Erwin menatap layar ponselnya sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan, seulas senyum miring tersungging di bibir merahnya. Ia jelas senang karena segala hal berjalan begitu lancar. Dan lebih senang lagi karena sekarang, pada akhirnya Eru membutuhkan dirinya lagi.
Erwin yang saat ini masih setengah jalan dalam perjalanan pulang, akhirnya berbalik dan dengan senang hati menuju apartemen Kazuki. Ah, rasanya agak menjijikkan datang ke tempat laki-laki itu tinggal. Tapi demi Eru, tidak ada hal yang tidak bisa ia lakukan.
Dengan senyum mengembang, Erwin memikirkan kembali ketika Yama memukuli Kazuki. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa ia menonton kejadian itu pada saat itu. Menahan tawa dengan serius sepanjang waktu dengan kesenangan meledak-ledak. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa ikut memukuli Kazuki saat itu.
Tapi kemudian Erwin tersadar, pada saat ini, nanti tepatnya ketika ia sampai dan menemui b******n gila itu, ia akan bisa memukulinya sampai puas. Asal tidak membunuhnya saja itu sudah cukup. Dengan begitu, mungkin ketidaksukaannya terhadap Kazuki karena telah merebut Eru selama ini bisa berkurang sedikit.
Erwin melajut cepat tanpa takut. Jadi dalam waktu singkat ia sampai di bangunan apartemen Kazuki. Ia memakirkan mobilnya sembarangan, toh tidaka ada yang akan berani macam-macam jika tidak ingin dibunuh, lalu melangkahkan kakinya dengan santai ke tempat b******n itu tinggal.
Ia menekan bel pintu dan kesombongan seolah menguar dari dalam dirinya dengan begitu jelas. Tak lama terdengar langkah kaki terburu-buru dari dalam. Bahkan sepertinya Kazuki juga sempat menabrak sesuatu sebelum akhirnya membuka pintu. Menyadari hal itu Erwin mendengus mengejek. b******n ini masih berharap jika Eru sendiri yang akan datang.
Kazuki membanting pintu terbuka dengan wajah penuh harap, alisnya bertaut dipenuhi kepedihan, wajahnya seolah terpelintir karena mengalami segala kejadian busuk ini. Dan seketika seluruh ekspresi terhapus menjadi tatapan bingung.
Erwin menyunggingkan seulas senyum dan melangkah masuk tanpa dipersilahkan. "Aku datang untuk mengambil barang-barang Eru," ia berkata dengan santai sambil memandang sekeliling. Menilai dengan pandangan mengejak.
Kazuki membiarkan pintu kembali tertutup dan berbalik menghadapnya. Kemudian berkata dengan nada mendesak. "Erwin, bisakah kah bantu aku? Aku bisa menjelaskan semuanya padamu, ini hanya salah paham, ini tidak benar-benar terjadi..."
Erwin berbalik dan menatap Kazuki dengan tatapan jijik yang tidak disembunyikan lagi. "Kau sudah meniduri jalang itu, apanya yang tidak terjadi?" Jelas Erwin tidak bermaksud mempertanyakannya, ia hanya bermaksud mengejak.
Tetapi Kazuki begitu syok mendengarnya. Ia mengerti semua orang kini marah dan membenci dirinya. Namun ia masih sedikit berharap kepada siapa pun yang mau mendengar, dan ia akan menjelaskan bahwa semua ini adalah jebakan yang menjebak dirinya. "Erwin, dengar-"
"Di mana barang-barang Eru?" Erwin memotongnya dengan ketus.
Kazuki terdiam sebentar, tapi masih belum menyerah. "Dengarkan aku dulu, semua ini jebakan."
Erwin tertawa keras kali ini, membuat Kazuki sepenuhnya membeku. "Dengar, katakan saja di mana kau sembunyikan barang-barang Eru, aku harus mengambilnya dan segera kembali, aku sudah sangat merindukan Eru saat ini, ingin cepat-cepat menemuinya."
Mendengar itu Kazuki tertegun. "A-apa?" Ia bertanya tanpa sadar, nada suaranya terdengar tercekat.
Erwin berbalik sepenuhnya sehingga kini mereka berdua benar-benar berhadapan. "Sejak awal, apa kau sungguh-sungguh berpikir b******n busuk sepertimu cocok dengan Eru? Setidaknya pernahkah kau bercermin sekali saja?" Erwin mendenguskan tawa jahat diakhir kalimat.
Kazuki bergeming beberapa saat sebelum akhirnya meledak. "KAU! KAU k*****t BERMUKA DUA! AKU TAHU INI, RUPANYA KAU MEMANG MENCARI KESEMPATAN UNTUK MENDEKATI ERU LAGI."
Erwin tertawa keras. "Kesempatan apa? Sejak awal kau memang tidak pantas masuk dalam hitungan-"
Kazuki melayangkan sebuah pukulan. Tanpa tahu bahwa memang hal ini lah yang Erwin tunggu-tunggu. Jelasnya karena terlalu terbawa emosi, pukulan Kazuki jadi berantakan. Karenanya Erwin bisa menangkisnya dengan mudah. Ia membalas Kazuki dengan sekali pukulan keras, membuat laki-laki itu langsung jatuh tersungkur.
Erwin membungkuk untuk meraih Kazuki dan berkata dengan nada berbahaya. "Aku hanya membeli diri," lalu melayangkan tinju lagi tanpa berhati-hati. Ia bahkan tertawa dengan puas sepanjang proses penyiksaannya. Ini memang tidak seberapa ketimbang tindakan berbahaya yang telah ia lakukan sebelum-sebelumnya, tapi Erwin mendapati dirinya merasa sangat puas.
Sampai kemudian ia teringat untuk tidak membunuh Kazuki lah ia berhenti memukul. Membiarkan laki-laki itu tergeletak di lantai bersimba darah, nyaris tidak sadarkan diri. Erwin bangkit, memandang sekeliling sekali lagi dan akhirnya mulai memeriksa ke setiap ruangan. Baru lah kemudian ia menemukan barang-barang Eru. Seperti pakaian, hiasan rambut dan dua buah tas kecil. Ia memasukan apa pun yang bisa dimasukkan ke dalam ranselnya sendiri. Membasa sisanya dengan kedua tangan dan kembali berjalan keluar.
Ia menatap Kazuki sejenak. Yang masih mengerang tanpa suara, kesakitan. Barangkali dia sekarat. Sayang sekali Erwin sedikit terbawa suasana tadi. Padahal ia harus memastikan agar Kazuki tidak mati.
Akhirnya ia mendesah malas dan menendang kepala Kazuki untuk terakhir kali. "Jika ingin mati, mati saja lah. Aku tidak peduli."
Ia melangkah pergi, tapi sampai di ambang pintu ia berhenti dan berbalik. Menimbang-nimbang untuk membawa Kazuki dan menyingkirkannya sekalian atau tidak. Setelah dipikirkan, sepertinya tidak perlu. Lagi pula Eru masih menunggunya sekarang. Karena ia juga tidak sabar untuk bertemu Eru lagi. Membayangkan bagaimana gadis itu akan kembali jatuh ke dalam pelukannya, terasa sangat menyenangkan. Jadi Erwin meninggalkan apartemen Kazuki dengan senyum mengembang.