Sayangnya saat bangun pagi ini, Eru tetap tidak mendapati Kazuki di sisinya.
Tadinya ia sudah menduga bahwa saat ia bangun Kazuki akan ada di sisinya, memeluknya, lalu mengeluh panjang lebar karena baginya pagi datang terlalu cepat. Tidak mendapati semua hal itu membuat Eru merasa begitu sedih.
Dengan raut wajah kecewa yang bahkan tidak bisa disembunyikan sedikit pun. Eru memandang masakannya kemarin malam. Sangat disayangkan semua itu akan terbuang sia-sia pada akhirnya. Eru mendesah keras dan beralih pada ponselnya yang masih tergeletak di meja.
Kegelisahan dalam hatinya meningkat begitu pesat. Jangankan memberi Eru kabar mengenai dirinya, Kazuki bahkan tidak membalas pesannya sama sekali. Semua pesan yang telah ia kirimkan sejak kemarin sore hanya dibaca, diabaikan. Ada apa dengan Kazuki? Ia tidak biasanya begitu?
Eru mengatupkan bibir rapat-rapat mendapati dorongan keras untuk memuntahkan makian kasar. Kazuki tidak biasanya begini.. ia mengulangi dalam hati. Lantas kenapa ia mendadak bersikap begitu aneh.. begitu menyebalkan..
Oh!
Apa Kazuki marah karena ia datang ke rumah Hori dengan Erwin di sana?
Eru termenung sejenak.
Tapi tidak. Kazuki sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda marah sedikit pun. Lagipula ini tidak seperti ia tidak pernah bertemu Erwin selama ini. Dan selama itu juga Kazuki tidak lagi bersikap begitu naif.
Pada akhirnya Eru mengerang putus asa dan memaksa diri sendiri untuk bersiap-siap. Ia ada kelas pagi, pagi ini.
Sambil melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri. Eru dengan sengaja melewatkan sarapan dan sibuk berpikir. Barangkali sesuatu yang buruk terjadi? Ah, tidak. Jika iya, kenapa Kazuki tidak mencoba menghubunginya dan malah mengabaikan semua pesan dan panggilan darinya? Eru segera mendengus kesal.
Kemungkinan terdekatnya Kazuki keluar bersama teman-temannya dan mabuk di suatu tempat. Hal itu memang pernah terjadi beberapa kali. Tapi memang baru kali ini Kazuki sepenuhnya mengabaikan dirinya.
Di antara rasa kesal dan cemas, Eru tidak bisa mencegah dirinya untuk berpikir yang tidak-tidak. Rasanya begitu merepotkan sampai membuat paginya berantakan. Karena mendadak tak ada apa pun yang terlihat indah. Jika ditanya, jelas Eru akan memilih untuk bisa tidak memikirkan hal-hal buruk semacam itu sama sekali.
Kazuki bukan orang seperti itu. Eru memercayainya.
Namun sayang, kalimat penyemangat itu tidak memiliki efektivitas yang sama setelah sekian lama ia ucapkan terus menerus pada diri sendiri.
Sehingga akhirnya, Eru hanya bisa membiarkan dirinya tenggelam dalam suasana hati yang sangat buruk.
* * *
Yama muncul pagi itu dengan raut wajah tertekan. Bahkan tingkah Shina yang serampangan, untuk pertama kalinya dalam hidup, tidak bisa mengganggunya sama sekali. Dan tidak seorang pun, termasuk Akemi yang tadi tanpa sengaja berpapasan dengannya, bisa membuat Yama mengatakan apa yang membuatnya memiliki suasana hati yang buruk di pagi cerah ini.
Terlebih Akemi bukan tipe orang yang mau repot mencari tahu urusan orang lain. Jadi Shina praktis harus menyerah pada rasa penasarannya dan menolak dekat-dekat dengan Yama pagi itu.
Memiliki suasana hati yang buruk adalah hal yang paling jarang bagi Yama. Dan jika hal itu terjadi, bagi Shina dan siapa pun di dunia, ia akan menjadi sosok yang sangat tidak menyenangkan. Rasanya nyaris seperti bicara dengan dinding es. Bedanya, dinding es tidak memiliki sepasang mata yang akan menatapmu dengan tatapan tajam yang seolah menembus tulang. Dan Yama punya.
Yama sepenuhnya tidak mau memerhatikan orang lain. Ia tidak melakukan apa pun tapi ia jelas terlihat begitu sibuk pada dirinya sendiri.
Mendadak Yama berhenti berjalan, tubuhnya seolah membeku. Tanpa ia sadari wajahnya berubah pucat begitu melihat Eru di kejauhan. Dengan suasana hatinya sendiri yang begitu buruk, ia praktis tidak menyadari jika gadis itu juga memiliki suasana hati yang sama buruknya.
Merasakan sensasi aneh seakan baru saja ditinju tepat di perut. Yama dengan tergesa-gesa berbalik dan mengambil jalan lain. Raut wajahnya nyaris terlihat ketakutan dan penuh horor. Dan Yama sepenuhnya sadar ketika mendapati dirinya adalah seorang pengecut menjijikkan.
Kenapa ia melarikan diri? Karena ia tidak memiliki keberanian untuk memberitahu Eru. Ia takut menyakiti perasaan gadis itu. Tapi, dengan menghindar dan tutup mulut, bukan kah sama saja ia juga menyakiti hatinya?
Menyembunyikan kebenaran seperti ini, bersembunyi seperti tikus pencuri, pantas kah dirinya disebut sebagai seorang teman?
Mendadak Yama menghentikkan langkahnya lagi. Ia memandang dengan linglung ke segala arah. Tak ada yang memerhatikan betapa memilukan keadaan dirinya saat itu. Tapi Yama juga tidak memerhatikan mereka. Bahkan ia seolah tidak melihat orang lain selain dirinya sendiri.
Hanya ingatan mengenai kejadian semalam yang dirasanya mencekik lehernya sampai nyaris putus dan menarik kesadarannya kembali. Karena pada kenyataannya Yama sama sekali tidak bisa melupakan hal itu. Rasanya seperti ia baru saja melihatnya barusan. Semua itu begitu jelas dan ia tidak buta.
Jadi semalam, ia melihat Kazuki bersama seorang perempuan di bar. Pada waktu itu ia dan teman-temannya juga akan mengunjungi bar itu setelah menyelesaikan tugas kelompok mereka. Yama sama sekali tidak berkekspektasi akan bertemu Kazuki di sana. Terlebih bersama seorang gadis yang jelas-jelas bukan Eru. Untuk sesaat hal itu membuatnya sangat syok. Tapi dengan cepat Yama menguasai diri dan menggiring seluruh teman-temannya untuk pergi. Tidak membiarkan seorang pun melihat keberadaan Kazuki Doma di sana.
Karena jika sampai seorang saja melihat, hari ini pasti lah semua orang akan mengetahui hal itu. Dan tentu saja Yama sangat tahu berapa banyak orang yang mengantri di belakang Kazuki, menunggunya untuk membuat kesalahan dan menggantikan posisinya. Tapi bukan hal itu yang membuat Yama merasa sakit, melainkan membayangkan bagaimana perasaan Eru mendapati orang yang paling dipercayainya mengkhianati dirinya dan hal itu diketahui oleh semua orang sebelum dirinya sendiri tahu.
Yama merasakan serangan frustasi yang kuat. Membuat suasana hatinya meningkat ketingkat ekstrem dan campur aduk. Ia juga mengepelkan kedua tangannya erat-erat.
Tapi untuk apa? Orang yang ingin dipukulnya tidak ada di sini..
Perlahan namun pasti, ketegangan dalam diri Yama mengendur berganti ketidakberdayaan. Jika andai saja. Andai saja bukan dirinya yang mengenalkan Kazuki pada Eru, barangkali dia tidak akan merasa terlalu bersalah seperti ini.
Tapi semua sudah terjadi. Seumur hidup Yama tidak pernah benar-benar menyesali sesuatu yang ia lakukan dalam hidup. Tapi sungguh, untuk pertama kalinya kali ini. Ia merasa sangat menyesal. Dalam sekejap mata, salah satu teman yang dipercayainya berubah menjadi b******n busuk. Jika saja ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Kazuki memeluk dan mencium p*****r itu, ia masih memiliki sedikit kepercayaan bahwa semua ini hanya kesalahpaman.
Yama termenung lama. Tapi sejak kapan tepatnya Kazuki menjadi manusia sampah seperti ini? Ia mengenalnya cukup lama dan yakin Kazuki bukan tipe orang macam itu. Tapi kenapa? Kenapa?
Manusia bisa berubah. Benarkah? Apakah Kazuki berubah atau memang seperti itu lah dirinya yang sebenarnya?
Yama melanjutkan langkah lunglai yang tidak sepenuhnya ia sadari dan tanpa sengaja menabrak bahu seseorang di sisinya.
Masih setengah sadar, ia menoleh dan melihat sepasang mata biru yang balik menatapnya dengan tatapan heran dan terkejut. Yang seolah menanyakan pertanyaan yang sama dengan dirinya, 'apa yang kau lakukan di sini?'.