11. Mengubah takdir cinta

1690 Kata
Malam itu, Andra terasa enggan untuk memejamkan matanya. Entah mengapa dia merasakan takut jika dia terbangun pada saat hal yang sangat kelam untuknya. Akhirnya, Andra mencoba mengingat hal hal yang membuat dirinya bahagia. Ya, tiba tiba di pikirannya terlintas gambaran Naya. Dia membayangkan saat saat indah bersama Naya saat malam keakraban mahasiswa angkatan 2007 di Villa Eden. Saat itu, Andra dan Naya sama sama sebagai panitia makrab perwakilan angkatan 2006. Dan tak lama kemudian, Andra yang merona tersenyum senyum sendiri pun akhirnya tertidur. ** "Hayo hayo semua lekas bangun, sudah jam tiga pagi," Terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu demi pintu mencoba membangunkan orang di dalamnya. Andra yang masih merasakan kantuk yang luar biasa, mencoba duduk dan melihat situasi di sekelilingnya. Hari ini ketika bangun dia melihat beberapa orang yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Andra memegangi kepalanya karena masih merasakan pusing dan kebingungan. "Kamu kenapa Ndra?" sapa Bayu yang ikut terbangun di sebelah Andra. "Kepalaku pusing banget Bay," ucap Andra masih memegang kepalanya. "Ayo aku bantu kamu keluar, kita ke ruang medis saja. Kalau kepalamu masih pusing biar dikasih obat." Bayu kemudian membantu Andra berjalan menuju sebuah ruangan yang digunakan untuk merawat peserta makrab yang mengeluh sakit. "Kenapa dengan Andra Bay?" Tommy yang sedang berjaga pun membantu memapah Andra menuju tempat tidur yang ada di sana. "Nggak tau nih, tadi bangun bangun aku lihat dia seperti kesakitan sambil memegang kepalanya." Bayu menjelaskan sesuai apa yang dia lihat. "Minum ini dulu Ndra," Tommy memberikan paracetamol agar sakit kepala Andra berkurang. "Makasih Tom," Andra kemudian segera meminum obat yang diberikan kepadanya. Andra kemudian membuka matanya pelan, dia mengamati area sekelilingnya. "Ini dimana? bagaimana aku tiba tiba bisa berada disini?" gumam Andra di dalam hatinya. "Aku kembali ke kamar dulu ya Ndra, mau bantu nyiapain bahan bahan buat permainan nanti," ucap Bayu kemudian hendak meninggalkan Andra di ruang kesehatan. "Oya Bay, nanti kamu bisa sekalian bawain handphoneku kesini?" ucap Anda pelan. "Okey Ndra, nanti aku sekalian bawain ke sini. Kamu taruh di mana handphone mu?" balas Bayu menanggapi perkataan Andra. Andra tidak langsung menjawab, dia mengingat kebali kebiasaannya. "Kalau tidak di loket, brarti di bawah kasur Bay," jawab Andra kemudian. "Okey," sahut Bayu cepat. Dia kemudian melangkahkan kakinya pelan meninggalkan ruangan itu. Andra tidak banyak berkata, dia hanya mencoba mencari apa yang dia butuhkan. Dengan handphonenya, dia bisa melihat waktu dan lokasi dia saat ini. Selain itu, dia bisa mencari informasi dari pesan yang dia baca. Dia mencoba memahami situasi saat ini dahulu. Walaupun dia tampak kebingungan dan tidak tahu hari dan tanggal saat ini, dia akan mencoba mencari tahu sendiri. Dia tidak mungkin seperti orang kebingungan menanyakan hari dan tanggal kepada temannya. Jika sampai itu terjadi, mungkin Andra akan di cap sebagai orang aneh oleh teman temannya. "Tom, kamu bawa rundown acara hari ini? Acara setelah ini apa?" Andra mencoba menjalankan inisiatifnya untuk mencari informasi tentang apa yang terjadi pada saat ini. "Ada ini Ndra, lha punyamu dimana? hemm... apa kamu benar lupa? padahal kan..." Goda Tommy dengan senyuman kepada Andra. "Punyaku di kamar, aku pengen liat lagi aja. Padahal apa?" Andra mencoba bersikap biasa saja. "Ini kan momen yang paling kamu tunggu. Bukankah Mencari jejak ini juga permainan usulanmu?" Tommy rada heran sebenarnya melihat sikap Andra yang sedikit cuek. "Iya ya, cuma kepalaku tadi agak pusing, jadi lagi nggak bisa on nich," Andra mencoba membuat alasan karena tau Tommy mengganggap dirinya aneh hari ini. "Apa karena kamu satu regu dengan Naya, jadi aneh gini? grogi ya Mas?" Tommy menggoda Andra kembali. "Aku? satu regu sama Naya?" ucap Andra dengan senyum yang menghiasi bibirnya. "Cie cie,,, jangan pura pura gitu, walaupun kamu nggak bilang, aku sudah dapat infonya tau," "Info apa lagi Tom? semoga saja aku bisa ikut," Andra berbicara pelan. "Atau, kamu istirahat saja? biar posisimu aku gantiin?" Tommy tersenyum dengan senyum liciknya. "Enak saja kamu, ya jelas aku ikutlah Tom," Andra menjadi bersemangat kembali tau akan satu regu dengan Naya dalam permainan mencari jejak ini. Sehingga ada kesempatan Andra untuk dekat dengan Naya, gadis yang sejak lama di sukainya. Kalau Allah mengijinkan, dia ingin menjadikan Naya sebagai istrinya dan merubah takdir kehidupannya yang lalu. "Oya mana Rundown acaranya?" Andra mencoba mengingatkan Tommy. "Ow masih butuh?" Tommy bertanya balik. "Iya, aku kemaren belum sempat membaca semuanya, takut ada yang kelupaan," ucap Andra mencari alasan agar Tommy tidak curiga. "Okey," Tommy kemudian mengambil secarik kertas di tasnya kemudian memberikannya kepada Andra. "Makasih Tom. Aku kembali ke kamar dulu," Andra kemudian berdiri hendak keluar dari ruang medis menuju tempat tidurnya. Saat Andra sampai di pintu, Bayu datang menghampirinya. "Sudah baikan Ndra? ini handphonemu. Dari tadi ada pesan dan telepon masuk berkali kali! coba cek siapa tau penting." ucap Bayu sambil memberikan handphon Andra kepadanya. Andrapun bergesas mengambil ponselnya dan membuka pesan di ponselnya satu demi satu. Ada pesan dari Ibunya, Misya dan Naya. Tentu saja yang paling awal di balas adalah pesan dari Naya. "Ndra, kamu dimana? acaranya sudah mau mulai nih. Adik tingkat udah pada kumpul." itulah pesan dari Naya yang bisa membuat hati Andra berbunga bunga. "Bentar ya Nay, aku bentar lagi kesana." Andra kemudian mengirim balasan untuk Naya sengan tersenyum sendiri. "Cie cie yang lagi kasmaran," Bayu melihat mimik muka Andra jadi bisa menebak kalau Andra pasti mendapat pesan dari Naya. "Hemm apaan sih, yaudah aku ke kamar dulu yach, terus siap siap nyusul ke pendapa," Andra kemudian bergegas menuju tempat tidurnya di villa itu, dilanjut mandi dan berganti baju dengan cepat. Tak butuh waktu lama untuk Andra sampai di tempat Naya karena sesuai jadwal tempat kumpul panitia di pendopo tengah. Tapi saat Andra sampai, yang tersisa di tempat itu tinggal Naya saja. Naya tampak senang melihat kedatangan Andra mendekati arahnya. "Yang lain kemana Nay?" Andra tampak kebingungan karena hanya ada Naya sendiri di sana. "Yang lain sudah menuju stand masing masing, dan stand kita berubah menjadi stan paling akhir Ndra. Bayu udah duluan jalan kesana, untuk mempersiapkan undiannya," ucap Naya menjelaskan hasil rapat yang diikutinya tadi. "Lhoh kenapa Nay?" Andra jadi merasa nggak enak kepada Naya. "Nggak apa apa, aku yang memintanya. Agar kita nggak terlalu jauh aja jalannya. Kata Tommy dan Bayu tadi, kamu pusing ya? sekarang udah baikan?" Naya bertanya dengan perhatiannya. "Ow karena itu, maaf ya Nay. Aku sudah baikan kog," sahut Andra merasa tidak enak. "Nggak apa apa kog Ndra, sudah nggak usah dipikirin. Ayuk kita segera naik bukit itu, ndak Bayu kelamaan nunggunya, stand kita kan tepat di atas bukit belakang Villa ini," Naya memandang keatas bukit yang tidak jauh dari sana. "Ayuks," ucap Andra dengan semangat. Andra dan Naya berjalan berdua melewati tanjakan bukit itu. Andra kali ini, bersikap siaga menjaga Naya yang berada di depannya. Jalan menuju atas bukit hanya setapak, jadi mereka berjalan depan dan belakang. "Kenapa Nay? kalau capek berhenti dulu saja," ucap Andra yang mendengar nafas Naya terengah engah. "Heee dah lama nggak jalan naik jadi gini Ndra," Naya berusaha menanggapi dengan senyumannya. "Yasudah kita istirahat dulu Nay, kita duduk dulu saja di atas kayu itu, sepertinya bisa untuk istirahat," sambil menunjuk ke arah bekas tebangan pohon. "Ya Ndra, nggak papa ya istirahat dulu," ucap Naya ragu. "Ngaak papa Nay, aku juga capek kog," ucap Andra mencoba menghibur Naya. "Ini minum dulu." Andra menawarkan satu buah minuman botol kepada Naya yang duduk di sebelahnya. "Makasih ya Ndra," Naya menerimanya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Kemudian dia membuka botol minuman itu dan meminumnya. Mereka berdua duduk di bersama dengan pemikiran masing masing. Sempat mereka saling bertemu pandang tapi hanya ada senyum yang saling bertautan. Keduanya tampak salah tingkah sendiri. "Ndra, terimakasih banyak yach," Naya membuka suara memecah kebisuan di antara mereka. "Terimakasih untuk apa Nay?" sahut Andra bingung. "Kamu selalu baik kepadaku, selalu membantu aku setiap kali aku dalam kesusahan," Naya berbicara dengan menunjukkan kepalanya karena malu kalau pipinya yang merona pink di lihat Andra. "Sudah seharusnya begitu Nay," ucap Andra bingung harus menjawab apa. "Maksudnya?" Naya menatap ke arah Andra lekat. Andra pun melihat ke arah Naya. Hatinya tiba tiba berdetak kencang. Dia seakan tidak percaya kalau dia bisa mengulang saat saat romantis bersama Naya kali ini. "Apakah ini waktunya untuk mengubah takdir? apakah Naya akan bersamaku setelah hari ini?" gumam Andra di dalam hatinya. "Hemm malah melamun," Naya kemudian memalingkan mukanya. Andra pun bergegas memegang kedua pundak Naya dan menghadapkan tubuh mungil itu ke hadapannya. Akhirnya tatapan Naya kembali ke arah Andra. Dua pasang netra berwarna hitam kecoklatan itu saling bertemu. Jarang di antara keduanya pun seakan di kikis oleh waktu. "Nay... sejak aku mengenalmu, aku seperti menemukan semangat hidupku Nay. Aku tidak bisa mengingkari, kalau aku sayang sama kamu Nay, apa kamu mau menjadi pacar aku Nay?" Andra mencoba mengumpulkan seluruh keberanianya untuk menyatakan perasaannya kepada Naya. Pada kehidupannya yang lalu, Andra hanya memendam perasaannya sendiri kepada Naya. Dia sudah merasa senang saat berada di dekat Naya tampa berani mengutarakan perasaannya. Dia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan yang hadir di hadapannya ini lagi. Kesempatan untuk mengubah takdir cintanya. "Ndra... Aku," ucap Naya yang seakan ragu untuk menjawab ungkapan hati Andra. "Apa kamu tidak menyukaiku Nay?" Andra bertanya untuk meyakinkan. Yang dia tau sebelumnya, Naya juga memiliki perasaan yang sama untuk dirinya sejak pertama kali bertemu. Tapi, dari jawaban Naya, dia seolah ragu untuk menerima ungkapan perasaan dari Andra. "Bukan begitu Ndra, aku hanya..." Naya seakan enggan untuk mengatakan sesuatu. "Kamu kenapa Nay? apapun keputusanmu. Aku akan berusaha menerimanya dengan lapang d**a Nay," ucap Andra berusaha tidak memojokkan Naya. "Aku sebenarnya juga suka sama kamu Ndra. Tapi aku takut, aku tidak bisa menjadi yang terbaik buat kamu Ndra. Aku tidak sempurna Ndra," Naya berusaha menggunakan kata kata yang halus untuk Andra. Karena sebenarnya dia juga sangat mencintai Andra yang selalu ada untuknya. Dia juga sebenarnya tidak ingin kehilangan Andra. "Aku tidak mencari yang sempurna Nay. Aku pun pasti banyak kekurangan. Aku hanya ingin selalu dekat dengan kamu Nay. Aku ingin melalui hari hariku bersamu," Andra berusaha meyakinkan Naya kembali dengan perasaanya. "Aku sebenarnya juga ingin Ndra," Naya membalas dengan kalimat yang mengambang. Ada seperti keraguan yang masih mengganjal di benak Naya. Tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya. "Jadi, apa kamu mau menjadi pacar aku Nay mulai sekarang?" Andra mencoba menanyakan jawaban dari Naya kembali. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN