” kata Giffard memerintah. Keisha menoleh sejenak, lalu kembali fokus padaku. “Kenapa harus aku? Kenapa nggak wanita mu itu saja yang pasangin dasimu!!” Alis Giffard mengkerut heran, dia pun menarik tangannya dan kembali menatap Keisha bingung. “Wanitaku? Siapa?” “Nggak usah belaga bego deh!! Tanya-tanya siapa wanita mu sama aku. Sok polos banget sih!!” cibir Keisha kesal. wanita itu ingin pergi, tapi Giffard lebih dulu menahan tangan Keisha, hingga membuat perempuan itu kembali duduk di tempatnya. Giffard menyentuh punggung Keisha dengan perlahan. “Aku nggak punya wanita lain selain kamu!!” “Cih!!” Keisha berdecak kesal. “Nggak punya wanita lain selain aku. tap pas aku telpon yang angkat suara wanita. Masa iya aku budek mendadak cuma karena kamu!!” lanjutnya kesal. “Atau mungkin kamu kalau malam jadi perempuan, makanya begitu!!” ujarnya. Jika saja Keisha itu bukan perempuan, sudah dipastikan jika Giffard akan memukul mulut Keisha dengan tangannya sendiri. Dia itu laki-laki bukan perempuan. dan apa yang dikatakan Giffard itu benar, dia tidak memiliki wanita lain manapun kecuali Keisha. Atau mungkin … “Kamu cemburu kalau aku dekat dengan wanita lainnya?” tanya Giffard dengan nada menggoda. Memutar bola matanya malas, Keisha malah menunjukkan ekspresi muntahnya. “Amit-amin ya kalau aku cemburu sama bocah SMA kayak kamu. Kayak nggak ada orang lain aja buat dicemburui.” Giffard tertawa. “Kalau nggak cemburu terus kenapa marah-marah, sayang!!” Keisha tak menjawab, dia malah meminta Giffard untuk segera berangkat ke sekolah. Meskipun masih termasuk lingkup keluarga Giffard, bukan berarti dia harus seenaknya kan? “Pasangkan dulu dasinya baru aku berangkat.” kata Giffard. Sekali lagi, Keisha benar-benar kesal dengan sikap Giffard. mau tidak mau dia pun memasangkan dasi laki-laki itu dengan naik diatas sofa. maklum saja Giffard itu tinggi sekali, sedangkan Keisha tingginya tidak ada sebahu Giffard. makannya dia kesulitan jika tidak ada alat bantu untuk berdiri. Giffard terus menatap Keisha yang tampak serius memasangkan dasi sekolahnya. Kalau dilihat-lihat, Keisha itu cantik juga, hanya saja mulutnya suka bar-bar tak tau tempat. Dia juga gampang marah, moodnya bisa berubah sepersekian detik jika dia ingin. kadang Giffard juga kewalahan menghadapi sikap cerewet dan keras kepala Keisha. Tapi makin hari Giffard malah semakin suka menggoda Keisha hingga marah. Menelusupkan kedua tangannya di balik kaos besar yang Krisha kenakan. Giffard malah menarik Keisha hingga jatuh dalam pelukannya. “Nggak perlu cemburu dengan semua ini, karena aku cuma punya satu wanita yaitu kamu. Tidak ada yang bisa gantiin kamu, atau bahkan singkirkan kamu juga tidak bisa. Jadi … jangan punya pikiran jika aku akan menduakan kamu, karena aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tolong … percaya sama aku, dan kita mulai dari awal kembali.” Dan anehnya … jantung Keisha kenapa berdetak lebih kencang dari biasanya? Dia juga merasa ada banyak kupu-kupu yang terbang dalam dirinya. Ada apa ini? Dan apa yang terjadi pada dirinya? To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN