Chapter 22

1113 Kata
Hari ini Eru memilih untuk beristirahat dan tetap berada di apartemen Akemi. Tentu saja karena ia tahu Kazuki pasti akan mencarinya di apartemennya. Juga di universtitas. Karena itu Eru memilih untuk tetap di sini. Dan meski sekarang ia sendirian karena Akemi telah pergi menghadiri kelas, ia tidak terlalu tidak merasa nyaman. Karena untuk beberapa alasan, berada sendirian membuat ia merasa lebih bebas. Seperti contohnya, ia bisa menangis lagi tanpa diketahui siapa pun. Karena pada kenyataannya mau sekuat apa pun ia berusaha untuk terlihat kuat di hadapan semua orang. Ia tetap merasa begitu rapuh dan hancur. Eru keluar dari dalam kamar tidur Akemi dan beranjak ke ruang tamu yang memberikan akses keluar jendela. Ia mendudukan diri di sofa dan memandang keluar. Teringat bagaimana kemarin Erwin mendatanginya sambil membawa semua barang-barang itu. Eru sadar, bahwa justru setelah melihat Erwin ia jadi merasa bersalah karena sudah memanfaatkan laki-laki itu. Ditambah setelahnya, Eru segera membuang semua barang yang Erwin bawakan untuknya, sesaat setelah ia pergi. Di luar langit masih telihat seperti biasa. Tidak terlalu cerah, juga tidak mendung. Seolah dunia memang tidak ikut andil dalam semua kejadian ini. Eru mengerti, karena memang seperti itu lah sejak awal. Hanya ada dirinya sendirian yang juga hancur dalam kesendirian. Terkadang Eru bertanya-tanya. Akankah sedikit saja, Kazuki merasa menyesal telah melakukan semua ini? Tapi kemudian sadar bahwa berpikir positif untuk b******n busuk itu tidak ada gunanya. Kemudian Eru berpikir mengenai rasa ketidak percayaan diri yang Kazuki alami selama menjalani hubungan dengannya. Mengenai bagaimana laki-laki itu selalu takut akan ada orang lain yang merebut Eru darinya. Memikirkan semua itu kembali, Eru menyadari bahwa semua itu sangat lah munafik. Karena justru sosok yang selalu khawatir lah yang pada akhirnya berkhianata. Eru merasakan kepahitan menyesaki dadanya. Jadi ia berpaling dari jendela dan mendesah keras. Tadi pagi sebelum pergi Akemi mengatakan jika ia sudah menyiapkan sarapan untuknya. Sekarang sudah nyaris siang, pasti makanan itu sudah dingin. Tapi Eru tidak mau menyia-nyiakan usaha temannya, lantas ia bangkit menuju dapur meski dengan langkah setengah diseret. Di meja, Eru menemukan dua potong roti isi yang ditutup menggunakan penutup makanan. Eru berbalik mencari gelas dan mengisinya hingga penuh dengan s**u dari kulkas. Lalu mendudukan diri dan mulai makan dalam diam. Terkadang ia melamun dan lupa untuk mengunyah. Lantas menggigit sepotong besar roti isi dan mengunyahnya dengan agresif. Lima belas menit berlalu, Eru selesai makan. Ia membereskan meja, mencuci piring dan gelas bekas pakainya dan memandang ke segala penjuru dapur. Mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan tapi tidak menemukan apa pun. Jadi dengan langkah berat kembali ke ruang tamu. Ia merenung lagi. Untuk seseorang yang baru saja dipatahkan sebegini kerasnya, bukan kah ia terlihat terlalu biasa-biasa saja? Entahlah. Eru menyandarkan punggung ada sandaran sofa dan mendongak menatap langit-langit berwarna putih pudar. Yang ia rasakan sejauh ini, memang lima puluh persen kesedihan dan kekecewasan. Lima puluh persen sisanya adalah kebencian, marah, jijik dan keinginaj untuk membalas dendam. Rasanya sangat aneh bukan? Bahwa hanya kemarin lusa Eru masih merasa begitu mencintai seorang Kazuki Doma. Dan dalam sehari segalanya berbalik menyisakkan keinginan untuk menyakitinya sampai hancur. Eru mendengus. Dengusan campuran dari frustasi dan kemarahan. Rasanya ia benar-benar ingin menyakiti Kazuki balik. Membuatnya merasakan sakit yang sama seperti yang ia rasakan. Tapi sayangnya Eru juga tahu. Jika sejak awal Kazuki memang tidak menyukainya, maka segala usaha untuk membalas tidak akan ada artinya. Karena nyatanya, bagaimana bisa kau menyakiti seseorang yang bahkan tidak mencintaimu? Katakan lah membuatnya cemburu. Logika t***l macam apa itu? Eru mendengus sekali dan mengusap wajah dengan kasar. Seumur hidup, memang baru pertama kali ini ia merasa begitu tertekan dan frustasi. Ah, belum lagi memikirkan apa yang akan ia hadapi segera setelah kembali ke universitas. Jika boleh jujur, untuk menghadapi orang-orang lah yang membuat Eru paling takut. Ia takut memikirkan bagaimana orang-orang akan mengejeknya, menghinanya, dan bersenang-senang di atas penderitaannya. Karena tentu saja, ini tidak seperti Eru tidak tahu tentang berapa orang yang membencinya diam-diam. Belum lagi rasa malu yang harus ia hadapi dengan pengkhianatan menjijikan seperti ini. Eru merasa semakin tertekan dan sungguh-sungguh tidak tahu apakah bahkan ia sanggup kembali menghadapi orang-orang di luar sana? Merasa matanya mulai pedih. Eru mengerjap dan mengusap wajahnya lagi dengan kasar. Semua ini memuakkan. Kenapa ia harus mengalami penderitaan semacam ini? Eru merasa tidak akan sanggup untuk menghadapinya. Dan bagaimana Kazuki sanggup melakukan sesuatu semacam itu? Argh sial! Sudah berapa kali ia menanyakan hal yang sama? Apa bahkan ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tidak akan pernah tersampaikan itu? Tidak! Dasar bodoh! Eru memejamkan mata. Menggigit bibir dan menggelengkan kepala. Tahu semua ini begitu sulit dihadapi. Tahu ia tidak akan bisa membalas Kazuki. Tahu ia tidak memiliki cara untuk terbebas dari perhatian orang-orang. Eru melonjak kaget tiba-tiba saat suara bel pintu terdengar. Ia memandang waspada sebelum akhirnya menyadari bahwa itu hanya suara bel pintu. Eru bangkit dan mengusap-usap wajahnya. Menyeret seluruh tubuhnya untuk membuka pintu dan mendapati Yama dan Erwin di sana. Eru diam. Mereka berdua juga diam. Entah kenapa suasana menjadi begitu canggung. Eru mengalihkan pandangan, tapi tidak menemukan siapa pun selain mereka berdua. "Eru," akhirnya Erwin memecah keheningan. Sosoknya yang menjulang nampak kikuk. Seolah cemas akan melakukan sesuatu yang salah. Eru meringis samar, merasa tidak enak membuat Erwin perlu begitu berhati-hati. Ia kemudian melirik Yama yang lebih terlihat jauh salah tingkah. Membuat Eru heran bukan kepalang, tidak kah mereka sadar sikap ini justru membuatnya merasa kian buruk? "Aku datang untuk mengantarkan makan siang," Erwin menunjukkan bingkisan yang ia bawa. "Oh," Eru bergumam tanpa sadar. "Oke, masuklah kalau begitu," ia menujukam kalimatnya pada mereka berdua. Tapi Yama tertegun lama menatap Erwin seolah sedang meminta persetujuannya. Eru benar-benar tidak tahu harus menangis atau tertawa melihatnya. Yang jelas ia segera menyingkir masuk untuk memberi mereka jalan. Eru duduk seolah itu adalah rumahnya sendiri. Ia sedang tidak dalam suasana hati yang cukup baik untuk menanyai keadaan orang lain. Jadi ia mengalihkan pandangan seolah tidak melihat sikap aneh Yama yang terlalu mencolok. Erwin duduk di sofa seberang dan meletakkan makanan yang ia bawa di meja. Lalu mengangkat wajah dan memandang Eru. "Kau sudah sarapan?" Eru mengangguk sekali. Mendadak sadar bahwa sekarang sudah sesiang ini. Erwin ikut mengangguk sekali dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia melirik Yama, seolah ingin mengingatkan tujuan mereka datang. Butuh waktu lama sekali sampai Yama mau membuka mulut dan berkata. "Aku datang ke sini untuk mengantarkan makan siang. Akemi meminta kami untuk melakukannya karena yang lain sedang sibuk.. ada beberapa urusan." Eru hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. "Juga, ada sesuatu yang ingin kuceritakan," sorot mata Yama menunjukkan penyesalan dan kesedihan yang dalam. Membuat Eru terkejut. Dan apa yang ia dengar selanjutnya membuat keinginan Eru untuk balas menyakiti Kazuki kian besar. Karena itu adalah kejadian sewaktu Yama tanpa sengaja melihat Kazuki di bar bersama wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN