14. Aku ikuti dramamu!

2077 Kata
Andra masih terdiam, dia hanya terkaget tiba tiba ada seorang gadis memeluknya di depan umum, bahkan di depan pacar rahasianya, Naya. Pandangan Andra menyapu di sekitar tempat itu, tapi dia tidak bisa menemukan keberadaan Naya. "Nggak papa, maaf aku pergi dulu," ucap Andra berusaha menjaga hatinya. "Kak, hadiahnya bagaimana?" tanya Bella dengan penuh harap menatap ke arah Andra. "Hadiahnya untuk kamu saja, kamu pilih saja salah satu sendiri yach," ucap Andra masih berusaha tersenyum agar tidak ada rasa canggung di antara keduanya. "Bay kamu lanjutin dulu, aku ke belakang sebentar," ucap Andra sambil menepuk pundak Bayu pelan. "Mau kemana sih Ndra, tinggal bentar juga. Tadi Naya, sekarang kamu ikutan pergi. Masak tega kamu ninggalin aku sendiri memimpin acara." ucap Bayu dengan nada memelasnya. "Sebentar saja, aku segera kembali!" ucap Andra sambil menggerakkan tanggannya ke arah Bayu agar tetap tenang. "Benar lho Ndra, awas kamu kalau lama!" ancam Bayu kepada Andra. "Iya iya," jawab Andra cepat. Andra pun segera mencari keberadaan Naya. Tapi dia belum juga menemukannya. "Apa Naya benar benar marah? sehingga dia langsung pergi begitu saja?" gumam Andra pelan. Muka Andra pun berubah lesu. Tubuhnya tampak tak semangat lagi. Dia kemudian jalan sambil menunduk untuk kembali ketempat Bayu. Masih ada enam regu lagi yang belum sampai ke garis finis. Bagaimana dia tega meninggalkan Bayu seorang diri? Tiba tiba saat Andra berbalik dan berjalan untuk kembali, ada ranting kecil yang mengenai pundaknya. Andra pun menoleh dan menatap keatas, dia mengira ranting itu jatuh dari pohon yang menjulang tinggi di belakangnya. Saat Andra berjalan tiga langkah, ada ranting lagi yang mengenai pundaknya. Kali ini andra menoleh pandangan matanya menyapu sekeliling tempat itu. Tapi masih tidak ada siapa siapa lagi selain pohon besar itu. Kali ini, dia berjalan pelan, dan saat ada ranting lagi yang mengenai pundaknya, dia tidak menghiraukannya. Dia tetap berjalan dengan langkah lebih cepat. Bersamaan dengan langkah Andra yang sedikit lebih cepat, seperti ada pergesekan ranting yang mengikutinya. Akhirnya langkah Andra terhenti, tepat di atas pundaknya ada tangan yang menempel erat di pundak tangan kanannya, dan menepuknya kembali. "Ba!!!" suara yang keras itu mengagetkan Andra, tepat bersamaan dengan Andra yang sedang menoleh ke belakang. "Naya, kamu..," ucap Andra merasa gemas dengan tingkah jail Naya. Tapi kali ini, Andra tidak berniat untuk memarahinya. Dia merasa tadi sudah merasa bersalah kepada Naya karena tidak bisa menjaga perasaan Naya. "Kenapa? kaget yah?" ucap Naya dengan tersenyum sambil berdiri lekat di depan tubuh Andra. Tangannya kanannya menyentil hidung Andra yang mancung itu. Sedangkan tangan kirinya di telakkan di pundak Andra sebelah kanan. Posisi keduanya sekarang terlihat sangan intim. Andra pun hanya tersenyum menatap kecantikan Naya yang sedang tersenyum di hadapannya. Kecantikan yang akan mengikatnya sampai dia tua nanti. Tangan Andra pun bergerak ke arah pinggang Naya dan mendekatkan tubuh Naya pada badannya. Tangan Andra yang satunya mengelus rambut Naya yang terurai panjang. Kepala Naya bersandar di d**a Andra yang bidang dalam dekapan tangan Andra. Hanya ada ketenangan dan kehangatan yang di rasakan Andra saat itu. "Maafkan aku ya Nay?" bisik Andra di telinga Naya. "Kamu takut aku cemburu?" balas Naya masih memeluk Andra lekat. "Iya," jawab Andra singkat sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Apa kamu benar benar cinta dan sayang sama aku Ndra?" tanya Naya mencoba mencari kebenaran dari kata kata Andra. "Tentu saja Nay, mulai saat pertama kali aku bertemu kamu, sampai tua nanti, aku masih akan sangat sayang sama kamu Nay," sahut Andra dengan suara lembut. "Sungguh?" "Kamu perlu bukti apa?" tantang Andra kepada Naya. "Aku tidak perlu bukti apa apa Ndra, biar nanti waktu yang akan menjawabnya," ucap Naya pelan. "Aku ingin kamu tahu Nay, di hatiku ini hanya ada kamu. Tidak akan pernah ada orang lain yang bisa menggantikan kamu," tambah Andra mencoba meyakinkan gadis yang dia cintai itu. "Bukankah gadis kecil tadi juga cantik?" goda Naya kepada Andra. "Secantik apapun dia, aku tidak peduli Nay. Aku hanya ingin kamu," bisik Andra dengan tulus. "Hemm nggak gombal kan Ndra kamu? Kamu janji nggak akan pernah meninggalkanku?" tantang Naya kepada Andra. "Kamu nggak percaya sama aku Nay? Apapun yang kamu minta untuk membuktikan perasaanku padamu akan aku lakukan." Andra kemudian melepaskan pelukannya sambil mengelus pipi Naya sambil tersenyum. "Kita lihat ya Ndra, semoga apa yang kamu ucapkan benar," sahut Naya dengan tersenyum. Entah mengapa Andra seperti terhipnotis dengan tatapan Naya saat itu. Seolah olah dia tidak ingin jauh dari Naya saat itu. Yang dia rasakan saat itu seperti dunia ini hanya milik mereka berdua. Sampai tiba tiba terdengar suara Adzan sholat dhuhur berkumandang dari masjid di sebelah Villa yang mereka sewa. Andra pun seperti terkaget kemudian mengalihkan pandangannya di area sekitarnya. "Nay, ayo kita segera kembali, kasihan Bayu sendirian. Masih ada enam regu yang akan datang," Andra kemudian teringat tentang Bayu yang tadi memintanya jangan lama. "Kamu duluan saja Ndra," ucap Naya kemudia sambil mengalihkan pandangannya. "Terus kamu?" sahut Andra ragu karena meninggalkan Naya sendiri di sini. "Aku sebentar lagi menyusul." "Kenapa tidak barengan saja?" ajak Andra kepada Naya. "Tadi aku bilang ke Bayu mau ke Villa dulu mengambil obat. Kalau kita kesana barengan, nanti Bayu tau kita berdua ketemu disini. Ingat ini rahasia," ucap Naya dengan nada setengah berbisik di kalimat terakhirnya. "Sampai kapan Nay kita mau sembunyikan hubungan kita?" tanya Andra seolah tak mengerti dengan sikap Naya. "Sampai aku siap Ndra," "Siap untuk apa?" tanya Andra lagi. "Kalau waktunya tiba, aku pasti akan memberi tahumu," "Kamu janji," "Iya Ndra, kamu pergilah dulu. Atau kamu mau disini terus bersamaku?" ucap Naya sambil tersenyum ke arah Andra. "Ya sudah aku duluan, kasian Bayu kalau lama lama. Kamu nggak takut sendirian disini?" ucap Andra sambil melihat sekeliling tempat itu. Naya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sebelum pergi, Andra mencium kening Naya dan mengelus rambutnya terlebih dahulu. Sesosok Naya, sudah membuatnya jatuh cinta. Andra pun segera menghampiri Bayu yang sedang memberi sambutan kepada kelompok kedua yang baru saja datang. Bayu hanya melirik sekilah ke arah Andra yang baru saja datang dengan aura muka yang terlihat senang. "Hay Musang, kalian lepas lelah kalian dulu yah, setelah ini kita bermain game!" ucap Bayu dengan semangat sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Baik Kak, terimakasih," sahut regu kedua yaitu regu musang secara serentak. Bayu pun segera menghampiri Andra yang masih memperhatikannya dengan senyum khas nya. "Ngapain kamu senyum senyum?" tanya Bayu dengan tatapan curiga. "Seneng aja liat kamu semangat gini memimpin tadi," jawab Andra masih dengan senyum kecilnya sambil merangkul Bayu. "Kamu tadi ketemu siapa?" tanya Bayu mencoba menyelidiki. "Maksud kamu?" Andra melihat ke arah Bayu dengan serius. "Apa bayu tau aku bersama Naya tadi?" gumamnya dalam hati. "Hemmm malah bengong, jangan jangan bener!" sambil menepuk pundak Andra pelan. "Bener apa?" tanya Andra penasaran. "Jangan jangan bener kamu ketemu penunggu tempat ini, hahaha," ucap Bayu disertai ketawa sambil meninggalkan Andra. "Hush, ngomong dijaga!" ucap Andra mencoba memperingati. "Sudah sudah, aku hanya bercanda!" lanjut Bayu sambil menoleh menatap Andra yang masih dengan muka sebalnya karena di tertawakan Bayu. "Dasar kamu Bay," cercah Andra kepada sahabatnya itu. "Syukurlah, Bayu tidak tahu soal kejadian tadi. Kalau dia benar benar lihat, aku harus cari akal buat membungkam mulutnya," gumam Andra dalam hati. Akhirnya mereka menyelesaikan permainan Regu Musang hanya berdua. Tidak mungkin terus mengulur waktu untuk menunggu kedatangan Naya yang belum tau kedatangannya masih lama atau tidak. Tanpa adanya Naya, mereka berdua tetap berusaha menghibur dan memberikan materi yang sudah di siapkan sebelumnya. Sebenarnya, perasaan Andra mulai merasa tidak tenang. Tadi dia meninggalkan Naya sendirian di tengah bukit, Andra takut terjadi sesuatu kepada Naya, karena sampai sekarang Naya belum juga datang. "Kenapa Ndra? Mikirin apa kamu?" tanya Bayu kepada Andra yang melihat Andra sedang tidak fokus. "Nggak apa apa. Cuma sampai sekarang Naya kog belum datang ya? Apa kamu nggak khawatir? Masak sampai akhir hanya kita berdua terus?" ucap Andra mencoba mencari alasan yang logis. "Tu kan bener, pasti karena mikirin Naya. Tadi Naya udah pamitan kog mau ambil obat kebawah sambil mencari bala bantuan. Khawatir itu, kalau kamu ninggalin Naya di tengah hutan, bisa bisa dia di terkam bisnatang buas atau penunggu hutan!" ucap Bayu dengan gurauannya. "Bay, aku serius! hati hati kalau bicara! Sudah dua kali lho kamu ngomong begitu!" ucap Andra mencoba mengingatkan Bayu untuk keduakalinya. "Ndra, Naya kan ke Villa, bukan ke hutan! jadi kamu tenang saja!" Perasaan Andra pun semakin tidak tenang. Dia benar benar cemas kepada keadaan Naya. Tapi kali ini dia tidak enak kalau meninggalkan Bayu, karena regu ke tiga sebentar lagi pasti akan segera tiba. Dan benar, regu ketiga benar benar benar sudah terlihat menghampiri mereka berdua. Andra dan Bayu menyambutnya berdua kembali. Mereka menyuruh regu yang baru datang itu untuk beristirahat dan minum terlebih dahulu, karena pasti capek habis berjalan menaiki bukit yang di penuhi rintangan. Tak selang lama, datang juga sosok Naya ditemani dengan Dina disampingnya. Akhirnya Andra bisa bernafas lega. Setelah melihat Naya, dia bisa menyingkirkan kecemasan yang dari tadi menghantuinya. Andra menatap Naya dengan senyum termanisnya. "Hemm pantesan lama, pasti dia turun dulu terus mengajak Dina baru kembali kesini," gumam Andra di dalam hatinya. "Cie cie cie.. sekarang sudah bisa tersenyum nih setelah melihat Naya," celoteh Bayu yang menggoda Andra dan Naya. "Apaan sih kamu Bay," sahut Naya dengan suara dinginnya. Naya pun hanya melihat ke arah Andra sebentar. Hanya tatapan dingin tanpa ekspresi yang muncul di wajah Naya. Kemudian Naya melangkahkan kakinya mendekati regu ketiga diikuti dengan Dina di belakangnya. "Hemmm sungguh meyakinkan akting kamu Nay, okey aku ikuti dramamu!" Andra bermonolog pelan sambil tersenyum kecil. Mereka berempat kemudian menangani permainan untuk regu ke tiga. Kali ini, permainan regu ketiga belum selesai, tetapi sudah di susul regu ke empat datang. Untung saja, Angga dan Lia ikut datang membantu setelah stan kedua yang mereka tadi pegang sudah selesai. Semakin lama, stand terakhir itu makin banyak peserta. Dengan jumlahnya peserta masing masing regu ada delapan orang dan ditambah panitia satu angkatan dengan Andra jadi terlihat makin ramai. Mereka saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan stand terakhir ini. Setelah semua peseta turun terlebih dahulu, tinggal hanya semua panitia di stand itu. Mereka membahas tentang hadiah dan penutupan untuk acara itu nanti sore. Setelah acara penutupan selesai, mereka nanti akan langsung menaiki bus dan kembali ke kampus. Andra sedari tadi hanya bisa sesekali melirik ke arah Naya. Sejak tadi, Andra maupun Naya masing masing sibuk dengan tugasnya masing masing tanpa bisa meluangkan waktu untuk berbincang bersama. Apalagi di depan teman temannya, Naya terlihat seperti menjaga jarak dengannya. Jadi Andra hanya bisa menerima sikap Naya dengan lapang d**a. Yang terpenting, tadi Andra sudah meminta maaf kepada Naya atas apa yang terjadi antara dirinya dengan Bella tadi. Dia juga sudah berusaha meyakinkan Naya kalau dia benar benar hanya mempunyai rasa kepada Naya. Setelah acara di Villa itu benar benar selesai, mereka bersiap menaiki bus masing masing. Saat, Andra bersiap menaiki bus tiba tiba suara Bella memanggilnya. "Kak Andra, tunggu," terlihat Bella datang mendekati Andra yang berdiri di depan Bus. Andra pun berhenti sejenak sambil menunggu Bella menghampirinya. "Ada apa?" tanya Andra kemudian setelah Bella berada tak jauh dari tempatnya. "Ini untuk kakak," ucap Bella sambil memberikan sebuah bingkisan kepada Andra. "Kak Andra buka saja setelah sampai rumah yah. Semoga kak Andra senang," "Apa ini dek?" "Itu ucapan terimakasihku untuk Kak Andra. Karena Kak Andra tadi tidak mau bagian hadiahnya, jadi aku beri Kak Andra itu," sahut Bella dengan pipi yang merona. "Kenapa repot repot," sahut Andra tidak enak. "Bella nggak merasa di repotkan kog kak, bye Kak Andra, semoga kakak suka," ucap Bella dengan ceria kemudian meninggalkan Andra yang terpatung di tempatnya. Naya yang sedang berjalan menaiki bus pun, akhirnya melewati Andra dengan diam. Dia tadi melihat Bella saat memberi Andra hadiah itu. Mukanya tampak kesal menatap dingin ke arah Andra. "Nay, kamu ingat kan perkataanku tadi?" ucap Andra dengan lembut sambil tersenyum ke arah Naya. "Perkataan yang mana? Dasar, semua lelaki sama! tidak berperasaan!" sahut Naya dingin. "Nay, kamu kenapa? kamu cemburu gara gara hadiah ini?" tanya Andra kemudian. "Cemburu? kamu jadi orang kepedean banget sih Ndra!" sahut Naya masih terlihat kesal. "Nay, aku nggak ada perasaan ma Bella, kamu percaya sama Aku!" ucap Andra sambil memegang tangan Naya. "Bukan hanya hadiah ini, tapi juga saat permainan tadi Ndra! aku kira kamu punya niat baik buat menjelaskan semua! tapi apa? ternyata aku salah! ternyata kamu sama saja!" Naya kemudian menghempaskan tangan Andra kemudian naik ke bus dan duduk di sebelah Dina. Andra terbengong masih di tempat yang sama. "Ada apa sebenarnya? kenapa Naya semarah itu? bukankah tadi aku sudah menjelaskan dan meminta maaf kepada Naya saat di bukit itu! kenapa bisa tadi dia bilang tidak menjelaskannya padanya?" **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN