Hori
Datanglah, ibuku membawakan banyak oleh-oleh.
Eru mendengus membaca pesan singkat yang Hori kirimkan padanya itu. Bisa dibilang, ibu Hori memang sangat perhatian dan sering sekali membawakan banyak sayuran, bermacam-macam makanan dan lain-lainnya lagi untuk satu-satunya putra yang ia miliki. Dan setiap kali terjadi, Hori akan memberitahu teman-temannya dan membagikan semua itu pada mereka. Eru salah satunya.
Sayangnya kali ini ia tidak bisa pergi bersama Kazuki karena laki-laki itu sedang sibuk. Eru menghela napas panjang berlebihan. Kenapa Kazuki begitu sibuk akhir-akhir ini? Keluhnya dalam hati.
Untungnya dalam perjalanannya yang sendirian dan membosankan, Eru berpapasan dengan Shina. Setidaknya perjalanannya tidak akan membosankan karena temannya yang satu itu banyak bicara.
"Ah, Kazuki sibuk, sayang sekali. Sejak kapan anak itu jadi sok sibuk," Shina berkomentar setelah Eru menjelaskan perihal ketidakhadiran Kazuki kali ini.
Eru juga sependapat dan memberengut sebal. "Banyak tugas atau apa lah. Yama sendiri? Tumben tidak bersamamu?"
"Entahlah, kurasa dia sudah ada urusan dengan teman kelasnya yang itu," Shina tidak perlu bersusah payah menjelaskan karena Eru tidak tertarik. "Kalau Akemi tidak ada kelas hari ini, kurasa kita akan bertemu dengannya di tempat Hori."
Eru tahu itu dan memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi.
Setelah perjalanan dalam bus akhirnya mereka sampai di mana apartemen Hori berada. Saat mereka sampai Akemi dan Erwin sudah ada di sana. Eru menunjukkan senyum yang agak canggung karena terkejut. Benar-benar lupa jika Erwin kini telah kembali berada di tengah mereka. Apalagi sejak awal, hubungan Erwin begitu dekat dengan Hori, atau setidaknya sejauh yang Eru tahu.
Shina membuka kulkas dengan mandiri dan menanyakan Eru apa yang ingin ia minum. Hori tidak berkomentar apa pum tentangnya dan menunjukkan beberapa kotak besar transparan pada Eru di lantai, seolah pusing pada semua itu.
"Ibuku selalu berpikir aku bisa menghabiskan semuanya. Bagaimana menurutmu?"
Hori jarang-jarang menunjukkan raut wajah penuh sesal semacam itu, jadi Eru hanya melayangkan senyum samar padanya. "Itu bagus," Eru melangkah mendekat dan membuka penutup kotak. "Wah, dengan semua sayuran sebanyak ini mungkin butuh beberapa bulan untuk dihabiskan seorang diri," ia terkikik geli pada ucapannya sendiri.
Hori mendesah lelah. "Karena kau yang biasanya paling suka sayuran, maka ambil saja, tidak usah malu-malu."
Shina mengulurkan sekotak s**u cokelat padanya dan Eru menerimanya tanpa berpikir.
"Tapi makin lama aku makin merasa tidak enak pada ibumu karena kau selalu membaginya begitu banyak padaku," Eru beranjak ke sofa. Mendudukan diri di ruang tersisa di sisi Shina, bersebelahan langsung dengan Erwin dan hanya dibatasi oleh pembatas sofa karena Erwin duduk si sofa yang terpisah tapi tepat bersisian. Laki-laki itu langsung menarik lengannya yang bersandar pada lengan sofa ketika Eru duduk. Eru berpura-pura tidak memperhatikan.
Sampai sekarang, Erwin bersikap begitu hati-hati padanya, mendapat perlakuan semacam ini, siapa yang tidak akan luluh?
"Tak apa, aku sudah mengatakannya pada ibuku, dia tidak keberatan."
Shina di sisi Eru mendadak tersedak karena tertawa. "Oh, aku ingat waktu itu, ibumu mengira Eru pacarmu kan?" Ia tertawa lagi. "Wajar sih, ibu mana yang tidak berharap anaknya memiliki pacar secantik Eru, apalagi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga."
Mendengar Shina memujinya membuat Eru langsung mendengus jijik lantas menjatuhkan pandangan pada kotak s**u di tangannya. Melihat itu, ia pun terkejut. Menyela perdebatan disertai cemoohan yang terlontar antara Hori dan Shina, Eru berseru. "Hei, kenapa aku mendapat s**u cokelat?" Ia memandang beberapa macam minuman dalam genggaman teman-temannya, termasuk milik Erwin. Wajahnya memberengut tak senang. "Setidaknya kalian minum soda atau bir, kenapa aku tidak diberi juga?"
"Huh, sudah habis," Shina mendengus berlagak serius, padahal jelas dari matanya ia tengah menahan rasa geli.
Hori membenarkan kali ini. "Memang, aku belum beli soda atau semacamnya lagi kali ini, jika ibuku datang dia akan memeriksa semuanya, kau tahu."
Eru menghela napas sedih dan mengenyakkan diri. Tapi toh karena haus ia tetap meminumnya juga. "Mmm, setidaknya apa ada s**u pisang?" Ia bertanya setelah setidaknya menghabiskan setengah.
"Kurasa masih ada, ambil saja," Hori menjawab sambil lalu.
Eru bangkit dan berjalan menuju kulkas. Tanpa ia tahu Akemi rupanya mengikuti. "Apa ada sesuatu yang bisa dimakan? Aku agak lapar," ia bertanya di belakang tubuh Eru.
Eru sedikit melonjak dan bergeser sedikit memberi Akemi ruang. "Ada sosis, kentang goreng, masakan untukku juga ya," Eru melayangkan senyum manis sembari mengeluarkan sebuah s**u pisang.
Akemi memutar bola matanya dan tidak mengatakan apa-apa. Ia mengeluarkan kentang dan sosis dari kulkas yang berarti persetujuan.
Hori muncul nampak mencari sesuatu. Kemudian berjinjit sedikit untuk membuka buffet di atas dan menemukan beberapa kantong plastik besar. Melihat Akemi yang bersiap untuk memasak, ia berkata. "Ada sphagetti juga di sini," ia menunjuk ke lemari penyimpanan di sebelah. "Sausnya ada di kulkas," ia menambahkan seolah baru teringat sebelum berbalik kembali menghadapi kotak hadiah dari sang ibu.
Hori nampak begitu pusing hingga akhirnya menyerah dan meletakkan kantong plastik di atas kotak. Berjalan memutar dan duduk di tempat Eru semula berada. "Kau menganggur, bantu aku sana," katanya pada Shina sembari menunjuk kotak-kotak di lantai.
"Aku sibuk," sahut Shina malas.
Eru kembali dari konter dengan raut wajah lebih baik. "Ayo nonton film," katanya pada Hori.
"Huh, anak ini," Hori mendengus. "Laptopku ada di meja kamar, ambil saja."
Eru melipat tangan ke atas seolah memberinya hormat dan bergegas menuju kamar tidur Hori. Bisa dibilang, pertemann mereka memang cukup kurang ajar, nyaris tidak memiliki sopan santun. Karenanya Eru yang berkeliaran di mana-mana, Shina yang seenaknya mengambil makanan atau minuman dan Akemi yang memasak bukan lah hal yang aneh lagi.
Eru segera kembali keluar membawa laptop Hori. Ia meletakkannya di meja dan duduk bersila di lantai. Shina pun mengikuti, duduk menempel di sebelah Eru sembari menegak habis birnya.
"Hei, ayo nonton ulang Confessions lagi," katanya setelah meletakkan kaleng bir yang kosong sembarangan di meja.
"Kalian mau langsung mulai tanpa aku? Kemari bantu aku dulu," Akemi berseru dari konter.
"Hehe," Eru tertawa garing. "Sebentar, aku sudah pernah nonton Confessions dua kali, memangnya kau tidak bosan?"
Wajah Shina berubah berseri-seri. "Tidak, Mizuki Kitahara itu salah satu karakter yang paling aku sukai."
Eru mendengus. "Tapi dia mati, tuh."
"Oh, film anak-anak itu," Hori mendadak ikut nimbrung, ia berlutut di sebelah Shina sambil memajukan tubuh ke arah laptop.
"Apanya yang anak-anak?"Eru memicingkan mata. Karena Confessions adalah salah satu film favoritnya, makanya ia tidak terima.
Shina nampaknya juga sama dan ikut emosi.
"Baiklah, baiklah, aku salah," Hori berkata malas.
Eru ingat temannya yang satu itu bahkan belum pernah menonton Confessions. Jadi ia tidak menanggapi pendapatnya lagi.
"Film itu?" Suara Erwin mendadak terdengar.
Seketika Eru menoleh ke ruang di sisinya yang tadi kosong. Erwin kini berlutut di sana, tapi menjaga jarak cukup jauh dan matanya yang biru fokus pada layar laptop.
"Kau tahu film ini?" Eru bertanya.
Erwin mengangguk. "Aku pernah menontonnya sekali, itu sangat bagus. Permainan pikiran semacam itu, aku menyukainya."
Senyum Shina dan Eru secara kompak merekah. "Benarkan!" Kata keduanya bersamaan.
Saling pandang sebelum akhirnya menoleh pada Hori, membuat yang ditatap sebal seolah-olah baru dikalahkan.
Dengan senang hati mendapati ada orang lain yang menyukai film favoritnya juga, Eru melanjutkan. "Aku sangat suka pemeran Shuya Watanabe, meski dia tidak memiliki akhir yang baik sih."
Erwin menoleh pada Eru, tapi begitu mendapati Eru juga sedang menatapnya, ia dengan segera menegakkan punggung dan berpaling kembali pada layar laptop. "Kenapa kau menyukai Shuya?"
Eru menjawab tanpa berpikir. "Karena dia lucu, menggemaskan, selain itu dia juga sangat pintar."
Erwin mengangguk-anggukan kepala tanpa menunjukkan reaksi yang berarti.
"Hei, kan kubilang bantu aku, kalian tuli?!" Akemi berseru lagi. "Aku juga ingin menonton Confessions, aku belum pernah menontonnya."
Sebelum Eru sempat bereaksi, Erwin sudah bangkit lebih dulu. "Baiklah, biar kubantu," ia berkata dengan ringan.
Akemi menoleh dan menatapnya dengan pandangan menilai. "Tidak, kau mana bisa memasak. Shina, kemari," ia berpaling lagi pada Shina.
Erwin nyengir. "Memang sih, aku tidak terlalu pintar memasak. Kalau begitu aku akan keluar membeli minuman saja."
Shina merengek sebelum mau bangkit untuk membantu Akemi. Dan Eru mau tidak mau juga ikut terseret. Meski kenyataannya tak banyak yang bisa ia lakukan. Jadilah mereka menghabiskan sepanjang sore untuk menonton film dan melakukan hal-hal tak penting yang Shina sebut sebagai menikmati hidup.