Chapter 17

1014 Kata
Barangkali ini tidak nyata. Adalah kalimat yang berulang kali Eru teriakan dalam kepalanya sendiri. Berharap dengan sungguh-sungguh bahwa semua ini memang tidak nyata. Meski begitu, segala rasa sakit yang ia rasakan mengkhianatinya mentah-mentah. Semua rasa sakit itu nyata. Bahkan terlalu menakutkan. Eru bahkan tidak memerhatikan lagi apa saja yang ia lalui. Atau berapa kali ia tanpa sengaja menabrak bahu orang-orang. Pandangannya kabur terhalang air mata. Dan satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah terus berlari. Seolah ketakutan terbesarnya tengah mengejar dirinya. Rasa takut itu seolah perlahan mengiris setiap inci daging dan tulang di tubuhnya. Membuat ia luar biasa kesulitan. Eru tidak tahu bagaimana pastinya ia bisa sampai di toilet ini. Yang jelas ia membanting pintu begitu keras saat masuk. Meringkuk, memeluk diri sendiri dan menangis keras. Ia takut. Sangat takut bahwa semua ini memang benar. Takut bahwa seperti dugaannya, pesan yang ia terima juga dikirimkan ke seluruh teman-temannya, karena dari apa yang ia lihat dari wajah Erwin tadi, telah menunjukkan semuanya. Rasanya begitu sakit. Ia kesulitan bernapas. Dan seluruh pandangannya terhalang air mata. Terlepas dari wajah apa yang harus ia tunjukkan pada semua orang nanti. Pengkhianatan Kazuki yang sebegini jauhnya, telah membuat ia hancur berkeping-keping. Mau bagaimana pun, meski belakangan muncul sedikit keraguan karena sikap janggal Kazuki, Eru tetap menganggapnya sebagai orang yang paling ia percayai. Mendapati segalanya telah berbalik dan menusuknya seperti ini, Eru benar-benar merasa ingin mati. Tanpa Eru sadari, isakan keras keluar dari bibirnya. Seolah dunia mendadak hening menyisakan rasa sakit. Kenapa Kazuki bisa melakukan sesuatu semacam ini? Pesan dan beberapa foto yang tadi ia lihat sekaligus, seakan berasal dari kenyataan yang begitu jauh. Eru berharap hanya bisa pergi meninggalkan kenyataan ini. Eru menangis begitu keras sampai jiwanya serasa dicabik. Ia meringkuk dan memeluk dirinya sendiri yang menggigil keras. Ia bahkan tidak menyadari di mana ia tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Semua itu tidak penting. Mendadak Tak ada hal yang penting lagi. Rasa sakitnya terlalu menyayat, dan Eru tidak bisa menahannya. * * * Pagi ini Yama mendapat kelas pagi bersama Akemi dan Hori. Tapi karena sejak awal suasana hatinya begitu buruk, tidak ada percakapan apa pun di antara mereka. Kelas belum mulai dan Yama mendudukkan diri dengan wajah tertekuk. Menatap lurus ke depan seolah segala hal di dunia membuatnya marah. Akemi yang duduk tak jauh darinya, mengabaikan dia sepenuhnya. Sibuk membaca bukunya sendiri. Hori bahkan tidak terlalu memerhatikan mereka. Memandang keluar jendela, sibuk memikirkan entah apa. Pesan berantai itu masuk tak lama setelahnya. Awalnya Yama tidak peduli pada sebuah pemberitahuan yang muncul di layar ponsel. Sampai kemudian sadar bahwa itu adalah pesan dari orang asing. Jadi ia membukanya tanpa berpikir dan seketika terperangah. Seluruh tubuhnya mengejang. Akemi menatapnya saat itu dan tidak bisa tidak mengernyit. Di saat yang sama di seberang, Hori juga terlihat memeriksa ponsel dan memiliki reaksi yang nyaris sama dengan Yama. Bedanya, jika Yama terlihat seperti akan meledak karena kemarahan, Hori terlihat begitu syok sampai -untuk pertama kalinya- terlihat begitu bodoh. Akemi mengernyit dan menegakkan tubuh. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada kedua temannya itu. Sebelum sempat memutuskan untuk bertanya, Yama menyentak bangun dengan keras. Akemi sampai terkejut dibuatnya. Seketika paham ada yang tidak beres, sesuatu yang mendesak, dan ini jelas adalah hal yang berbahaya. Yama selalu memiliki sikap kekanakan dan sedikit bodoh, melihatnya sebegini marah, siapa yang tidak kaget? Di lain sisi, Hori memaksa dirinya untuk menarik sadarannya kembali ke kenyataan, ia ikut bangkit dengan terburu-buru. Nampaknya juga telah memerhatikan reaksi Yama dan berteriak keras tanpa memerhatikan semua orang di ruangan. "YAMA!" Akemi terkejut sekali lagi. Kemudian menghubungan satu hal yang sama-sama keduanya lakukan sebelum ini. Dan teringat bahwa mereka berdua sama-sama mengecek ponsel sebelumnya. Barulah saat itu Akemi menyadari bahwa ada sebuah pesan dari nomor asing di ponselnya sendiri. Ia mengernyit, antara ingin mengejar Hori yang kini juga ikut berlari keluar seperti orang kesetanan, atau membuka ponselnya dulu. Berusaha menekan perasaan tidak nyaman di hatinya, Akemi membuka pesan itu lebih dulu. Toh, sebentar lagi kelas akan dimulai. Tetapi, begitu melihat isi pesan. Akemi begitu syok, seluruh tubuhnya membeku, jantungnya seolah berhenti berdetak. Makian keras nyaris keluar dari mulutnya tepat saat ia sadar di mana ia sekarang berada. Mendapati orang-orang di sekitar juga menatapnya sebagai akibat sikap aneh Yama dan Hori tadi, ditambah Akemi juga menunjukkan sikap aneh yang sama. Sambil bersusah payah mengatur napas agar tetap tenang. Akemi membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar. Pikirannya begitu kacau, tapi dia juga diharuskan mengehar Hori dan Yama, jika tidak, sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Akemi melangkah cepat, kian cepat, kian cepat sampai akhirnya berlari. Matanya memerah, lehernya terasa begitu sakit. Perasaan marah dan benci juga tumbuh sedemikian hebat dalam dadanya. Ia mengembuskan napas beras, menarik napas lagi, terus begitu dengan susah payah. Juga mendapati dirinya gemetar karena ditekan rasa marah. Kazuki.. Kazuki kau b******k. Kau anjing. Manusia sampah... Akemi mempercepat larinya, tidak ingin kehilangan jejak Hori dalam pandangannya. BAGAIMANA BISA KAZUKI MELAKUKAN SEMUA INI?! Pikirannya begitu kalut, sulit membedakan antara khayalan dan kenyataan. Bahkan ia merasa ingin mencekik Kazuki sampai mati sekarang juga, karenanya ia sangat mengerti pada perasaan Yama. Setidaknya Hori berpikiran lebih dewasa dan pasti akan menghentikan Yama. Tapi tentu semua itu belum pasti. Dan Akemi harus mengikuti mereka untuk memastikan Kazuki tidak dihajar sampai mati. Akemi benci harus melakukan hal ini, tapi tahu bahwa ia harus. Ia tidak ingin membiarkan teman-temannya menjadi kriminal. Mereka tidak pantas. Tetapi Kazuki memang pantas mati. Lantas bagaimana dengan Eru? Akemi tercekat, kemudian tersedak, tangisnya nyaris pecah. Ia perlu menahannya sekuat tenaga. Sambil berpikir begitu, sebuah panggilan masuk di ponselnya. Akemi mendapati Hori berbelok masuk menuju kafetaria dan akhirnya mendesah keras, ia menghentikan langkah dan menjawah telepon dari Shina itu. Antara ingin menghentikan Yama, atau memastikan keadaan Eru lebih dulu, ia tidak yakin. Yang jelas, mendapati Shina meneleponnya seperti ini, maka dapat dipastikan pesan ini dikirim ke seluruh teman-teman terdekat Eru. Akemi tidak bisa menahan serangan panik yang begitu mendadak menyerangnya. Jika memang seperti ini, apakah pesannya juga dikirimkan ke orang-orang lain? Lagi-lagi seluruh tubuh Akemi gemetaran, suaranya bergetar, dan ia berharap dengan bersungguh-sungguh Eru tidak akan dihadapkan pada hal itu. Setidaknya biar mereka saja yang tahu. Orang lain tidak boleh..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN