22. Pandangan kabur

1411 Kata
"Yuk ke kelas, sudah mau mulai jam kuliahnya kan. Ndra kamu kenapa? kamu beneran hanya ngantuk?" ucap Dina yang melihat beberap kali pergerakan kepala Andra karena duduk di depan Andra . "Nggak apa apa, ayuk ke kelas," jawab Andra sambil mencoba berdiri. "Ndra muka kamu pucat, kamu sudah makan?" tanya Naya dengan menunjukkan perhatiannya. Walaupun Naya sebenarnya masih sedikit kesal, tapi dia sangat menyukai Andra. "Tidak apa apa Nay, aku puasa," jawab Andra dengan tersenyum senang merasa di perhatikan Naya. "Kalau yakin kamu kuat puasa dalam kondisi seperti ini?" Naya seolah tak yakin melihat keadaan Andra saat ini. "Insya Allah Nay," sahut Andra pelan sambil mencoba tersenyum. Dan mereka pun bersama menuju kelasnya untuk mata kuliah sosiologi siang ini. Dina berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Andra berjalan di belakangnya bersamaan dengan Naya. Andra menyempatkan waktu sebentar untuk mencoba meraih tangan Naya dan menggenggamnya pelan. Naya pun hanya diam sambil melihat ke arah Andra. Andra kemudian melepaskan genggaman tangannya karena sudah berada di dekat kelas. Sudah ada beberapa teman kelasnya yang sudah berada di sekitar kelas. Pandangan mata Andra kemudian beralih melihat ke arah Yanuar yang sedang serius membaca buku di mejanya. Andra menjadi teringat dengan apa yang di katakan Misya. "Apa aku coba tanya ke Yanuar tentang masalahku? siapa tau dia punya solusi seperti apa yang dikatakan Misya," gumam Andra di dalam hati. Akhirnya Andra memperlambat langkah kakinya dan sengaja memilih tempat duduk yang berada di samping Yanuar. Naya pun hanya menoleh, mengingat Andra terlihat berbeda dari biasanya. Biasanya Andra akan selalu memlih tempat duduk tepat di belakang Naya. Tapi kali ini tidak. Dan Andra pun lupa memberitahu kepada Naya apa alasannya tidak duduk di belakangnya. "Nay, tumben Andra duduk di sana," bisik Dina kepada Naya yang masih melihat ke arah Andra. "Nggak tau, biarin saja." jawab Naya berusaha cuek. "Nay apa kamu tidak bilang jujur saja ke Andra soal..." ucap Dina ragu. "Ssstttt, jangan bicarakan itu sekarang. Belum waktunya! sudah nggak usah di bahas lagi! nikmati saja!" Sahut Naya memotong kata kata Dina. "Hemmm okey terserah kamu, aku hanya kasihan sama Andra sebenernya. Aku lihat dia benar benar berharap sama kamu!" Ucap Dina sambil menatap Naya. "Din, aku tahu bagaimana menyikapi Andra. Aku harap kamu percaya aku!" ucap Naya meyakinkan. "Okey..." sahut Dina cepat kemudian beralih ke buku kuliahnya. *** "Tumben Ndra, duduk sini," Tanya Yanuar yang melihat Andra tidak biasanya duduk di dekatnya. "Iya Yan, ada yang mau aku bicarakan juga sama kamu!" sahut Andra langsung kepada intinya. "Apa Ndra?" tanya Yanuar memandang ke arah Andra. "Yan, apa kamu percaya tentang reinkarnasi?" Tanya Andra dengan sungguh sungguh sambil memandang ke arah Andra. "Reinkarnasi?" Tanya Yanuar balik sambil menatap Andra di sebelahnya. "Iya yan, orang yang bisa kembali ke masa lalunya," tambah Andra lagi. "Ya aku percaya," jawab Yanuar sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Menurutmu, bagaimana cara menyikapinya?" lanjut Andra kemudian tampak serius. "Apa kamu punya sebuah harapan yang besar yang belum bisa kamu raih Ndra?" tanya Yanuar balik. Andra seperti terkaget mendengar perkataan dari Yanuar. Andra menyadari dari kata kata Yanuar itu, menunjukkan bahwa dia tau tentang kondisi Andra sekarang. "Apa Yanur menyadari kalau aku Andra dari masa depan yang mengalami reinkarnasi ke saat ini?" gumam Andra dalam hati. "Apa kamu tahu Yan?" Tanya Andra mencoba meyakinkan pemikirannya. "Sebenarnya aku tidak yakin, tapi memang aku merasakan sesuatu yang berbeda Ndra. Dan ternyata itu benar," balas Yanuar kemudian. "Kenapa ini bisa terjadi Yan? Dan bagaimana aku harus menyikapinya," Andra mencoba mencari jawaban atas apa yang dialaminya. "Ndra, seharusnya kamu termasuk orang yang beruntung Ndra. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengulang kembali kehidupannya," ucap Yanuar dengan bijak. "Tapi ini tidak seperti yang dibayangkan Yan. Aku akan terseret ke waktu yang berbeda jika aku tertidur. Dan itu tidak bisa di tentukan tempat dan waktunya," lanjut Andra kemudian. "Ndra, tidak semua hal bisa kita raih. Bisa jadi sesuatu hal terlihat baik tapi ternyata tidak baik untuk kita. Dan ada juga yang terlihat tidak baik, tapi ternyata itu adalah yang terbaik untuk kita," Yanuar dengan sabar mencoba memberi masukan kepada Andra. "Aku sejujurnya takut Yan," ucap Andra pelan. "Apa yang kamu takutkan Ndra?" tanya Yanuar melihat Andra yang terlihat ragu. "Jika tiba tiba nanti, aku kembali ke masa masa tersulitku, aku tidak tahu bagaimana jalan terbaik yang harusnya aku pilih. Dan andai bisa, aku ingin mengubah takdir kehidupan dan cintaku Yan," ucap Andra mengutarakan perasaannya. "Semua akan ada jalannya Ndra. Aku yakin kamu kuat. Allah tidak akan pernah memberi cobaan melebihi batas kesanggupan umatnya. Jika ada masalah yang menimpamu, anggap itu adalah cara Allah untuk menaikkan derajat kehidupanmu menjadi lebih tinggi," Yanuar mencoba memberi nasehat terbaiknya kembali. "Yan, selagi aku kembali, jika aku mengubah takdirku, apa itu salah?" tanya Andra kemudian. "Salah atau benar, semuanya tergantung dari kita menyikapinya Ndra. Yang pasti semuanya sudah diatur menjadi yang terbaik oleh Allah." jawab Yanuar cepat. "Makasih ya Yan," ucap Andra kemudian terhenti ketika melihat dosen pembimbingnya masuk ke dalam kelas. Mereka pun mengikuti mata kuliah sosiologi siang hari itu. Andra pun berusaha mengikuti, walaupun dia sudah sedikit lupa materinya. Pikiran Andra sebenarnya lebih memikirkan tentang kata kata Yanuar padanya. Entah mengapa, pandangan mata Andra seolah menjadi kabur. Dia seperti sulit untuk membuka kelopak matanya. Tatapan matanya hanya bisa melihat sedikit cahaya yang memasuki kornea matanya. Pandangan matanya kali ini benar benar tidak bisa melihat normal seperti biasanya. Apa yg dia lihat, seolah tertutup oleh tirai putih yang membungkus matanya. Dia hanya melihat seperti ada perempuan yang duduk disebelahnya sedang menangis di sebelahmya. Tangan wanita itu seperti mengusap usah tangan dan keningnya. Sesekali terasa getaran tangis dari tubuh wanita itu. "Andra!" Suara bariton Pak Herwan dosen mata kuliah sosiologi bergema di ruangan. Reaksi Andra pun terkaget. Dia melihat sekeliling dan malu kepada teman temannya karena semua sorotan mata tertuju kepadanya. "Kamu itu mau kuliah atau mau tidur! kalau tidur sana pulang kerumah! Baru saja mulai kog sudah tidur," ucap Pak Herwan berbicara lantang di dekat Andra. "Ma-maaf Pak, tidak akan saya ulangi Pak," sahut Andra kemudian dengan sungguh sungguh meminta maaf. "Baik! kita lanjutkan! Bapak tidak ingin kalian mencueki Bapak! Kalau kalian ingin ngobrol sendiri atau mau tidur kaya Andra! lebih baik kalian keluar. Sampai dimana tadi? kita lanjutkan," suara Pak Herwan mendominasi pembelajaran kembali. Kali ini Andra pun berusaha sekuat tenaga menahan kantuknya. Dia sempat melirik ke arah Yanuar seolah mau bertanya kenapa tidak di bangunkan saat Pak Herwan menghampirinya tapi niatnya hanya bisa dia tahan sampai kuliah ini selesai. Dan jam yang di tunggu tunggu pun akkhirnya datang juga. Pak Herwan segera keluar dari kelas itu setelah pembelajaran selesai. Semua mahasiswa pun merasakan kelegaan karena PAk Herwan memang terkenal dengan sikapnya yang tegas dan galak. "Yan, kenapa kamu tidak bangunin aku tadi?" tanya Andra lirih kepada Yanuar. "Kata siapa aku tidak bangunin! aku sampai narik narik tangan kamu tapi kamu tidak bangun. Kamu mimpi apa sampai serius gitu tidurnya!" tanya Yanuar kemudian. "Aku juga tidak tau Yan. Saat aku mencoba melihat sekelilingku, aku tidak bisa Yan. Semua seperti tertutup oleh tirai putih. Hanya saja..." ucap Andra seperti ragu. "Hanya saja apa?" tanya Yanuar kemudian. "Sepertinya aku melihat sesosok wanita di sebelahku. Dia seperti sedang merawatku. Tangan dan wajahku dia usap. Tapi semuanya tidak begitu jelas. Aku tidak tahu dan tidak bisa mengingatnya dengan jelas," ucap Andra kemudian. "Tanganmu di usap atau ditarik? Kalau di tarik berarti ya tanganku tadi kan? Kamu ngira aku wanita?" tanya Yanuar dengan polosnya. "Bukan begitu Yan, rasanya seperti nyata. Tapi aku benar benar tidak bisa melihatnya dengan jelas," sahut Andra serius. "Apa itu ada hubungannya dengan kehidupanmu yang sebenarnya Ndra?" tanya Yanuar kemudian ikut serius menanggapi Andra. "Apa mungkin Yan? karena aku belum pernah mengalami hal seperti itu," ucap Andra sambil menguap. "Kamu kayaknya capek banget Ndra? apa kamu benar benar tidak tidur?" tanya YAnuar kemudian. "Bagaimana aku bisa tertidur kalau masalahku dengan Naya belum selesai Yan." sahut Andra kembali. "Nekat kamu Ndra, lebih baik jaga kesehatanmu Ndra!" ucap Yanuar memberikan sarannya. "Yan, aku boleh minta tolong kepadamu?" "Minta tolong apa Ndra?" tanya Yanuar kembali. "Bisa dikatakan mungkin aku hanya tamu Yan sekarang. Entah kapan aku bisa kembali lagi. Tapi aku mohon Yan, sebagai sahabat aku. Aku minta tolong kamu peringati Andra pada masa ini yang sebenarnya, jika dia terlihat seperti kebingungan nasehati dia. Jangan sampai dia ikut permainan game online lagi. Terimakasih banyak Yan," ucap Andra kemudian merasa sedikit lega. "Akan aku coba yang terbaik Ndra sebagai sahabat kamu," ucap Yanuar sambil menganggukkan kepalanya di sertai dengan senyuman, kemudian meinggalkan Andra yang masih terduduk di sana. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN