Chapter 25

943 Kata
Waktu berlalu sangat lambat bagi Eru. Setidaknya selama seminggu terakhir ini, tidak ada hal buruk apa pun yang terjadi. Juga orang-orang tidak secara terang-terangan menunjukkan sikap, menghina, meremehkan atau sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Hanya saja Eru merasa belakangan ini, ada banyak orang yang mulai menjadi sangat perhatian padanya. Hal ini membuat ia cukup lelah. Untungnya ada Yama yang selalu menunjukkan tampang galak dan seolah semua orang berhutang padanya. Hal ini bahkan lebih baik lagi karena gadis-gadis yang sejak awal membenci Eru tidak berani untuk melakukan apa pun. Atau sekedar mencibir Eru dari jauh. Meski begitu Eru jelas mengerti jika semua orang telah tahu hubungannya dengan Kazuki Doma telah berakhir. Barangkali mereka yang mendekatinya juga karena ingin mencari kesempatan. Eru meringis tiap kali memikirkan hal itu. Di permukaan ia memang terlihat baik-baik saja. Tidak pernah sekali pun terlihat sedih di hadapan orang lain. Namun kenyataannya, setelah menghabiskan waktu begitu lama dengan seseorang, bagaimana bisa kau melupakannya dengan cepat? Tentu saja tidak bisa. Eru masih sering mengingatnya, lukanya masih basah, dan ia sering menangis saat sendirian di rumah. Tapi seperti sebelumnya, ia memang tidak mau menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain. Pun sekarang, keberadaan Kazuki seolah terhapus dari muka bumi. Tidak ada yang melihatnya lagi. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Eru menduga laki-laki itu kembali ke kota kelahirannya. Tapi punya hak apa ia untuk peduli? Laki-laki itu adalah seseorang yang membuatnya merasa telah diberikan cinta yang melimpah selama hampit satu tahun terakhir. Tapi juga adalah orang yang sama yang menghancurkannya lebih dari siapa pun di dunia. Padahal kurang dari setahun. Namun terasa begitu lama. Seolah semua itu adalah separuh hidupnya. Eru menghela napas tanpa sadar. Kini ia bersama Akemi dan Shina sedang berada di kafetaria. Yama tidak mengikutinya lagi kali ini karena memiliki beberapa kesibukkan. Eru juga mengerti mengenai rasa bersalah yang ia berikan. Tapi tetap mendorong temannya yang satu itu agar kembali memikirkan tanggung jawabnya sendiri dan berhenti melalaikan tugas alih-alih terus menjaganya seperti seorang bodyguard tanpa bayaran. "Kau tak apa?" Akemi bertanya seolah acuh tak acuh. Eru mengangkat wajah dari makan siangnya, tidak tahu dalam sesaat telah menunjukkan raut wajah penuh beban yang ia sembunyikan. Menatap Akemi yang terlihat tak acuh di permukaan tapi tahu betapa pedulinya Akemi padanya, membuat Eru mengembangkan seulas senyum berupa cengiran lucu. "Bagaimana aku bisa baik-baik saja? Mantan pacarku baru saja menghamili wanita lain," ia mendenguskan tawa samaran di akhir kalimat. Sekarang ini, menjadikan semua hal itu seperti candaan adalah yang terbaik yang bisa dilakukan. Akemi tidak menunjukkan reaksi apa pun sementara Shina mendengus tak suka. "Jangan sebut dia, aku sedang makan, huh.. yang benar saja." Eru tertawa, lalu setelahnya menegak habis s**u kotaknya yang tersisa dan mendesah puas. "Aku tahu kau tidak," Akemi berkata lagi dengan masih terlihat biasa-biasa saja. "Jangan terus memaksakan diri. Itu tidak apa-apa untuk bersedih." Eru mendengus berlagak sebal. "Aku benar-benar tidak ingin memikirkannya lagi. Toh segala hal berjalan lancar dan baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," melihat Akemi masih tidak bereaksi, lantas Eru melanjutkan. "Malah aku berpikir untuk bersenang-senang, kenapa kita tidak berlibur ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran?" "Itu bagus," Shina setuju tapi juga terlihat ragu-ragu di lain sisi. Eru sangat mengapresiasinya dan mengangguk dengan bersemangat. "Menang kan? Kenapa kita tidak ke pantai? Atau piknik? Sekarang musim semi hampir berakhir, seharusnya kita lebih banyak bersenang-senang." Akemi mendesah lelah bercampur kekecewaan. "Aku juga ingin berlibur dan bersenang-senang, tapi sekarang saja aku hampir gila karena banyak tugas." Eru meringis. "Oh, benar juga." "Ngomong-ngomong," Shina berkata. "Sudah berapa banyak yang mencoba mendekatimu lagi? Tidak kah kau merasa tertekan karena mereka?" Ia mendengus. "Mereka terlihat menjijikan." Akemi mendengus kali ini. "Kenapa sekarang kau berpikir semua laki-laki itu menjijikkan?" "Tidak, aku tidak berpikir semua. Hanya beberapa." "Iya kan," Eru menyetujui. "Mereka yang sangat ketat mendekatiku memang bukan laki-laki yang baik. Meski beberapa punya penampilan yang keren sih. Tapi meski begitu, aku jelas tahu tentang reputasi mereka." "Membicarakan hal ini, apa kau sudah berpikir untuk menjalin hubungan?" Eru berpikir sejanak. "Tidak juga sih, aku masih ingin sendiri dan bersenang-senang. Hanya saja jika memiliki seseorang, aku jadi tidak diganggu lagi. Tidak terlalu," ia mengatakannya sambil lalu tanpa bermaksud menyinggung siapa pun. Tapi sepertinya Akemi salah mengerti dan mengira ia sedang membicarakan Kazuki. Akemi mengernyitkan kening tak suka dan berkata dengan nada tidak sabar. "Lupakan, dasar b******k," ia menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan ganas. Eru merasa itu lucu dan tertawa. "Tidak perlu marah begitu, aku juga santai saja. Lagi pula jika ada yang berani bertindak terlalu jauh Yama akan mengusirnya untukku." Shina mengangguk-anggukan kepala. Tak lama, ia mendadak teringat. "Oh, ya! Bukan kah waktu itu Hori dan Erwin ikut kencan buta? Tapi sampai sekarang tidak ada kabar lagi perkembangan hubungan mereka." Mendengarnya Akemi dan Eru seketika juga terengat. "Wah, benar juga. Kenapa aku bisa lupa?" Tanya Akemi tanpa ditujukan kepada siapa-siapa. Eru merenung sejenak. "Aku juga baru ingat, dengan tampang seperti itu kurasa tidak akan terlalu sulit untuk Hori. Tapi sepertinya dia memiliki standar yang tinggi, atau sulit baginya untuk menemukan seseorang yang cocok." "Kalau Erwin bagaimana?" Shina bertanya sambil lalu. "Kalau Erwin jangan tanya lagi, dia pasti berhasil," Akemi menyahut karena hal itu memang sudah pasti adanya. Eru nyengir. "Tapi aku tidak tahu apa pun, aku tidak mendengar apa pun tentang perkembangan hubungannya." Akemi dan Shina mengangguk bersamaan. Faktanya mereka bertiga sama-sama tidak tahu mengenai perkembanhan hubungan Hori dan Erwin. "Membicarakan orang lain di belakang, kalian tidak merasa bersalah?" Shina merasa seseorang mengetuk kepalanya dengan beku. Di saat yang sama Eru dan Akemi juga menoleh ke arah suara. Benar saja, itu adalah suara Hori. Dan ada Erwin yang berdiri di sisinya sambil membawa ransel dengan sebelah tangan. Nampak memukau seperti biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN