Chapter 28

1060 Kata
"Jadi bagaimana perkembangannya?" Akemi bertanya ketika ia, Shina dan Eru sedang dalam perjalanan menuju kafetaria. Eru mengerjap, mengalihkan pandangan sebelum akhirnya menjawab dengan kurang yakin. "Aku tidak menyukainya secara spesial sih. Tapi sebenarnya dia tipe orang yang cukup menyenangkan," tentu saja yang sedang mereka bicarakan sekarang Yuki Yoshizawa, laki-laki yang kini memiliki potensi paling besar untuk Eru kencani. Shina mendecak dengan nada bercanda. "Juga enak dipandang, kan?" Ia menyikuti lengan Eru dengan gerakan main-main. Eru mendenguskan tawa samar. "Aku tahu..." "Syukurlah kau memang tahu," Akemi berkata lagi. "Dekat dengan seseorang seperti Yuki itu, terkadang sama saja membangun sebatalion pasukan musuh," dia menyikut Eru dan memberi isyarat. "Kau pasti tahu bagaimana tepatnya gadis-gadis gatal di universitas membencimu karena merebut buruan mereka." Kompak, Shina dan Eru tertawa mendengarnya. Membuat Akemi mendengus sinis. "Aku tahu.. Aku tahu.. Tidak perlu cemas. Ini tidak seperti aku memang tidak pernah dibenci oleh sekelompok orang sebelumnya," Eru membujuk Akemi sambil tersenyum manis. "Tapi sungguh," Shina berkata dengan nada geli. "Kenapa juga mereka harus sebegitunya pada seseorang hanya karena dia tampan? Ini sangat menggelikan. Aku sampai bertanya-tanya, tidak kah mereka masih memiliki sisa harga diri? Mengejar dan memuja seseorang hanya karena tampangnya.." Shina mengernyitkan mata dan memandang ke kejauhan seolah menerawang. Eru mengangguk-anggukan kepala tapi tidak berkata apa-apa untuk sesaat. "Aku juga berpendapat sama denganmu," kata Akemi, yang jarang sekali bisa memiliki pendapat yang sama dengan Shina. Ia mengeluh keras. "Ah.. Aku benar-benar jijik, apalagi pada gadis-gadis yang sampai meninggalkan komentar seperti- ah, pokoknya sesuatu semacam itu." Eru segera menyembunyikan senyumnya yang mengembang dan bertanya. "Tapi, bagaimana bisa kau tahu tentang komentar-komentar itu?" Ia bertanya dengan wajah polos seolah tanpa dosa. Diam-diam, Shina yang berdiri di sisinya, melirik Eru dan menyeringai. "Cih," Akemi mendecak kesal. "Saat kau bilang kau dekat dengan Yuki, tentu saja aku memeriksa akun sosial medianya juga. Jadi begitu lah aku bisa tahu," ia mendesah keras. "Aku ingin menjual mataku sejak saat itu, pengikutnya memang banyak, tapi hanya di isi gadis-gadis murahan." Eru nyengir lebar tanpa bisa disembunyikan lagi. Di sisinya, Shina malah sudah tertawa terbahak-bahak. "Tidak apa-apa.. Tidak apa-apa," kata Shina di sela-sela tawanya. "Aku juga melihat-lihat isi akunnya, hehe," ia menyeringai jahil di akhir kalimat. "Tapi toh, Yuki tidak pernah menanggapi satu komentar pun." Akemi tidak menanggapinya karena sebal telah ditertawakan. "Bagaimana pun, aku juga datang untuk melihat-lihat saat dia mulai mengikutiku. Jujur saja, secara keseluruhan unggahannya keren, dia punya selera yang bagus." "Penampilannya memang seperti idol," Shina menambahkan. Serempak Akemi dan Eru mengangguk tanpa sadar. "Meski sebenarnya, aku tidak terlalu suka tipe orang yang terlalu sering aktif di sosial media. Maksudku, aku hanya berpendapat jika orang-orang seperti itu, terlalu mencari perhatian. Ditambah minggu lalu sewaktu aku keluar dengannya, Yuki bersikap seolah orang-orang yang memerhatikan kami itu karena kehadiranku. Kenapa dia perlu bersikap merendah seperti itu jika kenyataannya dia begitu sadar atas kelebihan dirinya? Hal itu membuatku agak kesal." Akemi mengangguk-angguk mengerti, sementara perhatian Shina sudah teralihkan ke dalam ruangan kafetaria, di mana Yama melambai-lambaikan sebelah tangan dengan bersemangat ke arah mereka. Di sisinya, juga ada Erwin dan Hori yang menatap kehadiran mereka yang berjalan begitu masuk di depan pintu kafetaria. "Jika menurutku," kata Akemi tanpa menyadari tingkah Yama dan yang lainnya sama sekali. "Mungkin Yuki hanya bermaksud untuk memujimu. Bukan kah itu justru menunjukkan sikap yang baik?" Eru berpikir sejenak, mereka sama-sama berjalan lambat, bahkan nyaris berhenti karena terus mengobrol. Karena hal ini juga lah mereka tanpa sadar membutuhkan waktu begitu lama untuk sampai di kafetaria. "Begitu kah?" Tanyanya sambil mengerutkan kening, berpikir dengan serius. Memikirkan hal ini, Eru mendadak jadi menyadari, bahwa pemikirannya berubah sejak Kazuki mengkhianatinya. Ia jadi tanpa sadar menjadi begitu mudah berpikir buruk tentang orang lain. Barangkali Yuki memang ingin menunjukkan sikap yang baik, tapi ia langsung menjugdenya dengan sangat buruk. Eru mendesah tanpa sadar. "Tapi itu tetap menyebalkan," ia menyimpulkan sambil menatap Akemi. Akemi mendengus. "Lantas apa yang kau inginkan? Dia menjadi bersikao narsis di dunia nyata? Bahwa dia memang sadar betapa tampan dirinya dan bersikap sok sepanjang jalan?" Eru membelalak, karena kata-kata itu seolah menamparnya dengan nyata. Ia dan Akemi saling pandang sebelum akhirnya ia tertawa. "Ini benar! Astaga! Kau pintar, Akemi. Memikirkannya lagi secara jernih, bukan kah dia memang memiliki sikap yang cukup baik untuk ukurannya?" "Ya," Akemi mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Tapi tetap saja, kau harus hati-hati. Sebaik apa pun seseorang, jika dia adalah laki-laki maka harus waspada," ini bukan pertama kalinya Akemi mengatakan sesuatu semacam ini. Tapi ini adalah pertama kalinya Eru setuju dengannya. Eru mengalihkan pandangan dan bertemu mata dengan Erwin, tapi jika diperhatikan lebih jelas, laki-laki itu tidak sedang menatapnya. Tatapan Erwin melewatinya, ke sesuatu yang berada di belakangnya. Eru tidak memusingkan hal itu dan mengalihkan pandangan ke arah lain, rupanya ada Yama dan Hori juga di sana. Mereka tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di meja di mana Hori dan yang lainnya berada, saat tiba-tiba dari belakang terdengar suara seseorang memanggil nama Eru. Serempak ketiganya menoleh ke arah suara. Itu adalah Yuki Yoshizawa. Sosok jangkung itu berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Diikuti tatapan semua orang di kafetaria. Eru balas tersenyum dan mengangguk sekali ke arahnya. Ketika hanya terjarak dua langkah, Yuki berkata. "Eru, aku tadi mencarimu, kupikir kau masih ada kelas," jelasnya sambil sedikit terengah. Akemi melirik sosok Yuki, menatapnya dari atas ke bawah seperti sebuah alat scan, jelas ia sedang menilai sosok itu lagi. "Ah, begitu," Eru tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. "Aku sudah tidak ada kelas lagi setelah ini, jadi aku berpikir untuk mengajakmu keluar," setiap kata yang Yuki ucapkan, selalu disertai dengan senyuman yang manis. Membuat banyak orang sampai lupa berkedip. Eru menoleh ke arah Akemi dan Shina. "Tadinya aku akan makan siang dengan teman-temanku." "Ah.." Yuki mendesah kecewa. Lantas ia melongok ke belakang, di mana Hori, Yama dan Erwin sedang menatapnya. Ia mengerjap dan senyumnya hilang. Membuat perubahan drastis antara sosok yang manis menjadi seseorang dengan kesan yang mengintimidasi. Tapi tentu saja Eru juga tahu, bahwa Yuki tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya kebetulan lahir dengan wajah yang akan terlihat sinis saat tidak sedang tersenyum. Akemi menyikut Eru dengan tatapan bertanya. Eru mengerjap dan berpikir sejenak. Antara mengajak Yuki bergabung dengan mereka atau pergi bersamanya. Bagaimana pun, mengajak orang baru bergabung dengan mereka. Sama seperti dengan Kazuki dulu, membuat Eru merasa tidak nyaman. "Tapi setelah diingat, aku juga tidak ada kelas lagi. Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Yuki menatapnya, mengerjap sekali sebelum akhirnya tersenyum. "Baiklah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN