Pada saat itu Shina baru saja akan memasuki kelas paginya ketika mendapati sebuah kiriman pesan. Ia tidak memiliki kecurigaan apa pun dan membuka pesan dari nomor tidak dikenal itu. Berpikir bahwa paling-paling hanya nomor dari penipu. Tetapi kemudian begitu melihat isinya, ia langsung membeku. Shina benar-benar berhenti bergerak tiba-tiba, menghalangi beberapa orang di belakang yang ingin masuk. Jika saja salah satu di antara mereka tidak memanggilnya, barangkali Shina akan benar-benar lupa untuk menarik napas.
Shina menyingkir dari jalan dan menyandarkan punggungnya pada dinding terdekat. Ia terperangah sampai mulutnya membuka. Ia mengalihkan pandangan ke sana kemari tanpa benar-benar memerhatikan sesuatu. Setelah beberapa saat seperti orang linglung, ia melihat layar ponselnya lagi. Ia semakin terkejut dan segera menjauhkan ponselnya dari pandangan.
Apa-apaan ini? Bagaimana sesuatu semacam ini bisa terjadi?
Ini benar-benar Kazuki?
Shina mulai berpikir bahwa ia salah lihat, jadi ia memeriksa layar ponselnya sekali lagi dan membelalak untuk ketiga kalinya. Menjauhkan ponselnya dengan sangat yakin kali ini, mengingatkan diri sendiri untuk tidak membuang benda itu dan berpikir dengan linglung. Ia persis seperti seseorang yang baru saja dihantam tepat di kepala. Kebingungan antara kenyataan dan khayalan.
Shina termenung dengan syok selama beberapa waktu. Hingga akhirnya yakin bahwa ini bukan lah mimpi dan ia dengan segera menegakkan tubuh. Bertanya-tanya dengan cemas di mana Eru sekarang? Dan apakah Eru sudah melihat semua ini?
Shina mulai berlari-lari dengan panik. Matanya terasa panas, lehernya terasa sakit, tapi ia tetap bersikeras menolak untuk menangis.
Di persimpangan koridor Shina tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Ah, Shina!" Sosok itu menangkap Shina seolah kemunculan Shina adalah hal yang paling ia harapkan di dunia.
Shina mengernyitkan kening memandang laki-laki, dia adalah salah satu kenalannya, tapi bukan teman dekat. Kenapa ia memanggilnya dengan begitu bersemangat sekarang, Shina tidak tahu dan tidak ada waktu. Ia baru saja akan meninggalkan laki-laki itu ketika ia berkata.
"Kau mencari Eru?"
Langkah Shina seketika terhenti, ia mengalihkan pandangannya lagi, antara takut dan cemas. Tapi ia juga penasaran. Apakah orang ini tahu? Apakah semua orang tahu? Atau yang terburuk pesan ini memang dikirim pada semua orang?!
"Tadi kami melihat Kazuki dihajar Yama dan Hori, apa terjadi sesuatu? Ah, ya. Akemi juga memukulnya. Katakan, apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan Eru?"
"Apa?" Shina lega mengetahui bahwa pesan itu tidak diteruskan kepada semua orang. Tapi ia tetap cemas mendengar kejadian yang parah itu. "Di mana mereka sekarang?" Ia bertanya dengan mendesak.
"Tadi di kafetaria, tapi sekarang sudah pergi entah ke mana."
Shina langsung lari lagi. Tidak peduli meski orang-orang itu memanggilnya dengan kesal.
Brengsek sialan, pasti mereka sudah mencium bau kesempatan untuk mendekati Eru. b******n gila, tidak berempati. Dasar sampah. Kalian manusia babi.
Shina tidak bisa menahan diri menyumpahi mereka sepanjang jalan. Setelah berputar-putar ia menyadari tindakannya didasari kepanikan. Membuatnya seperti berputar dalam labirin tanpa jalan keluar. Akhirnya Shina berhenti dan mengatur napas. Ia memejamkan mata sebentar, berpikir dengan sungguh-sungguh dan memutuskan untuk menuju toilet mana pun yang terdekat.
Rasa marahnya berangsur-angsur hilang digantikan kesedihan yang dalam. Ia teringat kata-kata di mana Akemi juga ikut memukul Kazuki, membuat Shina merasa sedikit menyesal tidak berada di sana saat itu juga. Setidaknya ia bisa ikut memberi pelajaran meski hanya sedikit.
Dari kata kenalannya tadi, jelas bahwa Eru tidak berada di kafetaria saat itu, hal ini juga membuat Shina merasa lega. Setidaknya Eru tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
Sampai di pintu toilet wanita, Shina menggebrak pintu terbuka tanpa memikirkan sopan santun. Untungnya tidak ada orang di dalam. Tapi kemudian ia mendengar suara isakan dari sebuah bilik di sudut. Shina merasa hatinya seolah diremas. Ia melangkah masuk. Membuka pintu bilik itu dan menemukan Eru yang menangis keras sambil memeluk diri sendiri.
Kali ini Shina tidak bisa menahan dirinya lagi, ia ikut menangis dan memeluk Eru erat-erat. Keduanya sesenggukan bersama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan meski Eru termasuk tipe teman yang cenderung tertutup pada perasaannya sendiri, mereka tetap telah berteman cukup lama dan berbagi banyak hal. Karenanya Shina tidak bisa tidak merasakan kesedihan dan kemarahan Eru juga.
Merasakan tubuh Eru yang gemetar dalam pelukannya, Shina merasa dadanya semakin terasa sakit. Ia sendiri tidak akan pernah menyangka seorang Kazuki Doma bisa melakukan sesuatu semacam ini. Lantas bagaimana dengan Eru? Membayangkan dirinya berada di posisi yang sama saja Shina tidak akan pernah bisa menyanggupinya.
Ditambah apa kurangnya Eru bagi Kazuki? Apakah dia tidak sadar jika dia telah mengencani gadis tercantik di universitas? Apakah dia tidak sadar berapa banyak laki-laki yang menyumpah di balik punggungnya agar Kazuki menyingkir dari Eru?
Shina mengatupkan bibirnya erat-erat, menahan untuk tidak mengeluarkan segala sumpah serapah itu keluar dari dalam kepalanya.
Kazuki kau b******k, tidak kah kau bersyukur karena Eru telah memilihmu?
Kau brengsek... sungguh-sungguh b******n bau sampah... Aku membencimu... Aku membencimu...