Di satu sisi, Naya melihat ke arah gadis itu dengan tatapan tajam. Walau Naya berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya, tapi dari sorot matanya tetap terlihat jelas kalau Naya tidak suka.
Gadis itu yang tadinya menunduk takut, mendengar kata kata yang di ucapkan Bayu, raut wajahnya berubah drastis menjadi sangat bahagia setelah tahu akan bermain game itu bersama Andra. Hal yang tak dia bayangkan sebelumnya.
"Benar kak? Aku akan bermain game ini bersama kakak?" Ucap gadis itu tampak kegirangan menatap Andra.
"Sebentar ya dek, sepertinya ini ada miss komunikasi," Andra kemudian menarik tangan Bayu memberikan jarak kepada peserta itu.
"Kenapa Ndra?" ucap Bayu dengan santai setelah Andra menarik tangannya.
"Ikut aku sebentar," Andra berbicara dnegan wajah serius.
"Baiklah grup Elang, ayo silahkan duduk yang rapi. Sambil menunggu kakak kakak yang ganteng ini berdiskusi, silahkan kalian menyimak dulu baik baik materi dari kakak Naya yang cantik ini. Bagi kalian yang memberikan ringkasan materi di akhir materi dengan baik, kak Naya yang akan memberikan hadiah bagi tujuh ringkasan terbaik. Nah, siapa tau nih, grup Elang ini menjadi juara semua. Semangat yah," Bayu memberikan menjelasan dengan semangat.
"Baik kak," jawab mereka dengana serentak.
Bayu kemudian memberikan kendali grup Elang kepada Naya. Naya dengan terampil mengambil alih grup Elang. Dengan gaya Naya yang menarik, bisa mencuri perhatian orang yang melihatnya. Naya tampak menguasai materi dengan baik. Grup Elang pun dengan seksama memperhatikan Naya.
Andra yang tampak galau, menarik Bayu di dekat pohon untuk menyampaikan uneg unegnya.
"Wah parah Bay kamu, masak aku ikut main?" Ucap Andra merasa tidak terima. Bukan hanya itu sebenarnya yang menjadi ganjalan Andra. Tapi dia merasa tidak enak kepada Naya. Dia dan Naya baru saja pacaran, jadi dia harusnya bisa menjaga perasaan Naya. Tapi sekarang Andra harus berdekatan dengan seorang gadis, walaupun hanya dalam sebuah permainan. Tapi Andra tau itu bisa membuat perasaan Naya tidak nyaman.
"Hanya permainan Ndra, apa salahnya sih kamu bantu adik kelas kita. Lagian kan jumlah mereka ganjil, jadi kurang satu peserta kan?" ucap Bayu kepada Andra.
"Kenapa tidak kamu saja?" Sahut Andra kemudian menatap ke arah Bayu.
"Bukannya kamu dengar sendiri tadi kalau gadis itu tadi memilih kamu? kamu yang lebih ganteng katanya, aku kan jadi sakit hati, hiks." ucap Bayu dengan dramanya.
"Kumat lebaymu! nggak lucu tauk." sahut Andra kesal.
"Sebenarrnya kalau aku sih mau mau saja Ndra nemenin gadis itu. Eh, apa kamu nggak lihat? Gadis itu lumayan imut kan Ndra? Apa kamu tidak tertarik?" tampak Bayu menggoda Andra dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Enggak Bay, kamu saja yang temani kalau kamu tertarik," ucap Andra kesal hendak meninggalkan Bayu.
Bayu pun bergegas menahan Andra yang hendak meninggalkannya.
"Maunya gitu, tapi dia dari tadi lihatin kamu Ndra. Kayaknya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Jadi tadi dia aku deketin, tak tanya gantengan mana, eee dia dengan jujur jawab gantengan kamu kan," ucap Bayu menjelaskan niatnya tadi.
"Harusnya kamu bilang dulu! jangan bikin orang lain jadi sulit," ucap Andra masih dengan nada kesalnya.
"Lha ini sudah bilang, lagian karena aku sahabat terbaikmu dan tahu kalau kamu belum punya pacar, jadi wajar aku bantu kamu kan Ndra," Bayu mengutarakan niat terbaiknya untuk Andra.
"Kata siapa aku..." Andra kemudian menghentikan kata katanya. Dia teringat dengan perjanjiannnya dengan Naya. Walaupun mereka berpacaran, tapi Andra tidak boleh memberi tahu kepada yang lainnya. Naya tidak ingin hubungan pacaran mereka sampai terekspos keluar dan Andra sudah menyetujui soal itu. Karena bagi Andra juga tidak penting mengumbar hubungan mereka kepada temen temennya, yang terpenting adalah Naya menyambut perasaanya.
"Kamu kenapa? Ngakuin belum punya pacar aja nggak mau! Wew. Sudah ayo kita bantu Naya membagikan kertas," Bayu mengajak Andra kembali ke tempat permainan.
Andra yang tadinya masih ingin mengungkapkan uneg unegnya, tiba tiba mengurungkan niatnya saat melihat ke arah Naya. Naya memang lagi butuh bantuan memberi materi sambil membagikan kertas untuk ringkasan mereka.
"Tapi aku juga nggak enak sama Naya Bay, nanti aku dikira yang genit sama adik tingkat," Andra akhirnya berbicara dengan alasan yang sudah dia rancang.
"Tenang aja Ndra, aku yang bilang ke Naya. Kalau Naya sampai marah aku deh yang tanggung jawab," Bayu mencoba menenangkan hati Andra.
Mereka berdua kemudian berjalan beriringan mendekati Naya yang masih sibuk membagikan kertas untuk meringkas apa yang di sampaikan oleh Naya.
"Nay," Bayu mencoba memanggil Naya pelan setelah merasa di dekat Naya.
"Apa?" Jawab Naya singkat.
"Apa kamu mau maen game nemenin gadis itu Nay?" Bayu mencoba berbasa basi dan mencari tahu reaksi Naya.
"Enggaklah, kamu aja!" jawab Naya dingin.
"Tadi niatnya juga gitu, tapi kamu juga denger sendiri kan tadi. Dia lebih memilih Andra, dia bahkan bilang di depanku kalau Andra lebih ganteng daripada aku! Apa menurutmu itu tak menyakitkan?" Bayu memulai dengan dramanya.
"Ya jelaslah, dari pucuk sana juga udah kelihatan ganteng siapa," sahut Naya cuek.
"Hiks hiks kamu Nay, sungguh terlalu," Bayu berakting memasang muka sedih di depan Naya.
"Jangan lebay dech..."
"Nay, aku kan tadi sudah duluan sampai sini, beresin tempat ini, sebenarnya aku masih lelah. Jadi biar Andra saja ya yang menggantikanku menemani gadis itu bermain ya?" Bayu mencoba tersenyum dan mengedip ngedipkan matanya di depan Naya.
"Owww, berarti kamu nggak ikhlas?" ucap Naya yang mempertanyakan ucapan Bayu.
"Bukan begitu Nay, yasudah nanti kalau ada grup ganjil lagi, aku yang akan main dech. Biar aku dan Andra yang gantian, okey?" sahut Bayu kemudian.
Naya tidak langsung menjawab. Sebenarnya dia merasa cemburu kepada gadis itu. Tapi dia menahannya karena tidak mungkin menunjukkan kecemburuannya di depan Bayu.
"Gimana Nay? Kamu mengijinkan kan?" Bayu menunggu persetujuan Naya.
"Terserah kamu saja Bay!" jawab Naya seolah tak peduli.
"Yeach... makasih Nay, kamu hari ini terlihat cantik dech." sahut Bayu dengan centil menggoda Naya.
"Dah dari dulu kali..."
"Iya iya Nay," sahut Bayu dengan wajah gembira karena berhasil membujuk Andra dan Naya.
"Tu Ndra, Naya udah mengijinkan, itung itung itu sebagai hukuman buatmu karena terlambat tadi ya!" Ucap Bayu mencoba meyakinkan Andra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hemmm " sahut Andra malas. Lirikan mata Andra tertuju pada Naya yang masih sibuk menarik kertas pada setiap peserta. Sebenarnya dia ingin menjaga tingkah lakunya di depan Naya, tapi sekarang juga niatnya hanya membantu, jadi akhirnya Andra menyetujuinya.
Sekarang inilah saat yang di tunggu tunggu peserta. Di game penutup ini
tiba giliran masing masing peserta untuk berlomba. Andra dan gadis itu pun akan memulai permainannya. Tatapan Andra masih memperhatikan Naya yang tak melihatnya, dia seperti pura pura sibuk sendiri.
"Hey kak, nama kakak siapa?" Tanya gadis itu masih tampak senang saat berada di dekat Andra.
"Andra," jawab Andra singkat.
"Wah nama yang bagus, perkenalkan namaku Bella kak," Gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ya Bella, salam kenal," ucap Andra berusaha menanggapi. Dan mereka pun saling berjabat tangan.
Naya yang berada di garis finis pun tak sengaja melihat mereka berjabat tangan. Tapi selanjutnya dia lebih memilih pura pura tak melihat mereka.
"Eh Kak Andra, kakak yang satu itu siapa kak namanya?" Tanya Bella sambil menunjuk ke arah Naya.
"Kak Naya, memangnya kenapa?" Jawab Andra masih sambil memperhatikan Naya yg masih tak mau melihatnya.
"Kakaknya cantik ya kak, dia pacar kaka ya?" tanya Bella terang terangan.
"Oh dia..."
"Hey sudah belum ngobrolnya? Semua sudah siap? Cepat mulai star!" Suara bariton Bayu terdengar menghentikan obrolan Andra dan Bella.
"Sudah siap?" ucap Andra kepada Bella.
"Iya kak," jawab Bella mantap sambil menganggukkan kepalanya.
Andra dan Bella pun tampak serius bersiap di garis star. Tak berbeda dengan peserta lainnya yang juga mengambil persiapan di garis star di sebelah Andra dan Bella.
"1... 2... 3... mulai!" lanjut Bayu memulai aba abanya sambil mengangkat bendera di tangannya.
Andra memulai permainan terlebih dahulu. Andra bertugas menjaga kesembingan karena badannya lebih kuat. Sedangkan Bella, dia mengikuti pergerakan tubuh Andra dan mempertahankannya. Andra dengan cepat melangkah menginjakkan kakinya di potongan karton pertama, selanjutnya dia agak merunduk kemudian di susul kedatangan Bella di karton yang sama. Setelah itu, Bella mengambil karton yang di laluinya tadi dan menyerahkan kepada Andra untuk di taruh di depannya untuk tumpuan mereka berdua lagi. Andra terlihat sangat cekatan dalam permainan karena dia sudah mengetahui tekniknya.
Tubuh mereka berdua saling bersentuhan erat. Tak bisa dipungkiri, untuk mempertahankan keseimbangan, ada kalanya Bella memegang tubuh Andra dengan erat. Dalam benak Andra, dia hanya ingin segera menyelesaikan permainan ini dengan cepat. Dia tidak ingin Naya mencuekinya lagi. Ini adalah hari jadi mereka berdua, harusnya menjadi momen yang romantis bagi keduanya. Tapi kali ini, Andra harus berdekatan dengan gadis ini di depan mata Naya, pasti Naya juga tidak suka.
Permainan itu berlangsung kurang lebih selama lima menit. Masing masing peserta bergerak dengan kekompakan dan kecepatan. Mereka saling membantu satu sama lain dalam tim untuk mempertahankan keseimbangan dan yang satu mengambil kertas karton yang telah di laluinya tadi.
Dan tiba saatnya permainan selesai, kelompok Andra dan Bella adalah yang pertama sampai di garis finis. Itu artinya, Bella dan andralah yang menjadi pemenang dalam permainan tersebut. Gadis itu tampak bahagia sekali. Dia meloncat loncat untuk menggambarkan kesenangannya. Dan tanpa sadar, Bella kemudian memeluk Andra dengan cepat. Kepalanya di sandarkan pada d**a Andra yang bidang.
Tak jauh dari sana, Naya menatap mereka dengan tatapan mata tajam. Entah mengapa rasa cemburu yang dia rasakan seakan akan meluap. Sebelumnya, jika dia melihat Andra dekat dengan cewek lain, dia akan biasa biasa saja. Tapi sekarang, terasa sangat berbeda. Mungkin karena Naya sekarang telah menjamin hubungan resmi dengan Andra. Yah, mereka telah pacaran. Walaupun, tadi Naya mengajukan sebuah persyaratan kepada Andra. Yaitu tetap menyembunyikan hubungan mereka berdua kepada orang lain, apalagi teman temannya di kampus.
"Cie cie cie," suara gemuruh terdengar di dekat mereka. Itu adalah sorakan peserta lain dan juga Bayu.
Orang orang yang ada di sekelilingnya saling bertepuk tangan, bahkan ada yang mengambil foto mereka berdua sedang berpelukan. Andra yang menyadarinya pun segera melepaskan pelukan Bella. Pandangan Andra kemudian beralih ke arah Naya yang juga sedang melihatnya.
"Maaf kak, aku terlalu senang." ucap Bella dengan pipinya yang memerah.
**