Chapter 23

897 Kata
Eru terlihat tenang saat mendengarkan semuanya. Tanpa Yama tahu bahwa dalam dirinya, ia begitu bergejolak karena kebencian. Bahkan Eru telah tanpa sadar berjalan menjauhi dirinya sendiri. Ia seolah terlahir kembali menjadi sosok yang penuh kebencian dan haus untuk membalas dendam. Ketika Yama akhirnya selesai menceritakan detailnya. Eru masih bergeming dan dengan tenang memandang temannya yang satu itu. Yama menunduk dipenuhi rasa bersalah. Ia tahu menceritakan apa yang telah dilihatnya tidak akan membuat segala hal menjadi lebih baik. Ia juga tahu jika kemungkinan Eru akan membencinya karena tidak akan mengatakan hal itu sejak awal. Eru mengerjap dan melirik Erwin sekilas. Laki-laki itu juga menunduk memandang Yama, entah apa arti dari raut wajahnya, atau apa yang sedang ia pikirkan, Eru tidak tahu. "Tidak apa-apa," kata Eru akhirnya. Meski tentu saja sedikit banyak ia merasa marah pada Yama. Tapi toh akhirnya ia mengatakan semuanya padanya. Segala hal juga sudah terjadi. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Yang terpenting sekarang, Eru hanya memikirkan berbagai cara untuk menghancurkan laki-laki busuk itu menjadi potongan kecil. Rasa muak dan jijiknya berkembang begitu pesat. Bahkan kesedihan dan kekecewaan nyaris tidak tersisa lagi. Terlebih fakta bahwa pada saat Kazuki bersenang-senang dengan jalang p*****r itu. Ia justru sedang menunggunya dengan perasaan cemas. Memasakannya makan malam dan menunggunya dengan tulus sampai tertidur di sofa. Eru tidak bisa memikirkan kapan lagi hal serupa terjadi. Di mana ia menghabiskan waktu dengan tulus untuk mencintai, hanya untuk dikhianati. "Tidak ada yang bisa diperbaiki sekarang. Aku ingin melupakan semuanya," Eru kembali berkata tanpa ekspresi. Kali ini Yama mengangkat wajah dan menatapnya. Dari tatapan itu, Eru mengerti bahwa sebenarnya masih ada hal lain yang ingin ia katakan. Tapi karena mendengar pernyataan Eru, ia berubah menjadi ragu. "Katakan saja," nada suara Eru tidak mendesak. Tetap datar dan biasa-biasa, namun Yama mengerti dan segera menjelaskan. "Sepanjang hari ini dia datang mencarimu." Bahkan di luar dugaan terliar Yama, ia tidak akan menyangka Eru akan mendengus tertawa saat mendengarnya. Membuat ia sesaat membelalak karena terkejut. Eru menghentikan tawanya, seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat lucu. Menutupi mulut dengan sebelah tangan dan bicara. "Tidak apa-apa, lanjutkan." Yama memandangnya dengan tatapan cemas tapi Eru bahkan tidak mau repot-repot untuk peduli. Erwin di sisi Yama, menyeringai dalam sepersekian detik tanpa disadari siapa pun. Ia memandang Eru dengan penuh minat, seolah gadis itu adalah sepotong daging di mana ia menjadi seekor serigala. Dan tepat sebelum Eru menoleh ke arahnya, Erwin sudah lebih dulu mengalihkan pandangan kembali pada Yama. Raut wajahnya juga seketika berubah. Orang ini benar-benar bergerak dengan insting menyerupai binatang. "Dia mencarimu ke mana-mana, mengganggu kami. Mengganggu semua orang." "Itu terdengar menjijikan," Eru berkata tanpa perasaan. Yama tidak bereaksi dan melanjutkan. "Tapi dia terlihat sangat kacau," Yama mendesah. "Maksudku, aku memang memukulnya beberapa kali, tapi tidak separah itu. Sedangkan sekarang dia terlihat sangat parah," Yama menghela napas berat sekali lagi dan mengalihkan pandangan pada Erwin seolah meminta dukungan. Erwin tidak menunjukkan reaksi tertentu dan Yama melanjutkan dengan suara berat. "Kemarin Erwin melihat dia dipukuli lagi oleh saudara atau teman dari wanita itu," tidak perlu menjelaskan wanita yang dimaksud Eru langsung mengerti. Tetapi hal ini memancing kemarahan Eru. "Kau tidak memberitahuku kemarin?" Ia bertanya pada Erwin dengan kekecewaan yang begitu kentara. Erwin memandang lurus ke dalam matanya. "Aku tidak ingin makin membebanimu." Tadinya Eru ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya tidak tega dan kembali menutup mulut rapat-rapat. Erwin terlihat tulus saat mengatakan itu, jadi tidak ada yang perlu dikatakan lagi. "Lagi pula dia pantas mendapatkannya," Erwin berkata lagi. Eru meliriknya dan melihat kemarahan di balik sorot matanya. Entah kenapa, Eru merasa lega mendengarnya dan berpikir itu memang bagus. "Selebihnya hanya itu saja," kata Yama. "Mungkin b******n busuk itu akan tetap mencarimu selama beberapa hari. Itu intinya yang ingin aku sampaikan." Eru mengangguk mengerti. "Terima kasih." Akhirnya hening lagi dan setiap orang sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kau.." Yama berkata ragu-ragu. Eru tersadar dari lamunan dan memandangnya. Segera tahu apa yang ingin Yama tanyakan. "Aku baik-baik saja, Yama. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa pun. Lagi pula bukan kau yang melakukan semua ini." Yama kembali menutup mulut. "Aku memiliki beberapa agenda sebentar lagi," kata Erwin sembari memeriksa arloji di tangannya. "Jadi Eru, jangan lupa makan siang," ia menunjuk makanan yang ia bawa di meja sebelum bangkit. "Jika ada sesuatu kau bisa menghubungi kami. Sore ini aku juga bebas, jika barangkali kau membutuhkan bantuan." Eru merasa sedikit tersanjung atas kebaikan Erwin dan tersenyum tulus kali ini. Lantas ia ikut bangkit dan mengantar mereka sampai ke pintu. Sebelum pergi Yama berkata lagi. "Aku juga bebas malam ini, aku akan datang lagi." Eru mendenguskan tawa alami, bukan lagi tawa sinis yang sama seperti sebelum-sebelumnya. "Kau pikir aku sakit atau apa sampai harus ditemani seharian?" Yama meringis sedikit dan akhirnya mereka berpisah. Eru menutup pintu di belakang tubuhnya dan melangkah kembali ke ruang tamu. Menatap makanan di meja, ia masih belum berselera. Setelah mendudukan diri di tempat ia selalu duduk. Eru mendenguskan tawa aneh. Si b******n busuk itu, masih bersikap seolah tanpa dosa. Sungguh menjijikan. Apa ia berpikir orang-orang akan iba padanya? Bukan kah ini sudah terlalu parah jika sampai kerabat wanita jalang itu juga membuat perhitungan padanya? Kenapa dia tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya saja? Ketimbang bersikap sok baik mencarinya dan berpura-pura seolah ia tidak bersalah? Eru tertawa sampai beberapa lama. Mentertawakan sikap konyol Kazuki dan memikirkan luka menganga yang telah ia timbulkan di hatinya. Cukup lama hingga akhirnya tawa itu berubah menjadi isakan pilu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN