17. Menjelaskan

1689 Kata
Andra juga tiba tiba teringat saat Bayu menerima telepon dari Ibunya. Saat itu, Bayu bilang kalau Andra di goda oleh penunggu bukit itu, tiba tiba bus berhenti, akhirnya tak lama kemudian Bayu kemudian merasa kesakitan dan tiba tiba aneh. Untung saja saat itu ada Yanuar yang paling tidak tau soal ilmu kebatinan. "Ndra, kamu kenapa Ndra?" ucap Dina yang cemas melihat Andra yang tampak memikirkan sesuatu. "Ah, tidak apa apa Din. Din, apa kamu masih melihat Yanuar?" sahut Andra kemudian. "Kayaknya dia sudah menuju parkiran tadi saat aku kesini. Tidak tau sudah pulang atau belum," jawab Dina menanggapi apa yang dia tau. "Aku mau ketemu Yanuar dulu Din, sudah dulu ya Din," pamit Andra kepada Dina yang masih di depannya. "Hemmm Okey," jawab Dina langsung menyetujui. Andra pun kemudian menaiki motornya menuju parkiran. Dia harus bertanya kepada Yanuar apa yang sebenarnya terjadi saat itu di bus, dan kenapa yang di pakai saat itu adalah rambutku, bukan rambut Bayu. Saat menuju parkiran, kebetulan Andra berpapasan dengan Yanuar yang baru saja akan keluar. "Yan, tunggu," teriak Andra kepada Yanuar. "Ada apa Ndra?" balas Yanuar sambil berhenti dan mematikan mesin motornya. Andra pun kemudian membalikkan montornya dan mensejajarkan motornya dengan motor Yanuar. "Apa kamu ada waktu Yan? Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," tanya Andra kemudian. "Mau tanya apa Ndra?" sahut Yanuar heran karena tidak biasanya Andra mengajaknya ngobrol. "Kita ke warung kopi depan kampus saja yuks," ajak Andra kemudian. "Okey," sahut Yanuar singkat. Andra kemudian menjalankan motornya menuju warung kopi depan kampus. Yanuar pun segera menyusulnya. Setelah memesan minuman, muka Andra pun kembali berubah serius. "Yan, aku mau tanya soal kejadian di Bus tadi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Bayu?" Andra memulai pertanyaannya. "Ini ya Mas kopinya," ucap penjual kopi yang menyajikan minuman kepada Andra dan Yanuar. "Terimakasih Pak," ucap Andra dan Yanuar hampir bersamaan kepada penjual minuman itu yang telah menyajikan minuman mereka. Yanuar pun segera menyeruput minuman yang ada di gelasnya sambil menatap Andra lekat. Sedangkan Andra dia masih dengan sabar menunggu jawaban dari Yanuar. "Karena mungkin, omongan Bayu saat itu membuat ada yang tidak nyaman," sahut Yanuar kemudian dengan tenang. "Maksudmu? memang tempat itu benar benar ada penunggunya?" sahut Andra kemudian menjabarkan maksud kalimat Yanuar. "Sekarang ini banyak tempat yang juga di tempati oleh dunia lain, tidak terkecuali dengan tempat itu. Sebenarnya masing masing sudah ada batasannya. Asal kita tidak saling mengganggu, semuanya akan baik baik saja," jawab Yanuar kemudian. "Terus apa hubungannya dengan rambutku yang kamu gunakan dengan darah dan kapas itu Yan?" tanya Andra dengan serius. "Saat Bayu menyebut kamu sudah di goda penunggu bukit itu, dia kemudian muncul. Mungkin dia merasa tersinggung karena Bayu mengejeknya," Yanuar mulai membuka suara soal kejadian waktu itu. "Jadi penunggu itu benar benar ada? dan dia beneran muncul di depan bus itu tadi Yan?" tanya Andra lagi dengan penasaran. "Iya Ndra," sahut Yanuar singkat sambil menyeruput kopinya lagi. "Bagaimana wujudnya Yan?" Andra mencoba mencari tahu. "Bukankah kamu pernah bertemu dengannya?" ucap Yanuar yang membuat Andra terkaget. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Andra merasa heran. "Bisa disimpulkan dari omongan Bayu dan cara dia menatap kamu," lanjut Yanuar lagi. "Menatapku? siapa Yan?" tanya Andra tak mengerti. "Iya, aku sempat melihatnya tadi. Dari situ aku tahu, sebenarnya orang yang ingin dia ikuti adalah kamu. Maka dari itu aku meminta sehelai rambutmu dan darah dari Bayu yang telah dia sakiti intuk menguncinya agar tidak mengikutimu kembali," Yanuar mencoba menjelaskan apa yang dia ketahui. "Begitu ya Yan? Aku benar benar nggak tahu Yan. Karena saat itu, setahu aku, aku hanya bertemu dengan Naya. Dan aku tidak tahu kalau dia ternyata bukan Naya. Jadi saat itu aku sudah bersama penunggu bukit itu Yan?" tanya Andra lagi meyakinkan. "Untung saja kamu tidak melakukan hal hal di luar batas Ndra, kalau itu sampai terjadi pasti akan sulit untuk melepaskannya dari kamu," terang Yanuar kemudian. "Makasih ya Yan, atas bantuanmu," ucap Andra kemudian merasa tenang. "Iya Ndra sama sama. Oya maaf ya, aku harus pulang dulu, ini sudah malam. Kamu juga pasti capek kan?" ucap Yanuar kemudian. "Iya Yan, yuks kita pulang," Andrapun kemudian ikut berdiri. Mereka kemudian mengemudikan motornya dengan tujuan masing masing. Yanuar dengan arah rumahnya. Sedangkan Andra, dia melajukan motornya dengan banyak pikiran yang mengganggu. Dia merasa enggan untuk langsung pulang kerumah, karena masih merasa ada yang perlu dia lakukan saat ini. Hari ini adalah hari jadinya dengan Naya. Jika hari ini juga dia tidak menjelaskan apa yang tadi terjadi, Andra takut tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya. Karena jika Andra tertidur, dia pasti akan bangun di waktu yang berbeda lagi. Dia tidak ingin meninggalkan hari ini dengan ketidakpastian. Hari ini juga harus ada penjelasan soal kejadian tadi. Akhirnya laju motor Andra dengan mantap berjalan dengan cepat menuju ke arah rumah Naya. Kebetulan juga rumah Naya satu arah dengan jalan pulangnya jadi saya . Saat sampai di depan rumah Naya, terlihat rumah Naya sedang ramai dengan tamu. Ada dua mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya. "Apa saudara Naya yang sedang berkunjung ya?" gumam Andra kemudian mengingat tadi Naya bilang di jemput saudaranya. Andra pun segera mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menelepon Naya. Tiga kali panggilan tida di angkat. "Apa Naya baru sibuk menemui tamu ini? sampai teleponku tidak diangkat?" Andra bermonolog kepada dirinya sendiri. Andra ingin masuk dan mencari Naya, tapi niatnya diurungkan karena sedang ada banyak tamu di rumah Naya. Akhirnya Andra hanya mengirim pesan untuk Naya, "Nay, aku tunggu di depan rumahmu ya, ada hal penting yang harus aku bicarakan. Aku tunggu kamu sampai keluar. Aku sayang kamu Nay." dan pesan pun dikirim. Sudah hampir dua jam Andra sudah menunggu di depan rumah Nay. Sampai saat ini, Naya belum juga merespon pesan dari Andra. Sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam, para tamu di rumah Naya baru pada pulang. Ada sepasang orang tua, satu orang wanita, dua pria dan dua anak kecil yang keluar dari rumah Naya. Dari pinggir jalan Andra menunggu, juga terlihat ayah, ibu dan Naya ikut menyambut kepulangan mereka. Tak sengaja saat mengantar tamu yang akan pulang di depan rumahnya, arah mata Naya tertuju pada Andra yang berada di seberang jalan depan rumahnya. Naya segera masuk menuju kamarnya, dan menelepon Andra. "Assalamu'alaikum Nay, akhirnya kamu menelepon juga," jawab Andra setelah mengangkat telepon dari Naya. "Ngapain Ndra kamu malam malam disana?" tanya Naya dengan cemas. "Aku ingin bertemu denganmu Nay, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Apa kamu bisa keluar sebentar?" sahut Andra kemudian. "Besok kan bisa Ndra, lagian ini sudah malam, kamu belum pulang juga kan?" jawab Naya mencoba mencari alasan yang tepat untuk menyuruh Andra segera pulang. "Aku harus menjelaskan soal kejadian tadi Nay ke kamu." ucap Andra kemudian. "Tapi ini sudah malam Ndra, aku nggak bisa keluar nemuin kamu!" sahut Naya cepat. "Nay, setelah regu elang selesai permainan dan kamu menghilang, aku mengejar kamu Nay. Dan saat itu aku ketemu dengan kamu di dekat pohon besar pinggir bukit. Kamu melempariku ranting kan? Lalu kemudian mengageti aku. Dan saat bertemu itulah, aku meminta maaf kepadamu soal apa yang telah terjadi saat permainanku dengan Bella tadi. Aku sudah meminta maaf, dan kamu sudah memaafkanku. Saat aku ajak kamu kembali ke stand, kamu menyuruhku agar kembali dulu karena tidak enak sama Bayu karena pamit mau ke kamar dulu mengambil obat. Jadi aku meninggalkanmu di situ dan kembali ke stand menemani Bayu kan?" ucap Andra menjelaskan apa yang ada di uneg unegnya dengan cepat. "Kamu ngomong apa Ndra? bertemu kamu? di pinggir bukit? minta maaf? kapan Ndra?" tanya Naya dengan heran tak mengerti. "Itulah Nay yang aku herankan. Aku sudah merasa menemui kamu dan meminta maaf, menjelaskan semuanya. Tapi ternyata itu semua hanya bayangan semu Nay." ucap Andra frustasi. "Apa maksud kamu sebenarnya Ndra?" tanya Naya masih tak mengerti. "Aku hanya ingin mengatakan soal itu Nay. Makannya saat kamu kembali ke stand dengan Dina, aku bersikap biasa karena aku sudah merasa menjelaskan semuanya kepada kamu. Maafkan aku Nay karena aku telat mengetahuinya. Dan soal aku sama Bella, itu semua hanya murni karena permintaan Bayu untuk membantunya. Di dalam hatiku hanya ada kamu Nay," ucap Andra mencoba mengutarakan isi hatinya. "Ndra aku..." ucap Naya ragu. "Nay, aku hanya ingin meminta maaf sama kamu sebelum semuanya terlambat. Aku nggak mau persoalan kecil seperti tadi mempengaruhi hubungan kita. Nay kamu ingat apa yang terjadi dengan Bayu tadi di bus kan?" tanya Andra kemudian. "Iya Ndra, memangnya kenapa?" sahut Naya menanggapi. "Saat dia menyebut penunggu bukit menggodaku, bus tiba tiba terhenti. Ternyata itu yang membuat Bayu kesakitan, dan akhirnya Yanuar tadi mengobatinya dengan darah Bayu dan sehelai rambutku. Itu adalah cara Yanuar membuat penunggu itu tidak mengikutiku Nay. Karena tadi aku dan dia sudah berkomunikasi walaupun dia mengubah wujudnya menyerupai kamu Nay," terang Andra lagi kemudian berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Ndra, kamu malam malam kog ngomongin soal itu sih? jadi mrinding tau nggak Ndra. Aku..." ucap Naya yang kemudian terhenti karena merinding mendengar cerita Andra. "Percaya atau tidak, itu yang terjadi Nay, Nay kamu percaya kan Nay sama aku? kamu mau kan Nay maafin aku?" ucap Andra kemudian dengan penuh harap.. "Ndra, sana pulang dulu! ini sudah malam! lebih baik kita lanjutkan obrolan ini besok!" ucap Naya kemudian menyuruh Andra pulang. "Kalau kamu sudah mau maafin aku, aku baru mau pulang nay," ucap Andra kemudian mencoba membuat Naya tak berkutik. "Ndra kamu itu mesti memaksa, besok kita bicarakan lagi di kampus, aku capek Ndra. Kamu juga ngertiin Aku! Aku lagi nggak mau berdebat. Aku juga baru pusing Ndra," ucap Naya tiba tiba merasa emosi. "Nay, kamu ada masalah apa? Maaf Nay, aku..." "Sudah Ndra, aku mohon kamu pulang dulu! besok kita bicara lagi saja di kampus. Okey?" sahut Naya yang memotong kata kata Andra yang belum selesai terucap. "Nay, tapi.." Andra tak meneruskan kata katanya. Naya sudah mematikan teleponnya. Mungkin benar juga kata naya, ini sudah malam, dan Naya juga sedang capek. Jika terus memaksanya, bisa jadi malah memperburuk hubungan mereka. Akhirnya Andra memutuskan untuk pulang kerumahnya. Hanya saja, dia masih memikirkan cara agar dia besok masih bisa untuk membicarakan ini semua kepada Naya besok di kampus. "Apa aku nggak usah tidur saja biar bisa meneruskan hari ini sampai besok?" gumam Andra di dalam hatinya memikirkan cara agar bisa meneruskan hari ini tanpa tertidur.. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN