"Ndra, kamu kenapa?" Bu Sari tiba tiba muncul di belakang Andra dan menatap mata Andra dalam dalam. Dia merasa ada banyak sekali masalah yang menimpa anaknya saat ini. Tapi dia sendiri tidak bisa mengetahui apa masalahnya. Mata yang dia tatap bermasalah ini, seperti berbeda dengan mata Andra yang sehari harinya dia temani.
"Aku kangen Ibu, aku sayang banget sama Ibu. Bu, Andra mohon, maafkan semua kesalahan Andra Bu." ucap Andra dengan linangan air mata kemudian berlutut di hadapan Ibunya di teras masjid.
"Andra anakku, kamu itu kenapa to Ndra. Jangan buat Ibumu cemas seperti ini. Apapun kesalahanmu, semarah marahnya Ibu ini, Ibu akan selalu memaafkannya Ndra. Kamu adalah darah daging Ibu. Anak Ibu satu satunya. Semua restu Ibu, ridho Ibu, akan Ibu berikan kepadamu Ndra," ucap Bu Sari ikut terbawa suasana dan ikut menangis sambil membantu Andra agar kembali berdiri.
"Ibu janji ya Bu?" ucap Andra masih dengan muka berharapnya.
"Iya Ndra, ridho dan restu ibumu ini, akan selalu meyertaimu selamanya Ndra," ucap Bu Sari mencoba meyakinkan.
Andra pun kemudian menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya tanda dia sudah merasakan kelegaan di dalam hatinya.
"Sekarang sana, kamu Adzan. Suara Adzanmu akan membawa kepada keberkahan Allah Ndra," ucap Bu Sari meyakinkan Andra sambil tersenyum hangat.
"Baik Bu," sahut Andra dengan cepat.
Andra pun kemudian mengumandangkan Adzan subuh sehingga masyarakat setempat datang ke Masjd Al Ikhlas. Ada yang suka kepada suara Andra yang merdu, tapi ada juga yang tidak begitu senang mengira Andra hanya mencari sensai sesaat saja. Watak setiap manusia berbeda beda, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Yang terpenting, niat kita adalah selalu ikhlas melakukan yang terbaik dan bermanfaat.
Setelah selesai melakukan sholat subuh berjamah, Andra pun bergegas kembali kerumah dan bersiap siap hendak berangkat ke rumah Misya. Saat Andra sudah siap dengan memakai jaket pemberian Misya dan tas perlengkapan kuliahnya. Saat Andra ingin berangkat, bersamaan denga Bu Sari dan Bu Tini yang sedang pulang dari masjid setelah melakukan tadarus bersama.
"Wah Ndra, pagi pagi bener sudah mau pergi Ndra, mau kemana Ndra?" sapa Bu Tini yang kebetulan jalan rumahnya melewati rumah Andra.
"Iya Bu, ada acara Bu," Sahut Andra mencoba menanggapi dengan ramah.
"Ya sudah ya Jeng, saya pulang dulu," lanjut Bu Tini yang kemudian berpamitan kepada Bu Sari lalu pergi berjalan ke rumahnya.
"Langsung ke rumah Misya Ndra kamu?" tanya Bu Sari kemudian ke arah Andra.
"Iya Bu, takutnya Misya berangkat ke stasiun pagi pagi. Bapak juga sudah berangkat kan Bu?" tanya Andra kemudian.
"Iya, Bapakmu tadi habis sarapan terus berangkat, soalnya mau survey tempatnya bareng temannya, nggak enak kalu sampai telat. Oya Ndra sebentar ya. Ibu nitip sesuatu buat jeng Ninik Ibunya Misya," Bu Sari kemudian berlari kecil memasuki rumahnnya. Tak lama kemudian dia kembali mendekati Andra.
"Ini Ya Ndra, titipin Misya. Buat Bu Ninik," ucap Bu Sari kemudian.
"Apa ini Bu?" tanya Andra tampak penasaran.
"Pengen tau saja Ndra kamu ini," ucap Bu Sari kemudian sambil tersenyum kecil.
"Ya siapa tau telur, nanti kalau Andra atau Misya bawanya tidak hati hati terus pecah siapa yang di salahin coba kalau Andra tidak tahu isinya?" ucap Andra mencoba membela diri.
"Iya Ndra, telur buaya!" celoteh Bu Sari sambil menjitak pelan kepala Andra.
"Hehe buayanya ganteng kaya Andra nggak Bu?" sahut Andra genit kepada Ibunya.
"Hus kamu. Kamu itu manusia, kalau manusia wajar ganteng. Lha kalau buaya? bilang ganteng tetep aja mulutnya serem Ndra," ucap Bu Sari dengan polosnya menanggapi kalimat Andra.
Andra pun tersenyum melihat tingkah Ibunya yang usil itu. Ibu yang sangat sayang padanya dengan sikap polosnya yang alami. Tidak suka bersandiwara seperti artis sinetron.
"Ya sudah Andra pamit ya Bu," Andra kemudian mencium tangan Ibunya.
"Iya Ndra, jangan lupa berdoa dulu," ucap Bu Sari yang tidak pernah dia lupakan agar selalu berdoa tiap melakukan sesuatu.
"Iya Ibuku yang paling cantik," balas Andra dengan senyum termanisnya.
"Hati hati kalau lihat semut Ndra," ucap Bu Sari dengan muka tiba tiba berubah serius.
"Kenapa Bu?" Andra pun menanggapi dengan serius juga.
"Karena kamu itu manis Ndra, dan semut kan suka yang manis manis," ucap Bu Sari sambil menahan senyumnya karena berhasil mengerjai anaknya itu.
"Hemm Ibu Ibu," ucap Andra pelan sambil menggangkat sebelah sisi birnya keatas karena juga senang mendapat hiburan gratis dari Ibunya itu.
"Ini itu jilbab Ndra. Dulu saat dia masih tinggal di sini kan kita sering beli jilbab bareng di pasar. Jadi ini Ibu kasih jilbab kembaran sama Ibu. Dan di ujungnya sudah ibu kasih sulam nama Bu Ninik. Semoga beliaunya suka Ndra," Sahut bu Sari dengan senyuman lembutnya.
"Ya pasti suka dong Bu," ucap Andra menanggapi ucapan Ibunya.
"Ya sudah pokoknya harus dikasihkan lho Ndra, jangan sampai kejadian kaya nasi tumpengmu dulu itu," ucap bu Sari mencoba mengingatkan kecerobohan Andra.
"Ini ibu kasih doa juga?" tanya Andra dengan heran.
"Doa yang baik itu selalu menyertai Ndra. Siapa tau nanti yang akan dijodohin sama Misya kamu Ndra," ucap Bu Sari sambil tersenyum sendiri.
"Tu kan Ibu mulai lagi," Andra berangkat dulu Bu, keburu siang." ucap Andra kemudian mengegas melajukan sepeda motornya dengan cepat. Dia ingin menceritakan tentang hari yang di laluinya kepada Misya. Karena Misyalah yang akan menjadi saksi perjalanan hidupnya ini dengan buku hijau reinkarnasinya.
"Misya, tunggu aku," gumam Andra di dalam hatinya sambil tersenyum.
Sampai di depan rumah Misya, Andra bergegas menuruni motornya dengan semangat. Dia segera menuju pintu rumah Misya membawa barang yang di titipkan Ibunya itu.
Tok Tok Tok
"Misya," panggil Andra dari luar.
"Assalamu'alaikum Misya," dengan suara ketokan pintu yang Andra ulang ulang.
"Aneh kenapa tidak ada sahutan? Biasanya jam segini Misya sudah bangun." Andra bermonolog kepada dirinya sendiri.
"Mis, Assalamu'alaikum," ulang Andra kemudian sekali lagi.
"Apa Misya sudah berangkat ya?" muka Andra yang tadinya bersemangat sekarang berubah menjadi sedikit cemas.
Andra kemudian mengeluarkan teleponnya. Dia langsung mencari kontak nama Misya kemudian meneleponnya. Tiga kali panggilan, telepon Andra tak diangkat oleh Misya. Andra pun mesasa sedikit frustasi.
"Kenapa tidak diangkat oleh Misya?" gumamnya pelan.
Akhirnnya Andra menuliskan pesan untuk Misya, "Mis, kamu dimana? aku di depan rumahmu, mau mengantar kamu ke stasiun. Ini juga ada titipan dari Ibu buat Bu Ninik. Kamu belum berangkat kan?" Andra pun segera mengirimkannya kepada Misya.
Selang waktu sepuluh menit, pesan Andra pun belum juga di balas oleh Misya. Itu membuat Andra berfikir keras. Andra takut dia telah melakukan kesalahan kepada Misya tanpa dia sadari.
"Tidak biasanya Misya seperti ini. Apa aku berbuat salah sama dia?" gumam Andra sambil mengingat hubungannya dengan Misya saat terakhir kali berhubungan.
"Waktu itu, Misya meneleponku, karena aku nggak enak mengangkat telepon dia di dalam Bus saat Naya juga melihatnya, akhirnya dia menjawab misya hanya sekenanya. Apa Misya marah karena soal itu? Waktu itu Misya hanya menekankan soal aku yang tidak boleh mencueki sms dan telepon darinya, tapi tidak boleh dari ibuku, apa maksudnya?" gumam Andra bermonoloh sendiri.
Andra hampir saja melupakan kalau Misya mempunyai perasaan terhadapnya. Tentu saja bagi orang yang menyukai seseorang, tapi saat memberi perhatian di abaikan, tentu akan merasa sakit. Apalagi Andra hanya menanggapinya asal asalan. Andra baru menyadari kesalahannya kepada Misya.
Wajah Andra tampak panik. Dia bingung harus mencari keberadaan Misya dimana. "Apa aku menyusulnya ke stasiun? Tapi di stasiun mana? kereta jam berapa?" gumamnya pelan sambil memegang sebelah kepalanya.
Saat Andra terlihat kebingungan, ada seorang ibu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah Misya menyapa Andra.
"Mas ini temannya Mbak Misya kan?" tanya Ibu itu ramah.
"I-iya Bu, Misya-nya sudah berangkat ya bu?" tanya Andra kemudian.
"Iya sudah Mas, baru saja, paling setengah jam yang lalu." ucap Ibu itu sambil mengingat ingat kembali.
"Stasiun mana ya Bu? Ibu tau kereta jam berapa?" sahut Andra kembali mencoba mencari informasi.
"Kereta jam sepuluh Mas," ucap Ibu itu setahunya.
"Kereta jam sepuluh kog jam segini sudah berangkat ya?" ucap Andra yang masih masih terdengar oleh ibu tetangga Misya.
"Katanya sih tadi mau mampir ke poltekes tempat kuliahnya dulu Mas, mengantar laporan praktek kerja lapangan sebelum liburan kemaren," terang Ibu itu menjelaskan kembali.
"Begitu ya Bu. Kalau begitu saya susul di kampusnya dulu ya Bu. Terimakasih banyak bu informasinya. Permisi Bu, Assalamu'alaikum" ucap Andra berusaha seramah mungkin.
"Wa'alaikum salam Mas," sambut Ibu itu juga senang.
Andra pun kemudian melajukan motornya menuju Poltekes Kesehatan tempat Misya kuliah. Tapi dia merasa enggan untuk masuk. Dia jadi teringat oleh Sasti. Andra juga tau, Sasti juga kuliah di tempat ini. Walaupun Misya dan Sasti kuliah di kampus yang sama, tapi mereka belum saling mengenal karena beda kelas. Pada akhirnya, Misya dan Sasti bisa dekat saat mereka bekerja nanti di Rumah Sakit Puri Medika.
Andra akhirnya memilih untuk menunggu di pintu utama gerbang kampus. Semua mahasiswa yang keluar masuk kampus pasti akan melewati gerbang ini. Andra terus mengawasi satu persatu orang yang keluar masuk dari tempat itu.
Di depan gerbang kampus ada seorang ibu ibu yang akan menyeberang jalan. Andra yang melihatnya kemudian melihat sekeliling, dan memang jalan di depan kampus pagi itu masih sangat ramai berbarengan dengan orang orang berangkat kerja.
Saat Andra bergegas mau turun dari motor dan membantu ibu itu untuk menyeberang, ternyata ibu itu sudah di bantu oleh seorang mahasiswi dari poltekes itu. Akhirnya Andra mengurungkan niatnya untuk ikut membantu. Dia hanya memperhatikan Ibu itu saat di sebrangkan oleh mahasiswi itu dan meyakinkan posisi di sampingnya aman. Andra pun kembali menuju ke arah pintu gerbang untuk menunggu kemunculan Misya.
Ciiittttttt..
Tiba tiba terdengar suara mobil yang mengerem mendadak di depan jalan kampus itu. Ada beberapa orang yang berada tak jauh dari sana pun ikut membantu memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Nafas Andra kembali lega saat melihat tenyata mobil yang mengerem mendadak itu, mengerem karena ada kucing di depannya. Andra pun terlihat tersenyum lega.
Andra masih terdiam di posisi duduknya. Pandangannya malah menyapu jalanan di sekitar tempat itu. Dia juga jadi teringat oleh Ibu tua itu dan mahasiswi yang telah menyeberangkannya tadi. Saat pandangan mata Andra tidak sengaja bertemu dengan pandangan Ibu tua tadi, Andra terkaget. Ibu itu juga tersenyum padanya. Dan Ibu tua itu adalah Ibu Ibu yang di tolong Andra saat di di pantai dulu. Ibu dari dokter wulan dan wanita yang mengaku bernama bintang itu.
"Bagaimana ibu itu bisa ada di sini? apakah dunia ini begitu sempit?" gumam Andra di dalam hatinya.
Saat Andra melihat keseberang jalan lagi, Ibu tua itu sudah tidak terlihat lagi. Dan Andra pun menjadi terkaget heran. Akhirnya pandangan Andra beralih ke mahasiswi yang mengantar Ibu tua itu yang baru berjalan kembali menuju kampusnya. Dan lagi lagi, Andra dibuat seperti tak percaya. Ternyata wanita yang menolong Ibu tua tadi adalah Sasti.
"Bagaimana bisa? apa semua ini kebetulan?" gumam Andra pelan.
**