7. Wanita paruh baya

1427 Kata
"Apa kamu ingin tidur siang di sini Ndra? atau kamu mau langsung pulang pulang untuk tidur?" tanya Misya menunggu jawaban dari Andra. "Kalau tidur siang di sini apa boleh Mis? Aku benar benar penasaran setelah mendengar perkataanmu tadi! Aku ingin membuktikannya Mis," sahut Andra kemudian dengan muka berharap. "Hemmmm gimana ya Ndra. Okey, kita coba satu jam ya, tapi apa bisa kamu langsung tertidur Ndra sekarang?" ucap Misya ragu. Karena Andra sekarang terlihat fress dan bugar. "Kalau tidak di coba kita nggak akan tau kan Mis," sahut Andra cepat. "Iya Ndra, di depan TV saja yach, aku siapkan dulu tempatnya," ucap Misya kemudian menyiapkan tempat untuk Andra tidur. "Tapi..." Misya berbicara dengan ragu. "Tapi apa Mis?" Andra kemudian menatap Misya yang masih terdiam. "Apa kamu sudah mengantuk? yakin beneran bisa tertidur sekarang?" tanya Misya menyelidik. "Heee, sebenarnya aku juga ragu Mis. Belum ngantuk juga Mis, masih seger nih. Tadi kata Ibu tidurku pules banget," ucap Andra sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya juga ya, pasti ya nggak bisa tidur kalau bening gitu matanya. Masak iya harus pakai obat biar kamu tertidur," Misya mencoba bercanda kepada Andra. "Mis..." "Apa Ndra?" Beralih menatap Andra yang mukanya baru terlihat serius. "Sepertinya,saranmu itu perlu di coba. Bagaimana kalau aku konsul ke dokter yang merawatku kemaren? siapa tau dia mau ngasih aku obat biar bisa tertidur?" Andra seperti mendapat pencerahan. "Ndra, aku tadi cuma bercanda. Jangan anggap serius lah. Lagian efeknya pasti nggak baik kalau kamu beneran pake obat tidur," Misya mencoba memberikan sarannya. "Asal sesuai petunjuk dokter harusnya nggak apa apa kan Mis? gimana? kamu mau nemenin aku nggak ke Rumah Sakit depan?" tanya Andra kepada Misya. "Bagaimana kalau kita coba keluar dulu Ndra? siapa tau kalau kamu capek terus ngantuk kan?" sanggah Misya lagi. "Yaudah, ayo kita keluar." Andra kemudian bersiap berdiri. "Hayukss..." sahut Misya dengan semangat. "Oiya hampis saja lupa Mis. Mending nasi dari Ibu kamu makan dulu saja, di rumah nggak ada orang kan? kalau nanti makannya takutnya basi," Andra mengingat nasi yang Ibunya titipkan tadi. Tadi Ibunya berpesan dia harus menyerahkan kepada Misya untuk makan, tidak boleh di buang. "Tapi tadi aku udah makan Ndra, aku bawa saja yach, nanti kita makan aja bareng bareng, gimana?" Misya mencoba memberi saran. "Boleh, ayuk," Andra kemudian bergegas berjalan ke arah motornya. "Iya, aku ambil nasi, tas dan jaket dulu yach," ucap Misya kemudian. "Aku malah nggak bawa jaket Mis, tadi niatnya kesini saja soalnya," ucap Andra sambil memperhatikan langit yang cerah. "Yang didalam tas tadi bisa kamu pakai kan Ndra? kenapa kamu nggak mau makai?," sahut Misya dari dalam. Andra pun kemudian beralih memperhatikan bingkisan yang di berikan Misya tadi dan membukanya kembali. Dia segara mengambil Jaket pemberian Misya dan memakainya di tubuh bidangnya. "Ini beneran buatku kan Mis?" tanya Andra begitu melihat Misya keluar. Sambil memperhatikan dia dan jaketnya di depan kaca jendela. "Kalau bukan untukmu, terus buat siapa? masak buat abang tukang bakso ujung jalan sana," goda Misya kepada Andra sambil keluar dari rumahnya.. "Makasih ya Mis, kamu malah repot repot," ucap Andra sambil memperhatikan jaket yang dia pakai.. "Gimana? suka kan Ndra?" tanya Misya setelah Andra yang memakai jaket itu. "Iya Mis, suka kog, enak di badan," jawab Andra memberi kepuasan kepada Misya. "Syukurlah, yuks sekarang, nanti keburu siang..." setelah mengunci rumahnya, Misya beralih mendekati Andra yang sudah siap di atas motornya. Misya segera memposisikan dirinya duduk di kursi belakang Andra. Mereka pun, akhirnya menyusuri jalanan membelah kota. Suasa jalan pada saat itu tergolong ramai dipusat kota. DI lengkapi dengan terik matahari yang lumayan menyengat siang itu. "Jalanannya ramai banget ya Ndra," ucap Misya memberikan komentarnya. "Iya nih, macet dan panas juga," sahut Andra yang masih mengemudikan motornya. "Bagaimana kalau kita ke taman atau pantai aja Ndra? paling nggak, kita bisa merefreskan pikiran kita," ucap Misya mencoba memberi masukan. "Okey, aku setuju. Kepantai saja yah kita," ucap Andra kemudian dengan semangat melajukan motornya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke pantai terdekat. Jalan menuju pantai pun lumayan ramai mengingat hari itu adalah hari minggu. Andra pun kemudian memilih parkiran motor yang berada di dekat masjid. Setelahnya Andra turun dan duduk di serambi masjid. "Bentar lagi dzuhur Mis, kita tunggu dulu yach," ucap Andra sambil duduk mengawasi orang yang lalu lalang di depannya. "Okey Ndra, haus nggak kamu? aku pesenin kelapa muda dulu mau?" tawar Misya yang melihat di seberang jalan ada yang jual kelapa muda. "Nanti aja Mis, kita sama sama kesana aja sekalian makan yach," sahut Andra kemudian. "Okey dech," Misya menyetujui sambil menganggukkan kepalanya, Dan tak selang lama, suara merdu adzan solat dzuhur pun berkumandang. Andra dan Misya segera mengambil air wudhu dan memposisikan diri mereka di shaf jamaah dan melaksanaan sholat berjamaah. Setelah selese, mereka berdua berjalan mendekati pantai. "Sini saja rindang dan sejuk Ndra," ucap Misya yang melihat tempat duduk yang lumayan nyaman. "Iya Mis," Andra menyetujui tempat pilihan Misya dan mengikuti duduk disebelah Misya. "Duch Ndra," Misya tampak kebingungan mencari sesuatu di dalam tasnya. 'Kenapa Mis?" tanya Andra yang penasaran melihat Misya tampak cemas. "Sepertinya jam tanganku ketinggalan dech di tempat wudhu tadi, aku ambil dulu yah," ucap Misya kemudian berdiri hendak melangkah meninggalkan Andra. "Aku antar ya Mis," Andra mencoba memberikan bantuan. "Oh, tidak usah Ndra, nanti tempat ini ditempati orang lain kalau kita semua kesana. Aku cek sebentar yach, sambil pesen kelapa muda biar di antar kesini," lanjut Misya kemudian berjalan menuju masjid tadi setelah sebelumnya memesan kelapa muda tidak jauh dari tempat Andra duduk. Andra pun duduk sambil memandang ke arah pantai yang luas dan indah itu. Tiba tiba pandangan matanya tertuju ke arah wanita paruh baya yang sedang berjalan kebingungan. Gerakan Ibu itu tak beraturan tak terasa langkahnya mendekati sisi pantai. Andra pun terus memperhatikan Ibu Ibu itu. "Kenapa Ibu itu? pakaian yang di kenakan bagus, tidak mungkin dia orang gila kan?" gumam Andra di dalam hatinya. "Ini Mas kelapa mudanya," ucap penjual kelapa muda saat mengantar kelapa mudanya di dekat Andra. "Bu, saya nitip ini sebentar ya, saya khawatir dengan Ibu Ibu di dekat pantai itu," ucap Andra meminta ijin kepada pnjual kelapa muda. "Iya Mas," balas penjual itu dengan senyum kemudian pandangan beralih ke pantai.. Andra pun kemudian berjalan mendekati bibir pantai yang saat siang hari ini ombak lumayan kencang. Dan benar saja, saat Andra hampir sampai ke tempat Ibu tadi tadi, Ibu tadi hampir terjatuh di air. Untung saja, Andra segera menahannya sehingga Ibu itu tidak jadi terjatuh. "Ibu tidak apa apa?" tanya Andra kepada Ibu paruh baya itu dengan cemas. "Ibu tidak apa apa mas, Ibu hanya sedikit pusing." ucap Ibu tua itu dengan suara lemah sambil memegang keningnya. "Kalau begitu ikut saya duduk dulu di sana Bu," Andra mencoba memberikan tawarannya. Dan wanita itupun mengangguk pelan. Dia berjalan di bantu Andra menuju tempat Andra duduk tadi. "Silahkan duduk bu, sini tidak apa apa," ucap Andra kemudian. Ibu itupun kemudian duduk di tempat yang Andra tunjuk. tapi masih dengan meundukkan kepalanya. "Sebentar ya bu, saya pesankan air minum dulu," Andra kemudian bergegas ke penjual minum tadi dan meminta teh hangat satu dan membawanya ke tempat wanita paruh baya itu duduk. "Ini bu, minum dulu. Apa ibu sudah makan? Ibu sama siapa di sini?" Andra kemudian mencoba bertanya dengan hati hati. Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa memandang ke arah Andra. "Ini di minuim dulu bu," Andra kemudian menyodorkan teh hangat itu kepada wanita itu. Di sambut tangan wanita paruh baya itu kemudian mengambil alih gelasnya dan meminumnya. "Ibu mau makan apa? biar saya pesankan," ucap Andra mencoba bersabar. Dalam pikiran Andra, mungkin ibu itu lapar sehingga tidak mau menanggapi pertanyaan Andra. Wanita paruh baya itupun kemudian mencoba melihat ke arah Andra. Kemudian pandangannya beralih ke arah tempat nasi yang tutupnya bening itu sehingga menampakkan hidangan di dalamnya. "Ibu mau makan ini?" tanya Andra kemudian yang mengetahui tatapan ibu itu ke arah tempat makan yang berada di sebelah Andra. Dan benar, wanita paruh baya itu pun mengangguk pelan. Andra kemudian mengambilkan nasi dan lauk yang ada di dalam tempat makan itu, kemudian memberikannya kepada wanita itu. Saat, wanita paruh baya itu menerima piring yang di berikan oleh Andra, dia menatap Andra dan tersenyum. Kemudian, dia segera melahap makanan tersebut dengan cepat. Andra yang melihat ke arah wanita itu tersenyumpun, sedikit terkaget. Wanita paruh baya itu benar benar tidak asing. Tapi seolah Andra lupa di mana dia tahu wanita paruh baya itu. "Ibu itu.... dia? dia siapa? sepertinya aku mengenalnya. Tapi dimana?" guman Andra bermonolog kepada dirinya. "Bu! kenapa kepantai tidak bilang?" terdengar suara bariton seorang wanita yang mendekati Andra dan wanita paruh baya itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN