Eru mendesah dengan bosan, rasanya ia sudah menunggu sangat lama ketika dilihatnya Yuki muncul dari tangga yang tadi ia naiki. Padahal saat melihat pada jam di ponselnya, Yuki pergi tak lebih dari sepuluh menit. Eru menghela napas berat sekali lagi dan mengernyit saat Yuki berjalan masuk.
Kali ini laki-laki itu menampilkan raut wajah yang belum pernah Eru lihat. Semacam ketegasan yang tidak menyenangkan, meski pada dasarnya Yuki akan terlihat dingin saat tidak tersenyum, tapi yang satu ini, agak terasa berat.
Eru mengerjap dan tidak menunjukkan reaksi apa pun sementara Yuki menarik kursi untuk duduk. Kemudian ia melipat kedua tangannya di atas meja dan memandang Eru lurus-lurus.
"Maaf membuatmu menunggu," Yuki tersenyum seperti biasanya lagi.
Butuh beberapa saat bagi Eru untuk membalas senyum itu dan bertanya dengan kaku. "Apa yang sebenarnya kau lakukan? Ah, tidak," ia meralat. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kau terlihat sangat aneh sejak kita di sini."
Mendengar itu Yuki menampilkan raut penyesalan di wajahnya. "Ternyata kau menyadarinya."
Nah, apa kau berusaha bercanda sekarang? Eru melayangkan senyum kaku yang semakin lama dipaksa membuatnya semakin terlihat sinis tanpa ia sadari, ia juga menatap lurus-lurus pada Yuki tanpa keraguan. Jelasnya, ia menunjukkan sikap yang berani.
Menyaksikan bagaimana reaksi Eru selama ini, akhirnya Yuki menghela napas samar. Untuk sesaat ia terlihat tidak nyaman tapi tahu harus memberi tahu Eru juga. "Sebenarnya aku sedang diikuti..." Yuki mengernyit atas kata-katanya sendiri dan meralat. "Atau mungkin kita."
Eru mengilangkan senyum di wajahnya, masih menatap lurus kepada Yuki, ia mengernyit dan bertanya heran. "Aku tidak merasa memiliki fans yang fanatik, barangkali dia adalah seseorang yang sangat menyukaimu."
Yuki tersenyum nanar mendengar itu. Ia mengusap rambutnya ke belakang lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. "Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukatakan, sekarang segala hal sudah menjadi makin serius. Aku takut hal ini malah dibongkar oleh Erwin sendiri."
Eru jelas tidak mengerti apa yang laki-laki di hadapannya ini bicarakan. Tetapi dalam nadanya, selain tidak ada kesan ketidak seriusan, juga ada nada simpati dalam suaranya. Ditambah, kenapa juga Yuki menyebut Erwin di sini? Apa yang salah sebenarnya?
"Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Yuki, dan sebenarnya tidak apa-apa jika ada orang fanatis di luar sana yang menyukaimu sampai menjadi seburuk itu, tapi apa pentingnya menyebut nama temanku di sini?"
Yuki menatap ke dalam mata Eru dengan sorot ketidakberdayaan, dan sedikit banyak ada kesedihan yang Eru temukan di sana. "Aku tahu, aku tahu akan sulit untuk menjelaskan semua ini saat kau tidak bisa mengingatnya lagi, tapi sebelum itu biarkan aku menunjukkan-"
Eru mendorong kursinya menjauh dari meja, merasa bahwa semua ini terdengar seperti omong kosong yang berputar tanpa tujuan, membuat ia merasa muak."
"Tidak, aku serius," Yuki mencondongkan tubuh ke depan, dan dengan sebelah tangan ia menunjukkan ponselnya ke arah Eru.
Eru ikut terdiam memperhatikan sebuah foto di layar ponsel.
"Pastinya kau masih ingat siapa orang ini," kata Yuki perlahan, seolah takut akan membuat Eru merasa lebih terganggu hingga membuat Eru ingin pergi lagi.
Itu adalah foto dari seorang profesor yang dikenalnya sejak ia duduk di kelas dua SMA. Seorang profesor yang juga adalah dosen di universitas sebelah, yang sayangnya gagal untuk Eru masuki karena kualifikasinya tidak cukup. Sekali lagi Eru mengernyit, tidak mengerti kenapa profesor yang bernama lengkap Aren Yoshizawa itu disebut dalam pembicaraan ini. Tunggu... Yoshizawa? Bukan kah marga itu sama dengan yang dimiliki Yuki?
Eru melirik Yuki dan menatapnya dengan sorot penuh tanya. Yuki mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang tidak tersampaikan Eru. Kemudian Yuki menarik ponselnya dan nampak mencari sesuatu yang lain.
Eru berpikir dengan keras sambil memperhatikan wajah Yuki. Namun bagaimana pun ia mencocokannya dengan profesor Aren, keduanya sama sekali tidak terlihat mirip.
Yuki mendorong ponselnya ke arah jangkauan Eru. "Untuk ini, kau bisa melihat semuanya sendiri."
Eru menjadi semakin bingung. "Aku tidak mengerti..."
Yuki mengangguk penuh keyakinan. "Kau lihat dulu, lalu berjanjilah untuk tetap tenang, aku akan menjelaskan semuanya."
Eru menatap ponsel di hadapannya dengan penuh kebimbangan, tapi sebaiknya ia memeriksanya segera agar Yuki cepat menjelaskan semuanya kepadanya.
Ia meraih benda itu dan memerhatikan layar ponselnya, ternyata itu adalah sebuah folder foto. Meski dengan kening berkerut, Eru mulai dari foto pertama. Dan matanya seketika membelalak ketika menyadari bahwa seseorang dalam foto itu adalah dirinya sewaktu SMA, ia bahkan masih memakai seragamnya, dan sosok disisinya membuat ia lebih terkejut lagi. Karena di adalah Erwin yang mengenakan blazer hitam panjang, berdiri sebelahan dengan Eru persis di sebelahnya. Mereka berdua sama-sama tersenyum.
Eru mendongak dan memandang Yuki lagi. Yuki memberi isyarat untuk meneruskan. Eru berpikir dengan serius apakah foto ini di edit? Karena jelas ia tidak dan belum mengenal Erwin semasa SMA. Jadi bagaimana mungkin mereka memiliki foto bersama seperti ini?
Eru menperhatikan foto itu dengan teliti, tapi sayangnya sangat sulit untuk menemukan bukti bahwa foto itu memang hasil editan.
Lantas dengan perasaan campur aduk dia menggeser foto selanjutnya, membuat ia makin tercengang karena lagi-lagi itu adalah foto dirinya dan Erwin. Kali ini Eru yang memegang ponsel yang digunakan untuk memotret mereka, dan Erwin yang tinggi berdiri di belakangnya, menyandarkan separuh wajahnya pada kepala Eru. Bahkan di sini keduanya sama-sama tersenyum begitu cerah.
Lagi-lagi, Eru juga memakai seragam sekolahnya, tapi Erwin tidak mengenakan seragam yang sama. Eru merasa suasana hatinya makin buruk, meski tidak menyukai apa yang dilihatnya, tapi ia masih sangat ingat jelas bagaimana penampilannya sewaktu masih duduk di SMA, termasuk gaya rambut dan bagaimana cara ia mengenakan seragamnya. Tapi Eru yakin tidak pernah sekali pun merasa pernah mengambil foto-foto itu. Apalagi dulu jelas-jelas ia belum mengenal Erwin.
Ditambah, Erwin jelas seumuran dengan dirinya, tapi tidak satu pun dalam semua foto yang telah dilihatnya Erwin terlihat menggunakan seragam. Malah penampilannya masih sama persis seperti dirinya yang sekarang. Dewasa dan berkelas.
Eru selesai melihat semua foto dan dengan lambat menatap sosok Yuki yang seolah sudah menunggunya.