Dina yang sedang asyik mendengarkan lagu dengan headsetnya, terkaget karena kedatangan Naya yang tiba tiba duduk di sebelahnya dengan sebuah hentakan. Dina pun kemudian melepaskan headsetnya dan memperhatikan Naya yang sterlihat sangat kesal. Kedua alisnya saling bertemu memandang ke arah Naya.
"Nay, kenapa sih kamu! kaya habis di tagih hutang saja!" gurau Dina kepada Naya sambil tersenyum menggoda Naya.
"Enak saja! Aku? hutang? sama siapa? Bapak Ibu ku udah lebih lebih ngasih aku!" balas Naya dengan suara sebalnya.
"Iya iya, Aku percaya kog. Siapa sih yang meragukan kesuksesan bisnis Pak Jatmiko. Habisnya punya muka cantik kenapa di tekuk sih Nay. Nggak takut nanti keriputnya datang?" pancing Dina lagi agar Naya bereaksi.
"Bodo. Aku lagi sebel tauk!" sahut Naya cuek.
"Sebel kenapa? masih pada tema yang sama nih?" pancing Dian kepada Naya.
"Iya," sahut Naya singkat.
"Dia belum meminta maaf?" tanya Dina lagi.
"Boro boro meminta maaf, menjelaskan soal tadi walau cuma untuk basa basi saja enggak. Kamu juga bisa liat sendiri kan tadi? Dia juga malah ikutan ndiemin aku kan? bikin sebel nggak sih." kedua pipi Naya yang lembut terlihat cemberut menggambarkan kekesalannya.
"Ya mungkin karena dia nurutin kamu Nay," ucap Dina mencoba menenangkan Naya.
"Nurutin apa?" sahut Dina kesal.
"Bukankah kamu sendiri yang minta kagar hubungan kalian ini jangan sampai ada yang tahu, termasuk temen kampus kan?" bisik DIna pelan ke arah telingan Naya karena kursi di dalam bus sudah hampir semuanya terisi.
"Iya sih, tapi kan paling nggak dia menjelaskan, menghibur atau apa kek yang menyatakan kalau tadi itu bukan kemauannya. Nggak malah diem gitu kali. Itu lihat barang yang di bawanya, tadi juga aku lihat gadis centil itu yang ngasih ke dia! Bukannya di tolak malah diterima begitu saja," ucap Naya dengan kecemburuannya.
"Hemm... kamu cemburu!" goda Dina lagi.
"Nggak cemburu lagi! sebel banget. Saat aku lewat tadi, dia juga malah santai aja. Kaya nggak terjadi apa apa gitu. Bilang sudah menjelaskan! Dalam mmimpi kali!" ucap Naya masih dengan perasaan sebalnya.
Dina adalah sahabat Naya yang paling dekat dengannya. Jadi, Dina sudah mengetahui hubungan antara Andra dan Naya. Dina jugalah yang menjadi tempat curhat segala uneg uneg Naya selama ini.
Andra yang hendak menghampiri Naya kemudian mengurungkan niatnya karena suara ponselnya terus berbunyi. Andra baru tersadar, kalau Misya dan juga Ibunya juga mengirimkan sms ke ponselnya tadi pagi. Tapi berhubung Andra terburu buru, setelah membalas sms dari Naya tadi, Andra pun segera menyimpan handphonenya kembali.
"Hallo Mis, Assalamu'alaikum," jawab Andra sambil mencari tempat duduk di tempat duduk belakang dalam Bus. Naya yang mendengar suara Andra saat menjawab telepon di dalam Bus pun kemudian menoleh ke arah Andra dan menatapnya dengan tatapan mengeringai. Andra jadi gagal fokus menjawab telepon dari Misya.
"Ndra, kamu itu lagi sibuk apa sih?" suara Misya tersengar gemuruh di balik telepon.
"I-iya Mis," jawab Andra salah tingkah setelah mendapat tatapan dari Naya.
"Kalau hanya sms dari aku saja yang kamu cuekin nggak apa apa Ndra. Tapi kamu tetep harus balas sms dari Ibu mu! jangan buat beliau khawatin tentang keadaanmu Ndra!" Misya mulai menekankan perkataannya.
"Iya..." Sahut Andra singkat.
"Ndra! apa kamu nggak ingat? bukankah kamu pernah berkata kalau kamu ingin membahagiakan Ibumu? nggak mau menyesal karena tidak ada waktu buat beliau? terus ini apa Ndra?" Misya mencoba mengingatkan Andraa apa yang menjadi tujuan hidupnya kali ini.
"Mis, kenapa kamu jadi membahas itu!" sahut Andra dengan suara lumayan kencang. Sehingga orang orang di dalam bus sebagian memandang ke arahnya. Kecuali orang yang terus Andra lihat dari tempat duduknya. Andra pun jadi tidak enak jika terus menjawab telepon lama lama di dalam bus.
"Ndra, aku nggak ngerti kenapa kamu jadi seperti ini. Terserah kamu Ndra, aku hanya mengingatkan! Tadi ibu kamu meneleponku, dia terlihat sangat cemas Ndra dengan keadaan kamu. Aku hanya mengingatkan kamu, agar kamu segera menelepon beliau. Assalamu'alaikum," Misya pun langsung mematikan teleponnya.
"Mis..." ucap Andra terhenti karena sambungan telepon sudah mati.
Setelah telepon terputus, Andra terdiam dan berfikir. Entah mengapa, Misya kali ini seperti sedang merasa sebal karena sikap Andra. Memang Andra tidak biasanya mengabaikan smsnya apalagi sms dan telepon dari Ibunya.
Dan mengapa kali ini, Andra seperti sedang gelisah. Dia merasa ada yang aneh hari ini dengan sikap Naya padanya. Kalau Naya hanya bersandiwara untuk menyembunyikan status hubungan mereka di hadapan teman temannya, kenapa dia tadi tampak seperti benar benar marah?
Tangan Andra kemudian kembali ke ponselnya. Dia segera membuka sms di ponselnya. Dan ternyata benar, apa yang dikatakan Misya tadi. Ada banyak sms yang terkirim atas nama Ibunya. Panggilan tak terjawab juga ada beberapa kali dari Ibunya dan juga Misya.
Andra pun segera mengirimkan balasan pesan untuk Ibunya, "Assalamu'alaikum Ibu, maaf Andra baru buka handphone Andra Bu. Alhamdulillah Andra di sini baik baik saja. Ini baru dalam perjalanan pulang," dan pesan pun di kirim.
Belum sempat Andra menyimpan handphonenya, Andra sudah bisa menebak siapa yang telepon. Itu pasti adalah panggilan masuk dari Ibunya. Dan ternyata benar, Bu Sari langsung menelepon Andra begitu menerima sms dari Andra tadi.
"Cie cie cie anak kesayangan Ibu Sari, cepetan Ndra diangkat!" goda Bayu yang kebetulan duduk di sebelahnya, sehingga bisa membaca nama penelepon di layar handphone Andra .
"Awas, jangan berisik kamu Bay!" ucap Andra memberi peringatan kepada Bayu.
"Iya Bu, Assalamu'alaikum Bu, jawab Andra pelan," karena dia tidak enak jika suara teleponnya mengganggu teman temannya.
"Ndra, bener kamu nggak apa apa?" tanya Bu Sari tampak cemas diseberang telepon.
"Iya Bu, Andra baik baik saja, ini baru dalam perjalanan pulang kog Bu," jawab Andra masih dengan suara pelan.
"Kamu pasti di sana makannya kurang banyak ya Ndra? Itu suara kamu kog lemes gitu?" sahut Bu Sari dengan kekhawatirannya yang mendengar suara Andra tampak tak bersemangat seperti biasanya
"Bu, Andra hanya nggak enak sama temen temen Andra. Takutnya ngganggu kalau ngomongnya kenceng kenceng." Andra mencoba menjelaskan posisinya sekarang.
"Bener Ndra? bukan karena di sampingmu ada cewek ta Ndra?" Bu Sari mencoba menyelidik.
"Duh Ibu ini, enggak Bu. Di sebelah Andra Bayu kog Bu," ucap Andra sambil melirik ke arah Bayu yang sedang cengar cengir menertawakan dirinya.
"Kalau nak Bayu coba ibu tak ngomong," ucap Ibunya mencoba mencari kebenarannya.
"Duh Ibu, mau gomong apa sih Bu sama Bayu, dia lagi sariawan Bu" ucap Andra mencoba mencari alasa.
"Enak aja! siapa juga yang sariawan! Bayu sehat lho Bu," Bayu kemudian nimbrung berbicara dengan mendekatkan kepalanya di telepon Andra.
"Bohong kamu Ndra! dosa tauk! Jangan ngomong yang tidak baik untuk temanmu, ngomong yang baik baik, karena dari omongan bisa jadi doa yang terkabul. Mana Ibu tak Ngomong sama nak Bayu." ucap Bu Sari menasehati Andra.
"Iya Bu sebentar. Nih Ibuku mau ngomong. Jangan ngomong yang aneh aneh!" Suara Andra memberi peringatan kepada Bayu agar dia menjaga omongannya kepada Ibunya.
"Hallo Nak Bayu, maaf ya kalau Andra kadang bicaranya ngawur. Nak Bayu apakabar? Baik kan? Lama lho nggak maen sini!" suara Bu Sari mengawali pembicaraannya dengan Bayu.
"Alhamdulillah. Bayu sehat wal'afiat Bude. Bude Pakde juga sehat kan?" sahut Bayu menanggapi Bu Sari, mengingat jika Bayu datang berkunjung dia selalu memberikan sambutan dan hidangan yang enak.
"Alhamdulillah juga Nak Bayu. Kita sehat sehat. Nak Bayu, Bude itu mau Nanya, memang Andra dari kemaren sibuk ngapain to? kog sampai nggak buka handphonennya. Telepon dan sms Ibu juga baru di balas ini tadi," keluh Bu Sari kepada Bayu.
"Oww itu Bude. Andra kan jadi panitia, terus acara game terakhir yang kita lakukan tadi itu di atas bukit Bude, jadi sepertinya sinyalnya nyelip Bude." ucap Bayu menahan tawa sambil melirik ke arah Andra yang terus mengawasinya.
"Oww gitu ya Nak, Bude itu baru tahu Nak, kalau sinyal itu bisa nyelip juga," ucap Bu Sari dengan polosnya.
Bayu Pun tak kuasa menahan ketawanya sampai membuat teman temennya yang lain penasaran dengan apa yang di tertawakan bayu.
"Ya jelas bisa Bude, Andra tadi aja pas permainan bisa keselip, apalagi sinyal Bude," lanjut Bayu kemudian dengan sesekali tertawa kecil.
"Maksudnya Andra keselip gimana to Nak? Andra baik baik saja ta Nak sekarang? Ibu dari kemaren itu nggak tenang mikirin Andra. Perasaan Ibu rasanya nggak enak," Bu Sari mengeluarkan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Walah Bude, jangan di buat spaneng Bude. Andra baik baik saja Bude, masih utuh dan gantengnya tidak kurang sedikitpun," ucap Bayu mencoba menenangkan Bu Sari.
"Ya syukurlah kalau begitu Nak, pokoknya karena Andra nggak ada kabar dan perasaan Ibu ini nggak enak, Ibu ya hanya bisa mendoakan keselamatan Andra ta Nak dari sini," lanjut Bu Sari kemudian.
"Iya Bude, doaseorang Ibu itu pasti, dan point pentingnya juga jangan lupa Bude," sahut Bayu dengan semangat.
"Point apa to Nak Bay," jawab Bu Sari tidak mengerti.
"Doakan Anak Bude Andra Dewantara agar segera ketemu dengan jodohnya Bude, jangan sampai kelamaan menjomblo lho Bude. Anak Bude ini ganteng banget lho, tadi aja ada gadis manis tersepona, eh maksud Bayu terpesona Bude. Bayu aja, kalau Bayu cewek pasti ikutan terkintil kintil Bude," Bayu tertawa kembali mengeluarkan aksi jailnya.
"Walah Nak Bayu itu bisa saja lho," sahut Bu Sari yang sebenarnya juga terlihat senang.
"Lhoh bener lho ini Bude. Tadi itu waktu Andra pamit pergi kebelakang sebentar, Bayu saja sempet cemas lho Bude," ucap Bayu kemudian.
"Lha cemas kenapa Nak Bay?" tanya Bu Sari penasaran.
"Bayu cemas kalau anak Bude ini di goda sama penunggu pohon besar di bukit itu Bude, saking gantengnya dan masih jomblo, hahaha," ucap Bayu dengan gurauannya sambil tertawa terpingkal pingkal.
"Hush ngawur kamu Nak Bay. Hati hati lho kalau ngomong gituan," ucap Bu Sari mencoba menasehati.
Dan tak selang lama, Bus yang mereka tumpangi pun tiba tiba terhenti. Semua yang berada di dalam Bus terkaget, begitu juga dengan Andra dan Bayu. Semua tatapan tertuju kepada sopir Bus dan jalan yang ada di depannya. Sopir Bus itupun terlihat sekilas seperti orang yang sedang terkaget.
**