Sore itu, Bu Sari sedang menyapu halaman rumahnya. Saat Bu Sari melihat kepulangan Andra, dia menyambut kedatangan anaknya itu dengan senyum yang hangat. Dia senang, kali ini anaknya tidak pulang malam. Yang terlihat berbeda sekarang dari Andra, dia terlihat lebih menyayangi Ibunya dan juga lebih pendiam daripada biasanya.
"Assalamu'alaiku Bu," Andra mengucapkan salam dan mencium tangan Ibunya.
"Wa'alaikum salam Ndra, sana mandi dulu biar seger," ucap Bu Sari menanggapi.
"Iya Bu, Andra masuk dulu ya Bu," Andra kemudian berjalan masuk menuju rumahnya.
Andra kemudian bergegas masuk dan kemudian mandi. Setelah selesai, Andra duduk di kursi yang berada di teras rumahnya. Bu Sari yang melihat Andra duduk kemudian segera menyelesaikan aktifitasnya dan duduk di samping anaknya.
"Kenapa Ndra kamu kaya lagi mikirin sesuatu?" tanya Bu Sari kepada Andra sambil mendekatinya.
"Enggak kog Bu, ini lagi baca berita aja di handphone," sahut Andra yang masih melihat ke layar handphonennya.
"Canggih ya sekarang bisa baca berita di handphone, jaman ibu masih abg dulu nggak ada yang begituan," Bu Sari kemudian sambil membayangkan masa lalunya.
"Namanya juga perkembangan jaman Bu, lima belas tahun lagi handphone nggak usah ada tombolnya begini Bu," ucap Andra sambil menunjukkan handphone yang di bawanya.
"Lha terus kalau ngirim sms gimana? kalau nggak ada tombolnya harus telepon? nanti makin boros Ndra buat beli," Bu Sari menanggapi Andra dengan polosnya.
"Namanya handphone touchscreen alias layar sentuh bu, besok bakal lebih sering beli kuota daripada pulsa. Bahkan kita ngomong saja, handphonennya bisa nyari apa yang kita cari bu," ucap Andra mencoba memberi tahu Ibunya.
"Wah wah wah, kamu habis dari peramal Ndra?" ucap Bu Sari menatap Andra lekat.
"Lha kog bawa bawa peramal bu?" sahut Andra tak mengerti arah pembicaraan Ibunya.
"Lha itu, bisa ngramal masa depan. Kamu bilang tadi lima belas tahun lagi akan ada handphone toskin," ucap Bu Sari mencoba mengulang kata kata Andra.
"Touchscreen ibuku sayang. Coba saja besok kita sama sama lihat ya Bu, kata kata Andra bener atau tidak," Andra tersenyum sambil menatap langit yang berwarna jingga.
"Ya doakan saja, umur ibu panjang Ndra, jadi bisa lihat kamu tumbuh sampai lima belas tahun yang akan datang," sahut Bu Sari ikut memandang ke arah langit.
Tiba tiba mata Andra memerah, sambil menatap ke arah ibunya. "Bu, pasti akan Andra doakan Bu, aku sangat sayang Ibu," Andra kemudian memeluk tubuh ibu yang telah mengandungnya itu dengan hangat.
"Sudah ta, jangan nangis. Malu kamu sudah besar Ndra. Oya ngomong ngomong soal peramal, ibu jadi teringat sesuatu Ndra," Bu Andra kemudian melepaskan pelukan Andra.
"Gimana? Misya suka sama nasi yang ibu kasih tadikan?" Wajah Bu Sari menatap wajah Andra lekat.
"Sebenarnya suka Bu," jawab Andra merasa bersalah.
"Lha kog sebenarnya Ndra? suka apa tidak?" Bu Sari menanggapi dengan penasaran.
"Su-suka Bu," jawab Andra tergagap.
"Terus dimakan sampai habis kan Ndra?" tanya Bu Sari lagi seolah ingin mengetahui lebih jelasnya.
"Ibu ini kenapa sih? kog jadi tanya mendetail tentang apa yang ibu berikan ke Misya." Sahut Andra mulai menaruh curiga.
"Soalnya makanan itu sudah ibu kasih doa Ndra," Bu Sari akhirnya mencoba buka suara.
"Doa apa Bu? Ya Allah, ibu dari peramal?" ucap Andra sambil memegang kepalanya.
"Ngawur kamu Ndra, ibu masih berpedoman dengan agama ibu Ndra," bantah Bu Sari cepat.
"Terus tadi ibu bilang nasinya di kasih doa? doa apa bu?" tanya Andra yang kebingungan campur penasaran.
"Malam sabtu kemaren kan ibu pengajian. Lha di situ kan ada Pak Ustad Zainudin, yang isi ceramahnya tentang jodoh dan rejeki. Katanya, kalau kita kita kirim doa untuk seseorang secara ikhlas, nanti orang itu akan dekat dengan kita. Insya Allah akan ada hal hal baik yang menghubungkan antara kita dan orang yang kita kirim doa Ndra. Lha tadi itu, ibu kasih nasi tumpeng ulang tahunmu kepada Misya. Ibu berharap, kamu dan Misya berjodoh Ndra. Dia gadis yang baik lho Ndra, Sholeh, rajin dan sopan," Bu Sari memuji Misya dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Bu, Andra kan sudah bilang. Antara Andra dan Misya itu tidak ada hubungan apa apa. Kami murni sebagai teman Bu. Lagian jodoh Andra bukan Misya bu," Andra mencoba meyakinkan Ibunya soal jodohnya.
"Kamu ini ngawur Ndra, jodoh itu di tangan Allah, masak kamu bisa memutuskan dia bukan jodoh kamu begitu saja. Walaupun kamu itu ganteng, tapi seorang wanita itu pasti mendambakan seorang laki laki yang mau serius dan bertanggungjawab. Jadi pokoknya sekarang kamu harus fokus kuliah terus jadi pegawai paling tidak biar tidak hidup susah kaya ibu dan bapakmu ini," Bu Sari kali ini memberikan nasehat buat Andra.
"Iya Bu, Andra akan berusaha menjadi orang sukses sesuai keinginan ibu. Pokoknya bantu Andra dengan doa Ibu ya bu," ucap Andra dengan nada memohon kepada Ibunya.
"Iya Ndra, ibu selalu akan doain terbaik untuk kamu. Ibu ini juga selalu puasa senin sama kamis kalau bukan untuk kamu, untuk siapa lagi Ndra. Kamu itu kan anak ibu satu satunya," ucap Bu Sari sambil menepuk pelan bahu Andra.
"Terimakasih ibuku tersayang," Kepala Andra sekarang di sandarkan di bahu Ibunya.
"Gimana tadi, Misya makan semua kan pemberian ibu tadi?" Tanya Bu Sari mengulang pertanyaannya.
"Maaf Bu, enggak," Andra berusaha menjawab jujur pertanyaan Ibunya itu.
"Lhoh, lha kenapa Ndra? katanya suka? gimana ta kamu itu? kog jadi buat ibumu ini bingung," Bu Sari merasa bingung dengan perkataan Andra.
"Begini Bu ceritanya, tadi kan Andra dan Misya ke Pantai, dan saat Misya ambil jam yang ketinggalan di masjid, Andra melihat ibu ibu yang sedang berjalan lingsung di pinggiran pantai Bu. Dan akhirnya Andra bantu ibu itu terus Andra bawa ke tempat duduk Andra. Anehnya, saat Andra tanya ibu itu diam saja, jadi Andra menawarinya makan. Eh ternyata, ibu itu maunya nasi yang ibu kasihkan ke Misya. Padahal Andra sudah mau memesankannya makanan dari ibu yang jual makanan." Andra mencoba menjelaskan kronologi kejadian saat di pantai tadi.
"Walah Ndra, lha kog malah gitu to? Nasi itu kan buat Misya Ndra, kog malah kamu kasihkan orang lain." ucap Bu Sari merasa usahanya untuk menyatukan Andra dan Misya gagal.
"Kejadian waktu itu terjadi begitu saja Bu. Masak Andra menyembunyikan makanan itu padahal ibu itu mau dan sudah melihatnya," Andra mencoba membela dirinya karena rasa kasihannya pada ibu ibu itu..
"Tapi kan nasi itu udah ibu kasih doa, biar yang memakannya berjodoh sama kamu. Kalau doa itu bener benar terkabul gimana Ndra? Masak iya kamu nikah sama ibu ibu yang kamu tolong itu!" Bu Sari menampilkan wajah cemasnya.
"Ya nggak bisa gitu dong Bu. Ibu itu sudah berumur Bu, sama Ibu saja sudah terlihat tua ibu itu." Andra mencoba menjelaskanlagi.
"Lha yo itu Ndra, itu yang ibu takutkan!" ucap Bu Sari terlihat agak cemas.
"Ya semoga saja tidak Bu. Doa kan ada yang langsung terkabul ada juga yang pending dulu Bu. Semoga ini termasuk yang pending ya Bu," ucap Andra sambil bergurau agar Ibunya tidak merasa cemas lagi.
"Kamu itu Ndra, kaya kirim sms saja pake pending segara," sahut Bu Sari sambil mendorong pelan anaknya.
"Lagian sebenarnya, Ibu juga sudah pernah lihat ibu itu lho," ucap Andra kemudian.
"Memamngnya di mana Ndra? duch jangan jangan emang berjodoh," Tanya Bu Sari penasaran.
"Saat Andra pulang dari Rumah Sakit Puri Medika, kita kan melihat dokter cantik itu bersama ibu ibu paruh baya kan bu? lha ibu yang bersama dokter cantik itu, yang Andra tolong saat di pantai tadi!" ucap Andra menjelaskan kembali.
"Masak sih Ndra?" ucap Bu Sari tidak yakin.
"Hemm ibu nggak percaya sama Andra,"
Andra kemudian menoleh ke arah Bu Sari yang sedang tersenyam senyum sendiri.
"Ibu itu kenapa sih? kog malah senyam senyum sendiri gitu?" tanya Andra merasa penasaran.
"Jangan jangan kamu berjodoh dengan dokter cantik itu Ndra. Mimpi apa Ibu bisa punya mantu seorang dokter," ucap Bu Sari masih sambil senyam senyum.
"Duch ibu tu bisa bisa aja, orang dokter itu sudah menikah kog," bantah Andra sambil menertawai Ibunya yang terlalu berharap.
"Lha kog kamu tahu Ndra?"
"Tadi Andra kroscek ke Rumah Sakit Puri Medika, kata petugas informasi itu, Dokter Wulan baru cuti menikah. Nikahnya Rabu kemaren kalau tidak salah," ucap Andra lagi meneruskan.
"Namanya Dokter Wulan Ndra?"
"Iya Bu,"
"Mungkin saja dia punya anak yang lain Ndra, yang seumuran sama kamu?" ucap Bu Sari masih berharap.
"Ya itu yang Andra nggak tau Bu," sahut Andra mas bodo.
"Bisa jadi kan Ndra,"
"Tapi Bu," tiba tiba Andra tidak melanjutkan kata katanya.
"Tapi apa Ndra? jangan buat penasaran to!" ucap Bu Sari dengan cepat.
"Sepertinya orang itu kembar Bu," ucap Andra sambil melirik ke arah Ibunya.
"Tau dari mana lagi Ndra kamu?" sahut Bu Sari dengan ekspresi terkejutnya.
"Saat di pantai, Ibu itu di jemput oleh seorang wanita, ya aku kira dia adalah dokter yang merawatku saat itu Bu, tapi ternyata bukan. Dia juga tampak lebih galak sebenarnya. Dia ngakunya sih namanya Bintang, bukan Dokter Wulan gitu. Andra tau nama dokter Wulan juga dari perkataan wanita itu," Andra berusaha menjelaskan sedetail mungkin.
"Kalau gadis itu sudah menikah juga Ndra?"
"Haduh Ibu, mau dia sudah menikah atau belum, nggak ada hubungannya dengan Andra kan Bu. Andra nggak tau bu, dia juga terus pergi begitu saja membawa ibu itu." sahut Andra sedikit kesal mengingat ekspresi wanita itu.
"Walah gitu ta Ndra ceritanya,"
"Iya Bu,"
"Ya sudah, udah adzan magrib, ayo kita jamaah magrib dulu berdua." ajak Bu Sari kepada Andra untuk segera memasuki rumah dan sholat berjamaah.
"Lha Bapak kemana bu?" tanya Andra yang dari tadi tidak melihat Pak Ardi di rumahnya.
"Tadi Bapak pergi ketempat temennya, katanya lagi ada proyek pembangunan perumahan. Rumah yang bapakmu bangun ini kan sudah mau selesai, misal cocok kan Bapakmu bisa ikut bekerja di sana. Daripada nganggur. Kebutuhan kita kan juga meningkat tiap harinya Ndra." ucap Bu Sari menjelaskan.
"Iya Bu. Atau Andra coba cari kerjaan sambilan ya bu?" Andra merasa tidak enak kepada kedua orang tuanya.
"Walah kerjaan sambilan apa? nanti kuliahmu malah terganggu Ndra," ucap Bu Sari yang pengertian itu.
"Andra bisa sambil ngajar les, atau jaga warnet kan Bu, yang pasti bermanfaat dan menghasilkan," ucap Andra memberikan masukan.
"Tapi baiknya kamu tetap fokus kuliah dulu Ndra. Agar kamu juga bisa lulus lepat waktu terus kerja. Wes to, percaya sama Ibu Bapak Ndra," Bu Sari mencoba menenangkan Andra.
"Ya benernya nggak apa apa kan Bu, selama tidak mengganggu kuliah Andra,"
"Iya Ndra, terserah kamu. Ya itu tadi, selama tidak mengganggu kuliah dan kelulusan kamu." ucap Bu Sari menekankan.
"Siap laksanakan Bu." sahut Andra bersemangat.
Mereka kemudian melaksanakan sholat jamaah bersama. Saat memasuki ruang tengah, Andra melihat seperti figura besar panjang yang tertera jam dan tanggal pada hari itu. Bu Sari kemudian tersenyum sambil melihat ke Arah Andra.
"Kamu suka Ndra? itu kado dari ibu dan bapak buat kamu Ndra," ucap Bu Sari sambil tersenyum melihat ke arah Andra.
"Walah bu, kenapa harus beli jam kaya gitu, jam biasa kan bisa bu," sahut Andra merasa tidak enak.
"Nggak apa apa Ndra, tapi kamu suka kan?"
"Iya bu, tapi kenapa kog belinya jam kaya gitu Bu? mahal kan bu?"
"Habisnya kadang kamu kaya orang aneh sih Ndra, tiba tiba terbangun dan lupa hari itu hari apa dan tanggal berapa. Kalau ada jam itu kan semuanya aman Ndra. Kamu bangun, langsung tau dech hari dan tanggal saat ini." ucap Bu Sari menjelaskan.
"Sebenarnya kan di handphone ada Bu. Tapi, terimakasih banyak ya Bu, maaf Andra kalau selau merepotkan," ucap Andra yang juga merasakan terharu karena perhatian Ibunya itu.
"Enggak repot kog Ndra, asal kamu senang Ndra," jawab Bu Sari sambil memberikan senyum hangatnya.
Sebenarnya Andra merasa bersalah kepada Ibunya, karena gara gara dia terbangun di saat yang berbeda, Andra jadi tidak bisa mengetahui waktu saat itu. Tapi, Andra tidak bisa menceritakan atas apa yang terjadi padanya kepada Bu Sari. Dia tidak ingin Bu Sari ikut cemas memikirkan keadaannya, karena yang terjadi padanya adalah hal yang tidak bisa di nalar dengan pikiran manusia.
**