Chapter 29

1026 Kata
Setelah berpamitan dengan Akemi dan Shina, Yuki tak lupa sekedar membungkuk ke arah meja yang di tempati Hori, Yama dan Erwin. Tentunya ia tahu bahwa mereka bertiga adalah teman Eru. Sekarang ia sudah membawa Eru bersamanya, jadi setidaknya harus bersikap ramah kepada mereka. Eru mengikuti langkah Yuki dan berjalan di sisinya. Menikmati setiap rasa iri yang dirasakan gadis-gadis sepanjang jalan yang ia lewati. Lalu tersadar, ia lupa memberitahukan hal ini pada Shina dan Akemi. Bahwa membuat gadis-gadis pengejar pria tampa itu iri, juga adalah hal yang menyenangkan. Jika mendengar ini, pasti Akemi dan Shina akan sepakat dengannya. "Ngomong-ngomong," kata-kata Yuki membuyarkan Eru dari pemikirannya. Eru menoleh dan mendongak untuk menatapnya. "Tadi itu, yang duduk di meja di sebelah paling kiri, adalah Erwin Toshiro ya? Maksudku, itu memang benar-benar dia?" Eru memerhatikan Yuki untuk beberapa saat. Sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan lagi jika semua orang di universitas mengenal Erwin. Tapi akan lain halnya jika nantinya Yuki menunjukkan rasa keberatan karena ia berteman dengan sosok paling populer di universitas itu. Eru mengangguk pada akhirnya. "Ya, itu memang benar dia." Yuki mengangguk-anggukan kepala. "Sebenarnya aku mendengar tentang dia beberapa kali," Yuki mendecak. "Tidak kusangka dia memang benar-benar setampan itu." Eru meringis dan berpikir dalam hat. Lalu kau anggap apa dirimu? "Kami berteman cukup lama sebenarnya." "Ah, tidak. Bukan aku bermaksud lain. Hanya saja memerhatikannya secara langsung begini, ternyata dia memang persis seperti yang dirumorkan. Sangat tampan, dia terlihat sempurna." "Mmm, begitu." Yuki mengangguk lagi. Tapi kemudian Eru teringat. "Eh, bukannya kau sudah pernah melihat dia sebelumnya? Saat pertama kali meminta nomor ponselku, juga ada dia di sana." Yuki mengenyit, ia berhenti sebentar, berpikir lalu menatap Eru. Setelah beberapa saat, ia kemudian nyengir dan mengusap belakang kepalanya. "Ah, itu.. Saat itu aku sangat gugup untuk meminta nomor ponselmu, jadi tidak benar-benar memerhatikan." Mendengarnya, Eru tidak bisa menahan senyumnya mengambang. Sampai di tempat parkir, Yuki menunjuk sepeda motornya dan tersipu. "Aku selalu menggunakan sepeda motor, apa kau tidak keberatan untuk ini?" Eru memerhatikan sepeda motor hitam yang besar itu. Kelihatannya sangat keren. Persis seperti citra diri Yuki. Eru kembali menatap Yuki dan menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, santai saja," sejujurnya ia sangat jarang naik sepeda motor. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Yuki memberikan sebuah helm untuk Eru kenakan. Membuat Eru berpikir dengan serius, laki-laki ini bahkan sudah menyiapkan helm untukku. Antara yakin aku benar-benar akan menerima ajakannya atau hanya untuk jaga-jaga. Melihat Eru masih menatap helm di tangannya sementara Yuki sudah memakai helmnya sendiri, Yuki pun berkata sambil tersenyum hangat. "Mau kubantu memakainya?" "Ah, tidak," Eru segera memasangkan benda itu di kepalanya, lalu mendapati bahwa agak sulit untuk memasang bagian bawahnya sendiri. Jadi ia membiarkan Yuki membantu. Setelah selesai, keduanya pun pergi meninggalkan area universitas. Lepas dari perhatian Erwin Toshiro. Juga lepas dari bahaya untuk beberapa saat ke depan. * * * Di lain sisi, di kafetaria. Shina memakan makan siangnya dengan perasaan lega. Sementara Yara nampak berpikir dengan serius, dan Shina sedang dalam suasana hati yang baik untuk mengganggunya. Jadi ia menyikut Yama di sisinya dengan gerakan main-main. "Wajahmu terus berkerut-kerut begitu, kau jadi terlihat dua puluh tahun lebih tua." Yama mendecak. "Aku sedang serius sekarang." Shina balas mencibir. "Sudah berapa kali perlu kukatakan," Hori berkata. "Kau terlalu membebani dirimu untuk sesuatu yang tidak perlu. Bagaimana pun, ini bukan tanggung jawabmu dan bukan ranahmu untuk masuk." Yama mengernyit, nampak tersiksa. "Tapi tetap saja, jika dulu aku tidak mengenalkan Eru dengan manusia sampah itu, ini tidak akan pernah terjadi." Akemi mendesah, ia menatap Yama dengan sorot prihatin. "Aku mengerti," kata Hori lagi. "Tapi kali ini tidak ada kaitannya denganmu. Kau bisa tenang." Yama menghela napas berat. "Memang tidak, aku bahkan tidak kenal siapa si Yuki itu, tapi aku masih merasa takut Eru akan tersakiti lagi. Sekali saja aku sudah merasa sangat buruk, aku sangat menyesal." Akemi tidak tahan lagi dan ikut bicara. "Bagaimana pun ink tetap bukan salahmu, kau mengenalkan Kazuki pada Eru tanpa tahu siapa Kazuki yang sebenarnya. Kau memercayai Kazuki sama seperti kami memercayai mereka. Ketika Kazuki berkhianat, dia juga mengkhianati kita semua." "Bisakah kau tidak menyebut nama si k*****t binatang itu?" Shina mendecak mendadak terlihat kesal. "Aku sedang makan." Erwin mendenguskan tawa karena tidak bisa menahan diri. Tapi ia segera membungkuk dan membungkam mulutnya sendiri. "Maaf," katanya sambil menunjukkan cengiran lebar. "Mengenai masalah yang tidak boleh disebut itu, ini memang di luar kemampuan siapa pun untuk mengontrolnya. Yama, kau bukan cenayang, kau tidak bisa memprediksi perilaku seseorang. Ditambah sekarang, Eru juga tidak mempermasalahkan hal itu lagi." Shina setuju dengan girang. Akemi juga setuju dengan pendapat Erwin, meski sebenarnya tahu apa yang masih Eru tutupi di hadapan mereka semua. "Yang terbaik untuk sekarang adalah, bersikap seolah si yang tidak boleh disebut itu tidak pernah ada di antara kita." Shina tertawa lagi mendengarnya. Ia mengerling pada Erwin dan laki-laki itu membalas dengan anggukan samar dan senyum yang kian lebar. "Dengan membiasakan hal ini, lambat laun Eru juga akan terbiasa dan melupakan masa lalu," Erwin mengakhiri pendapatnya dengan senyum cerah. Di sisinya Hori mengangguk penuh persetujuan. "Aku setuju, itu sangat baik untuk dilakukan," ia menepuk bahu Yama. "Mulai sekarang jangan bersikap kaku lagi, dan bersikap lah seperti biasa. Itu akan membuat Eru merasa jauh lebih baik." Yama menganguk lambat. "Tapi," kata Hori lagi, kali ini lebih ditujukan pada Akemi dan Shina. "Mengenai Yuki itu, bagaimana menurut pendapat kalian? Sejujurnya aku berpikir Eru hanya menggunakannya sebagai tempat pelampiasan." Shina nampak tak keberatan mendengarnya. Bagaimana pun ia sangat jarang menunjukkan ketertarikan pada laki-laki, jadi praktis ia tidak akan peduli pada soal tulus atau tidaknya Eru pada siapa pun yang ingin dikencaninya. Akemi juga tidak menunjukkan ketidak persetujuan, meski begitu ia juga tidak nampak setuju. Ia berkata dengan tenang setelah menalan makanannya. "Sejauh yang kutahu, meski hanya sedikit jika dibilang, Yuki tipe orang yang tidak terlalu buruk. Hanya saja, ya... pengikutnya di akun sosial media agak meresahkan. Dan terlepas dari bagaimana Eru menganggapnya, yang terpenting Eru tidak jatuh ke lubang yang sama, itu sudah cukup bagiku." Yama nyengir kepada Akemi dan Shina. "Kalian kejam." Akemi mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Lalu bagaimana menurutmu? Erwin?" Hori bertanya pada Erwin kali ini. Erwin baru saja memeriksa ponselnya, ditanyai tiba-tiba membuat ia terkejut setengah mati dan tersentak keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN