Dalam suasana hati yang baik, Eru berdiri dengan sabar menunggu lift sampai di tujuan. Tapi tentunya ia bukan orang pertama yang masuk, jadi saat lift berhenti dan dua orang yang tadi bersamanya keluar menyisakan dua orang lain, Eru masih dengan santai bergeming di tempat.
Tak lama pintu lift kembali membuka dan dua orang tadi keluar menyisakan Eru sendirian. Tepat saat itu, perhatiannya tersita pada sosok jangkung di depan yang nampak ragu-ragu. Eru mendapati dirinya meringis karenanya. Sebelum laki-laki itu sepenuhnya berbalik untuk pergi, Eru sudah lebih dulu bicara. "Jika kau ingin masuk, masuk saja."
Sosok besar Erwin membeku sesaat, sebelum akhirnya melayangkan senyum samar ke arahnya dan berjalan masuk. Lalu ia berkata dengan nada setengah bercanda. "Sudah tidak takut padaku lagi."
Eru tahu itu bukan pertanyaan dan ia juga tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan jawaban. Jadi sementara Erwin berdiri di sebelahnya, ia mengunci bibir rapat-rapat. Meski tahu sebagian dirinya memekik cemas. Ini saatnya.. Jika ada saat yang tepat untuk meminta maaf pada Erwin tanpa menimbulkan kesalahpahaman, maka ini lah saatnya.
Eru berdeham samar, merasakan tenggorokannya menjadi kering tanpa alasan. "Aku.." suara yang keluar dari bibirnya terdengar jauh dan nyaris asing, meski begitu Eru dengan teguh melanjutkan. "Aku minta maaf, Erwin."
Erwin masih bergeming. Kepalanya sedikit tertunduk memandang lantai. "Maaf untuk apa?"
Kepahitan dalam suara itu membuat Eru tersenyum getir. "Karena menyinggungmu."
Lama sesudahnya sebelum akhirnya Erwin mendenguskan tawa aneh yang canggung. "Aku juga minta maaf."
Kedua alis Eru seketika naik, heran kenapa keadaannya jadi terbalik. Tapi mengingat obsesi menjijikkan Erwin di masa lalu.. Eru akui memang masih terasa mengganggu. Namun terlepas dari itu, Erwin kan tidak tahu jika Eru sudah mengetahui rahasia gelapnya. "Itu tidak seperti kau perlu meminta maaf padaku."
Karena Erwin diam saja, lantas Eru melanjutkan. "Jika ada di posisimu, barangkali aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk," ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Erwin menoleh sedikit padanya, mengembuskan napas samar dan berpaling lagi. Seolah merasa bersalah jika menatap Eru terlalu lama. Tentu saja Eru menyadari hal itu dan sensasi tak menyenangkan lagi-lagi memenuhi perutnya. Menghubungkan lagi sosok Erwin dan obsesinya di masa lalu dengan sosok Erwin yang kini berdiri tepat di sebelahnya, terasa hampir seperti langit dan bumi. Terlalu jauh.. Terlalu sulit dihubungkan. Bahkan kini semua itu terasa kian mustahil untuk disatukan menjadi perbuatan satu orang yang sama.
Eru mendesah lelah tanpa sadar, menjatuhkan pandangan dengan sedih. "Sebenarnya aku tidak takut padamu," tapi bohong. "Aku hanya terlalu terkejut dan seperti yang sudah kau tahu sekarang, aku berpacaran dengan Kazuki dan hal-hal di masa lalu kita..." suara Eru kian melemah, dan pada akhirnya ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Tak apa, aku mengerti."
Eru mendongak dan memandang sebelah wajah Erwin cukup lama. Memerhatikan dengan sungguh-sungguh seolah dengan begitu Erwin akan benar-benar memaafkannya.
Pintu lift membuka dan tidak sepatah katapun keluar dari bibir Eru lagi. Eru merasa semangatnya merosot dan bersiap memerhatikan Erwin pergi lebih dulu. Tapi baik dirinya mau pun Erwin masih sama-sama bergeming, padahal mereka sama-sama telah sampai di lantai tujuan.
Kemudian, tanpa Eru duga Erwin berkata.
"Aku senang mendengarnya."
Eru mendongak lagi dan menangkap seulas senyum lembut di wajah Erwin yang menunduk menatapnya.
"Aku senang tak ada lagi kesalahpahaman di antara kita, benar kan?"
Eru mengangguk cepat, seolah takut akan kehilangan kesempatan.
Erwin tersenyum lagi, kali ini senyumannya lebih lebar sampai menyentuh mata birunya. "Kalau begitu, kuharap kita bisa berteman lagi," ia mengulurkan sebelah tangan, dan kilauan kekanak-kanakan bukan sesuatu yang akan bisa disangka siapa pun sebagai sandiwara.
Eru ikut tersenyum dan membalas uluran tangan Erwin dengan senang hati. Lalu keduanya keluar bersamaan. Menyusuri lorong sebentar dan berpisah setelahnya.
--
Senyum di bibir Erwin masih bertahan sampai waktu yang begitu lama. Membuat semua gadis yang tanpa sengaja ditatapnya tertegun dan merona. Mengira jika sosok terkenal seorang Erwin Toshiro tengah tersenyum pada mereka. Erwin praktis mengabaikan semua orang dan sibuk pada pikirannya sendiri. Dengan cepat menyingkir dari keramaian dan menemukan pintu menuju tangga darurat.
Sampai di sana ia tertawa terbahak-bahak. Ia mengangkat sebelah tangan yang baru saja digenggam Eru, menatapnya sedemikian rupa seolah ingin menelan tangannya sendiri. Seriangaiannya merekah, mendekatkan tangannya sendiri ke wajah dan menicumnya, menghirup aromanya dalam-dalam seakan tak ada hal lain yang lebih ia butuhkan ketimbang melakukan itu.
Ini aroma biasa yang selalu melekat di tubuh Eru. Sejak dulu tak berubah. Selalu terasa manis dan lembut. Memikirkannya saja sudah membuat Erwin puas.
Ia mengambil beberapa langkah maju dan duduk di puncak tangga. Dengan hati-hati menggerakan sebelah tangan, takut akan mengenai benda apa pun, terlalu sayang karena jejak Eru tertinggal di sana.
Jadi dengan tangan kiri ia mengeluarkan ponsel dari dalam ransel yang selalu ia sampirkan di sebelah pundak. Tapi gerakannya terhenti mendadak. Seringaiannya hilang dalam sekejap, alisnya bertaut dan kebahagiaan di matanya tak bersisa digantikan kilat berbahaya.
Geraman rendah keluar dari bibirnya yang penuh berwarna kemerahan. Apalagi jika bukan menyumpahi Kazuki?
Jika saja si b******k itu tidak bersikap sok baik dan berusaha memperbaiki pertemanan mereka, maka saat ini juga ia bisa langsung menjalankan rencana untuk menyingkirkannya.
Erwin memejamkan mata, memgatur napas perlahan dan kegilaan kembali muncul di matanya. Ia kembali mengembangkan seulas senyum menawan. Pada dasarnya, emosi Erwin memang selalu jungkir balik secepat kilat. Jika ada orang lain yang melihatnya di saat-saat seperti ini, terlepas dari betapa sempurnanya visual yang ia miliki, akan disimpulkan dengan mudah bahwa Erwin Toshiro ini sudah gila. Atau psikopat gila lebih tepatnya. Ditambah sorot mata haus darah dan perubahan emosi ekstrim, siapa yang akan berkata tidak menganainya?
Tapi Erwin sama sekali tidak peduli pada kesehatan mentalnya. Ia selalu memandang dirinya cerdas dan pantas mendapatkan segala hal yang ia lakukan. Baginya, jika manusia bisa membunuh hewan untuk bertahan hidup, lantas kenapa ia tidak bisa membunuh manusia lain untuk bertahan hidup juga? Karena pada kenyataannya, Eru Sugawara adalah hidupnya, Erwin membutuhkan gadis itu untuk tetap hidup dan bernapas. Sama sekali tidak menyadari bahwa obsesinya adalah hal yang salah.
Selama beberapa saat Erwin memandang ponsel di tangannya, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat dan memasukkan benda itu kembali ke ransel. Ia terpaksa mengulur waktu untuk menjalankan rencananya menyingkirkan Kazuki. Menyumpah serampah dan memaki sekali lagi atas perilaku sok baik laki-laki itu, dan kembali tersenyum cerah memandang sebelah tangannya yang lain. Untungnya Eru memiliki hati yang lembut, begitu mudahnya jatuh pada permainan emosi kecilnya. Benar kan? Erwin bertanya pada diri sendiri. Eru memang sangat cocok untuk dirinya.
Sembari bangkit. Eru mencium tangan itu sekali lagi. Sepenuh hati berjanji akan membawa Eru kembali ke dalam pelukannya segera.