Eru menolak untuk bertemu Kazuki lagi meski apa pun yang terjadi. Kini ia sedang berada di apartemen Akemi. Shina juga masih menemaninya dan kini menyender di bahunya di sofa. Sementara Akemi masih di luar, mengusir Hori, Yama dan Erwin pergi. Nampaknya Akemi mengira kehadiran laki-laki akan membuat Eru merasa tidak nyaman. Pun Eru tidak mengatakan apa pun untuk mencegahnya.
Dengan kedua tangan Eru menggenggam segelas cokelat hangat yang tadi Shina buat. Meski rasanya tidak terlalu tepat, tapi Eru tahu Shina tulus memerhatikan dirinya.
Mengingat lagi sekarang, Eru merasa sangat malu karena menangis begitu keras di dalam kamar mandi, bahkan Shina sampai menemaninya. Dan jika Akemi tidak menemukan mereka, entah sampai kapan keduanya akan tetap menangis di sana.
Eru memejamkan mata dan menghela napas tanpa suara. Ia sudah tidak menangis lagi, barangkali air matanya sudah habis. Seperti dirinya, Shina juga nampak kelelahan karena terlalu banyak menangis. Setidaknya Eru merasa lebih nyaman dipeluk oleh temannya yang satu ini, seolah selain berbagi kesedihan Shina juga memberinya kehangatan.
Sayangnya, bahkan meski ia merasa begitu lelah sekali pun. Rasa sakit itu masih nenggeroti dirinya perlahan. Tanpa lelah terus menghancurkannya dengan cara ini. Perlahan-lahan dan begitu menyakitkan.
Eru tidak mau menangis lagi, ia tidak ingin Shina akan ikut menangis lagi. Apalagi sekarang di sisinya, Shina terdiam dan terlihat mengantuk dengan mata membengkak. Entah apa yang masih ia pikirkan. Alih-alih mengasihani diri sendiri, Eru merasa kasihan padanya.
Akhirnya Akemi masuk dengan sorot lelah. Bertemu pandang dengan Eru, Akemi terdiam dan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Eru memahami kesedihan dalam diri Akemi dan mengalihkan pandanga pada cokelat panasnya tanpa mengatakan apa-apa.
Akemi juga beranjak masuk ke dalam kamar tidurnya dengan langkah hening. Namun tak lama ia kembali dan berkata. "Kalian beristirahatlah, terlalu banyak menangis," kata-katanya terpotong dan tidak terlalu jelas. Seolah ia sendiri juga bisa meledak menangis kapan saja.
Shina bergeming, mengalihkan pandangan pada Akemi, lalu pada Eru.
"Aku tidak mengantuk," aku Eru.
Akemi mendesah dan mendudukan diri di sofa seberang.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang, tidak perlu khawatir."
Mendengar itu Akemi langsung meledak marah dengan mata memerah. "Lebih baik bagaimana? Si b******n itu-" susah payah ia menelan kata-katanya kembali dan mendesah keras.
Eru menunduk lagi dan mengerjap. Hening cukup lama sampai Eru kembali memecah kesunyian.
"Masalah ini, tidak perlu dibahas lagi. Tidak ada yang perlu dijelaskan."
Akemi terlihat sangat bersusah payah untuk tidak membuka mulut, sementara Shina di sisinya masih diam tanpa suara.
"Kenyataannya sudah seperti ini, aku juga tidak ingin memikirkannya lagi. Lagi pula memang sudah jelas sejak awal," Eru tersenyum pahit. "Ini, memang aku yang bodoh."
"Aku sungguh tidak terima kau menyalahkan dirimu sendiri, jika kau mau aku bisa menamparnya sekali lagi. b******n busuk itu..."
Eru mendenguskan tawa kecil. "Ayolah, ini tidak seperti aku tidak mendapatkan yang lebih baik," memang tidak, Eru menambahkan dalam hati. Karena faktanya, Kazuki adalah sedikit dari banyak orang yang sungguh-sungguh ia percayai sepenuh hatinya. Apalagi sejauh ini, hanya Kazuki yang bisa membuat Eru mencintainya dengan begitu sederhana, tanpa alasan, hanya cinta, kepercayaan dan rasa nyaman. Mendapati semua hal indah itu terenggut paksa dalam sehari, jelas bukan hal yang mudah baginya.
Ini terasa sangat sulit dan membuatnya begitu hancur. Hanya saja Eru tidak mau terlihat lemah lagi. Dan sekarang, perasaan lemah, sedih dan kecewa itu berganti menjadi kebencian dan kemarahan. Bahkan jika ia bisa, pastilah ia sudah mengutuk Kazuki sampai ke neraka.
Karena itu lah, benar adanya untuk tidak menyakiti hati seorang wanita sembarangan. Karena kau tidak akan pernah tahu, sejauh apa dia bisa membalasmu.
Eru berkata lagi, nadanya nyaris biasa-biasa saja. "Aku akan menghubungi Erwin, aku akan meminta bantuannya untuk mengambil barang-barangku yang masih ada di apartemen b******n itu."
Akemi mendesah dan mengangguk-angguk setuju. "Apa perlu kubantu?"
Eru menggeleng. "Tidak perlu, sebaiknya kau juga beristirahat. Kau sudah terlalu lama marah-marah hari ini nanti kau cepat tua," Eru mendenguskan tawa kecil di akhir kalimat.
Akemi langsung melotot, meski begitu sudut-sudut bibirnya terangkat tanpa bisa ditahan. "Bicara omong kosong lagi!" Ia bangkit dan berjalan masuk ke kamar tidurnya, lalu keluar lagi sambil membawa sebuah ponsel. "Sudah sesiang ini aku akan memesan makanan. Apa yang ingin kau makan?"
Shina mendapati suasananya telah berubah ke arah yang jauh lebih baik, jadi ia bangkit dan memandang Akemi dan tersenyum, meski senyumannya lemah dan wajahnya masih terpelintir oleh kesedihan. "Sesuatu yang enak, aku baru sadar aku kelaparan."
"Apa sesuatu yang enak itu," Akemi menggurut sambil sibuk dengan ponselnya.
Eru menegakkan tubuh, meletakkan cangkir cokelat panas di meja dan meraih ponsel di dalam tas tangannya. Ia akan langsung menghubungi Erwin. Karena jika ada seseorang yang bisa menyakiti Kazuki, maka Erwin adalah orangnya.
Bayangkan saja mendatangkan orang yang telah ia cemburui sejak lama untuk mengambil barang-barang pribadi Eru. Jika setidaknya Kazuki tidak merasa frustasi, Eru rela telinganya dipotong demi ini. Ia jelas bertaruh dan tahu pasti reaksi apa yang akan Kazuki lakukan setelah Erwin datang mengetuk pintunya.
Sambil mengetikkan pesan di layar ponsel. Eru menyunggingkan senyum tanpa emosi. Tahu kali ini ia akan untuk pertama kalinya, menyakiti perasaan Kazuki Doma.