Sasti yang merasa di lihat Andra dari ujung jalan sampai depan kampus pun ikut memandang balik ke arah Andra. Sasti kemudian tersenyum dan menundukkan wajahnya pelan untuk menyapa Andra. Tampak wajah polos yang terlihat malu malu yang muncul di depan Andra.
Hal ini tidak pernah Andra ingat sebelumnya pernah terjadi. Bagaimana bisa dia bertemu dengan Sasti bisa secepat ini? Padahal seingat Andra, dia mengenal Sasti saat ulang tahun ke dua puluh empat. Itu juga karena Misya yang mengajak Sasti. Tapi ternyata sekarang dia sudah bertemu dengan Sasti jauh lebih awal.
"Apa karena ini efek aku tidak tidur malam ini? jadi apa yang aku lihat hari ini seperti nyata?" gumam Andra lagi lagi bermonolog sendiri.
Di tengah kebingungan, Andra memegang kepalanya. Dia juga memijat mijat kepalanya agar tidak berhalusinasi lagi. "Bagaimana bisa semuanya serba kebetuilan seperti ini?" gumam Andra pelan.
Sampai pada akhirnya, Andra melihat Misya yang sedang berjalan keluar dari kampusnya. Misya berjalan dengan wajah yang tak bersemangat sambil menggendong tas ransel di pundaknya. Dia keluar dan menuju pinggiran jalan, bisa di pastikan dia akan menunggu taksi atau ojek yang lewat. Andra kemudian bergegas berlari mendekati Misya yang sedang berdiri fokus melihat ke arah jalan.
"Misya," ucap Andra saat berada di dekat Misya.
"Andra? ngapain kamu di sini?" ucap Misya yang terkaget kemudian dia sedikit cuek tidak memperdulikan Andra.
"Mis, aku disini dari tadi nunggu kamu keluar. Apa kamu tidak baca pesan dariku? telepon juga tidak kamu angkat. Kenapa Mis?" ucap Andra dengan lembut sambil mencoba memegang tangan Misya.
"Ndra lepasin, ini tempat umum. Aku nggak mau dikira yang enggak enggak. Lagian kenapa kamu disini nunggu aku keluar? dan soal telepon dan sms untukku apa penting?" Ucap Misya sambil melepaskan pegangan tangan Andra.
"Mis, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku kesini untuk meminta maaf padamu dengan sungguh sunggu." Andra mengeluarkan ekspresi seriusnya.
Misya terdiam tak melihat ke arah Andra, dia hanya mencoba bersikap cuek kepada Andra. Dia takut, perasaannya kepada Andra makin besar. Sedangkan dia tahu, Andra mengganggap Misya hanya sebatas teman. Teman yang akan bahagia dengan kehidupannya sendiri tanpa ada perasaan di antara keduanya.
"Mis, aku mohon maafkaan aku, jika aku punya salah sama kamu!" ucap Andra dengan sungguh sungguh.
"Terus, kalau aku maafin kamu, kamu mau apa?" tanya Misya yang memang perasaannya terlalu rapuh jika berada di depan Andra.
"Aku mau mengantar kamu, Ayuks," Ucap Andra tersenyum kemudian menarik tangan Misya dan membawanya mendekati motornya.
"Ndra, pelan pelan," ucap Misya sambil mengikuti langkah Andra yang cepat.
"Maaf Mis, Aku merasa sangat senang bisa menemukanmu sebelum kamu pergi," ucap Andra kemudian menatap ke arah Misya sambil tersenyum membuat Misya luluh.
"Kamu tau aku mau mudik?" tanya Misya kemudian.
"Iya, Ibu tadi malam yang cerita." jawab Andra menanggapi.
"Tadi malam?" tanya Misya kemudian.
"Iya tadi malam, mau kapan lagi," Andra mencoba membaca reaksi Misya.
Misya pun hanya mengangguk nganggukkan kepalanya tanda mengerti. Walau sebenarnya dia masih ragu terhadap sosok Andra yang di depannya ini.
"Oya Mis, ini ada titipan bingkisan buat Bu Ninik dari Ibuku," Andra menyerahkan bingkisan yang dititipkan Ibunya tadi kepada Misya.
"Apa ini Ndra? ucapkan terimakasih banyak ya buat Bu Sari. Sampai repot repot kasih ini buat Ibuku," Misya menerima bingkisan dari tangan Andra dan menyimpannya di dalam tas.
"Mis, kamu bawa buku itu?" tanya Andra dengan wajah serius.
"Kamu? Andra dari masa depan?" tanya Misya balik yang sedikit terkaget.
"Maksud kata katamu apa Mis?" tanya Andra tak mengerti.
"Kalau Andra yang biasanya, dia tidak akan pernah tanya buku hijau reinkarnasi ini. Kalau tanya buku itu berarti ya Andra kamu!" ucap Misya mencoba menjelaskan dan menunjukkan buku itu kepada Andra.
"Maksud kamu ada Andra yang asli dan aku yang palsu?" tanya Andra tak paham.
"Aku juga bingung Ndra njelasinnya. Secara fisik kalian sama. Hanya saja kalau Andra dari masa depan lebih dewasa dan selalu menanyakan buku hijau," tambah Misya menerangkan.
"Berarti saat aku terlempar ke waktu yang berbeda, akan muncul Andra pemilik waktu ini yang sebenarnya. Tapi jika aku ada di sini, dimana dia?" ucap Andra pelan.
"Aku juga sedang memikirkannya Ndra. Tapi..." ucap Misya terhenti.
"Tapi kenapa Mis?" tanya Andra menanggapi.
"Bagaimana kamu bisa menceritakan soal kejadian tadi malam kalau kamu adalah Andra dari masa depan Ndra? Andra dari masa depan tidak bisa bertahan sampai pagi ini!" tanya Misya kemudian.
"Itu karena aku tidak tidur Mis," sahut Andra cepat sambil melihat reaksi Misya.
"Apa? nekat kamu Ndra, kamu bisa sakit!" ucap Misya yang perduli kepada Andra.
"Aku ingin kamu menuliskan ceritaku ini Mis. Aku tidak tau manfaatnya apa. Hanya saja aku ingin itu menjadi bukti, dan semoga saja bisa menyadarkan aku di saat aku lupa besok," ucap Andra meminta bantuan Misya agar tetap menuliskan kisah yang dia lalui.
"Ya Ndra, tapi bagaimana kalau kamu menceritakannya saat kita di stasiun biar lebih nyaman." ucap Misya yang menyadari mereka berdua dari tadi berbicara sambil berdiri di dekat motor Andra..
"Ya Mis, ayuk aku antar. Tapi aku ingin kamu cerita sebentar soal kejadian yang baru saja aku alami di sini Mis,"ucap Andra lagi dengan nada seriusnya.
"Kejadian apa Ndra?" tanya Misya penasaran.
"Aku barusan melihat Sasti keluar dari gerbang kampusmu ini, dan aku juga melihat dia menyeberangkan Ibu paruh baya ke sana. Dan Ibu paruh baya itu kamu tau siapa?" tanya Andra ingin membuat Misya penasaran.
"Siapa Ndra?" tanya Misya yang memang benar benar tidak tahu.
"Ibu itu adalah Ibu paruh baya yang aku tolong saat di pantai Mis. Aku jadi merinding mis menyaksikan kejadian tadi. Apa ini semua hanya kebetulan? atau memang....." ucap Andra terhenti.
"Memang kenapa Ndra?" tanya Misya yang ikut penasaran.
"Atau memang Sasti akan tetap menjadi jodoh aku? semuanya seperti kebetulan," ucap Andra pelan sambil menerawang.
"Sasti... Jodoh kamu?" ucap Misya mengulang kata kata Andra pelan.
"Iya Mis! Seperti yang pernah aku bilang kepada kamu saat itu. Besok kalau aku ulang tahun, mau aku merayakan atau tidak, saat ulang tahun ke duapuluh tiga, kamu jika mau datang, tidak usah bawa teman kamu ya Mis. Aku ingin mengubah kisah cintaku! Kamu ingat itu ya Mis," ucap Andra memohon kepada Misya.
"Hemmmm semoga saja aku ingat ya Ndra, masih lima tahun lagi kan?" ucap Misa menanggapi dengan santai.
"Kamu boleh tulis permintaanku ini di buku reinkarnasi hijau itu," sahut Andra kembali.
"Iya iya Ndra," sahut Misya kepada muka warungnya
"Ya sudah, ayuk kita ke stasiun dulu," ajak Andra sambil menepuk boncengannya agar di naikin Misya.
"Iya Ndra," jawab Misya sambil membenarkan boncengannya.
"Rencana kamu menginap berapa lama Mis di Semarang?" tanya Andra dengan nada kencang karena sambil mengendarai motornya.
"Paling menghabiskan liburan semester aja Ndra, memangnya kenapa? kamu kangen?" balas Misya menjawab dengan gurauan manjanya.
"Iya kangen! kangen ngrepotin kamu terus. Takutnya saat aku kembali lagi, kamu masih di semarang Mis, aku bingung cerita sama siapa," lanjut Andra kemudian.
"Ya kamu nyusullah ke semarang. Ibu juga sudah lama kan nggak lihat kamu. Dia pasti kaget liat kamu sudah segede ini!" sahut Misya lagi.
"Segede ini atau seganteng ini?" Andra menanggapi dengan gurauannya.
"Weewww kepedean kamu!" sahut Misya dengan bibir manyun yang manja.
"Jawab jujur, aku ganteng nggak?" ulang Andra lagi dengan nada menggoda.
"Iya ganteng sendiri kalau dirumah Bu Sari," ledek Misya sambil tertawa gemes.
"Saat kecil dulu, Bu Ninik paling sebel kan Mis sama aku. Katanya kalau denget sama Andra, Misya bawaannya pasti nangis terus!" kenang Andra kemudian.
"Itu kan dulu! jaman kamu masih iseng. Ada ada saja akalmu untuk membuat aku nangis!" Misya pun jadi mengenang masa kecilnya kembali saat bersama Andra. Kejahilan Andra saat kecillah yang bisa mencuri perhatian Misya padanya. Sampai sekarang, di hati Misya, hanya ada Andra. Tapi sayangnya, perasaannya tak bersambut. Andra hanya menganggapnya sebagai teman saja. Baik Andra yang sekarang maupun Andra yang datang dari masa depan. Perlahan, Misya mulai bisa menata hatinya. Walau kadang masih terasa berat, apalagi Andra selalu datang kepadanya saat ada masalah.
Akhirnya mereka sampai di stasiun tepat pukul delapan kurang sepuluh menit. Andra pun mengantar Misya masuk mencari tempat duduk yang enak untuk mereka ngobrol.
"Kamu sudah makan Ndra? atau kita ke warung gudeg itu?" tawar Misya yang khawatir kalau Andra belum makan.
"Kamu belum makan Mis?" tanya balik Andra kemudian.
"Heee sudah sih tadi dikantin. Tapi kalau nemenin kamu makan nggak papa kog." ucap Misya menanggapi.
"Aku puasa kog Mis, Insya Allah," jawab Andra kemudian.
"Ndra, muka kamu itu terlihat pucet lho Ndra, kamu yakin kuat? kamu juga nggak tidur kan Ndra tadi malam?" ucap Misya kemudian duduk di sebuah kursi yang di rasa nyaman untuk duduk berdua.
"Insya Allah Mis, saat aku keluar kamar tadi pagi, Ibuku baru mau nyiapin sahur sendirian, jadi aku temenin, sekalian di niati puasa," sahut Andra menjelaskan.
"Kamu nggak mau tidur sampai kapan Ndra?" tanya Misya kemudian.
"Sampai aku iklas melepas hari ini Mis. Tadi malam, aku tidak tidur karena, hari ini aku harus menceritakan semua ini kepada kamu. Kamu harus menuliskannya di buku itu. Kalau aku sampai tertidur maka kamu tidak akan pernah menuliskan tentang hariku ini Mis?" ucap Andra kemudian memegang tangan Misya.
Pipi misya yang putih pun terlihat meroda mendengar kata kata Andra dan merasakan kehangatan genggaman tangan Andra. Ada hati yang ikut bergetar di d**a Misya.
"Nanti di perjalanan akan aku tulis semua Ndra tentang hari ini. Sekarang kamu cerita saja. Kapan kamu datang kembali setelah hari ulang tahunmu itu." ucap Misya kemudian.
"Dari hari ulang tahunku kemaren, aku tertidur dan terbangun minggu pagi kemaren Mis, sampai hari ini." ucap Andra mencoba menjawab pertanyaan Misya.
"Apa? meloncatnya jauh sekali Ndra, sekarang tanggal 22 Juli 2007 lho Ndra, lebih dari satu tahun jaraknya dari ulang tahunmu yang tanggal 25 Juni 2006 saat kamu kembali untuk kedua kalinya Ndra. Bisa disebut, ini untuk ketiga kalinya kan Ndra?" ucap Misya sambil mencoba mengingat dan membuka buku hijau reinkarnasi Andra.
"Setiap aku tertidur, aku tidak tahu akan terbawa ke saat mana Mis, yang aku khawatirkan jika kembali ke saat saat terburukku," ucap Andra pelan.
"Pikirkanlah yang baik baik Ndra. Inysa Allah jika pikiranmu positif, maka hasilnya juga akan baik," ucap Misya memberi semangat kepada Andra.
"Iya Mis, kata katamu, hampir sama dengan apa yang di ucapkan Ibuku Mis. Makasih ya Mis," ucap Andra sambil tersenyum menatap Misya.
"Iya Ndra. Jadi kamu terbangun saat di acara makrabmu kemaren?" tanya Misya mulai mengusut lagi.
"Iya Mis, tepatnya jam tiga waktu subuh kemaren di Villa Eden. Saat bangun, kepalaku terasa sakit Mis, sama seperti saat aku pingsan di rumahmu. Tapi kemaren, Alhamdulillah aku bisa menahannya Mis, untung saja cepat baikan kembali," Andra mulai menjelaskan.
"Karna itu Ndra, kamu tidak merespon sms dan telepon dariku dan juga Ibumu?" tanya Misya kemudian.
"Salah satunya itu Mis. Aku bingung tiap kali terbangun di waktu yang berbeda, aku harus mencari tahu waktu dan tempat aku berada saat itu dimana Mis. Tidak bisa kan aku bertanya kepada teman temanku hari ini hari apa? dan tanggal berapa? bisa bisa mereka mengganggapku orang aneh atau bahkan menganggap aku gila," Andra mulai mengutarakan apa yang dia rasakan.
"Aku mengerti Ndra, maafkan aku ya Ndra. Kemaren malam, aku malah memarahimu. Harusnya aku lebih pengertian sama kamu mengetahui kondisimu saat ini," ucap Misya menyesali sikapnya karena telah memarahi Andra kemarin.
**