6. Beberapa kemungkinan

1791 Kata
"Iya Ndra, kenapa kamu terkaget seperti ini Ndra? bulu kuduk Ibu jadi berdiri nih," ucap Bu Sari yang heran melihat reaksi Andra. "Kalau ini 25 Juni 2006, berarti kejadian saat Andra pingsan di rumah Misya dan di bawa ke Rumah Sakit Puri Medika, sudah tiga minggu yang lalu Bu?" tanya Andra kemudian masih dengan reaksi anehnya. "Iya to Ndra, waktu itu kalo nggak salah hari ospek pertamamu di kampus kan? Ibu ingat waktu itu hari jumat. Sebenarnya kamu ini kenapa Ndra?" jawab Bu Sari mencoba mengingatkan kembali. "Andra tidak apa apa Bu," Andra mulai memahami sedikit demi sedikit, tapi dia tidak ingin membuat Ibunya khawatir, jadi mencoba terlihat baik baik saja di depan Ibunya. "Besuk kalau kamu masih merasakan sakit atau pusing, kita ke Rumah Sakit lagi saja ya Ndra, sekarang Ibu mau ke dapur dulu, buat nasi tumpeng dan nasi berkat untuk di bagi bagiin tetangga." ucap Bu Sari yang kemudian meninggalkan Andra yang masih duduk di teras rumah. Sampai saat ini, Andra masih tidak mengerti bagaimana dia bisa beralih ke waktu yang berbeda dengan cepat dan tanpa di sadari. Bagaimana bisa baru kemaren Andra kembali ke tanggal 2 Juni 2006, sekarang sudah berpindah ke tiga minggu setelahnya yaitu tanggal 25 Juni 2006. Tepat pada hari kelahirannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" desisnya pelan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Akhirnya, Andra menuju ke kamarnya dan menyalakan komputer di kamarnya. Dia mencoba mencari informasi di internet tentang reinkarnasi kehidupan. Apakah Reinkarnasi itu benar benar ada? dan apa yang di alaminya sekarang apakah termasuk Reinkarnasi? Bagaimana dia bisa merubah kehidupannya jika hari harinya berpindah sengan tidak teratur seperti ini? Andra benar benar merasa frustasi memikirkan kehidupannya. "Kamu lagi apa Ndra?" tanya Bu Sari yang melihat Andra dari tadi pagi di depan komputernya. " Andra baru cari artikel Bu, Kenapa Bu?" sahut Andra kemudian keluar dari kamarnya mendekati ibunya. "Pagi pagi cari artikel apa kamu? Mbok ya mandi dulu biar ganteng, terus makan, kemudian antarkan ini ke calon mantu Ibu," celoteh Bu Sari yang kemudian di sambung dengan sebuah tawa kecil penuh rahasia. "Calon mantu Ibu siapa? Andra ini baru aja masuk kuliah Bu, memangnya Ibu mau Andra nikah cepet?" sahut Andra yang heran dengan kata kata Ibunya itu. "Namanya juga harapan Ndra, siapa tau setelah di ucapkan jadi doa dan terwujud," sahut Bu Sari kemudian. Andra seperti berfikir mendengar kata kata Ibunya itu. "Jika aku berfikir positif, berdoa yang baik baik, apa mungkin kehidupanku nanti juga bisa berubah menjadi baik?" gumam Andra di dalam hatinya. "Lho... lha kog malah ndomblong anak Ibu satu ini, cepet sana mandi!" suruh Bu Sari kemudian sambil mendorong Andra pelan. "Iya Bu, ni Andra mau mandi. Andra matiin komputernya dulu," ucap Andra kemudian bergegas mematikan komputer lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Andra kemudian kembali ke kamarnya dan memakai baju berwarna kuning yang pas di tubuhnya. Dia juga segera menghabiskan sepiring tumpeng yang sudah di siapkan Ibunya untuknya di meja makan. "Enak nggak Ndra," ucap Bu Sari menghampiri Ibunya yang sudah selesai makan sambil memberikan segelas air. "Enaklah Bu, masakan Ibu adalah masakan terenak buat Andra," sahut Andra kemudian meminum air yang di bawa Bu Sari sambil tersenyum hangat. "Duh gantengnya anak Ibu, sudah wangi lagi. Gus Andra Anakku..." sambil mengusap rambut Andra di depannya. "Kog Gus Andra Bu? Andra Dewantara to bu? apa Ibu mau selametan nama baru Andra?" sahut Andra membenarkan kemudian hendak berdiri membereskan piringnya. "Iya Andra Dewantara anakku. Sudah to Ndra, sini duduk dulu. Piringnya biar Ibu yang beresi nanti. Ibu mau ngomong sebentar sama kamu," ajak Bu Sari sambil bergeser duduk di sebelah Andra. "Iya Bu," Andra pun mengikuti pergerakan Ibunya. "Usiamu sekarang sudah delapan belas tahun Ndra, kamu sudah dewasa. Ibu dan Bapakmu di sini tidak bisa memberi kado buat kamu, Ibu Bapak hanya bisa memberikan doa terbaik buat kamu ya Ndra. Semoga hidupmu jadi berkah, sukses dunia akhirat. Ibu berharap, kamu berhati hati dalam melangkah, jangan sampai terpengaruh kepada hal hal yang tidak baik. Selamat ulang tahun ya Ndra, Anakku," Bu Sari kemudian memeluk Andra sambil meneteskan air mata bahagia. Tangannya bergerak menepuk nepuk pelan bahu Andra yang terlihat kekar. "Terimakasih banyak ya Bu, Ibu Bapak adalah kado terbaik buat Andra. Ibu adalah Ibu yang terbaik buat Andra Bu. Andra akan berusaha membuat Ibu bahagia. Andra berjanji Bu, Andra tidak ingin membuat kesalahan yang sama," ucap Andra sambil membalas pelukan erat Ibunya. "Lho ini kenapa lagi to? kog malah pada pelukan begini," ucap Pak Ardi yang baru datang ke ruang tengah melihat sepasang Ibu dan Anak berpelukan. "Ini Pak, Ibu baru ngucapin ulang tahun ke Andra. Habis lihat anak Ibu sudah mandi, wangi, ganteng gini jadi pengen meluk Pak," jawab Bu Sari kemudian melepas pelukan ke Andra. "Kalau tadi pas belum mandi nggak mau peluk bu?" goda Pak Ardi kepada isti yang di sayanginya itu. "Ya kan beda Pak, enakan kalau sudah mandi to yo," sahut Bu Sari sambil memanyunkan bibirnya. "Maksudnya masih bau bu?" lanjut Pak Ardi sambil menahan ketawa kecil yang hampir keluar. "Hemmm pantesan tadi pagi pas Andra belum mandi nggak langsung di peluk," sahut Andra bersikap manja. "Bukannya gitu Ndra, lha tadi pagi Ibu juga kotor kan Ndra, baru pulang dari pasar. Kalau sekarang kan sama sama sudah bersih, jadi aman. Kalau masalah bau tidak masalah buat Ibu, mau bau, mau umbelen mau bagaimanapun, kamu tetep anak Ibu Ndra," sahut Bu Sari memberi kehangatan untuk Andra. "Terimakasih ya Ibuku Sayang," sambil memeluk Ibunya kembali. "Ya Sudah, sana anter bingkisan ini ke rumah Misya, mumpung masih hangat," ucap Bu Sari mengingatkan. "Baik Bu, kebetulan Andra ada perlu sama Misya," Andra kemudian mengambil bingkisan yang di maksud Ibu Sari. "Hati hati ya Ndra, pulangnya jangan malam malam," ucap Bu Sari sambil mengantar Andra ke depan. "Iya Bu, Pak, Andra berangkat dulu," Andra kemudian melajukan motor andalannya menuju rumah Misya. ** Misya sejak mulai kuliah tinggal di rumahnya sendiri. Orang tua dan kedua adiknya tinggal di surabaya karena menjalankan usaha keluarganya di sana. Dari kejauhan menuju rumah Misya, terlihat Misya sedang menyirami bunga bunga di depan rumahnya. Misya terlihat sangat senang menyambut kedatangan Andra. "Andra," sambil tersenyum mendekati Andra yang sedang memarkirkan motornya. "Mis, ini dari Ibu, mumpung masih anget katanya, semoga suka ya," Andra kemudian memberikan bingkisan nasi kepada Misya. "Terimakasih banyak ya Ndra. Sampein juga terimakasihku kepada Ibumu ya. Kamu duduk dulu, aku taro ini ke dalam dulu yach," Misya kemudian memasuki rumahnya. Tak lama kemudian, Misya keluar sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan buat Andra. Di sisi kanan tangannya tergantung tas yang sudah di bungkus sedemikian rupa sehingga tampak cantik. "Ini buatmu Ndra, Selamat Ulang Tahun ya Ndra, semoga panjang umur, sehat selalu, bahagia dunia akhirat pokoknya, dan apa yang kamu cita citakan kecapai Ndra," ucap Misya sambil tersenyum manis kepada Andra. "Terimakasih banyak Mis, terus apa ini? kenapa repot repot?" ucap Andra sambil mengamati bingkisan di depannya. "Enggak repot Ndra, semoga kamu suka ya Ndra," ucap Misya masih menatap Andra lekat. "Iya Mis, aku pasti suka, apapun itu," balas Andra kemudian menerima bingkisan itu. "Nggak kamu coba dulu Ndra?" "Boleh Mis?" "Ya boleh dong, itu kan jadi milik kamu sekarang," "Yaudah aku buka ya Mis," tangan tangan Andra kemudian membuka tas yang di bungkus indah itu dengan terampil. Misya masih dengan senyumannya menunggu reaksi Andra setelah melihat kado untuknya. "Wah, jaket Mis? Terimakasih banyak ya Mis, aku suka, pas lagi," ucap Andra kemudian merapikan jaket itu kembali ke tempatnya. "Alhamdulillah Ndra kalau kamu suka," ucap Misya puas karena Andra menyukai barang pemberian darinya. "Mis, aku ingin bertanya," ucap Andra berubah serius. "Iya Ndra, tanya aja, jangan buat aku deg deggan," ucap Misya yang tidak tau arah pembicaraan Andra akan kemana. "Apa kamu masih menyimpan buku itu?" ucap Andra kemudian memandang Misya. "Buku? maksud kamu buku hijau?" tanya Misya ragu. "Iya Mis, apa kamu masih menyimpannya untukku?" tanya Andra mengulangi. "Iya Ndra, bukunya masih ada. Aku kira kamu sudah melupakannya Ndra. Sudah sejak kamu pingsan waktu itu, kamu tidak pernah menanyakannya kembali. Kenapa sekarang tiba tiba kamu menanyakan itu Ndra?" tanya Misya tak mengerti. Sejak Andra pingsan dan di bawa ke Rumah Sakit Puri Medika waktu itu, Andra belum pernah lagi menanyakan soal buku itu. Tapi sekarang kenapa tiba tiba dia datang menanyakan buku itu kembali? "Ini juga yang ingin aku katakan kepadamu Mis, bisa kamu menuliskannya kembali?" ucap Andra melanjutkan. "Iya Ndra, sebentar ya, aku ambilkan dulu," ucap Misya kemudian masuk kedalam rumah. Tak lama kemudian Misya kembali membawa buku catatan hijau yang Andra maksud. "Ini Ndra bukunya, sebenarnya ada apa Ndra?" tanya Misya mulai khawatir. "Sejak kerjadian waktu itu di Rumah Sakit Puri Medika waktu itu, saat melewati malam dan tertidur. Paginya aku terbangun dan sudah mendapati hari ini Mis," ucap Andra sambil menatap ke depan seolah meminta agar Misya mempercayai ucapannya. "Maksud kamu Ndra? aku benar benar tidak mengerti," ucap Misya dengan wajah bingungnya. "Aku kali ini kembali melewati waktu Mis, saat aku terbangun tadi pagi, tiba tiba aku lihat motor aku sudah di rumah, dan ini hari ulang tahunku. Padahal menurut aku, kejadian di Rumah Sakit itu baru kemaren Mis. Aku sendiri mulai stress Mis, jika memikirkannya," ucap Andra sambil memegang kepalanya. "Jadi kamu tadi merasa tiba tiba terlempar ke waktu sekarang saat bangun tadi Ndra? seperti waktu itu?" Misya mencoba memberikan tanggapan sesuai apa yang Andra inginkan, karena Misya sangat hapal dengan sifat Andra. "Iya Mis," sahut Andra singkat. "Kejadiannya saat kamu bangun tidur ya Ndra?" sahut Misya kemudian sambil menuliskannya di Buku yang mereka sebut Buku Reinkarnasi Hijau. "Iya Mis, apa kamu percaya padaku Mis?" Andra kemudian menatap wajah Misya di depannya dengan penuh tanya. "Aku percaya Ndra. jadi ini terjadi untuk kedua kalinya kan Ndra? bagaimana kalau kita lihat untuk ke tiga kalinya besok? apa kejadian ini akan terulang kembali? dari situ nanti akan kita ambil kesimpulannya. Atau..." ucap Misya tak meneruskan kata katanya. "Atau apa Mis?" Andra penasaran dengan pola pemikiran Misya. "Menurutku ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi. Satu, kamu merasa berpindah mengalami perjalanan waktu saat kamu tidur malam hari. Kedua, kamu belum mencoba untuk tidur siang hari bukan? apakah akan membawamu untuk berpindah waktu juga? dan yang ketiga, tapi itu akan sulit Ndra," ucap Misya kembali ragu. "Apa itu Mis? nggak apa apa, katakan saja," ucap Andra dengan semangat. "Jika perpindahan waktu itu terjadi malam hari saat kamu tidur, bagaimana jika kamu tidak tidur malam hari?" ucap Misya sambil memandang ke arah Andra. "Maksud kamu begadang Mis?" sahut Andra meyakinkan jawabnya. "Iya, tapi itu bisa di lakukan setelah kemungkinan ke duanya di coba. Nanti atau kapan kamu mau, bisa di coba dengan tidur siang terlebih dahulu Ndra, kita bisa liat apa kamu akan terbangun dengan di waktu yang sama, atau kamu beraih ke waktu yang berbeda!" ucap Misya kembali dengan yakin. "Baik Mis, aku ingin mencobanya sekarang!" ucap Andra dengan semangat. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN