12. Saling bersahutan

1915 Kata
Andra menatap Naya dengan pandangan lekat dan segunung harapan di hatinya. Dia kali ini hanya ingin melakukan apa yang belum sempat dia ungkapkan sebelumnya. Di kehidupannya yang lalu, Andra hanya terus menahan perasaannya kepada Naya. Akhirnya dia kehilangan Naya tiba tiba sebelum sempat mengungkapkan perasaannnya kepada Naya. Kali ini, dia ingin mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu kepada Naya. Dia hanya tidak ingin menyesal kembali. Selebihnya dia akan serahkan kepada Naya, apakah perasaannya akan tersambut, atau akan terkubur. "Kita coba ya Ndra," ucap Naya sambil tersenyum menggoda Andra, kemudian berdiri. "Nay, kamu setuju?" Andra mencoba menahan Naya dengan menarik tangannya. Naya yang sedang tidak siap pun kaget, karena dia tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya, akhirnya Naya terjatuh tepat di atas tubuh Andra. Mata mereka saling menatap erat, akhirnya tanpa mereka sadari bibir keduanya saling bersahutan. Suara deru nafas keduanya seakan menandakan emosi perasaan mereka. ** Siang itu, Bu Sari terlihat cemas di beranda depan rumah. Dia dari tadi malam mencoba menghubungi Andra, tapi tidak ada respon. Pesan yang dia kirim pun tidak di balas oleh Andra. Perasaan seorang ibu yang cemas terhadap putra semata wayangnya. Dia takut terjadi sesuatu kepada Andra karena sejak bangun tadi perasannya tidak tenang. "Kenapa to buk, kog dari tadi mondar mandir nggak jelas gitu," Pak Ardi yang dari tadi melihat istrinya mondak mandir pun akhirnya buka suara. "Andra ini lho Pak, masak dari tadi malam tidak menghubungi ibu. SMS ibu juga nggak di balas dari tadi. Duch Ndra... Ndra, lagi apa to le kamu ki," celoteh Ibu Sari yang tampak khawatir kepada Andra. "Ya mungkin lagi sibuk to Buk, namanya juga kegiatan kampus di alam bebas. Andra sebagai panitia juga pasti ngurus ini itu to Buk." ucap Pak Ardi mencoba menenangkan istrinya. "Memangnya Bapak tau kegiatan kampusnya kaya apa? Wong bapak aja juga nggak pernah kuliah to sama kaya Ibuk," bantah Bu Sari kepada suaminya. "Itu lho Buk, ada kertas tulisannya rundom acara kegiatan Andra," sambil menunjuk kepada kertas di atas meja. "Rundom acara ki apa to Pak? Memangnya Bapak paham?" Bu Sari bertanya apa yang suaminya sebutkan tadi. "Mungkin bahasa gaulnya anak muda susunan acara Buk. Lha itu ada urutan kegiatannya. Ada pembukaan, penutupan, tapak tilas dan lainnya masih banyak ki Buk," Pak Ardi membaca kertas rundown acara Andra yang tertinggal di rumah. "Terus kalau menurut itu, Andra sekarang lagi ngapa Pak?" tanya Bu Sari sambil melihat ke arah kertas yang di bawa suaminya itu "Ya kalau sesuai acara yang tertulis di kertas ini sih lagi tapak tilas Bu. Di keterangannya ada game dan dorprize nya juga." lanjut Pak Ardi. "Game sama dorpres ki apa lagi to pak pak," tanya bu sari nggak paham. "Ya kaya di tv tv juga ada kan Bu, game itu permainan, terus kalau dorprize itu hadiah," Pak Ardi mencoba menjelaskan dengan sabar. "Tapi haruse ya sms ibu di bales ta Pak, bilang baru sibuk atau lagi apa gitu. Biasanya bubuk juga seneng kalau ibuk temenin," Bu Sari tampak sedih mengingat anaknya. "Atau coba telepon Misya Bu, siapa tau Andra menghubungi Misya, tau dia lagi apa," Saran Pak Ardi yang tiba tiba teringat dengan Misya. "Oiya ya Pak, tak telepon calon mantu dulu," ucap Bu Sari kembali senang. "Hus, jangan sembarangan ngomong lho Bu. Wong Andra saja bilang mereka hanya temenan to," Pak Ardi mencoba mengingatkan istrinya. "Ya sekarang emang temenan dulu Pak, besok kalau sudah lulus terus kerja baru dech nikah," sahut Bu Sari dengan senyum centilnya. "Hemm Ibu itu, jangan terlalu berharap to Bu, Andra itu kan sudah besar. Dia bisa menentukan apa yang terbaik untuknya," Pak Ardi mencoba menasehati istrinya agar tidak terlalu berharap. "Lha opo Bapak ki tidak senang punya menantu kaya Mbak Misya? sudah ayu, kalem, pinter terus hormat lagi kepada orang tua. Dan yang paling penting, dia itu telaten lho Pak mengurus Andra. Ingat nggak waktu Andra sakit dulu?" ucap Bu Sari mengingatkan. "Iya iya Bu, Bapak ngerti kog. Tapi kan Mbak Misya kita juga nggak tau to, apa dia punya pacar atau belum." "Ya jelas belum Pak, Ibu itu sebagai wanita, bisa melihat kog dari tatapan Mbak Misya kalau dia itu suka sama anak kita Pak," sahut Bu Sari sambil tersenyum. "Iya iya Bu, ya di doakan saja untuk yang terbaik buat keduanya. Lha jadi telepon tidak to?" ucap Pak Ardi mencoba mengingatkan kembali. "Woo iya Pak, malah lupa tadi mau telepon Mbak Misya yo," Bu Sari kemudian memencet tombol di ponselnya. Dia sudah memiliki nomor Misya karena Misya adalah teman yang paling dekat dengan Andra. Kerena mereka juga sudah berteman dari masih di bangku sekolah dasar. Jika Andra pulang telat juga Bu Misya sering mencari informasi dari Misya. "Hallo Assalamu'alaikum Bu," sahut Misya dari seberang telepon. "Mbak Misya gimana kabare?" Bu Sari mencoba berbasa basi dulu sebelum bertanya intinya. "Alhamdulillah baik Bu. Ibu dan Bapak juga sehat kan?" sahut Misya dengan ramah. "Iya Mbak, Alhamdulillah Ibu dan Bapak disini sehat semua. Tapi Andra ini lho Mbak," keluh Bu Sari langsung ke topik inti. "Andra kenapa Bu?" Misya bertanya dengan nada cemas. "Apa Mbak Misya sudah berhubungan sama Andra, atau tau kabar Andra sekarang?" suara Bu Sari berubah menjadi cemas kembali. "Minggu kemaren Andra bilang katanya sabtu minggu ini makrab dan tapak tilas kan Bu?" sahut Misya kemudian. "Iya Mbak, apa Mbak Misya sudah menghubunginya hari ini?" tanya Bu Sari kemudian. "Oh hari ini belum Bu, ini juga baru pulang dari Praktek Kerja Lapangan dan baru saja pegang handphone Bu. Hanya saja tadi malam aku ngirim sms tapi belum di balas juga Bu," Misya mencoba menerangkan. "Woalah Mbak Misya juga baru sibuk Praktek ta Mbak, maaf lho Mbak, kalau Ibu ini mengganggu," "Enggak kog Bu, ini juga sudah selesai Prakteknya. Cuma nanti malam saja mau siap siap mudik ke semarang," "Lhoh, tumben mudik Mbak, apa ada acara?" "Enggak ada acara apa apa kog Bu, kemaren di telepon Ibu saja, katanya hanya kangen. Sama ada yang mau di bicarakan saja. Kebetulan ini juga baru selesai praktek jadi libur satu minggu Bu. Jadi Misya ambil kesempatan ini untuk Mudik," jawab Misya mencoba menerangkan. "Iya Mbak Misya, seorang Ibu kalau tidak bertemu dengan anaknya lama pasti bakal kangen banget. Ibu saja yang dari semalam tidak mendapat kabar dari Andra sudah cemas setengah mati," lanjut Bu Sari sambil mengungkapkan isi hatinya. "Mungkin baru sibuk saja Bu, nanti Insya Allah kalau Andra sudah nggak sibuk, akan segera memberi kabar kepada Ibu," lanjut Misya mencoba menenangkan. "Iya Mbak Misya, Amiin. Oya salam buat jeng Ninik ya Mbak. Sudah lama juga kita nggak ketemu. Padahal dulu kalau arisan atau hajatan selalu barengan," Ucap Bu Sari mengenang sahabatnya. Bu Ninik adalah Ibu dari Misya. Dulu mereka sama sama tinggal di kota ini. "Iya Bu, nanti akan saya sampaikan," Ucap Misya kemudian. "Yasudah Mbak Misya, hanya mau tanya itu saja kog. Rasanya sudah senang mendapat jawaban dari Mbak Misya." "Ah Ibu, Misya hanya mengatakan yang semestinya saja Bu. Kalau ada apa apa Bu Sari boleh kog telepon Misya kapan saja," "Terimakasih Mbak Misya. Assalamu'alaikum," "Wa'alaikum salam Bu," Mereka berdua kemudian saling mematikan teleponnya. Bu Sari setelah mendapat penjelasan dari Misya sudah tidak sekhawatir tadi. Dia sekarang bisa memahami kesibukan Andra. "Andra sekarang sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Sekarang dia bisa memilih mana yang terbaik untuknya, dan mana yang menjadi prioritasnya. Aku sebagai Ibu, hanya bisa mendoakanmu Ndra," gumam Bu Sari pelan. Sedangkan Misya, sebelum dia merapikan baju bajunya yang akan dia bawa, dia meraih ponselnya. Sms untuk Andra dari tadi malam sebenarnya belum di balas. Tapi kali ini, dia mencoba mengirimkan sms lagi. Jari jari tangannya menari di atas ponselnya. "Assalamu'alaikum Ndra, kamu lagi sibuk kah? tapi aku minta tolong, sesibuk sibuknya kamu, kamu jangan lupa memberi kabar Ibumu yach. Jangan buat orang yang sudah melahirkanmu cemas. Wa'alaikumsalam," Dan pesan itupun dikirim, tapi belum ada pemberitahuan terkirim alias pending. ** "Duh duh duh dua tamu agung sudah datang," suara Bayu bergema saat melihat Andra dan Naya datang mendekatinya. "Siapa suruh juga kamu duluan naik?" ucap Andra kemudian. "Lha kalau aku nggak naik duluan, takut nggak sempet masang kertas dorprize nya di pohon yang tinggi itu," "Sudah kamu pasang semua kertas dorprizenya?" tanya Andra sambil menatap ke atas pohon. "Baru delapan kertas, masih ada dua itu," Andra menunjukkan lipatan kertas di dalam botol di atas kayu. "Okey biar aku pasang yang dua," ucap Andra kemudian hendak membantu. "Membantu sih boleh, tapi ya jangan seperti itu!" ucapa Bayu sambil menggerakkan kepalanya ke arah Andra dan Naya. "Maksudnya?" tanya Andra tak menegerti. "Lha itu ngapain tangan masih saling gandengan? bikin baper aja," ujar Bayu kemudian dilanjut dengan suara tawa terkekeh. Andra dan Naya pun saling berpandangan. Mereka tak sadar kalau tangan mereka masih saling bertautan. Rona pipi yang berubah memerah tampak di keduanya. Mereka sebenarnya malu kepada Bayu. Tadi adalah hari jadi mereka berdua resmi pacaran. Walaupun seperti ada sesuatu yang Naya sembunyikan, tapi dia juga sudah terlanjur suka kepada Andra. Andra selalu menjadi sosok seorang pahlawan bagi Naya. Mereka berdua kemudian membantu Bayu. Masing masing melakukan apa yang sudah di sepakati sebelumnya. Andra memasang dorprize agar tergantung di tempatyang tinggi dan Bayu menyiapkan kardus sebagai alas pijakan dan memberi batas untuk game penutup di acara ini. Sedangkan Naya, dia membantu merapikan barang barang yang Bayu bawa tadi. Dia juga membaca kembali naskah mutiara kata dan pembekalan buat penutup sesi game. Kurang lebih satu jam baru mereka semua siap menerima kedatangan kelompok pertama. Ketiganya duduk dengan posisi masing masing. Benar, tak lama kemudian tampak kelompok pertama sampai di Stand mereka. "Hallo kakak kakak ganteng dan cantik, kita dari grup Elang, datang untuk berkunjung," Mereka mengatakan secara bersama sama. "Okey oke Elang, cepat tunjukkan cara terbang!" sahut Andra dengan suara lantangnya. Ketujuh mahasiswa baru itupun kemudian saling berhamburan , bergerak memutar maju mundur, ke kiri dan kekakan. Kemudian berdiri kembali pada tempatnya semula kemudian mengucapkan yel yel mereka , "Elang.... Elang Elang, Yes! Kita pasti jadi pemenang!" mereka mengucapkannya dengan serentak. "Bagus," ucap Andra dengan angukan kepalanya merasa senang. "Kenapa kog kalian memilih nama grup kalian Elang? kamu jawab!" Bayu bertanya sambil menunjuk satu orang anggotanya. "Karena Elang bisa terbang, dia hidup bebas dan bisa menikmati keindahan alam sepuasnya. Elang pemberani dan juga kuat." jawab seorang gadis yang di tunjuk oleh Bayu. "Okey satu lagi. Kamu dan dan teman temanmu tadi bilang kita ganteng dan cantik bukan?" tanya Bayu masih kepada gadis itu. "Ya," sahut gadis itu singkat. "Padahal kita ada dua jadi harusnya ganteng ganteng dong. Jika satu saja yang ganteng, diantara kita berdua nih, gantengan mana?" Bayu kemudian mendekati Andra dengan gaya narcisnya. "Gantengan kakak itu," jawab gadis itu dengan muka malu. "Kalau kamu suruh milih pendamping, kamu maunya yang seperti aku atau dia?" ulang Bayu lagi dengan pertanyaannya. "Pilih kakak itu," gadis itu menatap Andra dengan malu. "Ah kamu!" ucap Bayu frustasi. Yaudah sekarang kalian pejamkan mata kalian, berputar tiga kali, kemudian berpasangan, aku hitung, 1.. 2.. 3.." lanjut Bayu memberikan instruksinya. Mereka pun kemudian mengikuti aba aba bayu sesuai apa yang sudah di perintahkan. Karena mereka berjumlah tujuh orang, ada salah satu dari mereka yang tidak mempunyai pasangan. "Hahaha kamu? mana pasanganmu?" ejek Bayu puas karena gadis yang dia beri pertanyaan tadi tidak mempunyai pasangan. "Siap salah, karena jumlah kami bertujuh, maka satu dari kami tidak punya pasangan!" ucap gadis itu menatap Bayu dengan sebal karena merasa di kerjain bayu. "Terus kamu mau menjalankan game ini bagaimana kalau sendiri? di game ini yang di butuhkan adalah kekompakan pasangan!" Gadis itu pun tak menjawab, dia hanya diam sambil menunduk. "Baiklah, karena tadi kamu sudah memilih pasanganmu, Ndra kamu temani dia di game ini!" ucap Bayu ke arah Andra. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN