8. Saya bukan Wulan!

1913 Kata
Wanita itupun menatap ke arah Andra dengan tatapan tajam. Wajahnya terlihat tidak suka dengan keberadaan Andra di dekat wanita paruh baya yang barusan di tolongnya itu. Andra yang dalam keadaan kaget dengan suara wanita yang datang secara tiba tiba itupun kemudian menatap balik ke arah wanita itu. "Kamu?" ucap Andra ragu sambil menyapukan tatapannya ke arah sesosok wanita yang berdiri di hadapannya. "Kamu siapa? kenapa Ibuku bisa bersama kamu?" ucap wanita itu dengan tatapan mencurigai. "Maaf, dia ibu kamu? tadi saya melihat Ibu itu kebingungan dan hampir terjatuh di pantai. Jadi saya menolongnya dan mengajaknya kesini." ucap Andra mencoba menjelaskan. "Memangkan kamu anggap kamu pahlawan?" Wanita muda itupun masih menatap Andra dengan tatapan curiga dan memandang Andra dari atas sampai bawah. "Saya hanya ini membantu saja, tidak berniat jadi pahlawan. Kalau Mbak tidak percaya, Mbak bisa tanya Ibu penjual minuman itu," Andra mencoba menambahkan saksi yang bisa membantunya karena melihat wanita itu tidak percaya padanya. Tatapannya terlihat sangat meremehkan Andra. "Maaf, kalau tidak salah, sepertinya saya juga pernah menjadi pasien Dokter kan waktu saya pingsan di Rumah Sakit Puri Medika? apa Dokter tidak ingat? " lanjut Andra mencoba mengingatkan dan hendak menjelaskan kalau dia tidak mempunyai niat buruk. "Dokter? Oww maksud kamu Dokter Wulan?" sanggah wanita muda itu dengan tatapan dingin. "Maaf, waktu itu saya tidak tahu nama Dokter, jadi..." "Saya bukan Dokter Wulan! jangan bahas dia lagi!" sahut wanita itu memotong perkataan Andra dengan suara yang cukup keras. "Maksud Mbak? pantes saya tadi seperti mengenal Ibu ini, waktu itu saya melihat Ibu ini di lobby Rumah Sakit saat bersama dokter kan?" Andra mencoba menjelaskan kembali apa yang dia lihat sebelumnya "Saya bukan Wulan! saya Bintang! Ayo bu, cepat pergi dari sini. Kenapa Ibu masih menemui Wulan? Bintang nggak suka!" kemudian wanita yang mengaku bernama Bintang itu menarik tangan Ibu itu dan membawanya pergi. Sebelum benar benar jauh dari Andra, wanita tua itu menoleh ke arah Andra dengan senyuman hangat yang menentramkan. "Sebenarnya gimana sih? kenapa aku bingung? jelas jelas dia dokter itu. Apa mereka kembar?" gumam Andra sambil berdiri menatap mereka pergi. ** "Mbak, Mbak sedang mencari apa?" tanya seorang penjaga bersih bersih masjid mendekati Misya yang seperti sedang kebingungan mencari sesuatu. "Oh, ini Pak, tadi saat sholat di sini, sepertinya jam tangan saya tertinggal, apa Bapak melihatnya?" tanya Misya dengan sopan. "Jam tangan? jangan jangan yang mbak mbak temukan tadi. Sebentar Mbak, tadi itu saya di kasih nomor telepon Mbak Mbak, katanya jika ada seseorang kehilangan barangnya bisa telepon ke nomor di kertas itu. Nah, ini Mbak kertasnya, coba saja hubungi. Semoga orangnya masih di sekitar sini. Tadinya mau di tinggal di sini, tapi karena takut banyak yang mengaku, jadi nanti yang merasa kehilangan di suruh hubungi nomor itu Mbak. Saya sendiri nggak tahu apa benda tersebut. Rahasia kata Mbaknya," Bapak itu menjelaskan secara detail tentang apa yang dia ketahui tadi. "Makasih ya Pak, biar saya coba telepon," ucap Misya kemudian mengeluarkan ponselnya. Mungkin bagi sebagian orang, bisa menganggap kalau jam itu adalah jam yang tidak berarti. Tapi bagi Misya, jam itu membawa banyak kenangan tentang Andra untuknya. Dan jam tangan itu adalah pemberian dari Andra saat Misya ulang tahun ke tujuh belas. Itu adalah hadiah yang dianggap Misya spesial dari Andra. Setelah terdengar bunyi nada tunggu dua kali, telepon itupun diangkat oleh seorang wanita. "Hallo Assalamu'alaikum," Misya mengawali percakapannya. "Wa'alaikum salam, ini siapa?" tanya wanita di seberang telepon. "Saya dengan Misya Mbak, apa benar Mbak tadi saat di masjid pantai menemukan sebuah jam tangan?" tanya Misya kepada intinya. "Kamu tahu dari mana?" tanya wanita itu lagi. "Tadi saat saya mencarinya, ada seorang bapak bapak memberikan nomor telepon ini Mbak," Misya mencoba menerangkan. "Oww gitu, kalau boleh tau model jamnya gimana? dan merek apa ya?" selidik wanita itu lagi. "Jam Alexander Christie warna gold hitam, bentuk bulat Mbak," Misya menerangkan spesifikasi jam nya yang hilang secara terperinci. "Oh, iya Mbak, tapi ini saya sekarang sudah di dekat pintu keluar pantai Mbak. Apa Mbak bisa kesini? soalnya pacar saya keburu bur. Saya di dalam Mobil Jazz merah ya Mbak" ucap wanita itu lagi. "Baik Mbak, saya segera kesana Mbak," Misya akhirnya mematikan teleponnya dan bergegas menuju pintu keluar gerbang parkiran pantai. Tepat di dekat pintu keluar gerbang parkiran pantai, ada mobil honda Jazz berwarna merah yang berhenti. Misyapun kemudian menghampiri mobil honda jazz berwarna merah sesuai instruksi wanita itu tadi. Setelah dekat, Misya mengetuk kaca jendela pelan. Saat kaca jendela mobil dibuka, tampak seorang pria yang sedang duduk di kursi pengemudi menggunakan kacamata hitam menatap ke arahnya. "Oh Mbak Misya yach, sebelah sini Mbak," wanita itu kemudian turun dari pintu sebelah kiri yang kemudian dihampiri oleh Misya. "Iya saya Misya Mbak," Misya berusaha seramah mungkin. "Kalau saya Naya Mbak, ini benar jam tangan Mbak Misya?" tanya Naya meyakinkan kembali. "Iya Mbak benar, ini jam tangan saya." Misya terlihat senang bisa menemukan jam tangan itu kembali. Dan Misya pun segera memakai jam itu di pergelangan tangannya. "Sepertinya jam tangan itu sangat penting ya buat Mbak Misya," tanya Naya kemudian setelah menatap Misya seperti orang yang baru saja dapat undian. "Iya Mbak, jam tangan ini sangat penting buat saya. Penyemangat saya," ucap Misya dengan pipi yang memerah. "Oww gitu ya Mbak, Pasti dari pacarnya yach, pantesan. Kalau begitu saya pamit dulu ya Mbak. Untung bisa ketemu Mbak Misya sebelum jauh dari sini. Tadi pacar saya keburu ngajak balik soalnya harus segera pergi keluar kota," ucap Naya kemudian sambil tersenyum dan hendak masuk ke dalam mobil kembali. "Iya Mbak, tidak apa apa kog, yang penting jam tangan saya bisa ketemu kembali. Terimakasih banyak ya Mbak Naya. Semoga kebaikan Mbak Naya menjadi ladang pahala buat Mbak Naya serta di beri balasan yang lebih baik." ucap Misya dengan tulus. "Sama sama Mbak Misya, terimakasih banyak doanya yach," sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil kepada Misya di hiasi dengan senyuman cantiknya. Akhirnya Misya bergegas kembali ketempatnya tadi bersama Andra. Dari kejauhan Misya melihat Andra sedang berdiri seperti memikirkan sesuatu. "Hey Ndra, kenapa kamu bengong. Sudah datang kan kelapa mudanya. Ayuk kita makan," ucap Misya kemudian duduk di tempatnya semula. "Lhoh Ndra, kamu laper? kamu sudah makan duluan ya?" lanjut Misya sambil tersenyum menatap ke arah Andra setelah melihat kotak nasi di depannya terbuka dan sudah berkurang setengahnya. "Mis, maaf," ucap Andra sambil menatap Misya. "Maaf kenapa Ndra? Nggak apa apa kog," ucap Misya kepada Andra sambil tersenyum kecil. "Bukan itu Mis," Andra benar benar merasa tidak enak kepada Misya. "Terus apa Ndra?" tanya Misya merasa heran. "Tadi, saat kamu pergi, aku melihat ibu ibu yang hampir terjatuh di pinggiran laut. Dan aku kemudian mengajaknya ke sini. Saat aku tanya dia diam saja. Aku tawarin makan, dia memilih nasi di dalam kotak ini Mis," ucap Andra merasa bersalah kepada Misya. "Ow gitu.. yasudah Ndra, nggak papa kog. Ini juga masih kog." Misya mencoba memahami dengan apa yang di ucapkan Andra. "Kamu nggak marah Mis?" ucap Andra mencoba meyakinkan perasaan Misya. "Enggak kog Ndra, ngapain juga marah gara gara makanan." ucap Misya sambil mencoba tersenyum. "Sebagai gantinya aku tlaktir kamu makan ikan bakar yach, kamu suka kan ikan bakar? Bu minta ikan bakar dua sama udang goreng tepung ya," ucap Andra kepada penjual warung itu. "Baik Mas," sahut Ibu itu dengan cepat dengan binar di wajahnya. "Mis, kamu masih ingat nggak, dengan dokter yang merawatku saat aku pingsan di rumahmu?" tanya Andra dengan wajah serius sambil menatap muka Misya. "Hemmmm lupa lupa ingat sih Ndra, memangnya kenapa? kog tiba tiba kamu tanya itu Ndra," tanya Misya kemudian balas menatap ke arah Andra. "Tadi ada seorang wanita muda yang mirip sekali dengan dokter itu Mis, wanita itu yang menjemput ibu yang aku selamatkan ini tadi. Saat aku menanyakan kalau dia dokter yang sudah merawatku waktu itu, Eee dia malah sepertinya tidak suka. Dia malah bilang, Ooo Dokter Wulan, namaku Bintang, bukan Wulan, gitu Mis," ucap Andra menceritakan kejadian yang di alaminya tadi. "Ya mungkin kamu yang salah lihat paling Ndra. Atau mirip saja paling. Lagian kan kejadiannya udah hampir satu bulan yang lalu," ucap Misya mencoba menenangkan perasaan Andra. "Misya, kamu lupa? kata kataku tadi pagi. Hari ini bagiku, adalah sehari setelah kejadian itu Mis. Jadi hari itu bagiku, baru terjadi kemarin," ucap Andra dengan suara menekankan. Misya tak langsung menjawab. Dia hanya menatap lekat ke arah Andra, sambil mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mencoba memberi kenyamanan untuk Andra, karerna Misya tau, Andra sangat berharap banyak untuk sebuah kepercayaan darinya. "Kamu nggak percaya sama aku Mis?" tanya Andra kemudian. "Aku percaya kog Ndra ama kamu. Kamu nggak mungkin berbohong sama aku." ucap Misya sambil bergantian menepuk pundak Andra pelan. "Makasih Mis, kalau bukan dengan kamu, aku nggak tau lagi harus menceritakan semua hal yang aku alami ini dengan siapa. Mana ada yang akan percaya dengan perkataanku yang terlihat mustahil bagi semua orang. Tapi aku benar benar mengalaminya Mis," Andra memegang kedua tangan Misya karena kebawa perasaannya tentang apa yang terjadi pada dirinya. "Aku ngerti kog Ndra," sahut Misya mencoba memberi ketenangan untuk Andra. "Ini ya Mas, Mbak, makanannya," ucap Ibu penjual warung yang kemudian menyajikan pesanan Andra di depannya. Ibu itu terlihat salah tingkah, dia mengira mereka adalah separang sejoli yang sedang kasmaran. "Makasih Bu," sahut Misya dan Andra hampir bersamaan yang juga jadi salah tingah. "Makasih ya Ndra," ucap Misya lembut kepada Andra. "Iya Mis, lagian ini ulang tahunku, jadi wajar aku traktir kamu kan," jawab Andra sambil tersenyum untuk Misya. "Mis, sebenarnya aku masih penasaran dengan dokter yang merawatku waktu itu," ucap Andra sambil menikmati makanannya. "Memangnya kenapa Ndra?" Misya seolah tak mengerti. "Entahlah, sebenarnya... saat aku mau pulang dari rumah sakit, aku sudah pernah melihat ibu ibu tadi. Keduanya, aku melihat ibu tadi di pinggiran pantai itu. Dan anehnya, sejak aku melihat ibu ibu itu, aku seperti pernah bertemu dan mengenalnya. Ibu itu sangat familiar Mis buatku. Tapi aku sendiri tidak ingat dimana. Mungkin satu satunya cara aku bisa mengetahuinya dari dokter itu Mis. Melihat wanita yang mengaku bernama Bintang tadi, orangnya tidak bisa diajak bicara baik baik." ucap Andra menjelaskan. "Apa habis ini kita ke rumah sakit Ndra?" ucap Misya memberikan usulannya. "Boleh Mis, kamu bantu aku ya untuk mencari tahu juga," ada secercah harapan di pancaran mata Andra. "Iya Ndra, pasti aku bantu," sahut Misya dengan tersenyum. Walaupun suasana pantai tampak terik dan berawan putih siang itu, tapi Andra dan Misya seolah merasakan kesejukan dari tempat itu. Bagi Misya, sudah lama rasanya mereka tidak bisa meluangkan waktu untuk pergi bersama karena kesibukan masing masing. Tapi, setiap kali Andra butuh bantuan Misya, Misya selalu berusaha meluangkan waktu untuknya. Setelah puas menikmati menu olahan ikan bakar di pinggiran pantai, keduanya memutuskan untuk segera kembali. Mereka berjalan bersama seperti layaknya sepasang kekaksih, walaupun mereka tidak saling bergandengan. Rona merah di pipi Misya setiap kali bersama Andra jelas sekali terlihat kalau dia ada perasaan kepada Andra. "Oya Mis, jam tangan tangan kamu tadi jadinya ketemu kan?" tanya Andra yang teringat setelah melihat masjid di depannya. "Iya Ndra, ini ketemu," ucap Misya sambil tersenyum dan mengangkat tangannya menunjukkan jam tangan yang dia kenakan. "Syukurlah, untung nggak hilang. Beneran tertinggal di toilet tadi?" tanya Andra lagi. "Iya Ndra tertinggal, tapi tadi di temukan seseorang dan di bawa orang itu. Untung saja bapak penjaga masjid itu memberikan nomor telepon orang yang menemukan barang di masjid. Ya, akhirnya aku telepon," Misya mencoba menjelaskan. "Terus, ketemu orangnya?" tanya Andra penasaran. "Iyalah ketemu, orangnya nunggu aku di depan pintu gerbang keluar itu. Mbaknya cantik, seksi, Mbak Naya namanya," ucap Misya dengan santainya. "Apa? Naya?" tanya Andra yang terkaget setelah mendengar sebuah nama Naya di sebut. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN