Kazuki tersentak bangun. Sengatan rasa sakit di kepalanya membuat ia mengerang dan kembali memejamkan mata sembari mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Tapi firasatnya begitu buruk, membuat ia tidak tahan berlama-lama di tempat ia tidur. Lantas, dengan masih setengah terpejam, ia dengan paksa menarik diri sendiri menjauh dari ranjang.
Barulah setelah beberapa saat ia bisa membiasakan diri dan memandang ke segala ruangan dengan pencahayaan minim ini.
Seluruh ruangan ini nampak asing. Ia tidak ingat pernah melihat tempat seperti ini. Dan lebih pentingnya lagi, bagaimana bisa ia berada di sini pagi ini?
Pagi? Kazuki berpaling pada jendela di sisi lain ruangan. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah terbuka. Ya. Barangkali ini memang pagi. Atau siang. Ia tidak tahu pasti. Yang jadi masalah, bukankah terakhir kali saat ia sadar masih malam?
Kazuki kembali berpaling setelah sakit kepalanya mereda dan terkejut setengah mati pada apa yang dilihatnya di ranjang.
SIAPA WANITA INI?! Ia berteriak dalam hati. Seketika rasa takut dan cemas melingkupi dirinya. Membuat ia tidak bisa bernapas.
Dengan susah payah Kazuki mencoba mengumpulkan kepingan ingatan sejak kemarin. Kemarin malam adalah puncaknya. Bukankah semalam ia bertemu dengan orang yang meneror dirinya selama ini? Tapi... Tapi kenapa ia bisa berada di sini sekarang? Bersama seorang wanita yang tidak ia kenal pula?! Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?!
Kazuki sungguh-sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Dan apa maksud dari semua ini. Namun saat mendapati dirinya sendiri yang setengah telanjang dan bagaimana keadaan ranjang- ah, bahkan Kazuki merasa jijik memikirkannya. Ini tidak benar! Sungguh, ia tidak bermaksud melakukan hal menjijikkan semacam ini! Ia mencintai Eru sepenuh hatinya dan tidak ada seorang pun yang lain.
Ia tidak tahu...
Ia tidak tahu...
Kenapa seperti ini? Ia tidak tahu!
Sosok berbalut selimut tebal di ranjang bergerak. Mengulurkan sebelah tangan ke sisinya di mana tadinya Kazuki berada. Begitu sadar tak ada siapa pun di sana, ia tersentak bangun. Tapi kekhawatiran kecil di mata cokelatnya segera pudar begitu mendapatu Kazuki berdiri linglung di sudut ruangan. Bibirnya yang merah penuh juga seketika terangkat menunjukkan seulas senyum yang nyaris menyerupai seringaian.
"Ah, kau sudah bangun rupanya. Kenapa buru-buru sekali?" Suaranya terdengar seperti rengekan manja. Membuat Kazuki seketika tersadar dari lamunan dan melangkah mundur sambil mengernyit jijik.
Melihat reaksi semacam itu, membuat wanita asing ini tidak tersinggung sama sekali. Ia sedikit memanyunkan bibir dan mengerling menggoda. "Tidak kah kau ingin melanjutkan yang semalam? Kenapa tiba-tiba menjadi malu begitu?"
Di titik ini, Kazuki bisa merangkai semua kemungkinan yang ada. Meski tidak sepenuhnya yakin, tapi ia tetap meledak marah. "APA MAKSUDMU, JALANG? APA- APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADAKU?!"
Mendengar itu, si wanita benar-benar tertawa keras. "Apa maksudnya dengan maksudku?" Ia balas bertanya dengan suara menggoda. "Ini tidak seperti kau masih suci atau semacamnya," ia mendenguskan tawa samar di akhir kalimat.
Kazuki benar-benar merasa kewarasan dalam dirinya telah berlari menjauh. Segala hal seolah tertahan dalam mulutnya dan ia benar-benar tidak bisa menyusun segala sesuatu yang ingin ia katakan dengan benar. Jadi sebagai reaksi paling awal setelah ejekan itu, ia menendang kursi di sebelah meja kecil di sudut dengan marah. Wajahnya berubah merah padam ditekan rasa frustasi. Karna bahkan jika dipaksa sekali pun, ia tidak akan mau memgkhianati Eru dengan cara seperti ini.
"Kau! Ternyata kau yang menerorku selama ini. Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?" Kazuki mendapati seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak mau menunjukkan hal itu pada wanita jalang di hadapannya ini. Tapi memikirkan apa yang jelas telah ia perbuat adalah hal yang tentu menyakiti Eru, ia tidak bisa tidak merasa kesakitan yang luar biasa.
Wanita itu menghela napas dengan bosan. "Menyuruh apa, padahal jelas-jelas kita memang sudah berhubungan sejauh ini."
Kazuki marah. Sungguh. Ia ingin mencabik-cabik mulut p*****r itu sampai hancur. Tapi juga tahu ia tidak bisa melakukannya. Tidak, jika hal itu hanya akan menambah masalah. Pun Kazuki tahu, tidak ada untungnya untuk terus bicara pada wanita ini karena ia tidak akan menjelaskan apa pun. Ditambah pikirannya yang begitu rumit saat ini, Kazuki hanya ingin menghilangkan diri sendiri.
"Persetan denganmu, tidak ada apa pun yang sudah aku lakukan denganmu," sambil berkata begitu dan secara terang-terangan melempar tatapan jijik, Kazuki meraih pakaiannya di sudut ranjang dan pergi tanpa menoleh lagi.
Ia merasa sangat panik. Cemas. Takut. Dan masih bingung kenapa semua ini terjadi. Tapi hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemui Eru. Seolah, ia ingin memastikan bahwa gadis itu tidak akan meninggalkannya. Meski ia sendiri tahu, ia tidak akan berani untuk menyampaikan semua ini pada Eru.
Kazuki tidak ingat bagaimana caranya ia bisa sampai di universitas. Yang ia tahu, ia tidak bisa menemukan ponselnya di saku celana atau kemejanya. Dan ditelan kepanikan ini, ia hanya benar-benar ingin melihat Eru dan memastikan gadis itu tidak mengetahui semuanya. Ia tahu ia sangat egois. Tapi sungguh, ia tidak bisa jika Eru sampai meninggalkan dirinya.
Berjalan menyusuri aula depan di tengah lalu lalang. Entah keajaiban apa yang membuat Kazuki begitu mudah menemukan sosok Eru yang mungil. Sebelumnya, ia memang ingat Eru memiliki kelas pagi hari ini. Dengan perasaan campur aduk ia dengan segera menabrakan diri pada gadis itu.
Eru terkejut. Tapi Kazuki sama sekali tidak memerhatikan reaksinya. ia menutup mata dan memeluk gadis itu erat-erat. Begitu takut akan kehilangannya. Menahan dorongan keras untuk tidak menjatuhkan air mata penyesalannya.
Di lain sisi, Eru tidak marah setelah akhirnya bisa melihat Kazuki. Ia hanya heran kenapa kekasihnya ini tiba-tiba muncul dalam keadaan kusut dan berantakan. Ia hanya menduga bahwa Kazuki memang mabuk semalam. Dan kelegaan yang ia rasakan bahwa Kazuki baik-baik saja, membuat Eru melupakan seluruh kekesalannya dan hanya mengomel dengan sayang.
Samar-samar akhirnya Kazuki bisa merasakan seluruh inderanya kembali bekerja. Ia kini benar-benar sadar di mana dirinya berada. Di aula depan yang ramai, tapi itu tidak membuatnya ingin melepas sosok mungil dalam dekapannya. Samar-samar ia juga bisa mendengar suara Eru yang mengomeli dirinya. Rasanya, omelan itu terdengar begitu indah. Dan Kazuki akan menerima dengan sepenuh hati meski harus mendengarnya seumur hidup. Saat itu, pada detik yang sama, Kazuki berharap, bahwa ia masih memiliki kesempatan kedua dan menganggap apa yang telah terjadi tidak pernah terjadi.