16. Satu helai rambut

1621 Kata
"Ada apa Pak?" tanya Dina yang berada di tempat duduk deretan depan yang terkaget karena Bus tiba tiba berhenti. "Ma-Maaf Mbak, dan semuanya, tadi itu ada seperti hewan yang tiba tiba menyeberang." ucap Pak Sopir yang sebenarnya ragu tentang apa yang dilihatnya tadi. Tapi dia tidak ingin semuanya ikut cemas, jadi menyebut hewan yang lewat. "Hallo... hallo Nak Bay," suara Bu Sari masih terdengar dari telepon Andra yang belum sempat dimatikan. Andra pun kemudian mengambil ponselnya dari tangan Bayu. "Ya Bu, ini Andra, sudah dulu ya Bu, di sambung nanti," jawab Andra kepada Ibunya. "Tapi tidak terjadi apa apa kan Ndra?" tanya Bu Sari dengan perasaan cemas. "Tidak apa apa Bu, Assalamu'alaikum," dan Andra pun segera mematikan teleponnya. "Hey Bay, kenapa kamu!" ucap Andra yang melihat Bayu tampak kesakitan sambil memegangi lehernya. Bayu menggerakkan tangannya mencoba memberi tahu kalau dia butuh air. Andra pun segera memberikan air aquanya yang masih utuh kepada Bayu. "Nih minum, makannya kalau ketawa di jaga." ucap Andra setelah memberikan botol minumannya kepada Bayu. Bayu terlihat terdiam, dia belum menjawab kata kata Andra. Dia hanya memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya. Nafasnya pun tampak tak beraturan. "Bay, kamu kenapa sih Bay? jangan buat orang takut Bay," ucap Andra panik yang kemudian memancing teman teman lainnya ikut melihat ke arah mereka. "Ndra coba kamu pencet kedua jempol Bayu, jangan sampai dia tertidur!" ucap salah satu teman mereka yang bernama Yanuar. Andra pun segera memencet jempol tangan Bayu sesuai yang di suruh Yanuar tadi. Setahu Andra, yanuar berasal dari desa, ibunya seorang dukun bayi, dan bapaknya seorang yang ahli dalam hal parang keris. "Ada yang bawa kapas?" ucap Yanuar kembali. "Ini aku masih ada sedikit," ucap Naya kemudian memberikannya kepada Yanuar. "Ada jarum pentul atau peniti Nay?" lanjut Yanuar kembali. "Iya ini ada peniti," Naya kemudian memberikan peniti ke tangan Yanura. Dan Yanuar pun segera menusuk kedua jempol jari tangan Bayu dan mengusapkannya di kapas yang di berikan Naya tadi. "Ndra, aku minta rambutmu satu helai saja," ucap Bayu tanpa memandang ke arah Andra. "Apa? satu helai rambutku? Tapi... untuk apa Yan?" ucap Andra tak mengerti. "Untuk membantu Bayu, bisa agak cepat Ndra?" ucap Yanuar kembali sambil menatap Andra lekat. Mau tak mau, Andra akhirnya memberikan satu helai rambutnya untuk di berikan kepada Yanuar. Entah apa maksud Yanuar menyatukan satu helai rambutnya dengan darah Bayu yang berada di kapas tadi. Andra hanya bisa berdoa semuanya akan baik baik saja. Yanuar kemudian mengikat kapas yang terkena noda darah dari jempol tangan Bayu tadi dengan rambut Andra . Seakan banyak sekali pertanyaan yang mengusik pikiran orang orang di dalam Bus, tapi mereka menahannya untuk saat ini karena situasi masih terlihat tegang. "Usap muka Bayu dengan air, jangan lupa bacakan Al Fatikah dulu sebanyak tiga kali," ucap Yanuar kemudian. Yanuar kemudian melempar buntelan kapas kecil dan rambut Andra tadi keluar jendela. Dengan bibir Yanuar yang komat kamit, terlihat sedang mengucapkan sesuatu yang sangat panjang. Dan setelah selesai, Yanuar hendak kembali ketempat duduknya. "Yan," panggil Andra mencoba mengentikan langkah Yanuar menuju tempat duduknya. "Suatu saat nanti, akan aku terangkan," ucap Yanuar sambil tersenyum. Andra pun akhirnya menatap kepergian Yanuar kembali ketempat duduknya. Dia memang penasaran, tapi dia akan menahan pertanyaannya sampai suatu saat nanti jika di pertemukan lagi dengan Yanuar. Tatapan Andra pun kemudian beralih ke arah Naya yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya. Tatapan Naya berubah menjadi tak setajam tadi. Kali ini tersirat gambaran khawatir yang terbaca dari wajahnya. Andra pun mencoba memberikan senyum terbaiknya untuk Naya. Akhirnya Naya membalas senyuman itu walaupun sekilas, dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Tak lama kemudian Bus kembali melaju, dan Bayu pun tersadar kembali. Andra terlihat sangat senang akhirnya Bayu bisa kembali sadar. "Akhirnya sadar juga Bay kamu, cepat minum ini dulu," ucap Andra sambil memberikan air putih kepada Bayu. "Makasih Ndra, leherku tadi sakit seperti seperti sedang tercekik. Sedangkan kepalaku tadi tiba tiba pusing, dan jariku ini... kenapa Ndra?" ucap Bayu sambil memperhatikan kedua jempol jarinya yang masih sedikit mengeluarkan darah karena habis di tusuk dengan peniti tadi. "Apa kamu tidak ingat sama sekali Bay, dengan kejadian ini tadi?" tanya Andra dengan penasaran. "Saat sedang berbicara dengan Ibumu tadi kan? Tiba tiba rasanya ada yang mencekik tenggorokanku sampai sakit seperti yang aku bilang tadi. Dan kepalaku terasa sangat berat Ndra," sahut Bayu kemudian. "Ya sudah, buat istirahat dulu saja Bay. Nanti kalau sudah sampai kampus aku bangunkan." Andra menepuk pelan pundak Bayu dan membiarkannya beristirahat. Bayu hanya membalas dengan anggukan kepalanya. Akhirnya Bus sampai juga di depan kampus tepat pukul delapan malam. Halaman parkir kampus sudah tampak keluarga dari mahasiswa baru yang sudah menjemput menunggu kedatangan mereka. Setelah semua mahasiswa baru sudah di yakinkan telah dijemput pulang, semua tinggal beberapa dari angkata Andra yang masih berada di kampus. "Mau aku Antar pulang Nay?" Andra mencoba membuka obrolan kembali dengan Naya sambil tersenyum ke arahnya. "Nggak usah Ndra, aku sudah di jemput saudaraku yang kebetulan lewat sini." jawab Naya dengan mencoba biasa. "Kamu mau sekalian aku antar nggak Din?" tanya Naya kepada sahabatnya Dina yang juga belum pulang. "Nggak usah, abangku juga sudah on the way jemput," sahut Dina kemudian. "Okey, yaudah aku duluan yach, Itu sepertinya mobil saudaraku sudah datang, daaaa semua," Naya akhirnya pamit pulang dengan melambaikan tangannya kepada teman temannya. Andra pun hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban dari Naya. Tapi dia bisa memakluminya, ini juga sudah malam, dan Naya juga punya asma yang sering kambuh. Jika naik motor, pasti akan membuatnya kedinginan juga. Andra pun segera berkemas merapikan barang barangnya untuk di bawa pulang. Dina yang melihatnya, tampak segera menghampiri Andra dan berdiri di belakangnya. Dina seolah mengawasi apa yang sedang Andra lakukan. "Eh kamu Din, ngagetin saja kamu," ucap Andra yang rada kaget karena tiba tiba sudah ada Dina di belakangnya. Sebenarnya pikiran Andra juga masih sedikit tidak fokus memikirkan kejadiian di Bus tadi. "Kamu ngira aku hantu?" jawab Dina kesal. "Enggak enggak, cuma kaget saja tiba tiba kamu sudah ada di belakang sini." ucap Andra mencoba menjelaskan. "Habisnya tadi kamu tak panggil nggak nyahut nyahut," sahut Dina kemudian dengan bibir dimanyunkan. "Kapan emangnya?" tanya Andra tidak percaya karena dari tadi dia memang tidak mendengar Dina memanggilnya. "Ya barusan! hayo... nglamunin apa kamu!" goda Dina mencoba mencari tahu. "Nggak ngalamun kog, cuma lagi nali barang barang ini saja," jawab Andra ringan. "Ndra, kamu itu jadi cowok nggak peka banget sih!" omel Dina kepada Andra kembali. "Nggak peka gimana sih Din? kalau ngomong itu yang jelas. Jangan bikin orang bingung kaya gini! Tadi ngomongin apa, sekarang jadi ngomongin apa," sahut Andra tak mengerti. "Nggak usah pura pura! aku itu tahu hubunganmu dengan Naya. Aku juga tau kalian udah jadian kan tadi saat ke atas bukit!" ucap Dina dengan tatapan menyeringai. "Lhah Din, kamu dapat info dari mana itu?" Andra mencoba masih berpura pura. "Bukankah Naya memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka kepada teman teman kampus, kenapa Naya malah menceritakan hubungan mereka kepada Dina? Apa karena Dina sahabat dekat Naya?" Guman Andra dalam hati. "Walah, sudah nggak usah akting Ndra. Orang Naya sendiri kog yang udah ngasih tau aku!" ucap Dini sambil tersenyum kecil. "Dia emang bilang gimana?" Pancing Andra agar bisa memahami kondisi mereka. "Ya semuanya... tentang kalian, orang apa apa dia itu selalu ngomongnya ke aku kog," ucap Dina sambil manyum. "Iya iya Din. Aku ngerti kog. Tapi bibirnya jangan dimanyunin terus!" ucap Andra mencoba menanggapi. "Biarin! Kamu memang ngerti? Kayaknya, kamu jadi cowok tu nggak pengertian banget dech," lanjut Dina kemudian menilai Andra. "Sebenarnya kamu mau bahas apa sih Din? Apa nggak capek?" sahut Andra malas. "Jujur capek sih capek Ndra, tapi aku sebagai sahabat Naya, melihat sahabat aku sedih gitu, Aku yang nggak tega Ndra," ucap Dina menekankan. "Sedih gimana sih Din? Aku dan Naya baik baik saja kog," "Baik baik katamu? Setelah di hadapan pacar sendiri bermesraan ama cewek lain, pelukan sama cewek lain di tempat umum apa itu wajar bagi kamu? Itu saja belum lama dari waktu kalian jadian lho Ndra. Bisa dikatakan baru beberapa jam setelah kamu mengungkapkan cinta ke Naya! kamu malah nggak bisa jaga hati Naya!" ucap Dina dengan nada dominannya. "Din, soal itu okey, aku akui aku memang salah, tapi itu semua juga bukan kemauanku. Bayu yang telah mengaturnya," sahut Andra menjelaskan. "Kenapa nggak kamu tolak? Kamu kog bisa bisanya mau begitu saja," ucap Dina masih dengan nada kesalnya. "Din, masalah itu nggak usah di bahas lagi ya, aku capek. Pengen cepat istirahat ketemu Ibu dan Bapak. Dan kamu tenang saja, masalah itu sudah aku bicarakan dengan Naya, dan Naya juga sudah bisa ngertiin kog, dia juga sudah memaafkan aku." Andra merasa tidak nyaman karena urusannya dengan Naya ada yang ikut campur. "Hey kamu itu ngimpi atau apa sih Ndra? Kapan kamu membicarakan dengan Naya? Kalau kamu sudah membicarakan kepada Naya, Dia nggak akan sedih dan sakit hati seperti tadi Ndra" Ucap Dina sambil menertawakan Andra. "Maksud kamu Din? Naya nggak bilang? kalau aku dan dia sudah bertemu waktu aku mengejarnya?" ucap Andra dengan raut muka serius. "Bertemu? berdua? jangan jangan kamu salah orang Ndra? atau bener tempat itu emang ada..." Dina tak melanjutkan kata katanya sambil memegang kedua bahunya menatap sekeliling. "Maksud kamu? yang aku temui saat itu bukan Naya? tapi hantu?" ucap Andra menanggapi ucapan Dina. "Maybe Ndra, lagian kata Naya setelah kelompok pertama selesai dia langsung turun dan menemui Aku di kamar Ndra. Mukanya juga masih di tekuk sebel liat kamu katanya. Nggak mungkin lah ketemu kamu dulu seperti apa yang kamu bilang." Dina mencoba menjelaskan. Tubuh Andra pun kemudian agak lemas, dia jelas jelas masih mengingat jelas tentang apa yang terjadi dengannya dan Naya waktu itu. Dia menjelaskan semuanya dan meminta maaf. Naya pun memaafkannya dan mereka saling berpelukan. Memang pada saat itu Andra merasa aneh karena Naya yang berani saat Andra tinggal, padahal tempat itu sangat sepi. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN