Bab 6 Mereka Keluarga

1149 Kata
Pintu kaca kedai berhiaskan kata open. Aroma roti, cokelat serta kayu manis terhirup dari jalan. Pagi ini matahari belum beranjak tinggi namun teriknya menyengat. Raya mendorong pintu usai menyaksikan kendaraan hitam milik Samesta membelah jalan menuju habitatnya di studio foto. Bunyi gemerincing memberitahu ada pengunjung datang. Seorang perempuan dikucir dua lantas melongokan kepala agak ribut dari bawah pantry, tersenyum lebar. Kelegaan tampak jelas di wajahnya yang baru sebelah dipoles perona pipi. Raya menahan tawa. "Pagi, Mbak Ray. Kirain pelanggan." Dia Zahra. Penyuka game, seorang wibu dan pastinya suka makan roti. Zahra memakai pakaian ala perempuan anime berambut ungu muda. Setiap harinya dia dan pegawai bagian front memakai rambut palsu berbeda. Katanya untuk menarik perhatian pengunjung. Dia sendiri yang mengusulkan konsep kedai ini. Soal desain mendesain selera Raya agak kurang bagus. Jadi Raya mengiyakan saja. Buktinya kehadiran Zahra dan konsep animenya mampu meningkatkan pelanggan kedai. Tidak jarang mereka minta berswapoto dengan karyawan kedai. Terutama para remaja dan anak-anak. Syukurnya orang-orang kedai bekerja dengan senang hati. Terkadang kelakuan dan semangat mereka bikin Raya geleng-geleng. Raya tidak pernah menyangka orang-orang tanpa ikatan apapun bisa sesolid ini bagai keluarga. "Pagi Zah. Sudah sarapan?" Raya balas menyapa. Zahra mengangguk kuat. "Sudah, Mbak. Mbak sudah sarapan? Mau sarapan roti panas? Ciee diantar Mas Samesta. Kapan ya aku diantar-jemput cowok. Hihi." Perempuan berlesung pipi itu lumayan cerewet. Sedikit banyak Raya dibuat terhibur oleh ocehan Zahra. Raya menoleh ke jalan. Samesta jarang sekali mengantarkan Raya ke kedai, kecuali jika Raya pulang malam, Samesta akan menjemput. Pagi ini Raya kecolongan begitu terbangun sudah sampai di depan kedai. Entah apa yang terjadi bisa diantar Samesta. Biasanya Raya selalu menolak Samesta mengantarnya. Selain karena tempat kerja mereka berlawanan arah, Raya juga tidak enak terus merepotkan Samesta. Laki-laki itu terlalu baik. "Aku juga udah sarapan, Zah. Kebetulan aja tadi berangkat bareng, sekalian Samesta antar anak-anak sekolah." Zahra mengangguk-angguk, rambut palsunya ikut bergerak lucu. Senyuman lebar Zahra seperti sudah diatur sedemikian rupa agar terus melengkung di wajah. "Menu spesialnya apa hari ini?" Raya melihat deretan dessert di etalase pantry. "Hari Kamis berarti menu spesialnya croissant, Mbak. Mukti sudah siap di dapur dari tadi." Pantas saja lelehan margarin terhirup enak. "Hu'um ... kayaknya hari ini bakal enak-enak. Suasana hati Mukti lagi bagus ya? Baru jam setengah delapan udah harum gini kedai." "Kemarin kan Mukti jadi lamarannya, Mbak." "Oh ya? Gimana?" "Diterimalah Mbak, makanya Mukti lagi kasmaran-kasmarannya tuh. Bentar lagi dia merit. Hihi. Lucu ya, Mbak? Mbak Raya gimana waktu dilamar Mas Samesta?" "Hah? Oh itu ...." Raya terkekeh garing. Sebenarnya meringis namun Zahra kira lamaran Raya malu-malu. Saking anehnya situasi saat itu, pernikahannya serba mendadak tanpa lamaran. "Eh Zah gimana playlist hari ini? Si Nabil belum datang?" Raya mengalihkan pembicaraan. "Udah Mbak. Gini nih, kalau aku aja selalu diingetnya di ujung. Playlist masih sama kayak kemarin, lagu-lagunya lagi happening sih, ditambah tiga lagu enak." Nabil datang dari arah dapur memberikan tabletnya. Raya melihat deretan lagu yang akan diputar siang ini sampai malam nanti. Lalu mengangguk setuju. Kedai ini juga menyediakan pemutaran lagu dan buku-buku di lantai dua. Pengunjung diperbolehkan reques lagu ke bagian pantry. Gara-gara Raya awalnya, hobi menulis sambil mendengarkan musik mencetuskan ide ini. "Lagu tambahannya Back To You Selena Gomez, ILY 3000 Stephanie Poetri sama Unknown Location Honnie." Meskipun Raya kurang paham soal bisnis. Setidaknya Raya suka terjun mengamati pegawai melayani pelanggan, dan melihat bagaimana ekspresi setiap pelanggan menikmati makanan di kedainya. Ada kepuasan tersendiri menyaksikan mereka tersenyum pada hal manis. Maka untuk urusan rasa, Raya punya tanggung jawab besar. Setiap menu baru akan diseleksi lidahnya sebelum dipajang di etalase. Kebetulan Raya suka makanan manis. Tidak terpikir olehnya sampai mempunyai sebuah kedai roti. Seiring pertumbuhan Saluna, Raya merasa kehilangan. Sedangkan Samesta hanya bisa ditemui saat malam sepulang kerja dan pagi di meja makan. Dia sendirian di rumah. Lalu Raya bertemu perempuan muda memakai baju putih-putih bersabuk hitam di sebuah ruko bekas toko roti. Perempuan itu menyelamatkan Raya dari penjambretan. Ternyata dia baru saja kehilangan ibunya. Perempuan itu ingin menjual ruko tersebut untuk melunasi pinjaman bekas pengobatan. Dari dulu Raya cepat terenyuh mendengar kisah mereka mengenai orang tua. Kalau diingat-ingat semua orang di balik kedai ini punya latar belakang sama, ada sesuatu dengan orang tua mereka. Seperti Nabil, ibunya jadi tenaga kerja di luar negeri, sudah tahunan tidak pulang sedangkan ayahnya seorang pemabuk berat. Raya pernah melihat sendiri bagaimana gadis tomboy ini diam saja dipukuli ayahnya sendiri. Anehnya Nabil enggan melaporkan tindak kekerasan yang dia alami. Lalu Zahra, orang-orang mengenalnya sebagai gadis periang suka Jejepangan. Tanpa mereka ketahui, gadis itu banyak menimbun luka setelah kepergian kedua orang tua. Terlebih ibunya pergi usai Zahra memenangkan turnamen bela diri. Raya sudah menganggap Zahra seperti adik sendiri. Sayangnya lubang besar di hati Zahra, sulit Raya isi. Orang penting lain di balik keberhasilan kedai ini adalah Mukti. Tangan dingin bertato laki-laki itu sangat pandai mengolah bahan makanan terutama dessert. Raya mengenalnya lewat Zahra lima tahun lalu. Mukti tumbuh di panti asuhan. Sering mendapat diskriminasi lingkungan namun dia tangguh bertahan. Raya menghela napas pelan. Nabil, Zahra, Mukti, Samesta, dirinya, bahkan Sagara... hanya segelintir orang. Dunia ini tidak sesempit dalam pikiran. Banyak manusia bernasib sama, rata-rata selalu merasa sendirian. "Wow lagu-lagunya sering aku denger di radio. Aku bakal betah nih," ujar Zahra membuat Raya menoleh padanya. Raya masih ingat bagaimana malunya dia meminta Samesta membeli ruko milik perempuan bersabuk hitam. Itu adalah kali pertama dan terakhir sepanjang pernikahan mereka, dirinya meminta hal besar, Raya janji. Anehnya Samesta sangat senang dimintai uang lumayan besar. Laki-laki itu malah menambahkan uang untuk biaya renovasi. Segala bantuan moril dan materil tidak tanggung-tanggung Samesta berikan, dan yang paling Raya enggan akui dia menyukai Samesta berada di sisinya. Limpahan kasih sayang Samesta menjadi alasan kuat Raya harus bertanggung jawab atas pilihannya. Mengembalikan modal pada Samesta, misalnya? "Dari judulnya sih kayak yang kangen gitu ya ...." "He'em tema hari ini kan kerinduan, ingin pulang gitulah." Nabil menerima tablet dari Raya lagi. "Jadi, lagu Indonesianya ada saran, Mbak? Mau lagu Siti Nurhaliza sama apa?" Raya meringis, semua orang di kedai hatam akan kebiasaan Raya memutar berulang lagu Siti Nurhaliza kalau sedang bosan. "Hari ini gak ada lagu Siti. Bebaslah, terserah kamu." Zahra dan Nabil saling lirik, tersenyum senang. Kemarin adalah hari berat. Lantai dua dikuasai Siti Nurhaliza sampai beberapa pelanggan melayangkan protes terang-terangan. Sayangnya bos mereka sedang mode mood kurang baik. Menghentikan bos sama dengan menghentikan penghasilan mereka. "Oke. Kalau gitu Kali Kedua Raisa aja deh." Nabil menggulir layar di tangannya, kemudian mendongak. "Mbak mau di lantai dua?" "Aku di sini dulu. Kalau udah buntu ide naik ke atas." Mereka mengangguk. "Eh iya, Bil, makan siang nanti tolong pesenin ayam geprek ya, sama kopi tubruk." Nabil menuliskan pesan Raya di aplikasi notes sambil mengeja. "Bukannya Mbak Ray sukanya cappucino?" tanya Zahra heran. Nabil ikut menoleh baru menyadari sesuatu. Iya juga. "Hari ini aku mau kopi tubruk, pesenin ya." Senyum Raya cerah, tidak sabar menunggu makan siang. Membayangkan makanan membuat Raya kembali lapar. Raya tidak sabar entah mengapa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN