Chapter 27

812 Kata
Beberapa hari lagi telah berlalu. Laki-laki yang meminta nomor ponselnya sewaktu di kafetaria bernama Yuki Yoshizawa. Dan ya, ia memang seseorang yang cukup terkenal. Setidaknya dia memiliki cukup banyak pengikuti di sosial medianya. Eru berguling ke siis lain ranjangnya, mencari tempat yang lebih dingin dan nyaman sambil memikirkan sosok itu. Mereka berdua memang menjadi dekat selama beberapa hari terakhir. Yuki sosok yang cukup menyenangkan dan tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Selain itu, yang membuat Eru semakin memandangnya dengan positif adalah, karena sikap Yuki yang tidak memaksa dan terburu-buru. Dan meski dari awal satu sama lain tahu tujuan Yuki yang sebenarnya. Tetapi Yuki menjalani semuanya dengan santai. Membuat Eru sedikit banyak lebih merasa nyaman. Meski Eru sendiri adalah seseorang yang cenderung populer. Namun Erwin adalah satu-satunya sosok populer yang pernah dekat dengannya. Sejak awal, bisa dibilang ia memang tidak terlalu menyukai laki-laki yang populer karena kepopuleran mereka akan sangat mengganggu. Meski ia sendiri begini, tapi Eru selalu menolak fakta kepopulerannya sendiri dan mengabaikan semua orang yang memerhatikan. Jadi mendapat perhatian tambahan dari siapa yang dekat dengannya jelas membuat ia merasa tak nyaman. Sejauh ini Yuki memang menyenangkan. Dia cukup lucu. Penampilannya juga tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi, kepopulerannya lah yang membuat Eru lagi. Apakah ia perlu terus melanjutkan kedekatan mereka? Yuki memang enak dipandang. Tapi gadis-gadis yang mengidolakannya sama sekali tidak enak dipandang. Belum apa-apa, ia sudah dianggap sebagai benalu di kehidupan Yuki. "Huh, yang benar saja," Eru kembali berguling dan memeluk sebuah bantal dalam pelukannya, membiarkan kepalanya tanpa sandaran. Hari ini adalah hari minggu. Karena itu ia bisa bersantai seharian. Ia juga belum bersih-bersih dan membereskan apartemen kecilnya. Tapi Eru merasa sangat malas dan ingin tiduran seharian. Selain bangun untuk sarapan tadi, ia belum melakukan hal lain lagi. Tiba-tiba terdengar denting kecil dari ponselnya, menandakan sebuah pesan masuk. Eru berguling lagi mendekati nakas di samping ranjang dan mengulurkan sebelah tangan. Benar dugaannya. Ini dari Yuki lagi, kali ini dia mengajak Eru untuk keluar dan menonton film. Eru memang tidak memiliki jadwal apa pun hari ini. Tapi sepertinya akan menyenangkan untuk keluar. Jadi Eru menyetujuinya dan mulai bersiap-siap. Terlepas ia akan menerima Yuki atau tidak, itu tidak terlalu penting baginya. Karena sejak awal, toh Eru belum menyukai siapa pun lagi. Sekitar nyaris tengah hari akhirnya Eru bertemu dengan Yuki di tempat yang dijanjikan. Seperti biasa, penampilan Yuki sangat modis. Menonjolkan kesan maskulinnya yang memanjakan mata. Dan tiap kali dia tertawa akan terlihat menggemaskan dengan mata bulan sabitnya. Mungkin karena pesona itu lah yang membuat Yuki populer. Bahkan Eru mendapati orang-orang memerhatikan mereka saat mereka lewat. Di suatu waktu Eru juga tanpa sengaja mencuri dengar pendapat beberaga gadis muda yang mengatakan betapa serasinya mereka dengan iri. Sesuatu yang tidak pernah terjadi saat ia masih berkencan dengan Kazuki. Kazuki memang tidak jelek, sejujurnya cukup tampan. Tapi jika dibandingkan dengan Yuki, dia memang cukup tertinggal. Ah, Eru tersenyum pahit dan mengalihkan pandangan. Tak ada gunanya memikirkan hal semacam itu. Yuki mendapati dirinya terlihat tidak nyaman dan mengira itu adalah karena dirinya dan bertanya dengan cemas. "Eru, apa ada yang salah?" Eru tersadar dari pemikirannya yang rumit dan mendongak untuk memandangnya. "Tidak, tidak ada apa-apa." Yuki berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata lagi. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya orang-orang memerhatikanmu. Itu karena kau sangat cantik." Eh, apa kau sedang merendahkan diri sendiri? Pikir Eru sambil menatap mata bulan sabit yang menggemaskan itu. Tolong jangan, itu membuatku muak. "Kalau begitu, bagaimana jika kita makan dulu? Apa kau lapar?" Eru menanggapi kali ini. "Ya, aku sedikit lapar. Kalau begitu setelahnya kita bisa langsung menonton film." Yuki tersenyum cerah. "Baiklah, setuju!" Selanjutnya, hari itu berjalan dengan biasa saja. Yuki banyak tersenyum, tapi Eru bahkan nyaris tidak bisa tertawa. Meski tadinya berpikir ini akan menyenangkan, tapi Eru justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Kecuali Eru mendapati hal baru tentang Yuki ini. Dia jelas tipe orang yang sadar akan kelebihan visualnya, tapi bersikap seolah tidak tahu. Membuat Eru bertanya-tanya apakah dia sengaja merendah di hadapannya? Sangat disayangkan karena Eru justru berpikir dia adalah tipe orang yang sombong dan menyebalkan. Selain itu, setelah menghabiskan nyaris sepanjang hari bersama. Eru juga jadi menyadari tentang betapa uniknya Yuki Yoshizawa ini. Ketika memasang wajah datar dia akan terlihat sangat dingin dan sinis. Tapi begitu tersenyum akan terlihat sangat menyenangkan. Terlepas dari menyukainya atau tidak. Eru jadi mempertimbangkannya dengan serius untuk melanjutkan hubungannya dengan Yuki atau tidak. Karena, ia memang tidak bisa berbohong, Yuki sangat enak dipandang. Meski tentu Erwin bahkan lebih tampan darinya, tapi Yuki ini memiliki kesan yang berbeda. Nah, kenapa juga ia membawa Erwin dalam pembahasan ini? Mereka memang pernah dekat di masa lalu. Dan hal-hal yang sudah terjadi di antara mereka juga belum Eru lupakan. Bahkan meski Erwin telah mencoba berkencan dengan orang lain sekali pun, pada kenyataannya Eru masih memiliki sedikit kewaspadaan terhadapnya. Karena itu lah, bahkan jika meski mereka akan menjadi dekat lagi, Eru tetap tidak akan kembali menjadi seperti mereka yang dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN