"Ada apa denganmu?" Adalah pertanyaan yang Erwin ajukan dengan raut wajah heran.
Pada saat itu Yama yang masih frustasi setengah mati langsung merasakan sedikit kelegaan begitu melihat temannya yang satu ini, bahkan berpikir dengan tulus, menyesal bahwa bukan Erwin yang pada akhirnya menjalin hubungan dengan Eru.
Haha. Ini di luar dugaan Erwin sendiri. Tapi ia senang. Bahkan sangat puas. Ia tidak pernah membayangkan skenario semacam ini akan terjadi, di mana Yama dengan mata kepalanya sendiri memergoki Kazuki yang telah berada di bawah pengaruh obat. Bahkan Yama begitu memercayai dirinya, menceritakan semua yang ia lihat dan rasakan mengenai kebusukan Kazuki. Dilihat dari sisi mana pun, Erwin tahu laki-laki ini menyesal setengah mati.
Jadi Erwin hanya tinggal meraih kesempatan emas ini. Keberuntungan yang manis. Tanpa Kazuki sadari, ia yang tengah bercerita dengan emosional, Erwin menuntunnya ke tempat di mana Eru baru saja bertemu dengan Kazuki. Tentu saja ia juga tahu hal ini, pada dasarnya ia tahu semua hal tentang gadis itu. Hal sekecil ini hanya persoalan remeh jika jadwal ia keluar masuk lift saja Erwin telah menghapalnya di luar kepala.
Sekali lagi, Erwin meraih sebuah kemenangan kecil yang manis. Tepat saat Yama tiba-tiba berhenti bicara dan mengatupkan rahangnya begitu keras, Erwin tahu dia telah melihat keberadaan Kazuki.
Dengan santai Erwin mengalihkan pandangan. Wajahnya tidak menunjukkan banyak ekspresi saat melihat dua orang yang tengah bicara begitu dekat. Tapi siapa yang tahu bahwa saat ini juga hatinya sedang meluap-luap dipenuhi kegembiraan.
Saat ini Kazuki menunduk menatap Eru yang lebih pendek darinya. Dari jarak ini, Erwin tidak dapat mendengar apa yang mereke bicarakan. Ia tidak merasa terganggu. Karena tahu tak lama lagi Kazuki tidak akan pernah bisa melakukan hal yang bisa ia lakukan sekarang bersama gadis itu.
"Bagaimana bisa dia masih punya muka?" Akhirnya Yama memuntahkan kemarahannya yang tertahan. Raut wajahnya terlihat begitu rumit, membuat Erwin nyaris merasa kasihan.
Erwin baru akan menyahut saat Yama berkata lagi dengan marah.
"Melihatnya bertingkah seperti ini, membuatku semakin yakin bahwa si b******k itu memang sudah biasa melakukan itu sebelum ini," kejijikkan di matanya tidak bisa ditawar lagi.
Erwin berdeham ringan menyembunyikan senyum yang nyarus muncul di bibirnya. Lalu dengan tenang berkata. "Aku tidak mengenalnya cukup lama, jadi tidak bisa menilai apa-apa. Tapi melihatnya seperti ini, dan dari apa yang telah kau lihat, membuatku juga merasa jijik padanya," Erwin mendesah penuh simpati. "Eru gadis yang baik, kenapa ia bisa menjadi buta seperti ini?"
Erwin menyaksikan bagaimana Yama berusaha keras menekan amarahnya. Kedua tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih, sesaat ia juga memejamkan mata dan mengatur napas susah payah.
Erwin mengulurkan sebelah tangan menyentuh pundak Yama. "Kau bisa menanyakan hal ini langsung padanya nanti, lebih baik sekarang kau masuk ke kelas. Aku juga ada kelas pagi ini."
Seolah berhasil ditenangkan oleh nasihat Erwin, amarah Yama nampaknya sedikit mereda. "Untuk saat ini aku belum bisa memberitahu Eru, tolong jaga rahasia ini darinya. Aku benar-benar merasa bersalah."
Erwin mengangguk. "Aku mengerti, bagaimana pun Eru juga temanku."
Sesaat sebelum Yama beranjak pergi, ia melihat Kazuki dan Eru juga berpisah. Erwin tahu, Eru juga ada kelas pagi yang sama dengannya, dan dari jalan yang dia ambil, jelas Kazuki akan menuju kafetaria. Dengan keadaan seberantakan itu, bahkan tanpa membawa apa pun, mana bisa ia mengikuti kelas. Jadi Erwin menyimpulkan, paling-paling dia akan menunggu Eru sampai selesai di kafetaria.
Erwin melirik Yama, tahu jika Yama juga memikirkan kesimpulan yang sama dengannya.
Begitu Yama pergi, Erwin mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia tertawa puas dalam hati. Sambil berusaha keras untuk menahan tawa, ia mengirimkan sebuah pesan pada orang suruhannya. Lalu bergegas menuju kelas untuk menemui Eru.
Erwin berpura-pura tersandung saat lewat di sebelah Eru yang duduk sambil menopang dagu dengan sebelah tangan, gadis itu bahkan tidak menyadari kedatangannya sama sekali. Erwin jadi merasa agak tersinggung.
"Ah, maaf," Erwin membungkuk dan mengambil beberapa bukunya yang sengaja ia jatuhkan.
Eru menoleh dan sebuah senyum kecil merekah di wajahnya. "Oh, Erwin! Biar kubantu," ia baru akan menunduk saat menyadari sebuah pesan masuk di ponselnya yang sedang ia genggam di satu tangan yang lain.
Tanpa Eru lihat, senyum Erwin mengembang, ia nyaris gila karena terlalu senang. Dan di saat yang sama sebuah pesan juga masuk di ponselnya sendiri. Erwin menarik pengendalian dirinya secara paksa. Bangkit dan memeriksa ponselnya sendiri. Tapi ia tidak benar-benar memerhatikan, tentu ia hanya berpura-pura, ia sibuk melirik Eru yang raut wajahnya berubah-ubah. Dari syok, ke ketidakpercayaan, kecewa, marah, sedih. Bahkan darah seolah surut dari wajahnya.
"Eru, kau baik-baik saja?" Ini suara yang sempurna yang membuat orang yang mendengar percaya bahwa ia juga tengah mengalami pukulan berat.
Sejenak tubuh Eru membeku. Masih begitu syok. Lalu perlahan air mata menggenang di matanya yang bulat.
"Eru?"
Eru tersentak dan menatapnya dengan linglung. Mengerjap, menahan air matanya agar tidak jatuh. Memandang bolak-balik dari Erwin dan ponsel yang laki-laki ini genggam. Menarik kesimpulan yang membuatnya berpikir akan langsung menjadi gila saat itu juga. Sedetik berikutnya, Eru bangkit dan berlari pergi.
Mengabaikan satu bukunya yang masih tergeletak di lantai, Erwin memandang Eru yang bergegas keluar. Ah, rasanya begitu menyenangkan. Segalanya sudah berakhir sekarang. Dan Eru akan kembali jatuh ke dalam genggamannya.
Erwin membungkuk sekali lagi, mengambil bukunya sendiri yang masih di lantai, kemudian tanpa terburu-buru memungut beberapa barang Eru yang masih tertinggal di meja.
Tentu saja orang-orang di kelas memerhatikan keberadaan dirinya dan sikap janggal Eru tadi. Jadi meski sikapnya masih begitu tenang, Erwin menautkan alisnya dengan samar. Menunjukkan raut wajah marah sekaligus sedih.
Tidak ada yang bertanya ketika ia akhirnya ikut melangkah keluar. Untuk saat ini ia tidak perlu langsung mencari Eru. Jadi setelah tidak ada yang melihat. Ia kembali tersenyum dan menatap layar ponselnya sekali lagi. Membaca pesan yang setidaknya sudah ia baca beberapa kali sejak dibuat. Benar. Pesan ini dikirim oleh si wanita jalang suruhannya. Dan Erwin sudah memerintahkan dia untuk mengirim pesan ini pada Eru, Yama, Hori, bahkan Shina dan Akemi juga. Kurang lebihnya pesan itu berisi tentang permintaan si wanita jalang untuk teman-teman Kazuki, untuk menyampaikan bahwa ia telah hamil dan meminta pertanggung jawaban.
Di belokan koridor yang sepi, Erwin akhirnya bisa tertawa terbahak-bahak tanpa perlu menahan diri lagi.
Bayangkan bagaimana reaksi Yama begitu melihat pesan ini. Rasanya menyenangkan sekali. Dan yang perlu ia lakukan sekarang hanya lah berpura-pura mencari keberadaan Eru untuk mengantarkan barang-barangnya yang tertinggal dan menunggu keributan besar yang sebentar lagi akan terjadi.