"Iya Ndra, memangnya kenapa?" Misya bertanya dengan nada heran.
"Apa dia orang yang sama dengan Naya teman kuliah aku Mis? yang aku ceritain ke kamu waktu itu Mis?" tanya Andra kemudian sengan raut muak sungguh sungguh.
"Ya aku kan nggak tahu Ndra. Bagaimana muka Naya teman kamu di kampus itu saja aku kan nggak tahu. Lagian, nama Naya juga banyak kan Ndra? nggak hanya satu," sahut Misya menanggapi pertanyaan Andra dengan santai.
"Iya juga ya Mis," ucap Andra sambil mengangguk menerima penjelasan Misya.
"Lagian. Mbak Naya yang nemuin jam tangan aku tadi, dia sudah punya pacar Ndra. Ya yang nyetir mobil Jazz nya tadi." tambah Misya kemudian.
"Hemm gitu ya. Dia bilang ke kamu kalau itu pacarnya? orangnya ganteng?" tanya Andra masih tampak penasaran.
"Iya, tadi dia bilang kalau pacarnya keburu ngajak balik gitu. Hemmm ganteng nggak yah, tapi harusnnya ganteng kan cowok. Cool macho gitu dech orangnya. Aku nggak begitu memperhatikan Ndra," ucap Misya berusaha menutup penjelasannya.
"Yaudah ayuks kita pulang, nggak usah di bahas lagi." Andra mengerti kalau Misya merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.
"Heee kenapa Ndra kamu? jeles ya? lagian kamu aneh sih, nama Naya itu sangat banyak di muka bumi ini." Misya berusaha menghibur Andra yang tampak tak bersemangat.
"Iya Mis," jawab Andra singkat.
"Lebih baik kita sholat ashar dulu Ndra, biar tenang sampai rumah. Dan yang paling penting, biar muka kamu refres kembali, jangan ditekuk gitu, janti gantengnya nggak kelihatan," ucap Misya sambil tersenyum manis menggoda Andra.
"Ah kamu Mis, mulai dech,"
"Habisnya kamu gitu,"
Mereka pun kembali ceria melupakan masalah mereka masing masing. Mereka sholat berjamaah kemudian bersiap menaiki motor Andra.
"Udah siap kan Mis," sambil menunggu Misya membenarkan posisi boncengannya.
"Ya Ndra, sudah siap."
"Bismillah," ucap mereka bersamaan.
Mereka berdua pun kembali menaiki motor bersama menuju rumah Misya. Hari ini Misya merasa senang karena bisa melewati hari ulang tahun Andra berdua. Sedangkan di pikiran Andra, sebenarnya masih terbayang dengan ibu ibu tadi. Andra seperti tidak asing dengan Ibu itu.
**
"Pak, kog akhir akhir ini seperti ada yang aneh ya Pak dengan Andra," keluh Bu Sari kepada suaminya yang sedang membaca koran.
"Aneh bagaimana ta Bu?" Pak Ardi menanggapi dengan mata masih melihat ke arah koran.
"Ya aneh ta Pak, masak bangun tidur bisa lupa hari sama tanggal, bahkan lupa kejadian yang belum lama. contohnya, motor tadi tu lho Pak, masak iya Andra sampai lupa kalau dia sendiri yang sudah mengambil motornya di rumah Misya. Tanya obat juga, padahal periksanya sudah tiga minggu yang lalu. Eee hari sekarang hari ulang tahunnya saja lupa to Pak," gerutu Bu Sari melanjutkan dengan gayanya yang menggemaskan.
"Apa mungkin lagi ada masalah Bu, coba kamu deketin Bu. Di tanya apa ada yang mengganjal di hatinya," ucap Pak Ardi mencoba menasehati.
"Ya sudah aku coba deketin to Pak, tapi tiap kali di tanya kan bilang nggak kenapa kenapa to Pak. Tapi ya untung saja..."
"Lho Buk, ini itu ngomongin Andra to? kog jadi bawa bawa si untung? malu Bu masih siang bolong gini," ucap Pak Ardi dengan wajah malu malu menatap istrinya.
"Ah, bapak ki lho, baru aja di ajak ngomong serius malah bawa bawa si untung," sahut Bu Sari dengan nada menggemaskan.
"Lha ibuk duluan to tadi yang nyebut si untung saja, kalau dia denger terus bangun Ibu harus tanggung jawab lho," Goda Pak Ardi menatap istrinya itu.
"Ah Bapak itu, srius dulu to Pak. Ngomongin anak kita dulu hasil si untung. Eh kog malah kebawa lagi." ucap Bu Sari sambil menepuk keningnya.
"Sudah ta Bu, Andra itu, sekarang sudah besar, sudah delapan belas tahun to sekarang. Semoga saja dia baik baik saja. Wong yo sehat wal'afiat to. Pokoknya kita doakan yang terbaik buat anak kita Andra Bu," kali ini Pak Ardi mengeluarkan kata kata bijaknya.
"Iya Pak, biar Andra nggak lupa tanggal sama hari lagi, kita ke Swalayan Purnama yuks Pak," ajak Bu Sari kemudian.
"Ngapain Bu? nunggu awal bulan kalau mau belanja harian, bapak kan belum gajian Bu, ini tanggal tua. Di tahan dulu belanjanya. Tadi juga sudah habis banyak kan di pasar," ucap Pak Ardi mengingatkan.
"Sudah ayo to Pak, pakai uang tabungan Ibu, Ibu masih punya simpenan kog di luar uang rumah tangga. Ibu mau kasih kado Andra jam yang bertuliskan tanggal sama hari itu yang besar, kita pasang di atas televisi ini ya Pak, jadi tiap kali Andra bangun tidur ada tulisan hari sama tanggal yang bisa di lihat Andra," ucap Bu Sari sambil mempraktekkan seandainya jadi Andra.
"Mahal nggak Bu?" Pak Ardi tampak ragu. Karena biasanya dia melihat jam model seperti itu di masjid atau toko toko besar.
"Itung itung buat kado Andra Pak. Aku pernah lihat di sana tapi belum tahu harganya," ucap Bu Sari menambahkan.
"Yaudah ayo kita ke Swalayan Purnama Bu," Pak Ardi akhirnya luluh dengan rayuan istrinya itu.
Nuwun lho Pak," ucap Bu Sari senang menatap ke wajah suaminya itu.
**
Sampai di Rumah Misya, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saat turun dari motor, Andra seperti sedang memikirkan sesuatu. Misya yang melihatnya pun menegurnya.
"Kenapa Ndra? udah jam empat Ndra, kayaknya percobaan tidur siangnya gagal dech," ucap Misya sambil tersenyum.
"Iya ni Mis, nanggung juga." sahut Andra yang terbangun dari lamunannya.
"Terus, rencana kamu apa?" Misya menunggu jawaban dari Andra.
"Entahlah Mis, aku jalani dulu saja. Jika aku bangun di waktu yang berbeda lagi, aku pasti mencarimu. Tolong bantu aku simpan catatan di buku itu ya Mis," ucap Andra kemudian berbalik menatap Misya.
"Iya Ndra, pasti aku simpan baik baik buku itu. Ayo masuk dulu Ndra," Misya kemudian menggerakkan tanggannya untuk menawarkan Andra masuk dulu.
"Sepertinya aku pergi dulu Mis, ada sesuatu yang perlu aku kroscek. Kamu pasti capek, istirahat dulu saja yach," Andra sebenarnya ingin mengajak Misya ke Rumah Sakit, tapi Andra merasa tidak enak kepada Misya.
"Sebenarnya kamu mau kemana lagi Ndra?" Misya melihat Andra seperti gelisah memikirkan sesuatu.
"Aku harus ke Rumah Sakit dulu Mis, aku harus memastikan soal Ibu itu." ucap Andra berusaha jujur kepada Misya. Bagaimanapun, Misya adalah orang yang bisa Andra percaya tentang semuanya.
"Kalau ke Rumah Sakit Puri Medika aku antar saja Ndra, lagian cuma depan situ kan. Motormu taruh di sini saja. Ayuks kita jalan," ucap Misya bersemangat.
Misya beranjak berjalan keluar dengan langkah mantap. Andra pun mengikutinya dengan langkah cepat untuk menyusulnya, karena Misya sudah berjalan di depan terlebih dulu.
"Kamu nggak capek Mis?" ucap Andra menegur Misya.
"Jadi tadi kamu nggak mau ngajak aku karena takut aku capek? Enggaklah Ndra, aku tu malah seneng kalau bisa nemenin kamu, dan bantu memecahkan masalah kamu! Karena aku juga penasaran, bagaimana bisa ini semua terjadi sama kamu." sambil tersenyum memberi kenyamanan ke arah Andra.
"Iya Mis, aku juga belum percaya tentang semua ini. Walaupun aku sendiri yang menjalaninya. Tapi, kehidupan masa depanku aku masih ingat jelas Mis. Penyesalanku, hidupku yang berantakan. Sedangkan apa yang terjadi saat ini, aku sama sekali tidak ingat apa apa Mis, tapi jika aku bisa mengubahnya, aku akan sangat senang Mis," ucap Andra mencoba memberi tahu harapannya.
"Kamu yakin Ndra ingin mengubah masa depanmu?" ucap Misya mempertanyakan.
"Iya Mis, pertama aku ingin sukses dengan karierku tanpa trading dan investasi yang menyesatkan itu. Kedua, aku ingin membahagiakan orangtuaku Mis, terutama Ibuku sampai sisa hidupnya. Ketiga, aku ingin menikah dengan gadis pilihanku, tanpa harus ada suatu alasan untuk menikah," Andra pun menghentikan ucapannya sambil melirik ke arah Misya, dia tiba tiba teringat akan perasaan Misya padanya, sehingga merasa tidak enak.
Misa pun berjalan duluan sambil melirik ke arah Andra, "Gadis pilihanmu yang mana Ndra?" Misya berusaha menanggapi dengan tenang, walaupun sebenarnya perasaanya bergejolak tak menentu.
"Besok kamu juga akan tahu Mis, aku ingin mengubah nasib ku sendiri Mis. Dan soal nasib dan asmaramu di kehidupan nanti, sudah sangat bahagia, aku tidak mau itu semua ikut terpengaruh." Andra mencoba menjelaskan maksudnya.
"Iya Ndra, aku mengerti." Misya berusaha menerima keputusan Andra.
Sesampainya di lobby Rumah Sakit Puri Medika, Andra dan Misya berhenti di ruang informasi. Andra pun menghampiri penjaga di counter informasi itu diikuti Misya.
"Maaf Mas, apa ada dokter di sini bernama Dokter Wulan?" tanya Andra terlihat penasaran.
"Iya ada Mas, beliau dokter di IGD." jawab petugas informasi dengan ramah.
"Apa saat ini beliau ada Mas? saya ingin bertemu dengannya." ucap Andra kemudian.
"Oh sepertinya beliau masih mengambil cuti Mas, karena baru hari Rabu kemaren mengambil cuti menikah," terang petugas informasi itu kembali.
"Kalau boleh tau, dimana ya Mas rumahnya? atau nomor teleponnya," ucap Andra berusaha mencari informasi.
"Maaf Mas, untuk itu saya tidak bisa memberi tahu Mas," sahut petugas informasi itu kembali.
"Tapi Mas," Andra mencoba untuk bernego kepada petugas. Tapi tangan Misya memegang tangan Andra kemudian menggelengkan kepalanya.
"Maik Mas, kalau begitu terimakasih banyak atas informasinya, kami permisi dulu," ucap Misya kepada petugas informasi Rumah Sakit tersebut.
Akhirnya mereka meninggalkan Rumah Sakit itu kembali menuju rumah Misya. Sikap Andra yang dari tadi diam, membuat Misya tersenyum heran.
"Ndra kenapa diam gitu. Mereka kan bertugas sesuai tupoksi mereka. Untuk informasi pribadi tidak boleh sembarangan di beritahukan kepada orang lain Ndra. Apalagi kita bukan petugas Rumah Sakit Puri Medika, iya kan Ndra," Misya berusaha memberikan pengertian kepada Andra.
"Iya sih Mis," sahut Andra singkat.
"Sudah, kakaknya temenku kuliah ada yang bekerja di Rumah Sakit ini kog, besok aku coba cari tahu ya Ndra," ucap Misya kemudian sambil melirik ekspresi ke arah Andra melihat ekspresinya.
"Benar Mis?" Andra terlihat sangat senang.
"Iya Ndra, apa sih yang enggak buat kamu Ndra," Misya berusaha menggoda Andra kemudian tersenyum kecil.
"Halah kamu Mis, lebay,,," sahut Andra malu.
"Habisnya, kamu jadi nggak sabaran kaya anak kecil," ucap Misya sambil manyun ke arah Andra.
"Mungkin karena aku saking penasarannya Mis. Oya Mis, seingatku besok kamu juga akan kerja di Rumah Sakit ini lho," ucap Andra sambil melihat ke arah Misya mengamati reaksinya.
"Yang bener Ndra," ucap Misya merasa senang.
"Iya Mis, aku tahu kog, itu impian kamu kan? ingin kerja di Rumah Sakit ternama," ucap Andra menekankan.
"Hemmm kamu sok tau Ndra,"
"Ya memang aku tahu Mis. Yah, walaupun setelah melahirkan anak ke dua, kamu memilih mengundurkan diri dan membantu bisnis suamimu," ucap Andra kemudian.
"Bisnis apa Ndra?" tanya Misya penasaran.
"Rahasia dong. Yaudah aku pamit dulu ya Mis." Andra kemudian memposisikan dirinya di atas motornya.
"Kamu Ndra, seneng ya kalau liat orang penasaran," ucap Misya tidak puas.
"Hehe, dadaa Misya," sahut Andra dengan senyum manisnya.
Andra kemudian melajukan motornya dengan kencang. Hatinya yang tadi bimbang dan bingung sekarang lebih terasa lega ketika bisa menemukan tempat untuk berbagi. Paling tidak, dia bisa menemukan orang yang tepat untuk mencurahkan semua uneg unegnya. Sampai dia tau, apa yang sebenarnya di alami olehnya.
**