Mendengar kedatangan suara motor Andra, Bu Sari bergegas membuka pintu rumahnya. Wajahnya yang cemas tampak seperti mendapatkan kesegaran yang melegakan karena putera semata wayangnya pulang.
"Alhamdulillah Ndra, akhirnya kamu pulang juga Ndra," ucap Bu Sari setelah Andra memarkirkan montornya.
"Iya Bu," sahut Andra singkat seperti tak bersemangat.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana, biar seger. Ibu sudah memasakkan air buat kamu mandi," ucap Bu Sari yang tau Andra sedang capek. Dia lebih memilih menahan uneg unegnya terlebih dulu agar Andra bisa mandi dan segar kembali terlebih dahulu.
"Terimakasih ya Bu, Andra mandi dulu." Andra pun kemudian bergegas mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan oleh Bu Sari. Setelah selesai mandi, Andra mendapati Ibunya duduk di ruang makan, Bu Sari juga sudah menyediakan jahe sere hangat dan makanan untuk Andra.
"Wah, apa ini Bu?" ucap Andra kemudian duduk di sebelah kursi Ibunya.
"Jahe sere Ndra, biar capekmu hilang. Sama ini tadi ibu masakkan tongkol balado kesukaanmu. Ayo cepat makan, kamu belum sempet makan kan?" ucap Bu Sari sambil tersenyum ke arah Andra.
"Iya Bu, makasih banyak ya Bu. Ibu sendiri sudah makan?" tanya Andra kemudian.
"Ya sudah ta Ndra, nemenin bapakmu tadi," sahut Bu Sari cepat.
"Lha Bapak dimana Bu?" tanya Andra yang tidak melihat keberadaan Bapaknya sejak pulang tadi.
"Sudah tidur, besok pagi jam empat harus berangkat ngecek proyek baru Bapak, jadi ini tidur cepet biar besok segar," ucap Bu Sari mencoba menjelaskan.
"Oww gitu ya Bu, lha Ibu kalau sudah ngantuk tidur dulu saja dulu Bu," Andra melihat ke arah Ibunya yang terlihat capek.
"Ibu belum bisa tidur, apalagi kalau belum melihat kamu pulang dan maem kenyang kaya gini Ndra," ucapnya sambil tersenyum hangat ke arah Andra.
"Sekarang Andra sudah pulang, sudah mandi sama makan kenyang nih Bu. Ibu kalau sudah ngantuk tidur saja dulu," sahut Andra kembali mengingatkan Ibunya.
"Iya Ndra, kamu juga terus tidur ya. Oya tadi saat Ibu telepon Nak Bayu kog terus berhenti gitu kenapa Ndra?" Bu Sari teringat dengan teleponnya yang terhenti saat senang mengobrol bersama Bayu di Bus.
"Gara gara dia ngomong sembarangan Bu," sahut Andra keceplosan.
"Ngomong apa Ndra?" tanya Bu Sari penasaran.
"Ya ngomong Andra di goda penunggu bukit itu Bu," Andra menjelaskan kepada Ibunya karena sudah terlanjur menjawab seperti tadi.
"Memangnya terus terjadi apa Ndra?" tanya Bu Sari penasaran.
"Lehernya tiba tiba sakit, terus ada sesuatu yang mengehentikan Bus kita Bu. Untung saja ada Yanuar, temen Andra yang tau hal hal mistis gitu Bu, jadi Bayu selamat. Oya kata Yanuar penunggu itu katanya ngikuti Andra Bu sebelumnya," Andra menceritakan secara detail apa yang terjadi.
"Walah Ndra kog bisa gitu to. Pantesan perasaan Ibu itu nggak tenang dari kemaren itu. Ibu coba menghubungi kamu nggak kamu respon terus. Tapi kog bisa ngikuti kamu? Memangnya kamu bener bener di goda?" tanya Bu Sari kemudian menatap Andra lekat.
"Duh Andra bingung Bu jelasinnya. Sebenarnya Andra kan sedang nyari temen Andra, trus Andra seperti di lempar ranting kering sebanyak tiga kali Bu, Andra tengok nggak ada. Terus nggak taunya teman Andra yang muncul ngangetin Andra. Ya Andra ngobrol seperti biasa Bu. Andra juga mengucapkan minta maaf kalau Andra ada salah sama dia. Dan ternyata orang itu bukan temen Andra Bu, karena dia sama sekali tidak tau soal kejadian itu. Dan Yanuar juga bilang kalau dia itu mungkin adalah penunggu bukit yang menjelma menjadi temen Andra itu Bu," terang Andra menjelaskan apa yang dia pikirkan.
"Walah walah Ndra, kamu itu kog bisa? sholat mu di kencengi Ndra! Tadarusmu juga. Puasa senin kamismu ada bagusnya juga dilanjut, jangan pedot pedot supaya nggak ada yang ganggu. Tapi temnmu itu cewek atau cowok Ndra?" tambah Bu Sari kemudian curiga.
Andra terdiam sejenak, kemudian menjawab, " Cewek Bu," jawab Andra singkat.
"Tapi kalian tidak berbuat yang aneh aneh kan Ndra?" Bu Sari mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Walah, enggak Bu. Dia itu wanita yang Andra suka Bu. Tadinya Andra mau meminta maaf karena telah membuat perasaannya nggak nyaman. Jadi Andra hanya menjelaskan dan meminta maaf, terus..."
"Terus apa Ndra?" ucap Bu Sari penasaran sambil melirik ke arah Andra.
"Terus udah Bu," sahut Andra yang tadinya mau bilang mereka berpelukan tapi kemudian mengurungkan niatnya.
"Hemm yaudah, yang penting kalian nggak neko neko gitu kan Ndra," ulang Bu Sari mencoba meyakinkan.
"Ya enggaklah Bu," ucap Andra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Walah, ternyata kamu itu sudah ada gadis incaran lain ta Ndra," ucap Bu Sari kemudian baru tersadar kalau Andra sudah memiliki sendiri gadis yang dia pilih.
"Heee ya deket Bu. Andra itu sudah suka dia dari dulu, sejak pertama kali kita bertemu Bu," balas Andra mencoba menerangkan kepada Ibunya soal perasaannya.
"Kasian Mbak Misya Ndra, padahal Ibu dan Bapak ki seneng lho sama Mbak Misya. Mbak Misya juga kelihatannya sayang sama kamu. Ibu tau dari cara dia natap kamu Ndra," ucap Bu Sari sambil menepuk nepuk pundak Andra pelan.
"Misya kan juga sudah punya pacar sendiri kog Bu," ucap Andra mencoba menenangkan Ibunya dengan apa yang dia ketahui di kehidupannya.
"Kamu tau dari mana Ndra?" tanya Bu Sari penasaran.
"Ya Andra tau, kan Andra sahabat Misya. Orang tuanya Misya juga sudah punya jodoh yang terbaik Bu buat Misya," lanjut Andra kemudian.
"Woo berarti Mbak Misya sudah di jodohkan gitu ya Ndra?" ucap Bu Sari mencoba memahami.
"Ya begitulah Bu," sahut Andra sedikit malas.
"Oww gtu, mungkin dia mau mudik mau ketemu kekasihnya itu ya Ndra?" Bu Sari berkata sambil tersenyum.
"Mudik? kapan Bu?" tanya Andra terkaget. Dia hampir lupa, Dia belum menceritakan soal peristiwa hari ini yang terjadi padanya untuk di tuliskan ke buku hijau reinkarnasi. Karena Andra belum bisa menemuinya hari ini, dia harus bertemu misya terlebih dahulu sebelum Misya berangkat mudik ke Semarang.
"Tadi hanya bilang kalau malam ini mau berkemasnya,.Katanya pagi ini Ndra, mau ke Semarangnya. Ngabisin libur semester katanya. Ya itu, paling ketemu calonnya itu ya Ndra," ucap Bu Sari seolah tau.
"Bu, Andra mau kerumah Misya dulu ya," pamit Andra kemudian.
"Walah Ndra, kamu ini. Lihat, ini itu sudah jam berapa Ndra sekarang? Nggak wangun juga berkunjung ke rumah gadis perawan malam malam gini. Mbok besok pagi saja kan masih bisa," ucap Bu Sarah kembali menghalangi Andra.
Andra tak langsung menjawab. Di satu sisi, benar juga perkataan Ibunya kalau ini sudah malam dan tidak pantas bertamu ke rumah Misya yang tinggal seorang diri. Tapi jika menunggu pagi, Andra takut akan tertidur. Dia juga harus menemui Naya besok di kampus, dia tidak boleh melewati malam ini dengan tertidur. Atau kalau tidak, dia akan terseret ke waktu yang berbeda lagi seperti kemarin.
"Kog malah bengong Ndra kamu!" ucap Bu Sari menepuk pundak Andra pelan karena melihat Andra seperti melamun.
"Ah enggak kog Bu. Yaudah, besuk pagi Andra ijin ketempat Misya ya Bu, biar sekalian ngantar Misya ke Stasiun," ucap Andra kemudian.
"Iya Ndra. Ya Sudah, sekarang kamu istirahat dulu saja Ndra sana. Biar besuk pagi fress kembali," ucap Bu Sari kemudian beranjak membereskan piring dan gelas Andra kemudian di bawa ke dapur.
"Iya Bu, Andra ke kamar ya Bu." sahut Andra kemudian.
Di dalam kamarnya, Andra mencari cara agar tidak tertidur. Dia mencoba menyetel musik yang energik dengan menggunakan headseat, kemudian beralih menonton film magic yang dia sukai. Malam ini akan menjadi malam panjang dan juga penentu hari yang akan dia jalani selanjutnya.
Hingga jam sudah menunjukkan jam tiga lebih lima belas menit, Andra akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia mengamati seisi rumahnya yang masih sama dengan keadaannya tadi malam. Bu Sari yang mendengar suara pergerakan di ruang tengah segera terbangun dan keluar dari kamarnya.
"Alhamdulillah, semoga aku bisa bertahan," ucapnya pelan.
"Lho Ndra, sudah bangun kamu?" suara Bu Sari bergema di ruangan yang tidak terlalu luas itu.
"I-iya Bu," sahut Andra kemudian. Dia tidak mau membuat ibunya khawatir kalau tau dia belum tidur.
"Ya sudah, sana ambil wudhu, terus sholat tahajud, di lanjut sama baca Alqur'an kalau kamu nggak mau tidur lagi." ucap Bu Sari mencoba memberikan masukan.
"Baik Bu, Ibu juga mau sholat?" tanya Andra melihat Ibunya yang juga menuju ke belakang.
"Iya nanti Ibu susul, ini ibu mau goreng telur dulu buat sahur,"
"Ini bener hari senin kan Bu?" tanya Andra kemudian.
"Iya to Ndra, itu di jam yang Ibu belikan untuk kado kamu dulu sudah ada tulisannya kan Ndra. Apa kamu mau ikut puasa lagi?" tanya Bu Sari sambil menatap Andra.
"Hee ngetes saja Bu. Andra benernya juga pengen Bu, tapi kuat nggak ya?" ucap Andra ragu.
"Lha kamu mau ngapain? Sehat nggak? tapi yang terpenting semua itu niat Ndra, kalau kamu udah niat itu juga sudah dapat pahala Ndra," ucap Bu Sari sambil berjalan ke dapur.
"Ya Bu, Andra juga mau puasa," Andra pun menyusul Bu Sari menuju dapur. Dia lanjut ke kamar mandi untuk mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum melakukan sholat hajat. Sebenarnya Andra ingin melakukan sholat tahajud, tapi berhubung belum tidur dia hanya melakukan sholat hajad dan sunah.
Setelah selesai sholat, Andra pun kemudian menuju meja makan yang sudah tersedia makanan yang sudah di siapkan Ibunya.
"Makasih ya Bu," ucap Andra kemudian sambil menatap Ibunya sambil tersenyum.
"Walah Ndra, kamu itu. Cuma telur juga tumben bilang makasih," ucap Bu Sari merasa tersipu dengan ucapan terimakasih Andra.
"Telur campur tempe dan brambang ini, bagi Andra sangat spesial Bu. Ini akan jadi makanan favorit Andra sampai kapanpun. Walaupun dengan bahan sederhana, tapi bisa membuat Andra jadi pengen nambah terus" ucap Andra kemudian.
"Ya sudah, kalau mau habisin nggak apa apa. Nanti Bapakmu tak gorengin lagi." ucap Bu Sari tetap dengan senyumnya.
"Enggak Bu, Ibu kan puasa, Andra segini juga sudah cukup kog Bu," ucap Andra kemudian sambil tersenyum manis di depan Bu Sari.
"Hee ya sudah, buruan makan, nanti keburu adzan subuh tiba malah belum jadi sahur. Jadinya sahur gombalanmu,xixixixi" celoteh Bu Sari bahagia.
Andra pun ikut senang bisa melihat kekocakan dan merasakan kelembutan Ibunya kembali. Rasanya, dia seperti tidak ingin tertidur selamanya sehingga bisa tetap menjalani waktu ini kembali.
"Oya Bu, Bapak jadi berangkat jam berapa Bu?" tanya Andra kemudian teringat Bapaknya ada acara survei proyek barunya.
"Walah Ndra, hampir lupa, Bapakmu ki suruh bangunin jam empat e... Bentar ya, biar Ibu bangunin bapak dulu."
"Iya Bu, Andra juga mau ke masjid dulu ya Bu," sahut Andra kemudian bersiap pergi ke masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Hanya berjalan sejauh kurang lebih sepuluh meter sudah terlihat masjid yang bernuansa hijau di depan matanya. Masjid yang mengimpan banyak kenangan untuknya.
"Alhamdulillah," bisik Andra senang bisa merasakan sholat di masjid masa kecilnya ini. Karena di kehidupan yang dia jalani, setelah dia pindah rumah, dia merasa malu untuk datang ke masjid ini. Malu kepada dirinya yang tidak bisa mempertahankan rumah warisan orang tuanya. Malu kepada bapak dan Ibunya yang belum bisa dia balas dengan kebahagiaan semasa hidupnya. Dan juga malu kepada tetangga karena pasti dia dianggap sebagai anak yang tidak bisa mengangkat derajat orang tua karena saking banyaknya hutang.
Tak terasa, Andra pun menangis. Dia tidak bisa menahan perasaannya mengingat kejadian yang telah dia lalui. Penyesalan demi penyesalan selalu menghantuinya. Rasa bersalah kepada orang tuanya sangat menyakiti hatinya. Hidupnya seakan tak ada kebahagiaan lagi seperti saat dia berada di samping ibunya seperti saat ini.
**