Eru tidak memiliki apa pun untuk dikatakan lagi. Singkatnya, ia senang karena segala hal telah kembali seperti semula. Dan sekarang tak ada lagi kecanggungan yang tersisa meski ia menggandeng tangan Kazuki ke mana-mana dan berpapasan dengan Erwin atau pun teman-temannya yang lain.
Dalam rasa kebahagiaan yang aman. Waktu justru cenderung berlalu cepat. Eru bahkan nyaris tidak menyadari sudah seminggu telah lewat. Ia saat ini sedang dalam perjalanan kencannya bersama Kazuki. Sambil merapikan helaian rambutnya yang tergerai agar tidak menutupi wajah, ia berjalan di sisi laki-laki itu dengan wajah cerah.
Eru tahu dan sadar benar pada tatapan orang-orang yang selalu tertuju padanya setiap kali ia mundul di mana pun. Ini tidak seperti Eru tidak bisa terbiasa dengan semua itu. Jadi hal itu tak lagi mengganggunya sekarang.
Pada mulanya Eru mengira orang-orang itu menatap dirinya yang berjalan beriringan dengan Kazuki, seringnya menempel seperti direkatkan menggunakan lem, adalah karena kebingungan yang mereka pertanyakan karena hanya dalam waktu singkat Eru bisa berpaling dari Erwin Toshiro pada laki-laki lain. Tapi sungguh, tak ada hal apa pun dari luar yang ingin Eru pikirkan lagi.Terlebih sekarang Kazuki yang biasanya mudah bersungut-sungut dan begitu sensitif karena ada beberapa laki-laki yang menatap Eru dengan pandangan kotor, Kazuki tak lagi terlihat marah atau terganggu.
Ia kini, selalu, dengan tenang menggenggam sebelah tangannya dengan lembut. Dan kehangatan yang Eru rasakan dari setiap sentuhannya membuat Eru senang.
Akhirnya mereka tiba di sebuah kafe yang biasa mereka kunjungi. Cukup sering, Eru meralat. Karena selain jaraknya dekat dari universitas dan makanannya enak. Eru sangat suka dengan berbagai varian waffle yang ada. Dan Kazuki tahu itu, tanpa bertanya atau menebak-nebak lagi, ia sudah sangat mengerti apa yang akan Eru pesan.
Setelah menyebutkan semua pesanan pada pelayan yang dengan patuh mencatat, Eru menyandarkan punggung ke kursi tinggi yang ia duduki dan menghela napas senang. Ini adalah tempat favoritnya setiap kali bergunjung. Kursi tinggi yang berhadapan langsung pada jendela depan. Tempat terbaik untuk memerhatikan pemandangan di luar. Meski tak ada hal spesial apa pun, tetapi Eru selalu merasa menyenangkan memerhatikan kesibukan orang-orang. Dengan pemikiran sederhana seperti, ah dia di sini sekarang, aku bisa bersantai setelah menjalani kesibukkanku, betapa menyenangkannya..
Eru melirik Kazuki yang mengeluarkan laptop dari dalam ransel dan menaruhnya di meja.
"Ada sedikit bagian dari laporan yang perlu kuperbaiki," ia memberitahu tanpa Eru bertanya.
Eru menganggukkan kepala mengerti. Lalu ia sendiri mulai menyibukkan diri dengan ponselnya sendiri. Tak lama pesanan datang dan Eru, seperti biasa, dengan ceria memotret seluruh pesanannya dan mengunggahnya di insta miliknya.
Dengan tenang Eru meminum jus alpukat sambil membalas beberapa pesan yang masuk dari teman-temannya. Begini-begini meski lingkaran pertemanannya hanya orang itu-itu saja, tetapi ia memiliki cukup banyak kenalan di sosial media. Kebanyakan adalah gadis-gadis seusianya yang memiliki keterkarikan pada hal-hal yang sama sepertinya. Bisa dibilang, ia memang tidak banyak berhubungan dengan laki-laki, pertama karena ia menjaga perasaan Kazuki yang sensitif. Kedua karena ia memang mudah merasa tak nyaman.
Eru mulai memakan wafflenya dan melirik Kazuki yang masih belum menyentuh pesanannya. "Kau mau aku suapi?" Eru bertanya acuh tak acuh, terlalu sibuk dengan wafflenya sendiri.
Tanpa menoleh dan tetap fokus pada layar laptop, Kazuki mendenguskan tawa samar padanya. "Makan saja," karena tahu benar Eru sedang sangat bersenang-senang sendiri.
Eru tidak membantah dan melanjutkan makan. Ah, ada sebuah posthingan yang ia temui di beranda. Keningnya berkerut tanpa sadar. "Huh," ia mendengus tak suka. Lagi-lagi cerita tentang perselingkuhan dan pengkhianatan yang dialami perempuan yang entah siapa. Berapa kali dalam seminggu Eru perlu melihat berita semacam ini lewat di berandanya? Ia benar-benar tidak suka. Karena setiap kali membaca berita-berita semacam itu, ia jadi merasa takut dan kepalanya terasa sakit. Lagi pula perempuan mana yang tidak? Kekhawatiran semacam itu batangkali hal yang wajar, karena ada begitu banyak orang tak waras di dunia. Tapi sungguh, Eru tak mau membuat dirinya berpikir macam-macam, jadi lebih baik baginya untuk menghindari membaca berita semacam itu.
Suara-suara dentingan samar mengalihkan perhatian Eru dari layar ponsel. Ia melirik melalui sudut matanya pada ponsel Kazuki yang tergeletak di sebelah laptop. Tapi sepertinya Kazuki tak menyadati nada pemberitahuan dari ponsel karena terlalu fokus pada tugasnya.
Eru berhenti makan, menegakkan punggung dan menjulurkan badan sedikit ke arah ponsel Kazuki. Keningnya berkerut semakin dalam tapi ia tidak dapat melihat apa pun dengan jelas.
Kazuki menyadari pergerakan Eru dan akhirnya sadar. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa untuk beberapa saat dengan alis bertaut. Kemarahan dan ketidaksukaan terpampang jelas di wajahnya saat itu. Membuat Eru bertanya-tanya siapa yang mencoba menghubungi Kazuki dan urusan apa yang membuatnya sampai harus mengirim pesn beruntun?
Dengan gusar Kazuki mematikan ponselnya dan meletakkan benda itu kembali di tempat semula.
Eru masih menunggu dengan kening berkerut. Kazuki mengulurkan sebelah tangan menepuk puncak kepalanya dengan lembut.
"Bukan apa-apa, hanya orang iseng," ia menjelaskan dengan tenang.
Eru tidak mengatakan apa-apa sementara detak jantungnya naik dua dentum lebih cepat dari biasa. Bukan, ini bukan karena Kazuki baru saja menyentuhnya. Melainkan karena kecemasan aneh yang menyerangnya tiba-tiba.
Sementara Kazuki kembali fokus pada layar laptop, Eru mengeluh dalam hati. Kenapa ia selalu saja mudah cemas pada hal apa pun? Ia melanjutkan makan dan kembali menatap layar ponselnya sendiri dan langsung teringat pada berita perselingkuhan yang barusan ia abaikan. Mendadak, Eru merasakan sensasi tak menyenangkan, membuat hatinya terasa dingin..
Dalam lingkaran pertemannya di sosial media, pembahasan mengenai perselingkuhan bukan sesuatu yang asing. Apalagi Eru biasa nimbrung di mana pun dan menyimak cerita orang-orang. Kenapa ia jadi teringat pada cerita yang satu itu saat ini? Ia juga tidak tahu. Inti ceritanya begini, bahwa si pengirim tanpa identitas atau anonymous yang awalnya menanyakan tentang langkah yang perlu ia ambil setelah diselingkuhi. Eru pada saat itu dengan menggebu-gebu mengirimkan balasan untuk meninggalkannya, enak saja! Ia sangat terbawa emosi saat itu.
Tapi memerhatikan keseluruhan ceritanya, membuat Eru tak bisa lagi berkata-kata. Ia sendiri tak mau, sangat tidak mau mengubungkan hal-hal di luar yang tanpa sengaja ia temui dengan hubungannya sendiri. Singkatnya, si pihak yang selingkuh atau si laki-laki itu adalah tipe orang yang begitu posesif. Selalu mudah cemburu, melarang pacarnya melakukan banyak hal dan membatasi pacarnya dalam banyak hal juga. Lalu si pengirim anonymous itu menyatakan di akhir ceritanya, bahwa tipe laki-laki semacam itu justru adalah tukang selingkuh sejati. Dia bersikap seperti itu karena merasa takut setiap saat sang pacar juga akan berselingkuh. Dan semua orang dalam forum menyatakan persetujuan yang sama.
Mengingat ke belakang, hal itu lah yang membuat Eru tak tenang pada hubungannya dengan Kazuki. Tapi melihat Kazuki yang sekarang, membuatnya makin tak tenang malah! Karena ada unggahan lain yang kurang lebih ceritanya sama, bedanya si pihak laki-laki atau si peselingkuh, sikapnya berubah menjadi sangat baik, tidak pernah posesif atau membatasi pacarnya pada apa pun lagi. Dan mengingat unggahan serta komentar-komentar yang ditinggalkan orang lain, membuat Eru tak tahan untuk tidak melirik Kazuki dan merasa takut.
Andai saja Eru bisa mengendalikan pikirannya hingga tidak perlu mengingat hal yang tidak-tidak. Karena hal ini nyatanya membuat ia begitu ketakutan. Bahwa pihak yang mendadak sikapnya berubah itu, karena sejujurnya dia tidak mencintai atau membutuhkanmu lagi. Dengan kata lain, sang pacar akan segera dibuang.
Eru mengernyit dan menolak dengan keras. Kazuki bukan tipe orang rendahan semacam itu!
Ia mengatur napas susah payah dan bergerak-gerak gelisah hanya untuk mendapatkan posisi paling nyaman. Sekali lagi menolak keras dan berusaha melupakan masalah pesan spam tadi dan kenapa Kazuki terlihat marah, tak suka dan gusar.. Ah! Pokoknya Eru tak mau memikirkan hal itu lagi. Tak ada yang salah dengan hubungannya dan Kazuki adalah orang yang benar-benar baik!