Chapter 8

1207 Kata
Begitu berada di tempat sepi dan tak ada yang memperhatikan, Erwin melayangkan tinjunya pada pilar dinding terdekat. Mata birunya menggelap serupa malam tanpa cahaya. Rahangnya mengeras dan giginya bergemelutuk karena marah. Agaknya ia tahu bahwa hal ini akan terjadi, meski di luar dugaan akan terjadi secepat ini. Tadi, pada saat ia melihat Eru di kafetaria, berjalan mendekat ke arahnya, perasaan puas dan bahagia menggelegak dalam dirinya. Namun bahkan sebelum ia benar-benar mengecap rasa manis dari kemenangan dalam rencana pertamanya, ia melihat sosok Kazuki yang kebetulan lewat di depan kafetaria. Seluruh bagian kafetaria memang dibatasi dengan dinding kaca. Jadi tak heran siapa pun di dalam bisa melihat siapa pun di luar, dan begitu pun sebaliknya. Mendapati Eru dengan mudahnya termakan rasa bersalahnya sendiri dari rencana yang ia jalankan, jelas membuat Erwin senang. Tetapi ia tidak bisa melakukan tindakan lebih jauh jika ada Kazuki di sana, yang diam-diam memperhatikan ke arah mereka. Erwin mendesiskan amarah berbahaya. Tapi ia tidak lagi meninju pilar di hadapannya atau membuat gerakan secara terang-terangan mengenai emosi yang ia rasakan. Karena jika tidak begitu, maka semua orang bisa melihat wajah aslinya. Erwin tidak suka itu. Akan lebih mudah membodohi semua orang jika ia tetap menunjukkan sisi dirinya yang baik. Dan Erwin menolak jika sesuatu atau seseorang dengan berani mengatai dirinya munafik. Baginya, dirinya tidaklah munafik. Ia hanya bersikap pintar. Toh, tak ada orang lain yang dirugikan di sini. Dan Eru jelas bukan orang lain baginya, dia adalah kekasih hidupnya. Cinta matinya. Berbanding terbalik dengan Kazuki. Erwin menetapkan dia sebagai orang pertama yang ingin ia singkirkan sejak pertama kali mendengar kabar bahwa kini ia mengencani Eru. Tanpa bisa menahan diri, sebuah geraman menakutkan keluar melewati bibirnya. Seolah geraman itu berasal langsung dari dalam dirinya yang berisi monster. Beberapa orang di sekitar nampak terkejut dan menoleh. Tapi raut wajah Erwin sudah kembali seperti semula saat kepala pertama berputar untuk mencari sumber suara. Ia kini berada di tempat parkir. Dan tak membutuhkan waktu lama sampai ia mencapai mobilnya sendiri, membanting pintu menutup dan melampiaskan amarahnya di dalam. Ia memaki-maki dengan suara berat tertahan sembari meninju setir mobil. Mata birunya berkilat berbahaya. Saat akhirnya ia mengeluarkan makian terakhirnya, amarah dalam dirinya mengendur perlahan dan sebuah seringaian muncul di wajahnya yang tampan. Sambil tersenyum, Erwin memejamkan mata dan menyandarkan punggung. Teringat kembali pada semua rencana-rencana yang ia susun, setidaknya cukup untuk menghibur dirinya. Ia sendiri, pada saat ia kembali ke Jerman dan dengan mendadaknya Eru memutus hubungan dan menghindarinya secara terang-terangan, membuat Erwin kalut setengah mati dan ngotot untuk kembali ke Tokyo saat itu juga. Tetapi kemudian ia mencoba untuk memikirkan beberapa kemungkinan, dan otak cemerlangnya mendapatkan sebuah kesimpulan. Eru pasti sudah tahu. Mengenai obsesi dirinya padanya. Ia masih ingat pada insiden saat ia tanpa sengaja meninggalkan ranselnya di bar. Ia tidak mengira Eru akan memeriksa ke dalam ransel itu. Tapi sepertinya memang hal itu lah yang Eru lakukan. Itu adalah titik awal di mana Eru mulai memikirkan cara untuk menjauhinya. Ditambah, dari rekaman CCTV di apartemennya, Erwin juga tahu jika Eru sudah melihat ke dalam gudang rahasianya. Ha Ha, ia tahu semua itu. Tahu mengenai ketakutan Eru tapi tetap bersikap seolah tidak tahu apa pun. Jika saja semua hal itu akan menyebabkan Eru menjauh darinya, maka Erwin bersumpah tak akan lagi bersikap seceroboh itu. Ah, tidak kah Eru ingat apa yang dia lihat dalam ranselnya sewaktu di bar waktu itu. Erwin menduga pasti lah ia juga melihat foto-foto berisi potongan tubuh manusia. Senyum merekah di wajah Erwin, dan ia pun membuka mata. Tidak kah Eru mengenal siapa pemilik potongan tubuh dalam foto-foto itu? Itu adalah milik seorang kurir yang selalu mengantarkan paket untuk Eru, hanya menatapnya sekilas saja Erwin tahu laki-laki itu menyukai Eru. Yah, memangnya siapa yang tidak? Tapi menunjukkan secara terang-terangan ketertarikannya, bahkan berusaha untuk menjadi dekat dengan Eru adalah masalah lain. Suatu hari, Erwin melihat kurir sialan itu di depan gedung apartemen Eru. Dia sedang tidak bertugas dan memakai pakaian biasa. Menyapa Eru yang kebetulan keluar dan bersikap seolah semua itu kebetulan. Melihat bagaimana caranya memandang dan tertawa bersama gadis yang dicintainya, sama sekali bukan hal baik. Jadi Erwin menyingkirkannya malam itu juga. Memisahkan seluruh bagian tubuhnya, dengan begitu ia tidak akan bisa lagi berjalan menemui Eru. Tak akan bisa lagi melambaikan tangannya untuk menyapa Eru. Bagian terbaiknya, Erwin juga merobek mulut yang selalu melayangkan senyum pada Eru. Erwin masih teringat pada sensasi menyenangkan kala itu. Ia berkata pada si kurir, bahwa harusnya ia bersyukur karena pada akhirnya bisa tersenyum selamanya. Tapi Erwin tidak tahan pada sepasang mata yang selalu menatap Eru dengan tatapan mendamba itu, jadi Erwin mengeluarkan keduanya dari rongga matanya. Mengingat semua hal itu kembali, membuat Erwin merasa lucu. Mengetahui fakta bahwa Eru sama sekali tidak mengenali mayatnya, berarti kurir itu bahkan bukan sesuatu yang cukup penting untuk diingat. Ah, ia jadi merasa kasihan padanya. Tapi meski begitu, senyum lebar menghiasi wajahnya. Dan mata birunya berkilat senang. Tentu ini tidak seperti ia tidak bisa menyingkirkan Kazuki dengan mudah. Hanya saja masalahnya, Kazuki sudah terlalu jauh melanggar batas. Sehingga bahkan menyiksanya sampai mati tak akan membuatnya merasa puas. Terlebih lagi, jika ia tidak hati-hati, bisa-bisa Eru mencurigai dan ketakutan lagi padanya. Sama seperti yang ia lakukan selama di Jerman, Erwin pun mengawasi keduanya secara diam-diam. Dulu, ia tidak bisa langsung kembali karena tahu hanya akan memperburuk keadaan. Bukan kemungkinan yang mustahil jika ia kembali pada saat itu, Eru akan menjauhinya seperti rusa yang dikejar singa. Jadi, meski berat, Erwin memaksa dirinya untuk menunggu dan mengawasi. Bahkan meski kabar bahwa Eru telah berkencan dengan orang lain sampai ditelinganya pun, ia tetap diam dalam persembunyian. Tapi siapa yang menyangka bahwa meski telah begitu lama waktu berlalu dan ia kembali, Eru tetap menunjukkan reaksi yang tak disukainya. Tadinya Erwin sudah berencana, begitu ia kembali, ia akan langsung menculik Kazuki dan menyiksanya setiap hari. Tapi karena reaksi Eru, ia tidak bisa melakukan semua itu. Lantas Erwin pun kembali menyusun ulang rencana, meski kepalanya serasa hampir pecah karena frustasi. Kemudian ia teringat tentang bagaimana rapuhnya hati Eru yang sebenarnya. Ia pernah tanpa sengaja melukai seseorang saat belajar menyetir pertama kali. Orang yang tidak sengaja diserempetnya hanya mengalami luka ringan karena terjatuh. Tapi Eru menyesali perbuatannya dan tersiksa karena hal itu sampai berminggu-minggu. Jika bukan karena Erwin yang mengancam orang itu untuk pindah ke luar kota, maka barangkali Eru tak akan pernah melupakan rasa bersalahnya. Erwin tahu dan menggenggam satu kelemahan Eru di dalam tangannya. Sama sekali tidak menyangka rencana yang begitu sederhana itu berhasil memperdaya Eru dengan sangat mudah. Dan tentu saja Erwin secara diam-diam mengikuti gadis yang paling dicintainya itu, dia menangis sepanjang jalan. Erwin sampai tak tega melihatnya, tapi bagaimana pun ia senang karena rencananya berhasil dengan begitu mudah. Kemudian mendadak, Erwin menggertakan giginya dan mengepalkan kedua tangan sampai buku-buku tangannya memutih. Kazuki sialan itu.. Jika bukan karena kemunculannya yang tiba-tiba, kemungkinan Eru sudah akan mengajaknya bicara hari ini. Mata birunya kembali berkilat berbahaya. Tapi secepat kedatangannya, Erwin kembali tersenyum dan nampak senang. Tentu ia senang, karena rencana yang lebih ampuh ketimbang membunuh Kazuki secara langsung telah ia buat. Jika membunuh bisa menimbulkan kecurigaan Eru. Maka rencananya yang baru ini telah ia siapkan secara terperinci. Sadar telah terlalu lama berada di dalam mobil di halaman tempat parkir. Dengan senyum terakhirnya Erwin menyalakan mesin mobil dan beranjak pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN