Kazuki termenung di halte sendirian. Mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar, sepenuhnya tenggelam pada pemikirannya sendiri.
Siang tadi, ia tanpa sengaja melihat Eru di kafetaria. Awalnya, begitu menyadari ada Erwin yang sedang duduk bersama Hori dan Yama juga, membuat wajah Kazuki seketika berkerut tak senang. Tetapi setelah menyadari bagaimana kecanggungan membuat semua orang tak nyaman, perasaan keras dalam dadanya mulai luruh.
Pada saat itu, begitu Erwin sadar bahwa Eru juga datang, ia langsung membereskan barang-barangnya dan pergi. Seumur hidup, Kazuki tak pernah merasakan perasaan ini pada laki-laki itu, tapi sungguh. Tindakan Erwin saat itu membuatnya merasa tak enak. Apalagi ketika akhirnya Eru menundukkan kepala dan meminta maaf pada semua teman-temannya. Membuat Kazuki seketika sadar, betapa kekanak-kanakan dirinya selama ini. Tenggelam pada egonya sendiri tanpa sedikit pun memikirkan orang lain. Dan sekarang dengan mata sepenuhnya terbuka, Kazuki menyadari ketidaknyamanan yang disebabkan oleh sikap naifnya sendiri.
Singkatnya, Erwin memang tidak memiliki niat apa pun pada Eru. Dia sungguh-sungguh belum tahu jika Eru sudah menjalin hubungan dengannya. Karena jika tidak, kenapa ia perlu menghindari Eru? Padahal Kazuki tak berada di sana saat itu. Bahkan sebenarnya, jika Eru memang memiliki niat untuk kembali pada Erwin, maka hal itu bisa saja ia lakukan sejak awal.
Tapi Eru tidak melakukannya. Erwin juga tidak berusaha mengusiknya. Jika memikirkan semuanya dengan kepala jernih seperti ini, Kazuki jadi sadar sepenuhnya. Karena jika bahkan Erwin dan Eru kembali seperti dulu, siapa orang di dunia yang akan mengeluh? Hanya orang buta yang bisa mengatai Erwin jelek. Dia juga sangat terkenal karena kesempurnaannya, orang-orang selalu memujinya tentang betapa tampannya dia, seperti tokoh fiksi yang keluar dari buku cerita. Dan Eru? Dia gadis tercantik yang pernah Kazuki kenal sepanjang hidupnya. Siapa pun di angkatannya bahkan mengenal Eru. Meski Eru tipe orang yang tidak mengenal banyak orang. Tapi faktanya, semua orang di universitas mengenalnya. Dia terkenal karena kecantikannya yang tak nyata, terlalu cantik untuk menjadi nyata.
Sayangnya, justru laki-laki biasa saja seperti dirinya yang berhasil mendapatkan Eru. Ia bahkan tidak terlalu kaya, jadi alasan Eru mau menerimanya jelas bukan karena uang. Mengatakan jika Eru memang menyukainya? Huh, terdengar lebih mustahil lagi. Setidaknya kurang lebih begitulah yang dipikirkan orang-orang mengenai hubungannya dengan Eru.
Ya. Kazuki tahu semua kata-kata keji yang dikatakan banyak orang di belakang punggungnya. Tapi pernahkah sekali saja ia mengatakan semua ini pada Eru? Mengenai kekhawatirannya.. Mengenai ketidakpercayaan dirinya..
Jelas tidak. Karena Kazuki takut, jika secara gamblang membicarakan hal ini pada Eru, barangkali Eru akan berubah jijik padanya.
Terlepas dari sebesar apa rasa sayangnya pada Eru. Menggenggam segalanya sendirian di satu pihak tetap terasa menyakitkan.
Kazuki tak bisa tidak membayangkan, bagaimana jadinya jika Eru dan Erwin berjalan bersama. Mereka sama-sama memiliki visual cemerlang, seolah sejak awal mereka memang berasal dari tempat yang berbeda. Jelas, mereka akan cocok. Terlalu cocok sampai membuat siapapun iri.
Kazuki meneguk ludah dan mendesah sedih. Menelan kembali kata-kata yang nyaris keluar dari tenggorokannya. Dalam beberapa hal, hidup serasa tak adil bagi seseorang yang biasa saja seperti dirinya.
Terkadang, atau lebih tepat disebut: seringnya. Kazuki tidak bisa mencegah diri sendiri untuk bertanya-tanya. Kenapa Eru tidak kembali pada Erwin yang sebegitu sempurnanya? Kenapa malah bertahan dengan dirinya?
Tetapi kemudian Kazuki teringat bagaimana sikap Eru padanya. Dan seketika, Kazuki merasa hangat. Terlepas dari yang semua orang katakan di balik punggungnya. Terlepas dari ketidakpercayaan diri yang serasa menggerogoti bagian-bagian tubuhnya setiap hari. Eru tetap memilih dirinya. Bukan Erwin.
Hal itu cukup untuk membuat Kazuki tersenyum lagi. Dan sedikit banyak bertekad untuk memperbaiki hubungan dengan teman-temannya. Bertekad penuh untuk tidak menyakiti Eru lagi dengan sikap naifnya.
--
Eru merasa akan terkena serangan jantung saat Kazuki mengajak teman-temannya minum bersama. Di masa lalu sebelum kedatangan Erwin kembali, setidaknya dua kali dalam sebulan mereka akan minum-minum seperti ini, untuk sekedar penghilang stres. Tapi mendapati bahwa Erwin juga diundang... Ah, Eru mengangkat sebelah tangan menyentuh tepat di mana ia bisa merasakan jantungnya berdetak.
Ia masih hidup. Semua ini bahkan bukan mimpi. Eru merasa akan tertawa tapi segera menahannya. Kazuki, dengan kesadaran penuh. Benar-benar mengundang Erwin untuk bergabung!
Eru duduk di sudut -ia sengaja memilih tempat itu- di mana tubuhnya yang mungil terhalang oleh tubuh tubuh besar Kazuki di sisinya. Ia belum benar-benar mengerti situasi. Karena itu ia memilih untuk mencari aman, takut barangkali jika ia dapat terlihat dengan jelas di mata semua orang, hal itu akan menimbulkan keributan. Eru meneguk ludah susah payah, seperti terakhir kali, ia menambahkan dalam hati.
Namun sejauh ini, tak ada tanda-tanda kecanggungan yang sama. Akemi yang duduk persis di hadapannya, nampaknya juga memikirkan hal yang sama. Ia dengan tenang menyesap minumannya sendiri dan tidak terlalu banyak makan daging. Berbanding terbalik dengan Yama di sebelahnya yang begitu heboh. Membaur dengan percakapan semua orang.
Yang duduk di sisi Yama adalah Erwin, laki-laki itu bahkan tidak meliriknya. Eru meringis saat mengingat hal itu tapi tidak apa-apa. Mendapati dia sepertinya sudah berdamai dengan Kazuki saja sudah cukup.
Hanya Akemi dan Eru yang tidak ikut bersulang dengan mereka, itu hal yang biasa terjadi jadi tidak ada seorang pun yang berkomentar. Dan sekali lagi, melihat Kazuki juga bersulang dengan Erwin, membuat Eru merasa kian lega.
Sudah tidak masalah lagi kan? Semuanya beres? Tatapannya yang penuh tanda tanya itu tanpa sengaja tertangkap pandangan Akemi. Akemi juga sedang menatap Eru saat itu dan diam-diam memberi isyarat.
Eru mengerjap, menjatuhkan pandangan dan terseyum samar. Dengan sumpit yang ia genggam di sebelah tangan, Eru meraih daging di piring dan memakannya sendiri.
Akhirnya... mendapati suasana telah aman terkendali, bagaimana bisa Eru merasa tidak lega? Dan sekarang ini, hanya satu beban kecil yang tersisa dalam benaknya. Meski Eru mendapati hal itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Yaitu, jika ada kesempatan, ia akan secara pribadi meminta maaf pada Erwin dan melupakan masa lalu di antara mereka.
Saking senangnya Eru sampai tidak berhenti mengunyah daging empuk yang entah bagaimana terasa sepuluh kali lebih enak.
Di sisinya, sambil mengobrol, tertawa dan memanggang daging. Kazuki berkali-kali memberikan daging yang telah dipanggangnya ke piring Eru. Berpikir bahwa barangkali Eru sedang kelaparan karena menghabiskan semuanya dengan cepat, dan bertekad untuk lebih memperhatikan gadis yang sangat dicintainya itu. Ia bahkan tanpa malu-malu sesekali membungkuskan daging dalam sayuran dan memberikannya pada Eru. Ya, hanya memberikan dan meletakkannya kembali ke piring sementara ia sendiri tak makan. Karena jika ia sampai menyuapi Eru juga, barangkali Yama akan mengamuk dan mematahkan lehernya sendiri.