"Tidak apa apa Mis, aku juga salah kog, karena saat aku tersadar, aku juga tidak langsung memberitahumu kalau aku kembali. Tapi besok besok lagi, kamu jangan marah kaya tadi ya Mis. Susah juga ngrayu cewek yang ngambek kaya kamu," goda Andra sambil tersenyum.
Misya pun tersenyum cantik di hadapan Andra karena tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Karena saat itu, Bu Sari juga meneleponku Ndra. Dia sangat cemas terhadap keadaanmu. Katanya kamu tidak memberi kabar dari lusa dan tidak membalas pesan dan teleponnya. Bu Sari benar benar cemas terhadap keadanmu Ndra. Jadi aku terbawa emosi juga karena kamu tindak kunjung menghubungu Ibumu. Padahal katamu, kamu tidak akan pernah lagi membuat Ibumu sedih dan cemas kan?" Misya mencoba mengatakan apa yang dia rasakan saat itu.
"Iya Mis, aku mengerti kog, aku yang salah," balas Andra dengan cepat.
"Setelah ini kamu akan tidur kan Ndra?" tanya Misya mencoba mengalihkan pembicaraan melihat Andra sepertinya tidak segar seperti biasanya.
"Masih ada hal terpenting yang harus aku lakukan Mis. Jadi aku belain tidaktidur nggak apa apa. Oya dan tolong ya Mis, bantu aku tulis, kalau kemaren aku dan Naya udah resmi pacaran," ucap Andra dengan muka yang tampak berseri.
"Apa? Pacaran? Kemaren Ndra? kamu sudah jadian dengan Naya?" tanya Misya tampak tak percaya.
"Iya Misya cantik sahabatku sayang. Aku telah mengubah takdir cintaku, aku dan Naya kemaren tanggal 21 Juli 2007 ini resmi pacaran. Jangan lupa kamu tulis pokoknya." Andra mencoba mengingatkan.
"Itu yang membuat kamu kegirangan dari tadi? terus sekarang kamu mau menghabiskan waktu buat pacaran sampai sampai tidak tidur?" tanya Misya kemudian.
"Enggaklah Mis, aku udah bisa jadi pacar Naya saja sudah seneng Mis. Paling tidak, berbeda dengan kehidupanku yang dulu, aku tidak berani mengutarakan isi hatiku ke Naya. Sekarang aku sudah lega terhadap kegigihanku dalam mengutarakan perasaanku. Yah, walaupun pacaran kita masih sembunyi sembunyi alias masih di rahasiakan kepada teman teman kita," ucap Andra sambil menghembuskan nafasnya keras.
"Kenapa begitu Ndra? kenapa juga harus di sembunyikan. Untuk apa?" tanya Misya heran tak mengerti.
"Katanya Naya, ini semua demi kebaikan. Mungkin dia belum siap menceritakan hubungan kita ini kepada ortunya sebelum kita berhasil lulus dan dapat pekerjaan Mis," bela Andra mencoba menjelaskan pemikiran Naya.
"Ooo begitu ya," ucap Misya sambil menganggukkan kepalanya mencoba mengerti.
"Ya tapi gara gara itu, aku jadi dapat masalah. Naya cemburu karena aku bermain lempar kertas di game terakhir dengan adik kelas, Bella namanya. Padahal setelah kejadian itu, aku sudah merasa bertemu dengan Naya dan meminta maaf. Dan Naya pun memaafkanku. Tapi ternyata, yang aku temui itu bukan Naya, melainkan penunggu tempat itu yang menjelma menjadi Naya Mis," ucap Andra mencoba menceritakan apa yang dia alami kepada Misya.
"Astagfirullah Ndra, itu semua benar?"Misya seolah tak percaya dengan cerita Andra.
"Buat apa aku berbohong padamu Mis, apalagi dalam kondisi seperti ini. Aku juga sudah mengalaminya sendiri, dan ternyata benar makhuk gaib itu benar benar ada," ucap Andra mencoba menjelaskan dengan serius.
"Bahkan Bus yang kami tumpangi tadi malam sampai berhenti mendadak Mis, saat Bayu mengusiknya. Bayu sampai hampir tercekik karena membulinya. Untung saja di dalam Bus itu, ada Yanuar yang tau ilmu tentang kebatinan, jadi Bayu selamat. Dan kamu tahu cara Yanuar mengusirnya?" tanya Andra mencoba menanyakan jawabnnya kepada Misya.
"Enggak, memangnya dengan apa Ndra?" tanya Misya balik penasaran.
"Dengan darah Bayu dan sehelai rambutku Mis. Aku baca di internet bisa di jabarkan seperti ini, darah Bayu untuk permohonan maaf karena kelancangan yang Bayu lakukan, dan sehelai rambutku untuk kenang kenangan agar dia tidak terus terusan mengikutiku. Mrinding nggak Mis kamu dengernya?" tanya Andra sambil menggetarkan badannya percaya tidak percaya.
"Duch Ndra. Aku juga sedikit mrinding dengernya," ucap Misya sedikit takut.
"Yang penting, semuanya sudah beres Mis. Tinggal cara aku menjelaskannya kepada Naya nanti. Semoga dia nanti bisa ngertiin dan percaya dengan kata kataku Mis," ucap Andra mencoba menenangkan.
"Kalau dia bener bener sayang sama kamu, dia pasti akan percaya Ndra sama kamu. Tidak kebingungan mencari cari kesalahan kamu," ucap Misya mencoba menenangkan hati Andra kembali, walaupun hatinya sendiri mungkin sudah remuk.
"Aamiin Mis," ucap Andra dengan senyumannya.
"Ndra," ucap Misya ragu.
"Apa?" jawab Andra singkat.
"Kalau dipikir pikir, kamu ini malah seperti pengembara waktu ya. Tapi aku heran Ndra, jika kamu muncul, Andra yang Asli, yang harusnya ada di sini! kehidupan ini kemana Ndra? Sedangkan kalau kamu tidak Muncul, Andra itu ada dengan kehidupannya sekarang, tanpa tau masa depannya seperti apa," ucap Misya mencoba mengeluarkan pemikirannya selama ini.
Hal sederhana tapi tidak bisa Andra bayangkan sebelumnya. Selama ini, Andra hanya berfokus pada kehidupanya sendiri untuk mengubah takdir hidupnya. Tapi bagaimana dengan Andra yang berasal di kehidupan ini sebenarnya? Jika dia terus melakukan apa yang Andra lakukan dulu, maka hidupnya tidak akan pernah berubah.
Karena kemunculannya dirinya saat ini, tidak dalam jangka waktu yang lama, sehingga tidak bisa menyetir kehidupannya yang sekarang. Andra dari masa depan muncul secara acak di waktu yang berbeda. Bahkan, dia sendiri tidak tahu waktu setelah dia tertidur nanti akan membawanya kemana.
"Ndra, sudah jam setengah sepuluh, aku persiapan dulu yach naik kereta, kita sambung lewat telepon atau sms yach," ucap Misya yang menyadari waktu keberangkatan keretanya sebentar lagi.
"Iya Mis, jangan lama lama di sana," ucap Andra sambil tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau lama?" tanya Misya sambil menatap Andra.
"Aku butuh kamu Mis, aku akan kebingungan mencarimu. Kamu sahabat terbaik aku," ucap Andra tulus.
Misya pun hanya membalas dengan senyuman yang mungkin berarti lain untuknya. Dan Misya tiba tiba teringat sesuatu dan berbicara kepada Andra kembali.
"Oya Ndra, aku jadi ingat, kenapa kamu tidak coba tanya temenmu yang tau ilmu kebatinan tadi, siapa namanya? siapa tau dia bisa bantu kamu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Misya sebelum dia benar benar meninggalkan Andra yang sedang duduk melihat kearahnya.
"Terimakasih banyak Mis, akan aku coba tanyakna nanti. Kamu hati hati yach, kabari aku kalau sudah sampai Semarang." ucap Andra kepada sahabatnya yang cantik itu.
"Siap Ndra, bye bye..." Misya kemudian melampaikan tangannya ke arah Andra dengan senyum yang meneduhkan.
Tak selang lama setelah kepergian Misya, Andra pun meninggalkan stasiun dan menuju ke kampusnya. Kebetulan jarak stasiun dan kampusnya tidak begitu jauh. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke kampus biru.
Sesampainya di kampus, Andra bergegas menuju fakultasnya, di tujuannya hanya ada Naya yang akan dia temui saat itu. Saat hendak menelepon Naya, pandangan mata Andra tertuju kepada Naya yang sedang asyik bercerita kepada Dina. Tawa Naya terlihat begitu sangat bahagia. Andra pun menjadi sedikit lega. Yang dia tahu Naya sudah bisa tersenyum bahagia seperti sebelumnya. Andra pun kemudian berjalan mendekati mereka berdua.
"Hey Nay," bisik Andra lembut di dekat telinga Naya sambil berdiri tersenyum di belakangnya menggoda naya.
"Andra, ngapain sih kamu disitu? Ngagetin saja kamu! Ingat, tetap jaga sikapmu di depan anak anak lainnya di kampus!" ucap Naya mencoba mengingatkan Andra.
"Iya sayang," ucap Andra lembut.
"Andra! kamu nggak denger aku barusan bilang apa?" ucap Naya dengan sikap tidak sukanya melirik ke arah Andra.
"Maaf, lagian di sini kan hanya ada Dina. Bukankah Dina juga sudah mengetahuinya kan Nay?" ucap Andra mencoba mencari pembenaran.
"Ehem... jadi obat nyamuk dech, lebih baik aku pergi dulu ya Nay," ucap Dina hendak meninggalkan mereka.
"Din jangan pergi!" ucap Naya berusaha menahan kepergian Dina.
"Apa kalian nggak mau bicara berdua? menjelaskan persoalan tentang kalian?" ucap Dina kembali.
Andra pun hanya menatap Naya lekat. Sebenarnya dia memang ingin sekali berbicara dengan Naya saja berdua di sini, tapi dia juga tidak enak jika menyuruh Dina pergi karena Naya juga sudah melarangnya.
"Nggak usah pergi Din, di sini saja," Andra berusaha membuat Naya merasa nyaman dengan sikapnya.
"Bener ya Ndra, kamu yang nyuruh ya," ucap Dina kemudian duduk kembali.
"Iya Din," sahut Andra cepat.
Naya pun hanya melirik ke arah Andra yang duduk di sebelahnya.
"Aku pake headseat aja yach biar tidak mendengar apa yang kalian bicarakan. Okey," ucap Dina kemudian dengan santainya.
"Terserah kamu Din, mau tidur juga boleh," gurau Andra kemudian.
"Salto juga boleh tu di lapangan tengah sana!" ucap Naya ikut menimpali.
"Ah, neng cantik jangan galak galak gitulah," Sahut Dina dengan sikap manjanya.
"Ndra, biasanya kamu ganteng paripurna. Kog ini kaya kurang tidur gitu kenapa? apa aku yang salah lihat ya Nay?" tanya Dina yang mengamati wajah Andra sedikit berkerut karena tidak tidur, dan pastinya tahu kalau Andra menahan kantuknya.
Pandangan Naya pun ikut tertuju ke arah wajah Andra yang duduk di sebelahnya. Memang muka Andra saat ini seperti sedang kecapekan dan kurang tidur.
"Tadi malam kamu tidak langsung pulang?" tanya Naya masih menatap wajah Andra.
"Aku langsung pulang kog Nay. Hanya saja, aku tidak bisa tidur," jawab Andra dengan jujur.
"Kenapa?" tanya Naya meneruskan.
"Sebelum kamu benar benar memaafkanku, aku belum bisa tenang Nay," ucap Andra hendak memegang tangan Naya, tapi Naya memindahkan posisinya terlebih dahulu.
Andra sebenarnya menyadari perubahan sikap Naya, tapi dia berusaha untuk tetap biasa saja karena memang Andra merasa dia yang menyebabkan ini semua. Mungkin bagi Andra, terlihat Naya masih sedikit marah. Dina yang melihat situasi saat itupun hanya menggelengkan kepalanya tanpa memberikan tanggapan apa apa. Kali ini, Dina sudah pindah fokus menggunakan headseatnya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku Nay?" Andra membuka suaranya kembali karena Naya masih terdiam.
"Aku lagi malas ndra, mbahas persoalan kemaren. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Okey?" sahut Naya degan nada dingin.
"Tapi kamu memaafkanku Nay?" tanya Andra kemudian.
"Ya aku maafkan, asal kamu tetap jaga sikap di depan teman teman. Hubungan kita hanya kita saja yang tau!" ucap Naya kembali mengingatkan.
"Sebenarnya kenapa Nay kamu memilih menyembunyikan hubungan kita? padahal teman teman juga tau kalau kita dekat dan saling menyukai?" tanya Andra kemudian.
"Karena aku nggak mau aada masalah saja. Orang tuaku menguliahkan aku disini juga karena ingin anaknya belajar dengan fokus, bukan malah pacaran kan?" jawab Naya mencoba menjelaskan.
Dina pun hanya melirik ke arah Naya seolah olah dia tau apa yang terjadi dengan Naya. Tapi dia hanya diam sambil mengawasi arah pembicaraan Naya.
"Jadi karena itu Nay? baiklah Nay, aku mengerti kalau itu. Maafkan aku ya Nay," ucap Andra dengan tulus.
"Iya, kan aku tadi sudah bilang kalau aku sudah memaafkanmu," ucap Naya lagi.
Andra pun mencoba tetap menunjukkan senyum termanisnya untuk Naya. Walaupun rasa kantuk yang dia rasakan sudah benar benar seperti di umbun umbun kepala. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menjauhkan kantuknya. Kepalanya pun terasa sedikit agak pusing.
**