Chapter 24

933 Kata
Matahari sudah terbenam ketika Eru memutuskan untuk kembali ke apartemennya sendiri. Untuk beberapa alasan Eru tidak meminta Erwin untuk mengantarnya pulang. Saat ini suasana hatinya masih sangat buruk. Ia begitu kalut dan sangat lelah. Hori yang datang sore itu bersama Shina, mengatakan akan mengantarnya pulang. Eru sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk terus bersikap seolah ia baik-baik saja. Jadi menerima tawaran Hori tanpa banyak bicara. Seperti Akemi, seringnya Hori tidak banyak bertanya. Dan di antara mereka semua, bisa dibilang, Hori juha yang paling dewasa. Jadi saat ia sampai, yang seperti dugaannya, dan juga karena semua orang sebelumnya mengatakan hal yang sama bahwa Kazuki mengganggu mereka sepanjang hari dan menanyakan keberadaannya, tidak ada keributan yang terjadi. Jika saja Yama atau Shina yang mengantarnya pulang, barangkali mereka akan bertengkar lagi. Eru mengabaikan keberadaan laki-laki itu sepenuhnya. Berusaha dengan sangat keras mengabaikan segala luka yang dideritanya meski hatinya terasa begitu sakit. Dan tanpa menimbulkan keributan, Hori mencegah laki-laki itu untuk mengikutinya. Pada akhirnya Eru yang sudah merasa sangat lelah, tidak tahan lagi atas teriakan Kazuki yang terus memanggil-manggil namanya. Ia berbalik dan memandang laki-laki itu tanpa ekspresi. Meski begitu, di dalam hatinya, ia merasa sangat kesakitan. Membuat ia bertanya-tanya sendiri, kenapa ia masih merasa tidak tega melihat Kazuki terluka sedemikian parah? "Berhenti menggangguku," di luar kesakitan pedih yang Eru rasakan, ia berhasil membuat suaranya terdengar dingin dan datar. "Kau benar-benar membuatku jijik. Dan kehadiranmu sekarang sangat mengangguku, jadi berhenti lah." Kazuki terperangah. Tapi Eru tidak mengatakan apa pun lagi dan segera berbalik pergi. Di sisinya, Hori melepasnya dan mendorongnya dengan kasar, nyaris-nyaris terlihat jijik. Kazuki memandang mereka berdua bergantian, seolah baru pertama kali melihat mereka. "Hori.." "Apa pun itu aku tidak mau mendengar. Segala hal sudah jelas, jadi berhenti lah bersikap seperti ini. Jangan memperkeruh keadaan," Hori mengernyit dan memandang Kazuki seolah ia adalah seonggok sampah. Setidaknya ia sudah mendapatkan perlakuan dan tatapan yang sama dari semua orang hari ini. Tapi melihatnya sendiri di mata Eru benar-benar hal yang berbeda. Ia seolah dihancurkan menjadi kepingan yang tak akan pernah bisa utuh lagi. Dan seketika itu juga Kazukk tersadar. Bahwa apa pun yang akan ia lakukan adalah sia-sia. Tidak ada yang mau mendengar. Semua orang sudah mengecapnya dengan cara yang sama. Kazuki termenung lama sebelum akhirnya tersadar kembali ketika Hori berkata. "Aku juga tidak ingin memperburuk keadaan," yang ia maksud ia berusaha untuk tidak memukul Kazuki lagi, Kazuki sangat mengerti hal ini. "Jadi pergi lah dan pertanggung jawabkan perbuatanmu. Jangan pernah sekali pun lagi mengganggu Eru. Berhenti bersikap munafik," Hori mendenguskan tawa sinis yang baru pertama kali Kazuki dengar ditujukan pada dirinya. "Kau benar-benar menjijikkan." Ah, ya. Meski itu bukan salah dirinya. Kazuki tahu tidak akan ada yang mau mendengar. Jadi untuk apa ia berusaha sekali lagi untuk menjelaskan pada Hori bahwa itu sama sekali bukan perbuataan dirinya? "Kau dengar? Pergi lah?" Nada suara Hori menjadi tidak sabar. Kazuki menatapnya tanpa berkata-kata untuk beberapa saat. Lalu memandang ke tempat Eru pergi. Pada akhirnya ia tahu, segalanya telah hancur dan tak akan kembali ke tempat semula. Semua ini memang jelas-jelas jebakan yang dibuat untuk menghancurkan dirinya. Tapi ia tidak memiliki bukti untuk menjelaskan apa pun. Dan bahkan meski akhirnya ia telah berhasil membuktikan semua itu. Ia tahu Eru tetap tidak akan menerimanya kembali. Karena dalam keadaan tidak sadar ia tetap telah berhubungan dengan wanita itu. Haha. Semua orang jijik padanya. Namun Kazuki juga jijik pada dirinya sendiri. Dan tidak perduli apa. Tidak akan ada yang mau mendengar. Ia telah memperlamukan diri sendiri seharian. Mengejar mereka dan memohon-mohon agar mau mendengar. Ia juga menunggu Eru begitu lama di depan gedung apartemennya tanpa tahu gadis itu tidak ada di sini sebelumnya. Tidak ada seorang pun di dunia yang memihaknya. Tidak ada harapan apa pun lagi untuknya. Dengan gerakan lambat, Kazuki berpaling dan menyeret kakinya pergi. Sudah berakhir sekarang. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Tidak ada yang bisa kembali. * * * Untungnya Eru bisa menahan air matanya sampai ia masuk ke tempatnya semdiri. Ia tersedak di depan pintu, menangis dan nyaris tidak sanggup untuk berjalan lagi. Tapi ia memaksa dirinya untuk tidak menjadi menyedihkan, dna menyeret tubuhnya untuk bangkit dan duduk di ruang tengah. Jendela ruangan masih terbuka sejak terakhir kali ia pergi. Dan sekarang di sini jadi terasa sangat dingin. Eru tidak bisa memedulikan apa pun lagi dan terus menangis terisak-isak di sofa. Mungkin ia akan terkena flu nanti, tapi siapa yang peduli pada flu saat kau sedang menderita seperti ini? Meski sebelumnya Yama telah mengatakan bagaimana keadaan Kazuki. Eru tidak menyangka ia akan benar-benar terlihat separah itu. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena masih menjadi seseorang yang begitu lemah begini. Masih mengasihani laki-laki itu dan seolah ikut merasa sakit atas luka-lukanya. Padahal semua itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dia pantas mendapatkannya. Eru termenung sangat lama saat air matanya seolah telah kering dan ia tidak bisa menangis lagi. Mau tidak mau, besok ia harus kembali hadir di univeristas. Dan ia masih belum memikirkan bagaimana orang-orang akan menghina dirinya. Dengan kedua tangan ia meraba kedua matanya yang membengkak. Ah, ini menyebalkan. Ia harus menyembunyikan hal ini. Jadi sambil berusaha untuk tidak memikrkan laki-laki itu lagi. Eru bangkit dan bersiap untuk mengompres matanya sembab ini. Dalam beberapa hal kehidupan dewasa memang tidak menyenangkan. Karena bahkan di saat-saat terburuk seperti ini, ia tetap harus memaksa dirinya sendiri kembali menghadapi kenyataaan atau tidak akan ada hidup sama sekali. Memikirkan akan bagaimana reaksi orang-orang terhadapnya, membuat Eru makin kesal. Tapi kemudian mengingat ia masih memiliki orang-orang yang akan melindunginya dan hal itu membuat ia, sedikit banyak merasakan kelegaan. Sambil menutup jendela ruangan, Eru berharap dengan sungguh-sungguh segalanya tidak akan seburuk yang ia pikirkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN