"Eru, seharusnya kau sudah mati." Mendengar kalimat itu, Eru merasa seolah tulang dalam tubuhnya bergemelutuk. Ia nyaris kehilangan kesadarannya saat itu, tanpa sadar ia telah memeluk diri sendiri dan air matanya mulai berjatuhan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua ini terjadi? Demi Tuhan, semua ini tidak nyata kan? Dengan berat Yuki melanjutkan. "Tetapi, Erwin memberikan kehidupan milik orang lain kepadamu." Dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat, Eru menoleh lagi menatap sosok di hadapannya ini. Ia sangat ingin mengatakan agar Yuki diam. Ia sangat ingin mengatakan agar Yuki mengaku bahwa semua ini hanya kebohongan. Bahkan jika perlu, ia akan memohon. Tapi tidak bisa... ia tidak bisa melakukan apa pun. Dan hal yang baru saja Yuki katakan, adalah ingatan yang persis yang baru saja di

