Chapter 30

991 Kata
"Hah? Ya?" Erwin memandang Hori dengan kekagetan di matanya. Melihat itu semua orang di meja juga ikut kaget. Erwin mendengus tertawa dan menggelengkan kepala. "Maaf, aku tidak mendengarkan, apa tadi yang kalian katakan?" Akemi memperhatikan Erwin tanpa ekspresi, ia berpikir bahwa sekarang nampaknya Erwin memang tidak peduli lagi pada Eru, bukan dalam artian buruk, tapi hanya perasaan di masa lalu di antara mereka, sudah tidak ia simpan sendiri lagi. Jelas bagi Akemi ini merupakan hal yang baik. Karena sama artinya Erwin tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, meski sebelumnya ia sempat berpikiran buruk pada laki-laki itu. "Tentang Eru dan Yuki," memikirkan hal itu lagi sekarang dan menanyakannya pada Erwin, Hori jadi merasa agak canggung. Karena ia juga teringat bagaimana hubungan kedua orang itu di masa lalu. Erwin tidak menunjukkan reaksi yang membuat tidak nyaman, ia hanya memiringkan kepala ke satu sisi dan berpikir sejenak. "Sejujurnya aku tidak mengenal Yuki sebelumnya, jadi aku tidak memiliki banyak pendapat tentang dia." Hori mengangguk-anggukan kepala, meski bukan itu yang sebenarnya ia tanyakan, tapi ia merasa tidak enak untuk bertanya lagi pada Erwin, dan semua orang di meja juga berpikiran sama dengannya. Yama berdeham dengan canggung dan mulai memakan makanannya. Di permukaan Erwin terlihat setenang biasanya. Ia menunduk memperhatikan ponselnya, bertindak seolah tidak ada yang terjadi. Tadi itu ia sempat lengah karena terlalu marah, ia baru saja menghubungi orang suruhannya yang selama ini sudah ia perintahkan untuk mengikuti Yuki namun belum mendapatkan banyak informasi apa pun tentangnya. Ditambah pesuruhnya ini juga begitu sering kehilangan jejak Yuki setiap kali membututinya. Saat ini Erwin benar-benar marah sampai ingin bertindak sendiri. Tapi jelasnya ia tidak bisa karena semua orang ada di sini dan memperhatikan dirinya. Erwin menghela napas tanpa suara. Nyaris tidak kentara. Sebuah pesan baru lagi masuk dari orang suruhannya itu. Dan kali ini ia tidak akan terlalu memfokuskan diri lagi pada ponsel sehingga jika tiba-tiba Hori atau siapa pun memanggilnya lagi, ia tidak akan seterkejut sebelumnya. Erwin tidak ingin membuat siapa pun mencurigai sikapnya. Membaca pesan laporan itu, Erwin merasa amarahnya menggelegak ke atas kepalanya. Bahkan sekali lagi, orang suruhannya ini kehilangan jejak Yuki. Tapi bagaimana bisa? Selama bertahun-tahun lamanya Erwin selalu memiliki kaki tangan yang bisa diandalkan, dan tidak seorang pun yang bisa lolos dari pengawasannya. Lantas kenapa Yuki berbeda? Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya Erwin menghadapi sesuatu semacam ini. Ditambah fakta bahwa Yuki adalah manusia biasa, tidak termasuk ke dalam jenisnya. Tapi kenapa ia bisa terus menerus lolos? Bahkan tidak hanya sekali atau dua kali. Ditambah saat ini, Yuki juga membawa Ery bersamanya! Erwin tidak habis pikir bagaimana Yuki bisa melakukannya. Mendadak Erwin tersadar bahwa ia sudah menggenggam ponselnya dengan terlalu kuat. Ia segera mengendurkan cengkeramannya dan menyingkirkan benda itu dari hadapannya. Karena sudah seperti ini, maka adalah saatnya untuk turun tangan sendiri. Sayang sekali, karena lagi-lagi ia harus membunuh pesuruhnya. Ini adalah satu hal yang sudah ia lakukan berulang kali, karena demi mencegah kebocoran informasi, maka ia selalu membunuh semua kaki tangannya setelah mereka selesai digunakan. Sebelah sudut bibir Erwin terangkat sedikit. Senang karena dalam keadaan yang menyulut amarahnya ini, setidaknya ia mendapatkan satu penghiburan baru. * * * Itu adalah sebuah restoran dengan desain interior klasik. Seluruh ruangan nampak agak redup dengan suasana ketenangan yang sunyi. Sejujurnya, Eru merasa ini bukan tempat yang cocok untuk mereka kunjungi. Belum apa-apa ia sudah merasa salah tempat. Tetapi Yuki menunjukkan ketenangan yang tidak biasa dan memimpin jalan masuk. Eru jelas merasa bahwa Yuki tidak bersikap seperti biasanya, yang selalu bersikap jantan dan memperhatikannya. Bukannya meninggalkannya di belakang dan memimpin jalan sendirian seperti ini. Seorang pelayan datang dengan terburu-buru menyambut Yuki. Ia bahkan menundukkan wajah seolah tidak berani memandang Yuki langsung. "Tuan Muda," pelayan itu menyapa. Membuat Eru terkejut dengan kedua alis terangkat. "Ya," sahut Yuki dingin. "Sediakan apa pun yang terbaik di sini, ruang atas sudah dibersihkan?" "Semua sudah disiapkan sesuai keinginan Tuan Muda." Eru memandang pelayan itu dengan sorot penuh tanya. Kenapa dia bersikap seperti ini? Dan sedikit banyak Eru mengerti, bukannya tanpa alasan Yuki membawanya ke tempat ini, karena sejauh yang ia pahami, restoran mewah ini adalah miliknya sendiri. "Cukup kalau begitu," Yuki memberikan isyarat tangan dan pelayan itu pergi sambil terus menunduk. Eru memandang kepergian pelayan itu. Selama ini Yuki selalu menunjukkan kesan yang ramah dan menyenangkan, makanya ia cukup terkejut mendapati pelayan itu seolah sangat ketakutan pada Yuki. Di depan tangga, Yuki berbalik dan memgulurkan sebelah tangan. "Eru," katanya. Eru berpikir, kau sudah ingat aku juga ada di sini sekarang? Eru menyambut uluran tangan Yuki dengan menepisnya perlahan, ia bisa naik sendiri tanpa perlu digandeng, dia bukan orang tua yang perlu membutuhkan bantuan hanya untuk menaiki tangga. Jelasnya ia merasa kesal dengan sikap berbeda yang Yuki tunjukkan ini. Seolah yang sebenarnya Yuki memiliki dua kepribadian yang berkebalikan. Sampai di lantai atas, itu adalah sebuah ruanga besar dengan satu sisi dinding yang dibatasi kaca. Ada sebuah meja di tengah ruangan dan banyak ornamen serta berbagai jenis bunga dan tanaman hias. Juga ada pintu kaca besar di sisi lain dinding yang terhubung dengan taman yang memiliki kolam di tengahnya. Eru tidak bisa tidak mendesah takjub begitu melihat semua ini. Tapi ia masih sangat heran kenapa Yuki perlu membawanya ke tempat seperti ini, ditambah sikap Yuki yang terkesan mendesak, membuat segala sesuatunya terasa timpang. "Tunggu di sini sebentar," kata Yuki, lantas ia sendiri keluar menuju taman itu dan berjalan ke sudut. Eru memperhatikan pergerakan laki-laki itu dan baru menyadari ada sebuah tangga di taman. Yuki menaiki tangga itu dan menghilang dari pandangan. Kening Eru makin berkerut. Merasa aneh dengan semua ini. Dan kenapa juga Yuki bersikap sangat gelisah begitu? Tak lama beberapa pelayan masuk membawakan beraneka jenis makanan mewah. Eru duduk dan memperhatikan semua pelayan yang melayani dengan penuh sopan santun ini. Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya Eru mendapat perlakuan seperti ini, sedikit banyak malah membuatnya merasa tak nyaman. Dan ketika semua pelayan pergi. Eru memandang keluar jendela lagi dan menunggu. Ke mana sebenarnya Yuki pergi dan apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN