Chapter 18

906 Kata
Hal pertama yang Yama lakukan pertama kali setelah menemukan Kazuki di kafetaria adalah melayangkan sebuah tinju pada wajahnya, bahkan sebelum Kazuki sempat bereaksi karena terkejut dengan kedatangan Yama yang begitu tiba-tiba. Segalanya berubah menjadi sangat kacau dalam sekejap. Bahkan Hori yang telah dengan serius mengikuti Yama di belakang, segera tersingkir oleh kerumunan di hadapannya. Semua orang, seperti yang ia duga, begitu terkejut dan heran atas penyerangan sepihak yang dilakukan oleh Yama. Bukan tanpa alasan, mengingat Yama adalah salah satu teman terdekat Kazuki. Melihat sekarang keduanya terlibat dalam perkelahian, siapa yang tidak tetarik untuk menonton. Hori merasa kepalanya seketika pusing. Situasi berkembang terlalu jauh dari jangkauannya. Jika ada hal yang paling ia benci di dunia, maka berada di tengah kerumunan semacam ini adalah salah satunya. Pertama-tama ia tidak mengerti kenapa di jam ini kafetaria begitu ramai. Apakah mereka tidak memiliki kelas pagi? Lalu apa juga yang perlu dilakukan di sini? Hori tidak henti-hentinya mengutuk dalam hati sambil berusaha menerobos masuk. Dan perlahan ia bisa menyesuaikan pendengarannya dan melihat ke tengah kerumunan. "KAU b******k, BAGAIMANA KAU BISA MELAKUKAN HAL SEMACAM INI?!" Yama berteriak seolah ikut memuntahkan jiwanya. Sembari melayangkan satu pukulan lagi yang segera ditangkis oleh Kazuki dengan terburu-buru. Kenyataannya Kazuki masih begitu syok dan tidak mengerti apa yang terjadi pada Yama sampai membuatnya semarah ini. Karena bagaimana pun, selama jejak pertemanan mereka, semarah apa pun Yama padanya tidak akan pernah mengangkat satu jari pun padanya. Tadinya Hori sungguh-sungguh berpikir bahwa setelah ia berada di posisi ini -berhasil menerobos kerumunan- maka ia akan dengan segera melerai Yama dan Kazuki. Tetapi begitu melihat raut wajah Kazuki, Hori benar-benar merasa jijik. "Tunggu sebentar, biarkan aku bicara!" Kazuki tidak balas memukul dan terus menangkis serangan Yama. Mendengar itu bahkan Yama begitu terkejut, ia benar-benar membeku sepersekian detik sebelum akhirnya meledak lagi. "APA YANG PERLU DIBICARAKAN LAGI?! KAU TERUS BERSIKAP SEOLAH TIDAK TAHU! KAU- KAU- KAU MENJIJIKKAN!" Hori sepenuhnya setuju dengan kata-katanya. Melihat Yama menyerang lagi dan kali ini Kazuki terlambat untuk mengelak. Ia mengernyit, mengangkat sebelah tangan pada kening dan memijat pelipisnya sendiri. Merenung sebentar sambil memerhatikan perkelahian yang kian sengit. Setiap kali Kazuki mengatakan sesuatu, Yama akan membalasnya sambil berteriak. Pada akhirnya meski Hori sendiri juga marah dan jijik pada Kazuki, ia tetap harus melerai mereka, atau segala hal akan bertambah buruk nantinya. Jadi ia maju dan dengan keras menarik Yama mundur. Tetapi bahkan temannya yang satu ini seolah tidak mengenalnya lagi. Suasana makin kacau dengan bergabungnya Hori di tengah kerumunan. Di lain sisi, Akemi yang akhirnya memutuskan untuk mengikuti kedua temannya lebih dulu baru saja sampai di kafetaria. Ia begitu pusing mendapati keramaian seperti ini. Tapi tanpa berpikir lagi ia menyerbu masuk dan memaksa orang-orang menyingkir untuk memberinya jalan. Ketika akhirnya sampai di bagian paling depan, Akemi memgatur napas sejenak dan memerhatikan. Hori berusaha keras menahan Yama yang meronta-ronta dengan gila. Sementara Kazuki setengah duduk di lantai dengan napas terengah. Banyak memar di wajahnya dan ada sedikit bercak darah. Melihat semua itu, Akemi bahkan tidak merasa iba sama sekali. Malah ia merasakan kemarahan mengalir bersama aliran darahnya. Menyebar dengan gila dan ia bergegas maju. Akemi membungkuk dan melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Kazuki, membuat laki-laki itu terperangah begitu syok. Akemi merasakan napasnya memburu, ia baru saja melupakan tujuannya datang dan benar-benar tenggelam karena kemarahan. Melihat itu, Hori dan Yama juga terkejut dan berhenti bergerak. Sementara kerumunan kian ramai karena sikap tak terduga Akemi. Tetapi Akemi sepenuhnya mengabaikan mereka semua. Ia masih menatap Kazuki yang syok penuh benci. "Aku tidak tahu apakah kau dibesarkan oleh babi, atau orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti seorang manusia." Keterkejutan di wajah Kazuki bertambah. Ia terlalu syok sampai tidak mampu berkata-kata saat mendengarnya. "Kau sungguh... benar-benar membuatku jijik setengah mati. Aku berharap dengan sepenuh jiwa kau akan mati dengan cara paling buruk ratusan kali." Tidak ada suara lagi dalam sesaat. Meski suara Akemi tidak keras, setidaknya orang-orang yang berada paling depan dan terdekat dengannya masih bisa mendengar. Hal ini membuat semua orang makin bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Ditambah fakta bahwa kelompok pertemanan mereka cukup menyita perhatian sejak awal karena visual setiap anggotanya. Jadi secara alami, orang-orang mulai berspekulasi. Kenapa orang-orang yang berteman dekat ini berbalik dan menyerang satu orang dalam lingkaran pertemanan mereka? Akemi berbalik memunggungi Kazuki. Tahu pasti apa yang dipikirkan orang-orang yang menonton. "Apa yang kalian lihat? Bubar!" Bisik-bisik mulai terdengar lagi. Yah, karena mereka tidak mau, jadi Akemi lah yang pergi. Sebelum itu, ia memberi isyarat pada Hori untuk pergi bersamanya juga. Hori tidak menyahut tapi dengan segera menarik Yama dengan paksa bersamanya. Kerumunan ditinggalkan dengan tanda besar. Tapi mau tidak mau harus bubar juga karena hanya ada Kazuki yang tersisa. Butuh waktu begitu lama bagi Kazuki untuk mencerna segala hal yang terjadi begitu tiba-tiba ini. Ketika akhirnya menemukan sebuah kesimpulan, ia bahkan takut pada pemikirannya sendiri. Raut wajahnya berubah-ubah, antara bingung, syok dan berubah menjadi ketakutan. Darah seolah surut dari wajahnya. Kazuki masih belum bangkit dari lantai dan memandang sekeliling dengan linglung. Tidak mungkin. Bagaimana bisa mereka tahu apa yang telah terjadi padanya? Tapi itu tidak seperti ia memang sengaja atau mau melakukannya dengan senang hati. Ia telah dijebak! Tidak kah... setidaknya teman-temannya tahu tentang ini?! Lalu.. Eru, bagaimana dengan Eru? Tidak. Tidak. Tidak. Kazuki bangkit dengan terburu-buru, merasakan sengatan sakit di beberapa bagian tubuhnya, tapi mengabaikannya dan segera pergi, berlari dengan gila untuk menemukan Eru. Karena semua ini hanyalah kesalah pahaman, ia perlu menjelaskan semua. Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh seperti ini...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN