"Ini domestic violent! Apa-apaan kau!" Shina berseru kesal yang segera disambut oleh pukukan main-main Hori yang lain.
"Apanya? Lebih buruk kau membicarakanku di belakang? Kenapa memangnya? Kau merindukanku?"
Shina bergidik seolah ngeri, Hori tertawa tanpa suara dan berlagak terluka. Lalu meletakkan semua barang bawaannya di meja sambil mengeluh. "Ah aku lapar sekali."
"Sempit sekali di sini, duduklah di tempat lain," Shina berkata dengan mulut penuh.
Di lain sisi Akemi dan Eru saling pandang, merasa lucu tapi juga sedikit malu karena langsung ketahuan.
Erwin nampak kebingungan. Dilema untuk duduk di sini atau mencari tempat lain. Karena ruang yang tersisa hanya di sebelah Eru.
Eru memerhatikan dan merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Erwin masih berhati-hati dengannya, membuat ia merasa tidak nyaman.
"Duduklah Erwin, masih ada tempat di sini," Eru menunjuk tempat di sisinya.
Erwin tersenyum salah tingkah dan meletakkan ranselnya di kursi. Menyisakkan satu ruang kosong untuk yang muat untuk satu orang lagi di antara mereka. Lalu ia dan Hori pergi untuk mengambil makanan.
Shina memerhatikan kepergian mereka sambil mencibir.
"Rapikan rambutmu, kau terlihat seperti baru saja diterjang angin topan," Eru tertawa saat menyadari rambut Shina yang berantakan.
Shina mendengus kesal. "Ini ulah Hori, menyebalkan," ia merapikan rambunya seperti semula sambil terus menggerutu.
"Ini sangat kebetulan yang kita bicarakan langsung muncul dengan sendirinya. Aku masih penasaran jadi kurasa aku akan langsung tanya," kata Akemi setelah melupakan rasa malunya.
Eru nyengir. Ia setuju-setuju saja dengan itu.
Tak lama Hori dan Erwin kembali. Dan Akemi sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Ngomong-ngomong," Akemi memulai. "Bukan kah beberapa waktu lalu kalian mengatakan ikut kencan buta? Lalu bagaimana hasilnya?"
Hori terlihat acuh tak acuh mengenai pembahasan itu. "Tidak ada satu pun tipeku, mereka ini tipe-tipe gadis berisik yang menjengkelkan."
"Jadi tipemu itu yang pendiam?" Eru bertanya setengah antusias.
Hori mengedikkan bahu dan mulai makan. "Kurang lebih begitu kurasa."
"Kenapa tidak mencoba berkencan dengan dinding kalau begitu?" Shina menyeletuk sambil nyengir lebar.
Eru tertawa. "Aku juga akan menyarankan hal yang sama."
Akemi mendenguskan tawa samar dan menggelengkan kepala. Sementara Hori bersiap menjitak kepala Shina lagi.
"Lalu bagaimana denganmu, Erwin?"
Eru menoleh pada sosok yang duduk di sebalahnya itu.
Erwin menurunkan sebelah tangannya yang memegang sumpit dan berkata dengan tenang. "Aku sempat dekat dengan seseorang, tapi tidak berjalan baik. Kami memiliki terlalu banyak perbedaan."
"Wah, sayang sekali," kata Shina yang lagi-lagi perlu merapikan rambutnya.
Eru juga ikut menyayangkan hal itu.
Hori mengangguk membenarkan. "Di antara kami semua, bisa dibilang Erwin yang paling berhasil. Tapi sayang tidak berjalan baik setelahnya."
"Sayang sekali," Akemi bergumam.
"Tapi apa kalian berencana untuk ikut kencan buta lagi dalam waktu dekat?" Tanya Shina kemudian.
Hori berpikir sejenak. "Sejauh ini aku sudah dua kali ikut kencan buta, dua-duanya menjengkelkan, kurasa aku tidak akan ikut lagi."
Shina tertawa. "Kurasa kau akan sendirian untuk selamanya."
Hori mendengus. "Lihat siapa yang bicara."
Eru menumpukan dagunya pada sebelah tangan sambil berpikir. "Aku belum pernah ikut kencan buta sebelumnya. Aku jadi penasaran seperti apa rasanya."
Akemi menghela napas berat saat mendengarnya. "Aku pernah sekali," ia berkata.
"Oh, benarkah?" Shina dan Eru sama-sama terkejut karena belum pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya.
Akemi mengangguk. "Sebenarnya aku hanya mengantar sepupuku, aku tidak benar-benar ingin ikut. Tapi laki-laki yang diincarnya malah menyukaiku, sangat merepotkan."
"Wah," Eru bergumam takjub.
Akemi mendengus tak setuju ke arahnya. "Itu tidak lucu, aku serius. Hubunganku dengan sepupuku menjadi tak baik sampai sekarang."
"Hehehe."
Shina bersiap dengan antusias. "Ini yang disebut pesona Akemi, benar-benar nyata!"
Akemi menghela napas lelah, seolah tidak tahu lagi harus menghadapi merwka dengan cara apa.
"Tapi kau tidak menerima laki-laki itu kan? Lantas kenapa dia harus memusuhimu?" Kali ini pertanyaan berasal dari Erwin, membuat ketiga gadis itu serempak menoleh ke arahnya.
"Memang tidak, tapi entahlah.. Aku juga tidak tahu kenapa dia jadi membenciku."
"Jelasnya dia cemburu," Eru berkata. "Tapi ini tetap tidak adil untukmu."
Akemi menganggukkan kepala sekali. "Itu lah kenapa aku tidak mau ikut kencan buta lagi."
Giliran Eru yang mengangguk-angguk, tapi sedikit banyak ia masih penasaran. Karena faktanya, bahkan tanpa kencan buta sekali pun, sudah terlalu banyak orang yang mengantri di belakangnya.
Eru mengerjap dan mengalihkan pandangan jauh menerawang. Berpikir apakah ia bahkan bisa memiliki kesempatan untuk menyukai orang lain lagi? Karena setelah semua ini. Rasanya terlalu mustahil. Ia tidak bisa memercayai siapa pun lagi saat ini.
Haha, menyebalkan.
"Halo, permisi."
Semua orang di meja serempak menoleh ke arah suara.
Itu adalah seorang laki-laki asing, Eru tidak yakin apakah pernah melihatnya meski mereka satu universitas. Karena sejak awal, ia memang tidak pernah terlalu memerhatikan orang lain.
Namun di lihat dari pergerkana tubuhnya, sepertinya laki-laki itu memang bicara dengan Eru. Eru tidak langsung menyadarinya dan malah memerhatikan sosok itu. Jangkung, tampan, penampilannya seperti seorang idol dan sangat keren. Sepertinya ia tipe orang yang cukup terkenal. Sayang sekali Eru tidak tahu apa pun tentang dia.
Laki-laki itu memiringkan kepala ke satu sisi sambil tersenyum karena Eru tidak menanggapi.
Eru seketika sadar laki-laki ini juga terus memandangnya dan segera bereaksi. "Ya?"
"Aku sebetulnya sering melihatmu dan belakangan tahu kau berada di fakultas yang sama denganku. Aku berpikir apakah aku boleh meminta nomormu dan berkenalan?" Ia tersenyum ramah, senyuman yang menyentuh matanya, membentuk seperti bulan sabit.
Eru cukup terkejut meski hal ini tidak terjadi satu dua kali. Ia melirik pada Shina dan Akemi seolah meminta pendapat. Tapi mereka malah terlihat lebih terkejut ketimbang dirinya. Lantas Eru berbalik lagi dan tersenyum.
"Oh, ya, tentu," ia mengambil ponselnya di dalam tas tangannya.
Untuk sesaat keduanya saling berkenalan dan sedikit mengobrol. Tanpa tahu Erwin yang berada di antara mereka, meski di permukaan tidak menunjukkan reaksi apa pun, tapi tengah berpikir serius untuk mencekik laki-laki asing ini.
Bajingan sialan, beraninya kau mendekati Eru saat aku di sini. Tidak kah kau melihat?
Erwin meliriknya sekilas dengan tatapan berbahaya tanpa disadari siapa pun. Jelasnya, laki-laki ini juga dalam bahaya sekarang.